Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2012

Dongeng




Dongeng dalam bahasa Jerman adalah "Marchen". Dalam bahasa Inggris: "fairy tale", sedangkan dalam bahasa Belanda adalah "sprookje".
  1. Secara umum dongeng rakyat  disampaikan dari generasi ke generasi secara lisan turun-temurun. Pengarang dongeng tradisional tidak dikenal karena tidak pernah disebutkan. Dongeng merupakan kisah dunia khayalan. Berlainan dengan saga kenyataan dan alam gaib menjadi satu, saling lebur. Tidak ada catatan mengenai tempat dan waktu. Biasanya cerita berakhir dengan "happy ending". Susunan kalimat, struktur dan penokohan sangat sederhana sederhana. Sering terjadi ulangan. Prolog dan epilog bersifat stereotype. Mengenai asal usul dongeng rakyat pernah diajukan berbagai teori; antara lain mitologis, alegoris dan psiko-analitis. Di Jerman dua bersaudara Grimm mencatat puluhan dongeng rakyat. Di dunia Arab terkenal cerita berbingkai Seribu Satu Malam, walaupun kumpulan dongeng ini lebih tepat dimasukkan ke dalam jenis dongeng kebudayaan." Di beberapa dunia Barat modern terutama Amerika Serikat, telah banyak  dongeng-dongeng modern yang pengarangnya diketahui, karena dikarang dan dipublikasikan. Contohnya, dongeng-dongeng terkenal karya H.C. Andersen.
  2. Dongeng kebudayaan, artinya ditulis oleh seorang pengarang yang berbudaya untuk kalangan berbudaya pula. Ch. Perrault (Dongeng Ibu Angsa, 1697) dianggap sebagai pencipta jenis ini. Bersumber pada daya imaginasi satu pengarang saja. Digemari pada zaman Romantik. H.C. Andersen dari Denmark tersohor karena dongeng-dongengnya. Sifatnya sering satiris atau mengandung pelajaran moral.

Selasa, 12 Juli 2011

Kisah Cindua Mato


(Cerita rakyat dari Sumatera Barat)

Long ago there lived a queen reputedly named Bundo Kanduang created simultaneously with the universe (Minang language = Samo jo tajadi alamko). The queen have the leadership that is comparable to the King Rum, King of China and the King of the Sea.

At one point tells a Bundo Kanduang ladies, Kembang Bendahari, to wake his son Dang Tuanku, who slept on the bridge of the palace. But Kembang Bendahari refused the order, because Dang Tuanku Raja Alam is a powerful. Because Kembang Bendahari refused his orders, and then
Bundo Kanduang wake itself  Dang Tuanku.

To Dang Tuanku, Bundo Kanduang said that the Bendahara was having a rink at his country Sungai Tarab, to choose a husband for her daughter. Because the this event will be visited by many princes, marah and Sutan, and son of prominent people. Dang Tuanku and Mato Cindua should participate in it.

To Dang Tuanku, Bundo Kanduang ordered to inquire whether the Bendahara will receive Cindua Mato as the husband of his daughter, Puti Lenggo Geni.


Dulu kala konon hidup seorang ratu bernama Bundo Kanduang yang tercipta bersamaan dengan alam semesta ini (bahasa Minang = samo tajadi jo alamko). Sang ratu memilki kepemimpinan yang sebanding dengan Raja Rum, Raja Tiongkok dan Raja dari Laut.


Pada suatu ketika Bundo Kanduang menyuruh seorang dayangnya, Kembang Bendahari, untuk membangunkan putranya Dang Tuanku, yang tidur di anjungan istana.  Namun Kembang Bendahari menolak perintah itu, karena Dang Tuanku adalah Raja Alam seorang yang sakti. Karena Kembang Bendahari menolak perintahnya, Bundo Kanduang lalu membangunkan sendiri Dang Tuanku.

Kepada Dang Tuanku, Bundo Kanduang mengatakan bahwa Bendahara sedang mengadakan gelanggang di nagarinya Sungai Tarab, untuk memilih suami buat putrinya. Karena gelanggang tersebut akan dikunjungi banyak pangeran, marah dan sutan, dan putra orang-orang terpandang. Dang Tuanku dan Cindua Mato seharusnya ikut serta di dalamnya.
Bundo Kanduang memerintahkan Dang Tuanku untuk menanyakan apakah Bendahara akan menerima Cindua Mato sebagai suami dari putrinya, Puti Lenggo Geni.

Setelah menerima pengajaran tentang adat Minangkabau dari Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan para pengiringnya berangkat ke Sungai Tarab.
Di Sungai Tarab mereka disambut oleh Bendahara. Dang Tuanku bertanya apakah Bendahara bersedia menerima Cindua Mato yang "bodoh dan miskin sebagai menantunya. Sebenarnya Cindua Mato adalah calon menantu ideal, dan karena itu lamaran tersebut diterima. 


Dang Tuanku kemudian berbincang-bincang dengan Bendahara, yang merupakan ahli adat di dalam Basa Ampek Balai, membahas adat Minangkabau dan apakah telah terjadi perubahan dari adat nenek moyang. Menurut Bendahara prinsip-prinsip yang diwariskan dari perumus adat Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang tetap tak berubah. 


Sementara itu Cindua Mato mendengar pergunjingan di pasar bahwa Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku, akan dinikahkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, sebuah negeri di rantau timur Minangkabau. Menurut kabar itu, di sana tersebar berita bahwa Dang Tuanku diasingkan karena menderita penyakit.
Puti Bungsu adalah putri Rajo Mudo, saudara Bundo Kanduang, yang memerintah sebagai wakil Pagaruyung di Ranah Sikalawi, tetangga Sungai Ngiang. 


Ketika menemukan bahwa cerita ini disebarkan oleh kaki tangan Imbang Jayo, Cindua Mato bergegas mendesak Dang Tuanku untuk meminta permisi pada Bendahara dan kembali ke Pagaruyung. Gunjingan seperti itu adalah hinaan kepada Raja Alam.
Di Pagaruyung Cindua Mato menceritakan Dang Tuanku dan Bundo Kanduang apa yang didengarnya di pasar. Bundo Kanduang naik pitam, namun sebelum bertindak dia mesti berunding dulu dengan Basa Ampek Balai. 


Dalam rapat-rapat berikutnya para menteri tersebut berusaha menengahi Bundo Kanduang pada satu pihak, yang tak dapat menerima hinaan dari saudaranya, dan Dang Tuanku beserta Cindua Mato pada pihak lain, yang menganjurkan kesabaran. Pertemuan tersebut berakhir dengan kesepakatan bahwa Cindua Mato akan berangkat sebagai utusan Bundo Kanduang dan Dang Tuanku ke Sikalawi, dengan membawa Sibinuang, seekor kerbau sakti, sebagai mas kimpoi untuk Puti Bungsu. 


Dengan menunggang kuda sakti, Si Gumarang, dan ditemani kerbau sakti, Si Binuang, Cindua Mato berjalan menuju Ranah Sikalawi. Di perbatasan sebelah timur, di dekat Bukit Tambun Tulang, dia menemukan tengkorak-tengkorak berserakan. Setelah membacakan jampi-jampi, dan berkat tuah Dang Tuanku, tengkorak-tengkorak tersebut mampu menceritakan kisah mereka. Mereka sebelumnya adalah para pedagang yang bepergian melalui bukit Tambun Tulang dan dibunuh para penyamun. Mereka mendesak Cindua Mato untuk berbalik dan kembali, namun Cindua Mato menolak. 

Tak lama sesudahnya para penyamun menyerang, namun dengan bantuan Si Binuang, ia berhasil mengalahkan mereka. Para penyamun tersebut mengaku bahwa Imbang Jayo, raja Sungai Ngiang, mempekerjakan mereka tak hanya buat memperkaya dirinya, tetapi juga untuk memutus hubungan antara Pagaruyung dan Rantau Timur, dan dengan demikian melempangkan rencananya untuk mengawini Puti Bungsu. 

Kedatangan Cindua Mato menggembirakan keluarga Rajo Mudo, yang berduka mendengar kabar penyakit Dang Tuanku. Kehadiran Cindua Mato dianggap sebagai pertanda restu Bundo Kanduang atas perkimpoian (komitmen antara dua orang yang tidak boleh disalahgunakan) yang hendak dilangsungkan. Dengan berpura-pura kesurupan Cindua Mato berhasil bertemu empat mata dengan Puti Bungsu tanpa memancing kecurigaan keluarga Rajo Mudo. Mereka percaya hanya Puti Bungsu saja yang mampu menenangkannya. Cindua Mato bertutur pada Puti Bungsu bahwa Dang Tuanku mengirimnya untuk membawanya ke Pagaruyung, karena ia sudah ditakdirkan untuk menikah dengan Dang Tuanku. 


Dalam pesta perkimpoian yang berlangsung, saat Imbang Jayo tengah berperan sebagai pengantin pria, Cindua Mato melakukan hal-hal ajaib yang menarik perhatian lain dan menculik Puti Bungsu. Cindua Mato membawanya ke Padang Ganting, tempat Tuan Kadi, anggota Basa Ampek Balai yang mengurus soal-soal keagamaan bersemayam. 


Dengan menculik Puti Bungsu Cindua Mato telah melanggar hukum dan melampaui wewenangnya sebagai utusan Pagaruyung. Tuan Kadi lalu memanggil anggota Basa Ampek Balai lainnya untuk membahas pelanggaran yang dilakukan Cindua Mato. Pada pertemuan yang diadakan, Cindua Mato menolak menjelaskan perbuatannya. Basa Ampek Balai lalu menceritakan kejadian ini pada Bundo Kanduang, yang murka pada kelakuan Cindua Mato. Namun ia masih tetap menolak menjawab. 


Keempat menteri ini lalu memutuskan berunding dengan Raja Nan Duo Selo, Raja Adat dan Raja Ibadat. Keduanya, mengetahui latar belakang kejadian tersebut, sambil tersenyum menyuruh keempat menteri tersebut menyerahkan keputusan kepada Dang Tuanku, Raja Alam. 


Pada pertemuan berikutnya perdebatan terjadi antara Bundo Kanduang, yang berteguh mempertahankan adat raja-raja, dan Dang Tuanku, yang menganjurkan memeriksa alasan di balik tindakan Cindua Mato. Imbang Jayo telah menghina Dang Tuanku dengan berusaha mengawini tunangannya, dan menceritakan fitnah. Sekarang giliran Imbang Jayo buat dihina. Imbang Jayo juga mempekerjakan penyamun untuk memperkaya dirinya dan memutus hubungan antara Minangkabau dan rantau timurnya.
Cindua Mato tak layak dihukum karena dia hanya alat untuk utang malu dibayar malu. Cindua Mato dilepaskan dari hukuman, dan rapat itu kemudian membahas perkimpoian antara Cindua Mato dan Puti Lenggo Geni, dan juga antara Dang Tuanku dan Puti Bungsu. 

Setelah masa persiapan, perkimpoian kerajaan tersebut dilangsungkan di Pagaruyung, dilanjutkan dengan pesta yang dihadiri oleh banyak pangeran dan raja dari segenap penjuru Pulau Perca.
Sementara itu, Imbang Jayo yang merasa dipermalukan oleh Cindua Mato bersiap-siap menyerang Pagaruyung. Dengan senjata pusakanya, Cermin Terus (camin taruih), dia menghancurkan sebagian negeri Pagaruyung. Cermin itu kemduain berhasil dipecahkan oleh panah sakti Cindua Mato. Ketika Imbang Jayo sibuk memperkuat pasukannya Bundo Kanduang dan Dang Tuanku meminta Cindua Mato mengungsi ke Inderapura, negeri di rantau Barat, dan dengan demikian tidak ada alasan lagi buat Imbang Jayo memerangi Pagaruyung. 


Geram karena gagal membalas dendam, Imbang Jayo lalu protes pada Rajo Nan Duo Selo.
Pada pertemuan yang dipimpin oleh kedua raja tersebut, dan dihadiri oleh keempat menteri, Imbang Jayo mendakwa bahwa seorang anggota keluarga kerajaan telah mempermalukan dirinya, sebuah pelanggaran yang tak termaafkan. Namun raja-raja tersebut bertanya: siapa yang memulai penghinaan tersebut, apa bukti dakwaan Imbang Jayo? 


Tuduhan terhadap anggota kerajaan tanpa bukti cukup bukan soal main-main. Kedua raja akhimya memutuskan Imbang Jayo dihukum mati.
Begitu mengetahui anaknya disuruh bunuh oleh Rajo Duo Selo, ayah Imbang Jayo, Tiang Bungkuak, bersiap-siap membalas dendam. Cindua Mato kembali dari Inderapura, dan Dang Tuanku memerintahkannya melawan Tiang Bungkuak. Namun bila Cindua Mato gagal membunuhnya, dia harus bersedia menjadi hamba Tiang Bungkuak, agar Istana Pagaruyung terlepas dari ancaman. 


Pada suatu malam, saat menunggu serangan Tiang Bungkuak, Dang Tuanku bermimpi bertemu seorang malaikat dari langit yang berkata dia, Bundo Kanduang dan Puti Bungsu sudah waktunya meninggalkan dunia yang penuh dosa ini. Pagi harinya Dang Tuanku mengisahkan mimpinya pada Bundo Kanduang dan Basa Ampek Balai. Mengetahui waktu mereka sudah dekat, mereka mengangkat Cindua Mato sebagai Raja Muda.
Cindua Mato menunggu Tiang Bungkuak di luar Pagaruyung, namun dalam duel yang berlangsung dia tak mampu membunuh Tiang Bungkuak. Cindua Mato lalu menyerah pada kesatria tua itu, dan mengikutinya ke Sungai Ngiang sebagai budak. 


Pada saat yang sama sebuah kapal terlihat melayang di udara membawa Dang Tuanku dan anggota keluarga kerajaan lainnya ke langit.
Suatu hari, ketika Tiang Bungkuak sedang tidur siang, Cindua Mato membaca jampi-jampi dan berhasil mengungkap rahasia kekebalan Tiang Bungkuak dari mulutnya sendiri. Ternyata Tiang Bungkuak hanya dapat dibunuh menggunakan keris bungkuk (karih bungkuak) yang disembunyikan di bawah tiang utama rumahnya. Cindua Mato mencuri keris itu lalu memancing Tiang Bungkuak agar berkelahi dengannya. Dalam duel tersebut Cindua Mato berhasil membunuh Tiang Bungkuak dengan keris curiannya. 

Setelah kematian Tiang Bungkuak para bangsawan Sungai Ngiang mengangkat Cindua Mato menjadi raja. Kemudian dia juga diangkat sebagai raja Sikalawi, setelah Rajo Mudo turun tahta. Cindua Mato menikahi adik Puti Bungsu, Puti Reno Bulan. Dari hasil pemikahannya ini Cindua Mato memperoleh anak perempuan dan laki-laki yang diberi nama Sutan Lembang Alam. 


Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di Rantau Timur, Cindua Mato kembali ke Pagaruyung, untuk memerintah sebagai Raja Minangkabau. Dari perkimpoiannya dengan Puti Lenggo Geni ia mendapatkan anak bernama Sutan Lenggang Alam. (Faizal Kamal, Dongeng Nusantara, Second Hope 2010) 


Ket. :

  1. Marah adalah gelar anak sutan yg menikah dng perempuan biasa atau anak putri bangsawan dengan laki-laki biasa) 
  2. Sutan adalah sebutan (menurut adat) bagi kaum bangsawan di Minangkabau.
  3. Perkimpoian adalah komitmen antara dua orang yang tidak boleh disalahgunakan. 

Senin, 11 Juli 2011

Dongeng Legenda


This is the history tales of our country Indonesia. Various stories about the occurrence of a place, village or city in Indonesia.

Inilah dongeng-dongeng legenda negeri kita. Berbagai kisah tentang kejadian tempat, desa, kota di Indonesia.

Minggu, 19 Juni 2011

DONGENG ANOA DAN TIKUS (dari Minahasa)

Ini mengenai seekor anoa yang mengadu kepandalan dengan seekor tikus. Konon, waktu itu anoa merasa bahwa dialah si Raja Hutan. Semua binatang yang masuk ke hutan harus melapor kepadanya. Waktu itu bumi masih dingin dan sepi, pepohonan masih rimbun, dan penduduk masih sedikit.

Waktu itu anoaIah yang memerintah binatang-binatang yang ada di hutan termasuk tikus. Pada suatu hari anoa mengadakan pemeriksaan penghuni hutan. Ketika anoa berjalan-jalan bertemulah dia dengan seekor tikus. Bertanyalah dia kepada tikus, "Mengapa kau berada di sini, Tikus? Mengapa kamu tidak melapor kepadaku. Apakah kamu belum tahu siapa aku dan bagaimana peraturan di hutan belantara ini? Akulah raja hutan ini. Siapa saja yang memasuki daerah ini harus melapor kepadaku."

"Aku ke sini untuk mencari makanan, Tuan Anoa. Haruskah aku meminta izin darimu untuk mencari makananku sendiri?" jawab tikus.

"Apa? Akan kuinjak-injak kau nanti!" teriak anoa. "Berani-beraninya kau berkata begitu kepadaku . Akan kuhabiskan nyawamu di sini. Akan aku jadikan santapanku kau nanti."

"Jangan, Tuan! Walaupun aku kecil janganlah kau remehkan aku seperti itu," jawab tikus lagi.

"Oh, kalau begitu kau memang mau melawanku, Tikus?"tanya anoa. "Kalau memang begitu lebih baik kita bertarung saja."

"Baiklah, walaupun aku kecil aku berani bertarung dengan kamu, Anoa," tantang tikus.

Dengan angkuhnya anoa bolak-balik berjalan ke sana kemari memikirkan cara yang paling ampuh untuk mengalahkan tikus yang bergigi tajam itu. "Begini," kata anoa. "Kita akan membuat timbunan kayu untuk ditimbunkan pada diriku dan dirimu, kemudian timbunan kayu itu dibakar. Barangsiapa yang dapat keluar dari timbunan api dengan selamat, dialah pemenangnya,”

"Baik," seru tikus. "Engkau lebih dahulu yang akan kutimbuni kayu." Maka pergilah ia mengumpulkan ranting-ranting di sekitar tempat itu dan segera menyuruh anoa berbaring dan menimbuninya dengan ranting-ranting, lalu menyalakan api. Api menyala dari atas merambat ke bawah dan mulai membakar tubuh anoa. Anoa berusaha menyelamatkan diri darl kobaran api yang mulai merayapi tubuhnya. la mulai menggerak-gerakkan tubuh dan bersusah payah mengeluarkan badannya dari timbunan kayu berapi, sebelum kayu terbakar semua.

Setelah itu giliran tikus. Sementara anoa mengumpulkan ranting, tikus secara diam-diam melubangi tanah dibawahnya untuk membuat lubang, sebagai tempat persembunyiannya. Lalu, ia berbaring dan anoa mulai menimbuni tubuhnya dengan ranting-ranting dan membakarnya dari atas. Anoa berkata dengan sombongnya, "Rasakan kau, Tikus. Pasti kamu mati dengan cepat dan akan kujadikan santapanku yang lezat." Tetapi, apakah yang terjadl setelah timbunan kayu itu habis terbakar? Tikus tidak ada lagi di tempatnya. la berlindung dalam lubang persembunyian di bawah tanah. Maka, berteriaklah anoa, "Hai, Tikus! Keluarlah kau dari tempat persembunyianmu. Percayalah aku tidak akan berbuat apa-apa terhadapmu. Percayalah."

Tidak lama kemudian meloncatlah tikus keluar dan langsung melarikan diri. la takut anoa akan memperdayakan dirinya karena tubuhnya tidak terbakar sedikit pun. Dari kejauhan tikus berteriak, "Hai, Anoa! Akulah pemenangnya. Apa yang akan kau lakukan kepada diriku kini?"

Anoa tidak berkata apa-apa. la menyatakan kalah dalam pertarungan ini. Oleh karena itu, sejak saat itu tikus dinyatakan menjadi warga hutan belantara. Tempat tinggalnya di dalam kayu besar. Makanannya daun-daunan dan buah-buahan yang ada di dalam hutan tersebut.

DONGENG ASAL NE BURUNG MOOPOO ( dari Minahasa)

Beribu-ribu tahun yang lalu hlduplah seorang kakek dengan cucu lelakinya bernama Nondo. Mereka tinggal di tepi hutan lebat. Pekerjaan kakek mencari hasil hutan dan menjualnya ke pasar. Sedangkan Nondo, karena kakinya pincang, hanya membantu kakeknya di rumah. la bertugas membersihkan rumah dan memasak untuk makan mereka sehari-hari. Ketika Nondo kecil kedua orang tuanya meninggal dunia. Sejak saat itu sampal usianya yang sekarang, sepuluh tahun, ia hidup bersama kakeknya.

Setiap hari kakek pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dan hasil hutan lainnya. Nondo sedih tidak dapat membantu kakeknya. Padahal ia ingin sekali pergi ke hutan. Ia ingin menyaksikan sendiri binatang-binatang yang hidup di hutan dan dapat membantu kakeknya mengangkut hasil hutan ke pasar. Namun, apa daya ia tidak mampu melakukannya karena kakinya yang pincang.

Setiap selesai makan malam kakek selalu menceritakan tentang semua binatang yang dilihatnya di hutan. Nondo mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ia selalu membayangkan seperti apakah binatang-binatang dalam cerita kakeknya itu. Dan, biasanya setelah itu Nondo bermimpi bertemu dengan binatang-binatang itu. Dia juga kerap bernyanyi menirukan bunyi burung-burung yang sering diceritakan kakeknya.

Suatu hari kakeknya hendak pergi ke hutan seperti biasanya. Karena Nondo ingin sekali melihat binatang-binatang di hutan, maka ia memohon kepada kakeknya agar diizinkan pergi bersama. Semula kakeknya tidak mengizinkan karena ia kuatir akan kesehatan Nondo. Namun demikian, Nondo terus merengek dan membujuk kakeknya. Akhirnya kakeknya mengizinkan dengan syarat dia harus segera menyelesaikari pekerjaan rumahnya. Dengan penuh semangat Nondo menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian, berangkatlah dia bersama kakeknya ke hutan. .

Di dalam hutan Nondo kerap tertinggal oleh kakeknya karena ia tidak dapat berjalan dengan cepat. Setiap kali ia bertemu dengan seekor binatang hutan, ia selalu berhenti untuk menyaksikan gerak-gerik binatang itu. Bahkan ia pun menirukan suara-suara binatang itu. Semakin asyik ia bermain dengan binatang-binatang itu, semakin jauh pula ia tertinggal kakeknya.

Semula ia tidak menyadari keadaannya yang tinggal sendiri di dalam hutan itu. Setelah hari menjelang sore, baru ia menyadari bahwa kakeknya sudah tidak bersamanya lagi.

Hari semakin malam dan suasana hutan pun sudah semakin menyeramkan. Nondo menangis memanggil-manggil kakeknya, namun tidak ada jawaban sama sekali. la mencoba mencari jalan ke rumahnya, namun semakin lama semakin masuk ia ke hutan sehingga bertambah bingunglah pikirannya.

Malam semakin larut dan burung-burung semakin ramai berbunyi, seperti burung uwak, ayam hutan, kedi-kedi, kakaktua, toin tuenden, dan kuow. Mereka berbunyi bersahut-sahutan. Nondo menjadi takut apalagi setelah mendengar suara burung kuow yang keras dan menakutkan. Maka menangis dan berteriak-teriaklah dia agar suaranya didengar oleh kakeknya.

Sementara itu kakek Nondo, ketika menyadari cucunya tidak ada di belakangnya, menjadi panik. Ia berteriak-teriak memanggil cucunya namun tidak terdengar jawaban. Karena sudah merasa putus asa, akhirnya kakek pulang ke rumahnya. la berjanji akan mencari cucunya kembali pada keesokan harinya.

Pada hari selanjutnya barangkatlah kakek ke hutan mencari Nondo kembali. la sangat sedih membayangkan Nondo akan ketakutan sendirian di hutan. Namun, sampai sore hari belum ditemukan juga cucunya itu.

Pada hari berikutnya kembali ia mencarl Nondo ke hutan dan hasilnya pun tetap nihil. Sudah hampir putus asa kembalilah kakek ke rumahnya. Namun, dalam perjalanan.pulang ia mendengar suara yang aneh. la berusaha mencari sumber suara itu. Ternyata itu berasal dari seekor burung yang sedang hinggap di atas sebatang pohon. la menengadah ke atas dan tampak burung itu sedang terbang dari satu cabang ke cabang lainnya. Burung itu memperhatikan kakek Nondo sambil mengeluarkan suara, "moo-poo".

Semula kakek Nondo tidak menyadari akan maksud suara itu, namun lama-lama ia memperhatikan suara itu seperti Opo-ku. Lalu, ia perhatikan kembali burung itu, ternyata burung itu pincang. Kemudian menangislah ia karena teringat cucunya. la yakin burung itu merupakan jelmaan dari cucunya, Nondo.

DONGENG ANGKARO DAN TUNTURANA (Dari Talaud)

Angkaro dan Tunturana adalah dua ekor kepiting laut yang bersahabat karib. Keduanya tinggal bersama-sama di pinggir laut, berlindung pada batu-batuan dekat pantai. Jika air laut surut, keduanya bersembunyi sebab pada saat itu banyak orang mencari ikan, dan mencari dirinya. Kepiting laut sangat digemari oleh orang-orang karena dagingnya yang lezat. Oleh sebab itu musuh mereka yang paling ditakuti adalah manusia. Manusia beramai-ramai menangkap kepiting pada saat laut surut. Itu sebabnya Angkaro dan Tunturana paling takut keluar pada waktu laut surut. Lain halnya bila air laut pasang, mereka dengan gembira ria bermain, tanpa takut ditangkap oleh manusia.

Pada suatu malam bulan purnama, keduanya keluar menikmati keindahan alam raya. Ketika itu, air pasang dan manusla di darat pun ramai menikmati sinar bulan purnama raya seperti makhluk-makhluk lainnya. Sementara bermain dan bersenda-gurau, Angkaro berkata kepada Tunturana, “Kawan, badan kita polos, tidak indah dipandang mata. Punggung kita perlu dihiasi agar menarik. Tanpa pakaian berhias, kita kurang menarik."

Tunturana menjawab, "Baik sekali buah pikiranmu itu. Sekarang kita upayakan diri kita menjadi cantik dan dapat menawan hati makhluk lain. Sekarang bagaimana caranya?"

"Begini, kawan," kata Angkaro. "Punggung kita dihiasi dengan lukisan yang indah-indah dan berwarna-warni. Pakailah cat tahan zaman dan serasi warnanya dengan kulit kita."

Tunturana berkata, "Baik, kawan. Sekarang marilah kita mempercantik diri di rumah. Saya mempunyai cat dengan kuasnya, marilah kita menghiasi diri secara bergantian."

"Baik," kata Angkaro. "Siapa duluan?"

"Saya duluan," kata Tunturana. "Ukirlah punggung saya ini dengan gambar hiasan yang indah-indah. Hiasi sebagus-bagusnya!

Kemudian mulailah Angkaro mengukir dan melukis punggung kepiting Tunturana. Angkaro menghiasi punggung temannya itu dengan bulatan-bulatan yang bagus, teratur, tersusun rapi, berbaris lurus, dan bervariasi besar kecil dari muka ke belakang dan dari atas ke bawah. Sangat bagus lukisan bulatan-bulatan itu dengan warna-warni yang menawan setiap mata yang memandangnya.

"Sudah selesai, kawan," kata Angkaro.· "Lihatlah di permukaan air laut di bawah sinar bulan purnama itu, bagus bukan?"

"Bagus sekali, kawan. Terima kasih!" kata Tunturana.

"Sekarang giliran kamu mengukir punggung saya," kata Angkaro kepada kawannya, Tunturana. "Bikin yang bagusya?"

"Baik," kata Tunturana. "Tanam punggungmu, saya akan percantik badanmu." Lalu, segera ia mengambil kuas dan cat hendak mengukir punggung Angkaro. Tetapi, apa yang terjadi?

Air laut dengan tiba-tiba menjadi surut, datanglah suluh dan lampu-Iampu pencari ikan di pinggir pantai. Keduanya sangat terkejut, maka segeralah mereka lari menghindari bahaya.

“Maaf, kawan," kata Tunturana. "Orang-orang sudah datang mau menangkap kita. Tidak ada lagi waktu untuk mengukir punggungmu!"

"Tidak! Punggung saya harus diberi lukisan, jangan dibiarkan polos tanpa gambar dan warna!" teriak Angkaro.

Melihat lampu-Iampu sudah dekat, maka Tunturana mencakar-cakar punggung Angkaro dengan kuas dan cat. Punggung Angkaro kini penuh cakaran tidak keruan karena terburu-buru keduanya hendak melarikan diri.

"Jangan marah, kawan," kata Tunturana. "Gambar dipunggungmu jelek sebab bahaya sudah datang. Lebih baik tubuhmu itu penuh cakaran-cakaran daripada hidup kita binasa. Ini tidak sengaja."

Angkaro menerima keadaan tubuhnya yang bergambar cakaran-cakaran karena keadaan terpaksa. Keduanya tetap berkawan dalam bentuk yang kontras. Tunturana cantik dan Angkaro jelek.

(Catatan:Tunturana dalam bahasa Talaud berarti teratur, bagus, sedangkan Angkaro berarti cakar-cakaran).

TALE ABOUT ANGKARO AND TUNTURANA (From Talaud)

Angkaro and Tunturana are two sea crabs are best of friends. Both lived together at the seaside, take refuge on the rocks near the shore. If low tide, both in hiding because at that time a lot of people fishing, and looking for him. Sea crabs are very popular with people because the meat is delicious. Therefore, their most feared enemy is man. Human rollicking catch crabs at low tide. That's why Angkaro and Tunturana most afraid to go out at low tide. Another case when high tides, they are fun to play happily, without fear of being caught by humans. On a full moon night, they came out to enjoy the beauty of the universe. At that time, tide and manusla on land too busy enjoying the full moon feast like other creatures. While playing and bersenda kidding, Angkaro told Tunturana, "Comrade, our bodies plain, not beautiful to the eye. Backs we have decorated to attract. Without ornate clothing, we are less interesting. "Tunturana replied," Well it's the fruit your mind. Now we try ourselves to be beautiful and captivating the hearts of other beings. Now how? "" Look, comrade, "said Angkaro." Backs we decorated with beautiful paintings, beautiful and colorful. Wear-resistant paint color matching by age and our skin. "Tunturana said," Well, my friend. Now let us beautify themselves at home. I have a paint with a brush, let us adorn ourselves in turn. "" Good, "said Angkaro." Who's first? "" I go first, "said Tunturana." Ukirlah my back is decorated with beautiful pictures, beautiful. Decorate the most beautiful! Then start carving and painting Angkaro Tunturana crab backs. Angkaro adorn the back of his friend with dots of a good, orderly, neat, straight line, and great varies little from the front to back and top to bottom. Very nice painting dots with colorful charming every eye looking at him. "It's over, comrade," said Angkaro. • "Look at the sea in the moonlight, the good is not it?" "Well done, mate. Thank you!" Tunturana said. "Now turn you carve my back," said Angkaro to his friend, Tunturana. "Make it bagusya?" "Good," said Tunturana. "Plant your back, I'll beautify your body." Then, as soon as he took the brush and the paint was about to carve back Angkaro. But, what happens? Seawater suddenly become retroactively, torches and lamps come-Iampu fish finder on the beach. Both were very surprised, then immediately they are running from danger. "Sorry, comrade," said Tunturana. "People have come would have arrested us. No more time to carve your back! "" No! My back should be attached, do not be left plain with no picture and color! "Shouted Angkaro. Seeing the light-Iampu is imminent, then clawing back Tunturana Angkaro with brushes and paint. Angkaro full claw back a mess now because they want to rush to escape. "Do not be angry, my friend," said Tunturana. "Figure dipunggungmu ugly because the danger had come. Better your body is full of scratch-scratch instead destroyed our lives. It's no accident. "Angkaro received his pictorial state-claw scratches due to forced circumstances. Both remained consort in the form of a contrast. Tunturana Angkaro beautiful and ugly. (Note: Tunturana in Talaud means regular, good, while the mean claw-claw Angkaro ).

ABO MAMONGKUROIT (dari Minahasa)

Abo Mamongkuroit dan istrinya, Buwal Putri Monondeaga, tinggal di tengah-tengah hutan. Mereka sangat berbahagia karena saling menyayangi. Suatu ketika Abo memutuskan untuk merantau, mencari nafkah agar kehidupannya menjadi lebih baik. Abo meminta izin kepada istrinya dan ternyata istrinya merelakan Abo untuk merantau asalkan tidak terlalu lama. Abo pun bersiap untuk merantau dan istrinya membekali Abo dengan ketupat dan telur rebus. Walaupun dengan hati terlalu berat terpaksa Abo harus meninggalkan istrinya yang cantik ini.
Suatu ketika, belum beberapa lama setelah keberangkatan Abo, datanglah Tulap, raksasa rakus pemakan manusia yang tinggal di sekitar hutan itu. Monondeaga pun ketakutan melihat Tulap, tetapi Tulap tenang saja dan berkata, "Jangan takut, Monondeaga! Aku tak akan memakan engkau."
Monondeaga pun bingung dan berpikir bagaimana caranya menghindari diri dari si Tulap. Tulap berkata dengan suara menggelegar, "Hai, Deaga, kau akan senang sekali apabila berada di rumahku," demikian ia membujuk, namun Deaga mendapatkan akal untuk menahan niat Tulap yang jahat itu, "Hari ini jangan dulu kau bawa sebab aku akan mencuci rambut. Sebaiknya besok saja kau jemput aku di sini." Tanpa berpikir lama si Tulap langsung pergi dengan penuh harapan besok dia pasti mendapatkan Deaga. Sementara itu, Deaga terus memikirkan alasan apa lagi yang akan disampaikannya besok kepada si Tulap.
Kalau saja suamiku ada tentu hal ini tidak akan terjadi, keluh Deaga dalam hati. Semalaman Deaga tidak bisa tidur. Ia hanya memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Akankah Tulap memakannya?
Esok harinya ketika hari sudah petang muncullah si Tulap di rumah Deaga. Dengan senyum mengerikan Tulap menghampiri Deaga. Deaga tak kehabisan akal, dia berkata, "Hai Tulap, bagaimana kalau kau jemput aku besok saja sebab aku belum mandi." Tulap semula tidak mau mendengarkan alasan itu, namun Deaga terus membujuknya, akhirnya Tulap mau menerimanya dan segera pulang ke rumahnya untuk kembali lagi keesokan harinya.
Alasan demi alasan disampalkan Deaga kepada Tulap untuk mengulur-ulur waktu sampai suaminya tiba kembali di rumah. Namun, dari hari ke hari suainya belum juga datang dari perantauan.
Keesokan harinya ketika Deaga sedang duduk merenung memikirkan nasibnya tiba-tiba datanglah Tulap. Alangkah terkejutnya Deaga melihat Tulap karena tidak ada lagi alasan yang dapat diberikan kepadanya. la sangat ketakutan, sementara Tulap sudah tidak sabar lagi. Tulap membentak, "Sekarang apa lagi alasanmu? Mari ikut akul" Deaga gemetaran, "Tamatlah sudah riwayatku ini. Aku akan mati ditelan raksasa rakus ini," ia berkata dalam hatinya.
Sementara Deaga merenungi nasibnya, dia dikagetkan lagi oleh suara Tulap yang menggelegar.
"Tunggu sebentar, Tulap. Aku mau menyisir rambutku dahulu dan mengganti bajuku ini,” bujuk Deaga untuk menenangkan si Tulap. Setelah selesai mendandani dirinya, Deaga keluar dari rumahnya. Tanpa menunggu lama, Tulap langsung membopong Deaga ke rumahnya di tengah hutan. Setibanya di rumah Tulap, Deaga dimasukkan ke dalam kandang besi yang berada di kolong rumahnya.
Selama dikurung di rumah Tulap, Deaga semakin lama semakin kurus dan kecantikannya semakin hari semakin pudar. Setiap hari ia hanya memikirkan akan nasibnya. la juga memikirkan suaminya yang kelak setelah pulang dari rantau tidak akan menemuinya di rumah. Suaminya pasti akan sedih sekali dan ia akan berusaha mencarinya. Lalu, kalau ia menemui dirinya berada di rumah Tulap, ia pasti akan marah dan akan terjadi sesuatu yang mengerikan.
Kira-kira dua minggu di perantauan Abo pun kembali ke rumah. Dengan membawa oleh-oleh dan uang untuk istrinya yang dikasihinya, Abo tiba di rumah. la memanggil-manggil istrinya, tetapi tidak ada jawaban. Betapa sedih hatinya ketika mengetahui rumahnya kosong.
Ke mana gerangan istrinya? Muncullah bermacam-macam pikiran. Mungkinkah istrinya dimakan binatang buas, atau hanyut terbawa arus di sungai. la berusaha mencari jejak-jejak istrinya di sekitar rumah dan sungai yang berada tidak jauh dari rumahnya. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda bahwa istrinya hanyut terbawa arus atau dimakan binatang buas, Akhirnya Abo memutuskan untuk mencarinya sampai dapat. Esok harinya ia menyiapkan bekal perjalanan dan bersiap-siap melakukan perjalanan.
Berangkatlah Abo mencari istrinya, berjalan tanpa mengenal lelah menelusuri hutan belantara. Siapa saja yang ditemukannya ditanyakan tentang istrinya, namun jawaban yang diterimanya selalu tidak menyenangkan, yaitu bahwa mereka tidak mengetahuinya. Kemudian, Abo melanjutkan Iagi perjalanannya, dan tibalah Abo di rumah Tulap yang cukup besar. Kedatangannya disambut dengan gembira oleh Tulap, seolah-olah dia tidak mengetahui akan nasib istri Abo.
Tulap menegur Abo untuk jangan cepat pulang dan mengajaknya untuk minum kopi dulu. Sesudahnya Abo diajak mengadakan pertarungan adu betis. Ajakan ini disambut dengan gembira oleh Abo dan keduanya segera turun dari rumah menuju halaman.
Pertandingan adu betis dimulai. Tulap memulai pertandingan dengan serangan. Serangan demi serangan dapat ditahan oleh Abo. Anehnya, bukan Abo yang terpelanting karena diserang, malah Tulap yang terpelanting jauh. "Hai, Tulap," seru Abo. "Menyerahlah kau karena ternyata aku lebih kuat dari dirimu. Kekuatanku melebihi kekuatanmu, kau tak berdaya, terbukti kau tak dapat merobohkan aku."
Kali ini Tulap berpikir untuk menahan serangan. Abo memulai serangannya terhadap Tulap, namun kasihan. Tulap si raksasa hutan itu. la terpelanting jauh ke atas pohon dan menggelepar-gelepar seperti ayam dipotong lehernya. Akhirnya ia mati. Keadaan ini disaksikan pula oleh istri Tulap. Melihat hal ini istri Tulap langsung mengambil pisau yang sudah diasah untuk menyerang Abo. Tetapi, apa yang terjadi? Istri Tulap ini juga mendapat pukulan yang dahsyat dari Abo dan terlempar jauh, maka matilah suami istri itu.
Selanjutnya Abo melihat bahwa di kolong rumah Tulap terdapat banyak manusia yang akan dijadikan makanan sehari-hari. Nampak pula istrinya yang tercinta berada di dalamnya. Segera dibukakannya kurungan yang penuh dengan manusia itu dan disuruhnya mereka semua pulang untuk menjalankan kehidupan seperti biasanya, berkebun di ladang mereka. Dipeluknya istrinya dan diajaknya pulang. Setelah itu mereka hidup bahagia, tidak ada yang berani mengganggu lagi.

Label

. Menkeu 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955. 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2010 2011 2013. 2014 A AA abad ke-7 ABC abdul hadi wm ABK Abu Nawas Aceh achdiat k mihardja Adat agama Ahok AI airmadidi Airmadidi. ajaran sesat ajib hamdani Al-Qur'an Alkitab AMBON amsal amurang anak yatim/piatu anak-anak anggaran Angkatan 45 angsuran animal animasi animation Anjab Antasari aplikasi mobile apresiasi sastra Apuse Arab architectur architecture arsitektur artificial intelligence artikel. asal-usul lagu yamko rambe yamko Askes ASN Asrul Sani Astinet asuransi audio audio to text ayu ting ting B Babilonia baca artikel dibayar bahasa Bahasa Belanda bahasa daerah Bahasa Indonesia bahasa kreol Bahasa Portugis bahasa Termate Bahlil Dahadalia bahundak Bait Allah bajak BANJAR bank banten bantuan korea selatan Bapertarum barang dan jasa pemerintah Basuki BATAK batas laut batas usia pensiun. PP BB BBM bersubsidi Bea Cukai beasiswa bekerja dari rumah Belanda bencana bendera beras berita Betlehen biaro Bidat billing bimbo BIODATA BIOGRAFI bisnis bisnis gratis bisnis properti bisnis sampingan Bitung BKD BKN blogger BNI BNN bobbit worm Bolaang Mongondow Bolmut Bolong Bolsel Boltim BPJS BPKB BRI briptu norman kamaru BTN Bu Tahanusang budaya Budaya Kerja budayawan bugil building buku bulan BUMD BUMN bunaken bung karno BUP bupati C Camat CC ccovid-19 cerita rakyat cerpen Chairil Anwar China choir cicilan cincin cinta CIO CIPTA KERJA CIPTAKERJA civil servant classical coconut octopus collorydianisme conference contoh convert copy-paste foto covid-19 CPNS cuti cuti bersama D D.Brilman Dacuda Pocket Scanner daerah daerah otonom baru Dana Sehat DAU denda desa desain detektor logam Dhana Widyatmika Dialek Diklat Kompetensi DIKLAT PIM dirjen dirjen anggaran disiplin diskusi diving DKI doa dogma dokumen dolar domain dongeng download DP3 DPR drama dramatik dramatis personae DRH Driver duasudara dubes duda duit dunia E e-billing e-Gov E-KTP e-voting edaran Edaran Mendagri eigendom ekonomi eksistensialisme eksperimental ekstensi eliezer Ensiklopedi Epifanius erupsi esai eselon extension F f. Kelling facebook Fiery Cross Reef Filsafat fisik foto funny gaji gaji baru PNS gaji baru Polri gaji baru TNI gaji hakim gaji ke-13 Gaji PNS 2013 gaji polri 2011 gaji polri 2013 gaji tni 2011 gaji TNI 2012 gaji tni 2013 galungan Ganefo gangguan kecemasan ganti logo blogger garuda gaya hidup gayus GCIO gelombang gembala gempa generasi Alfa generasi baby boomers generasi diam generasi milenial generasi Z gereja GG Gibran Rakabuming GMIM Golongan Ruang Google Cloud Google drive Google One grafik Gregorian gubernur gunung api Gunung Ruang gunung Salak guru hairy frogfish hakim halmahera HAM hari libur hari raya HB Yassin HB Yassin. HB Yassin HB Yassin. Pusat Dokumentasi hewan Hijriyah Hindu hobby home honorer house hukum hut I Nyoman Nuarta idul fitri II Ijazah Palsu iklan gratis iklan rumah IKN imlek Indihome Indonesia industri Infotek Inggris Injil Inpres instansi pemerintah integritas interior internet Islam israel istana garuda Istana Garuda Ibukota Nusantara Istana Presiden IKN IT ITE ITM jabatan fungsional jabatan pimpinan jabatan struktural jaksa janda JAWA jenderal jiwa Johnson Reef Jokowi jual-beli jual-beli rumah Julian K-1 K-2 KABUPATEN kalabat kalender Kalimantan kampanye kampus Kamus kandang domba kartu kredit karunia KARYA SATYA Kasus kata bijak kata mutiara kata-kata bijak kata-kata hikmat kata-kata mutiara kawasan khusus kawin KBBI KDKMP keamanan KEK Kekayaan kelahiran Yesus kelas keluarga kelurahan Kemen-PU Kemendagri Kemenkeu Kemenkum-HAM Kementrian kenaikan gaji kenaikan pangkat Kepala Daerah Kepdirjen Keppres kepribadian Keputusan Ka BKN keputusan menteri kerajaan kereta jenazah kereta kerajaan kereta pernikah william kerja Kesehatan keuangan Khotbah khotbah. kiamat Kisah Mahabarata KK Klasik Kode Etik koloriadianisme komedi Kominfo konstitusi konversi koor koperasi korpri Korupsi KOTA Kotamobagu koupsi KPCPEN KPK kristen Kritik Sastra kritik seni kue kuliah kunci foto L lagu lagu daerah Lagu Daerah lagu daerah Jawa Timur Lagu daerah Papua Lagu daerah Riau Lagu Daerah Sangihe lagu nasional lagu Papua lambang daerah langganan langowan lapas larangan laut Laut China Selatan lawak lebaran legenda lemang Lembaga Negara lembeh Lembeh Resort Lembeh Strait LG LHKPN libur nasional liburan Likupang lingkungan kerja Lirang lirik lirik lagu Lirik Lagu Daerah litle logo lokon lomba sastra lowongan lucu Lurah M magnitudo mahasiswa mahasiswa baru mahawu makar MALUKU Malut Manado mandarin fish Manganitu manusia marah rusli marga masa Anak-anak masamper masarang Masehi Mawali Mazmur media massa meja Melayu mendagri mengajar menkeu Menpan merah putih MERS Mesir mesjid metal detector Meyer migdal eder mimic octopus Minahas minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara minangkabau Mischief Reef mistik mitos MM mobil bekas mobil jenazah mobil mewah mochtar lubis model money Mongondow monumen moratorium motivasi motivasi hidup Mouse Scanner MPR Mr. Assat Mr. Sjafruddin muhaling Muhammad Musa mutasi nabi NAD nama domain nama etnis nama fam nama klan nama marga nama orang nama suku NARKOBA Nasdem nasi jaha Nasrani natal negara NEWS NII nikah NIP novel Nuklir Nusantara o ina ni keke OMNIBUS LAW oneness Orang Terkaya orde baru outsourcing pada pahlawan padang gembala paduan suara Pajak PAK pakaian adat Pakaian Dinas pandemi Pangdam pangkat PNS pangkat polri pangkat TNI pantai pantekosta pantun papan tulis elekronik papan tulis sekolah PAPUA partitur paskah paypal pdf pegawai pegawai tidak tetap pemerintah pejabat pejabat eselon pejabat pimpinan tinggi pelantikan pelayan khusus Pelindo pemalsuan pembunuhan Pemda Pemerintah pemerintah daerah pemilihan pemukiman pendaki pendeta pendidikan penembakan penerbangan penerimaan CPNS penerimaan pegawai BUMN penipuan Penpres pensiun pensiun pokok pensiunan pentakosta penyair penyaliban penyimpanan Perang Dunia peraturan kepala BKN peraturan menteri Peraturan Pemerintah perda perguruan tinggi perhubungan Peribahasa Periodisasi Perjalanan Dinas Perjanjian Lama perjuangan perkawinan Permen pernikahan william dan kate PERPPU PERPPU 1959 Perpres pers perumahan Perumnas pesawat pidato pigmy seahorse Pilgub DKI Pilkada Pilpres pinjaman plagiat PLN PMK PMK. Menkeu PNBP PNS PNS. Kekayaan poem poetry polisi politik politisi polling polri Portugis postmodernism PP PP 53 PP1998 PP2000 PP2001 PP2002 PP2011 PP2012 CPNS PPATK PPPK Prabowo prabu siliwangi pramugari Presiden RI Presiden SBY pria profesi propinsi proposal prosa protes Provinsi proyek psikiater psikis psikologi PTTP Puisi puisi lama pulau Spratly pulsa PUPNS PUPR purnawirawan Pusat Pusat Dokumentasi R raja ramalan ramayana rapel Rasul Rasul Paulus Ratahan read real estate Rek Ayo Rek rekening rekening gendut remunerasi remunerasi PNS daerah renovasi renungan resensi Retribusi Menara review sastra ribbon eel RIS Rismon Sianipar ritual Rivai Apin roh roman Romawi ROSIHAN ANWAR Roy Suryo rumah rumah kontrakan rumah mewah rumah murah Rumah Sakit rumah sederhana rumah tangga RUU RUU ASN RUU BPJS RUU Tipikor S salary salib sambo sandi sangihe SANGIHE TALAUD SANKSI santo sapaan SARS sastra sastra daerah sastra indonesia sastra online satgas SATYALENCANA Scribd sejarah sejarah Al'Quran sejarah gereja sejarah gereja. Sejarah Sastra Sekda sekolah dasar selingkung Seminar seniman sertifikasi guru server Shukoi siau siber SIM sinagoge Singapura sinopsis sipir siswa Sitaro siti nurbaya SK skala richter sms soeharto Soekarno Soleram Solo Soputan sosialisasi sosiologi Spanyol STAN standar biaya STNK storage stress studi komparasi su domain sub domain Subi Reef sufi Sukhoi suku maya Sulawesi Utara Sulut surat edaran Surat Kepercayaan Gelanggang Sutiyoso syahrini syair T tabel tabel gaji pns 2000 tabel gaji pns 2011 tabel gaji pns 2012 tabel gaji pns 2013 tabel gaji pns 2019 Tabel Gaji Polri 2012 Tabel Gaji Polri 2014 TABEL GAJI TNI 2011 TABEL GAJI TNI 2012 TABEL GAJI TNI 2013 tabel gaji TNI 2014 TABEL LENGKAP GAJI POLRI 2011 tabungan tabut Taguladang tagulandang tahun baru tahuna takhayul talaud tanah Tangkoko TAP MPR Taperum tarian tata bahasa taurat taurat. teater Dian teknologi teks Telekomunikasi Tenaga Ahli terminal Ternate teror TERORIS text to audio The Age the royal wedding TIK tips tni TOKOH tokoh dunia tokoh indonesia tokoh islam tomohon tondano torah tradisi transfer trinitas Try Sutrisno tsunami Tsunami tulude tunjangan TVRI Two Fish U uang UGM UN undang-undang Undang-Undang Pokok Agraria unduh unitarian Unpad Unsrat upacara upacara adat UU UU 1948 UU ASN UU Penerbangan UUD UUDS UUPA V vaksin video video conference video lucu viral virus VOC W wabah waisak wakil presiden wali kota walikota wamen warakawuri wartawan website WHO Wikileaks william shakespeare wisata selam wise word Woody Reef Wuhan Yahudi yamko rambe yamko Yehuda Yerusalam Yesus Yosua Yus Badudu yusuf hamka