- Secara umum dongeng rakyat disampaikan dari generasi ke generasi secara lisan turun-temurun. Pengarang dongeng tradisional tidak dikenal karena tidak pernah disebutkan. Dongeng merupakan kisah dunia khayalan. Berlainan dengan saga kenyataan dan alam gaib menjadi satu, saling lebur. Tidak ada catatan mengenai tempat dan waktu. Biasanya cerita berakhir dengan "happy ending". Susunan kalimat, struktur dan penokohan sangat sederhana sederhana. Sering terjadi ulangan. Prolog dan epilog bersifat stereotype. Mengenai asal usul dongeng rakyat pernah diajukan berbagai teori; antara lain mitologis, alegoris dan psiko-analitis. Di Jerman dua bersaudara Grimm mencatat puluhan dongeng rakyat. Di dunia Arab terkenal cerita berbingkai Seribu Satu Malam, walaupun kumpulan dongeng ini lebih tepat dimasukkan ke dalam jenis dongeng kebudayaan." Di beberapa dunia Barat modern terutama Amerika Serikat, telah banyak dongeng-dongeng modern yang pengarangnya diketahui, karena dikarang dan dipublikasikan. Contohnya, dongeng-dongeng terkenal karya H.C. Andersen.
- Dongeng kebudayaan, artinya ditulis oleh seorang pengarang yang berbudaya untuk kalangan berbudaya pula. Ch. Perrault (Dongeng Ibu Angsa, 1697) dianggap sebagai pencipta jenis ini. Bersumber pada daya imaginasi satu pengarang saja. Digemari pada zaman Romantik. H.C. Andersen dari Denmark tersohor karena dongeng-dongengnya. Sifatnya sering satiris atau mengandung pelajaran moral.
Berbagi pengetahuan bahasa, seni musik, sastra, sejarah, budaya, etnik, agama Kristen, agama Islam, lagu daerah, lagu rohani, undang-undang dll.
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 04 Februari 2012
Dongeng
Selasa, 12 Juli 2011
Kisah Cindua Mato
(Cerita rakyat dari Sumatera Barat)
Long ago there lived a queen reputedly named Bundo Kanduang created simultaneously with the universe (Minang language = Samo jo tajadi alamko). The queen have the leadership that is comparable to the King Rum, King of China and the King of the Sea.
At one point tells a Bundo Kanduang ladies, Kembang Bendahari, to wake his son Dang Tuanku, who slept on the bridge of the palace. But Kembang Bendahari refused the order, because Dang Tuanku Raja Alam is a powerful. Because Kembang Bendahari refused his orders, and then Bundo Kanduang wake itself Dang Tuanku.
To Dang Tuanku, Bundo Kanduang said that the Bendahara was having a rink at his country Sungai Tarab, to choose a husband for her daughter. Because the this event will be visited by many princes, marah and Sutan, and son of prominent people. Dang Tuanku and Mato Cindua should participate in it.
To Dang Tuanku, Bundo Kanduang ordered to inquire whether the Bendahara will receive Cindua Mato as the husband of his daughter, Puti Lenggo Geni.
Dulu kala konon hidup seorang ratu bernama Bundo Kanduang yang tercipta bersamaan dengan alam semesta ini (bahasa Minang = samo tajadi jo alamko). Sang ratu memilki kepemimpinan yang sebanding dengan Raja Rum, Raja Tiongkok dan Raja dari Laut.
Pada suatu ketika Bundo Kanduang menyuruh seorang dayangnya, Kembang Bendahari, untuk membangunkan putranya Dang Tuanku, yang tidur di anjungan istana. Namun Kembang Bendahari menolak perintah itu, karena Dang Tuanku adalah Raja Alam seorang yang sakti. Karena Kembang Bendahari menolak perintahnya, Bundo Kanduang lalu membangunkan sendiri Dang Tuanku.
Kepada Dang Tuanku, Bundo Kanduang mengatakan bahwa Bendahara sedang mengadakan gelanggang di nagarinya Sungai Tarab, untuk memilih suami buat putrinya. Karena gelanggang tersebut akan dikunjungi banyak pangeran, marah dan sutan, dan putra orang-orang terpandang. Dang Tuanku dan Cindua Mato seharusnya ikut serta di dalamnya.
Bundo Kanduang memerintahkan Dang Tuanku untuk menanyakan apakah Bendahara akan menerima Cindua Mato sebagai suami dari putrinya, Puti Lenggo Geni.
Setelah menerima pengajaran tentang adat Minangkabau dari Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato dan para pengiringnya berangkat ke Sungai Tarab.
Di Sungai Tarab mereka disambut oleh Bendahara. Dang Tuanku bertanya apakah Bendahara bersedia menerima Cindua Mato yang "bodoh dan miskin sebagai menantunya. Sebenarnya Cindua Mato adalah calon menantu ideal, dan karena itu lamaran tersebut diterima.
Dang Tuanku kemudian berbincang-bincang dengan Bendahara, yang merupakan ahli adat di dalam Basa Ampek Balai, membahas adat Minangkabau dan apakah telah terjadi perubahan dari adat nenek moyang. Menurut Bendahara prinsip-prinsip yang diwariskan dari perumus adat Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang tetap tak berubah.
Sementara itu Cindua Mato mendengar pergunjingan di pasar bahwa Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku, akan dinikahkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, sebuah negeri di rantau timur Minangkabau. Menurut kabar itu, di sana tersebar berita bahwa Dang Tuanku diasingkan karena menderita penyakit.
Puti Bungsu adalah putri Rajo Mudo, saudara Bundo Kanduang, yang memerintah sebagai wakil Pagaruyung di Ranah Sikalawi, tetangga Sungai Ngiang.
Ketika menemukan bahwa cerita ini disebarkan oleh kaki tangan Imbang Jayo, Cindua Mato bergegas mendesak Dang Tuanku untuk meminta permisi pada Bendahara dan kembali ke Pagaruyung. Gunjingan seperti itu adalah hinaan kepada Raja Alam.
Di Pagaruyung Cindua Mato menceritakan Dang Tuanku dan Bundo Kanduang apa yang didengarnya di pasar. Bundo Kanduang naik pitam, namun sebelum bertindak dia mesti berunding dulu dengan Basa Ampek Balai.
Dalam rapat-rapat berikutnya para menteri tersebut berusaha menengahi Bundo Kanduang pada satu pihak, yang tak dapat menerima hinaan dari saudaranya, dan Dang Tuanku beserta Cindua Mato pada pihak lain, yang menganjurkan kesabaran. Pertemuan tersebut berakhir dengan kesepakatan bahwa Cindua Mato akan berangkat sebagai utusan Bundo Kanduang dan Dang Tuanku ke Sikalawi, dengan membawa Sibinuang, seekor kerbau sakti, sebagai mas kimpoi untuk Puti Bungsu.
Dengan menunggang kuda sakti, Si Gumarang, dan ditemani kerbau sakti, Si Binuang, Cindua Mato berjalan menuju Ranah Sikalawi. Di perbatasan sebelah timur, di dekat Bukit Tambun Tulang, dia menemukan tengkorak-tengkorak berserakan. Setelah membacakan jampi-jampi, dan berkat tuah Dang Tuanku, tengkorak-tengkorak tersebut mampu menceritakan kisah mereka. Mereka sebelumnya adalah para pedagang yang bepergian melalui bukit Tambun Tulang dan dibunuh para penyamun. Mereka mendesak Cindua Mato untuk berbalik dan kembali, namun Cindua Mato menolak.
Tak lama sesudahnya para penyamun menyerang, namun dengan bantuan Si Binuang, ia berhasil mengalahkan mereka. Para penyamun tersebut mengaku bahwa Imbang Jayo, raja Sungai Ngiang, mempekerjakan mereka tak hanya buat memperkaya dirinya, tetapi juga untuk memutus hubungan antara Pagaruyung dan Rantau Timur, dan dengan demikian melempangkan rencananya untuk mengawini Puti Bungsu.
Kedatangan Cindua Mato menggembirakan keluarga Rajo Mudo, yang berduka mendengar kabar penyakit Dang Tuanku. Kehadiran Cindua Mato dianggap sebagai pertanda restu Bundo Kanduang atas perkimpoian (komitmen antara dua orang yang tidak boleh disalahgunakan) yang hendak dilangsungkan. Dengan berpura-pura kesurupan Cindua Mato berhasil bertemu empat mata dengan Puti Bungsu tanpa memancing kecurigaan keluarga Rajo Mudo. Mereka percaya hanya Puti Bungsu saja yang mampu menenangkannya. Cindua Mato bertutur pada Puti Bungsu bahwa Dang Tuanku mengirimnya untuk membawanya ke Pagaruyung, karena ia sudah ditakdirkan untuk menikah dengan Dang Tuanku.
Dalam pesta perkimpoian yang berlangsung, saat Imbang Jayo tengah berperan sebagai pengantin pria, Cindua Mato melakukan hal-hal ajaib yang menarik perhatian lain dan menculik Puti Bungsu. Cindua Mato membawanya ke Padang Ganting, tempat Tuan Kadi, anggota Basa Ampek Balai yang mengurus soal-soal keagamaan bersemayam.
Dengan menculik Puti Bungsu Cindua Mato telah melanggar hukum dan melampaui wewenangnya sebagai utusan Pagaruyung. Tuan Kadi lalu memanggil anggota Basa Ampek Balai lainnya untuk membahas pelanggaran yang dilakukan Cindua Mato. Pada pertemuan yang diadakan, Cindua Mato menolak menjelaskan perbuatannya. Basa Ampek Balai lalu menceritakan kejadian ini pada Bundo Kanduang, yang murka pada kelakuan Cindua Mato. Namun ia masih tetap menolak menjawab.
Keempat menteri ini lalu memutuskan berunding dengan Raja Nan Duo Selo, Raja Adat dan Raja Ibadat. Keduanya, mengetahui latar belakang kejadian tersebut, sambil tersenyum menyuruh keempat menteri tersebut menyerahkan keputusan kepada Dang Tuanku, Raja Alam.
Pada pertemuan berikutnya perdebatan terjadi antara Bundo Kanduang, yang berteguh mempertahankan adat raja-raja, dan Dang Tuanku, yang menganjurkan memeriksa alasan di balik tindakan Cindua Mato. Imbang Jayo telah menghina Dang Tuanku dengan berusaha mengawini tunangannya, dan menceritakan fitnah. Sekarang giliran Imbang Jayo buat dihina. Imbang Jayo juga mempekerjakan penyamun untuk memperkaya dirinya dan memutus hubungan antara Minangkabau dan rantau timurnya.
Cindua Mato tak layak dihukum karena dia hanya alat untuk utang malu dibayar malu. Cindua Mato dilepaskan dari hukuman, dan rapat itu kemudian membahas perkimpoian antara Cindua Mato dan Puti Lenggo Geni, dan juga antara Dang Tuanku dan Puti Bungsu.
Setelah masa persiapan, perkimpoian kerajaan tersebut dilangsungkan di Pagaruyung, dilanjutkan dengan pesta yang dihadiri oleh banyak pangeran dan raja dari segenap penjuru Pulau Perca.
Sementara itu, Imbang Jayo yang merasa dipermalukan oleh Cindua Mato bersiap-siap menyerang Pagaruyung. Dengan senjata pusakanya, Cermin Terus (camin taruih), dia menghancurkan sebagian negeri Pagaruyung. Cermin itu kemduain berhasil dipecahkan oleh panah sakti Cindua Mato. Ketika Imbang Jayo sibuk memperkuat pasukannya Bundo Kanduang dan Dang Tuanku meminta Cindua Mato mengungsi ke Inderapura, negeri di rantau Barat, dan dengan demikian tidak ada alasan lagi buat Imbang Jayo memerangi Pagaruyung.
Geram karena gagal membalas dendam, Imbang Jayo lalu protes pada Rajo Nan Duo Selo.
Pada pertemuan yang dipimpin oleh kedua raja tersebut, dan dihadiri oleh keempat menteri, Imbang Jayo mendakwa bahwa seorang anggota keluarga kerajaan telah mempermalukan dirinya, sebuah pelanggaran yang tak termaafkan. Namun raja-raja tersebut bertanya: siapa yang memulai penghinaan tersebut, apa bukti dakwaan Imbang Jayo?
Tuduhan terhadap anggota kerajaan tanpa bukti cukup bukan soal main-main. Kedua raja akhimya memutuskan Imbang Jayo dihukum mati.
Begitu mengetahui anaknya disuruh bunuh oleh Rajo Duo Selo, ayah Imbang Jayo, Tiang Bungkuak, bersiap-siap membalas dendam. Cindua Mato kembali dari Inderapura, dan Dang Tuanku memerintahkannya melawan Tiang Bungkuak. Namun bila Cindua Mato gagal membunuhnya, dia harus bersedia menjadi hamba Tiang Bungkuak, agar Istana Pagaruyung terlepas dari ancaman.
Pada suatu malam, saat menunggu serangan Tiang Bungkuak, Dang Tuanku bermimpi bertemu seorang malaikat dari langit yang berkata dia, Bundo Kanduang dan Puti Bungsu sudah waktunya meninggalkan dunia yang penuh dosa ini. Pagi harinya Dang Tuanku mengisahkan mimpinya pada Bundo Kanduang dan Basa Ampek Balai. Mengetahui waktu mereka sudah dekat, mereka mengangkat Cindua Mato sebagai Raja Muda.
Cindua Mato menunggu Tiang Bungkuak di luar Pagaruyung, namun dalam duel yang berlangsung dia tak mampu membunuh Tiang Bungkuak. Cindua Mato lalu menyerah pada kesatria tua itu, dan mengikutinya ke Sungai Ngiang sebagai budak.
Pada saat yang sama sebuah kapal terlihat melayang di udara membawa Dang Tuanku dan anggota keluarga kerajaan lainnya ke langit.
Suatu hari, ketika Tiang Bungkuak sedang tidur siang, Cindua Mato membaca jampi-jampi dan berhasil mengungkap rahasia kekebalan Tiang Bungkuak dari mulutnya sendiri. Ternyata Tiang Bungkuak hanya dapat dibunuh menggunakan keris bungkuk (karih bungkuak) yang disembunyikan di bawah tiang utama rumahnya. Cindua Mato mencuri keris itu lalu memancing Tiang Bungkuak agar berkelahi dengannya. Dalam duel tersebut Cindua Mato berhasil membunuh Tiang Bungkuak dengan keris curiannya.
Setelah kematian Tiang Bungkuak para bangsawan Sungai Ngiang mengangkat Cindua Mato menjadi raja. Kemudian dia juga diangkat sebagai raja Sikalawi, setelah Rajo Mudo turun tahta. Cindua Mato menikahi adik Puti Bungsu, Puti Reno Bulan. Dari hasil pemikahannya ini Cindua Mato memperoleh anak perempuan dan laki-laki yang diberi nama Sutan Lembang Alam.
Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di Rantau Timur, Cindua Mato kembali ke Pagaruyung, untuk memerintah sebagai Raja Minangkabau. Dari perkimpoiannya dengan Puti Lenggo Geni ia mendapatkan anak bernama Sutan Lenggang Alam. (Faizal Kamal, Dongeng Nusantara, Second Hope 2010)
- Marah adalah gelar anak sutan yg menikah dng perempuan biasa atau anak putri bangsawan dengan laki-laki biasa)
- Sutan adalah sebutan (menurut adat) bagi kaum bangsawan di Minangkabau.
- Perkimpoian adalah komitmen antara dua orang yang tidak boleh disalahgunakan.
Senin, 11 Juli 2011
Dongeng Legenda
This is the history tales of our country Indonesia. Various stories about the occurrence of a place, village or city in Indonesia.
Inilah dongeng-dongeng legenda negeri kita. Berbagai kisah tentang kejadian tempat, desa, kota di Indonesia.
Minggu, 19 Juni 2011
DONGENG ANOA DAN TIKUS (dari Minahasa)
Ini mengenai seekor anoa yang mengadu kepandalan dengan seekor tikus. Konon, waktu itu anoa merasa bahwa dialah si Raja Hutan. Semua binatang yang masuk ke hutan harus melapor kepadanya. Waktu itu bumi masih dingin dan sepi, pepohonan masih rimbun, dan penduduk masih sedikit.
Waktu itu anoaIah yang memerintah binatang-binatang yang ada di hutan termasuk tikus. Pada suatu hari anoa mengadakan pemeriksaan penghuni hutan. Ketika anoa berjalan-jalan bertemulah dia dengan seekor tikus. Bertanyalah dia kepada tikus, "Mengapa kau berada di sini, Tikus? Mengapa kamu tidak melapor kepadaku. Apakah kamu belum tahu siapa aku dan bagaimana peraturan di hutan belantara ini? Akulah raja hutan ini. Siapa saja yang memasuki daerah ini harus melapor kepadaku."
"Aku ke sini untuk mencari makanan, Tuan Anoa. Haruskah aku meminta izin darimu untuk mencari makananku sendiri?" jawab tikus.
"Apa? Akan kuinjak-injak kau nanti!" teriak anoa. "Berani-beraninya kau berkata begitu kepadaku . Akan kuhabiskan nyawamu di sini. Akan aku jadikan santapanku kau nanti."
"Jangan, Tuan! Walaupun aku kecil janganlah kau remehkan aku seperti itu," jawab tikus lagi.
"Oh, kalau begitu kau memang mau melawanku, Tikus?"tanya anoa. "Kalau memang begitu lebih baik kita bertarung saja."
"Baiklah, walaupun aku kecil aku berani bertarung dengan kamu, Anoa," tantang tikus.
Dengan angkuhnya anoa bolak-balik berjalan ke sana kemari memikirkan cara yang paling ampuh untuk mengalahkan tikus yang bergigi tajam itu. "Begini," kata anoa. "Kita akan membuat timbunan kayu untuk ditimbunkan pada diriku dan dirimu, kemudian timbunan kayu itu dibakar. Barangsiapa yang dapat keluar dari timbunan api dengan selamat, dialah pemenangnya,”
"Baik," seru tikus. "Engkau lebih dahulu yang akan kutimbuni kayu." Maka pergilah ia mengumpulkan ranting-ranting di sekitar tempat itu dan segera menyuruh anoa berbaring dan menimbuninya dengan ranting-ranting, lalu menyalakan api. Api menyala dari atas merambat ke bawah dan mulai membakar tubuh anoa. Anoa berusaha menyelamatkan diri darl kobaran api yang mulai merayapi tubuhnya. la mulai menggerak-gerakkan tubuh dan bersusah payah mengeluarkan badannya dari timbunan kayu berapi, sebelum kayu terbakar semua.
Setelah itu giliran tikus. Sementara anoa mengumpulkan ranting, tikus secara diam-diam melubangi tanah dibawahnya untuk membuat lubang, sebagai tempat persembunyiannya. Lalu, ia berbaring dan anoa mulai menimbuni tubuhnya dengan ranting-ranting dan membakarnya dari atas. Anoa berkata dengan sombongnya, "Rasakan kau, Tikus. Pasti kamu mati dengan cepat dan akan kujadikan santapanku yang lezat." Tetapi, apakah yang terjadl setelah timbunan kayu itu habis terbakar? Tikus tidak ada lagi di tempatnya. la berlindung dalam lubang persembunyian di bawah tanah. Maka, berteriaklah anoa, "Hai, Tikus! Keluarlah kau dari tempat persembunyianmu. Percayalah aku tidak akan berbuat apa-apa terhadapmu. Percayalah."
Tidak lama kemudian meloncatlah tikus keluar dan langsung melarikan diri. la takut anoa akan memperdayakan dirinya karena tubuhnya tidak terbakar sedikit pun. Dari kejauhan tikus berteriak, "Hai, Anoa! Akulah pemenangnya. Apa yang akan kau lakukan kepada diriku kini?"
Anoa tidak berkata apa-apa. la menyatakan kalah dalam pertarungan ini. Oleh karena itu, sejak saat itu tikus dinyatakan menjadi warga hutan belantara. Tempat tinggalnya di dalam kayu besar. Makanannya daun-daunan dan buah-buahan yang ada di dalam hutan tersebut.
Waktu itu anoaIah yang memerintah binatang-binatang yang ada di hutan termasuk tikus. Pada suatu hari anoa mengadakan pemeriksaan penghuni hutan. Ketika anoa berjalan-jalan bertemulah dia dengan seekor tikus. Bertanyalah dia kepada tikus, "Mengapa kau berada di sini, Tikus? Mengapa kamu tidak melapor kepadaku. Apakah kamu belum tahu siapa aku dan bagaimana peraturan di hutan belantara ini? Akulah raja hutan ini. Siapa saja yang memasuki daerah ini harus melapor kepadaku."
"Aku ke sini untuk mencari makanan, Tuan Anoa. Haruskah aku meminta izin darimu untuk mencari makananku sendiri?" jawab tikus.
"Apa? Akan kuinjak-injak kau nanti!" teriak anoa. "Berani-beraninya kau berkata begitu kepadaku . Akan kuhabiskan nyawamu di sini. Akan aku jadikan santapanku kau nanti."
"Jangan, Tuan! Walaupun aku kecil janganlah kau remehkan aku seperti itu," jawab tikus lagi.
"Oh, kalau begitu kau memang mau melawanku, Tikus?"tanya anoa. "Kalau memang begitu lebih baik kita bertarung saja."
"Baiklah, walaupun aku kecil aku berani bertarung dengan kamu, Anoa," tantang tikus.
Dengan angkuhnya anoa bolak-balik berjalan ke sana kemari memikirkan cara yang paling ampuh untuk mengalahkan tikus yang bergigi tajam itu. "Begini," kata anoa. "Kita akan membuat timbunan kayu untuk ditimbunkan pada diriku dan dirimu, kemudian timbunan kayu itu dibakar. Barangsiapa yang dapat keluar dari timbunan api dengan selamat, dialah pemenangnya,”
"Baik," seru tikus. "Engkau lebih dahulu yang akan kutimbuni kayu." Maka pergilah ia mengumpulkan ranting-ranting di sekitar tempat itu dan segera menyuruh anoa berbaring dan menimbuninya dengan ranting-ranting, lalu menyalakan api. Api menyala dari atas merambat ke bawah dan mulai membakar tubuh anoa. Anoa berusaha menyelamatkan diri darl kobaran api yang mulai merayapi tubuhnya. la mulai menggerak-gerakkan tubuh dan bersusah payah mengeluarkan badannya dari timbunan kayu berapi, sebelum kayu terbakar semua.
Setelah itu giliran tikus. Sementara anoa mengumpulkan ranting, tikus secara diam-diam melubangi tanah dibawahnya untuk membuat lubang, sebagai tempat persembunyiannya. Lalu, ia berbaring dan anoa mulai menimbuni tubuhnya dengan ranting-ranting dan membakarnya dari atas. Anoa berkata dengan sombongnya, "Rasakan kau, Tikus. Pasti kamu mati dengan cepat dan akan kujadikan santapanku yang lezat." Tetapi, apakah yang terjadl setelah timbunan kayu itu habis terbakar? Tikus tidak ada lagi di tempatnya. la berlindung dalam lubang persembunyian di bawah tanah. Maka, berteriaklah anoa, "Hai, Tikus! Keluarlah kau dari tempat persembunyianmu. Percayalah aku tidak akan berbuat apa-apa terhadapmu. Percayalah."
Tidak lama kemudian meloncatlah tikus keluar dan langsung melarikan diri. la takut anoa akan memperdayakan dirinya karena tubuhnya tidak terbakar sedikit pun. Dari kejauhan tikus berteriak, "Hai, Anoa! Akulah pemenangnya. Apa yang akan kau lakukan kepada diriku kini?"
Anoa tidak berkata apa-apa. la menyatakan kalah dalam pertarungan ini. Oleh karena itu, sejak saat itu tikus dinyatakan menjadi warga hutan belantara. Tempat tinggalnya di dalam kayu besar. Makanannya daun-daunan dan buah-buahan yang ada di dalam hutan tersebut.
DONGENG ASAL NE BURUNG MOOPOO ( dari Minahasa)
Beribu-ribu tahun yang lalu hlduplah seorang kakek dengan cucu lelakinya bernama Nondo. Mereka tinggal di tepi hutan lebat. Pekerjaan kakek mencari hasil hutan dan menjualnya ke pasar. Sedangkan Nondo, karena kakinya pincang, hanya membantu kakeknya di rumah. la bertugas membersihkan rumah dan memasak untuk makan mereka sehari-hari. Ketika Nondo kecil kedua orang tuanya meninggal dunia. Sejak saat itu sampal usianya yang sekarang, sepuluh tahun, ia hidup bersama kakeknya.
Setiap hari kakek pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dan hasil hutan lainnya. Nondo sedih tidak dapat membantu kakeknya. Padahal ia ingin sekali pergi ke hutan. Ia ingin menyaksikan sendiri binatang-binatang yang hidup di hutan dan dapat membantu kakeknya mengangkut hasil hutan ke pasar. Namun, apa daya ia tidak mampu melakukannya karena kakinya yang pincang.
Setiap selesai makan malam kakek selalu menceritakan tentang semua binatang yang dilihatnya di hutan. Nondo mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ia selalu membayangkan seperti apakah binatang-binatang dalam cerita kakeknya itu. Dan, biasanya setelah itu Nondo bermimpi bertemu dengan binatang-binatang itu. Dia juga kerap bernyanyi menirukan bunyi burung-burung yang sering diceritakan kakeknya.
Suatu hari kakeknya hendak pergi ke hutan seperti biasanya. Karena Nondo ingin sekali melihat binatang-binatang di hutan, maka ia memohon kepada kakeknya agar diizinkan pergi bersama. Semula kakeknya tidak mengizinkan karena ia kuatir akan kesehatan Nondo. Namun demikian, Nondo terus merengek dan membujuk kakeknya. Akhirnya kakeknya mengizinkan dengan syarat dia harus segera menyelesaikari pekerjaan rumahnya. Dengan penuh semangat Nondo menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian, berangkatlah dia bersama kakeknya ke hutan. .
Di dalam hutan Nondo kerap tertinggal oleh kakeknya karena ia tidak dapat berjalan dengan cepat. Setiap kali ia bertemu dengan seekor binatang hutan, ia selalu berhenti untuk menyaksikan gerak-gerik binatang itu. Bahkan ia pun menirukan suara-suara binatang itu. Semakin asyik ia bermain dengan binatang-binatang itu, semakin jauh pula ia tertinggal kakeknya.
Semula ia tidak menyadari keadaannya yang tinggal sendiri di dalam hutan itu. Setelah hari menjelang sore, baru ia menyadari bahwa kakeknya sudah tidak bersamanya lagi.
Hari semakin malam dan suasana hutan pun sudah semakin menyeramkan. Nondo menangis memanggil-manggil kakeknya, namun tidak ada jawaban sama sekali. la mencoba mencari jalan ke rumahnya, namun semakin lama semakin masuk ia ke hutan sehingga bertambah bingunglah pikirannya.
Malam semakin larut dan burung-burung semakin ramai berbunyi, seperti burung uwak, ayam hutan, kedi-kedi, kakaktua, toin tuenden, dan kuow. Mereka berbunyi bersahut-sahutan. Nondo menjadi takut apalagi setelah mendengar suara burung kuow yang keras dan menakutkan. Maka menangis dan berteriak-teriaklah dia agar suaranya didengar oleh kakeknya.
Sementara itu kakek Nondo, ketika menyadari cucunya tidak ada di belakangnya, menjadi panik. Ia berteriak-teriak memanggil cucunya namun tidak terdengar jawaban. Karena sudah merasa putus asa, akhirnya kakek pulang ke rumahnya. la berjanji akan mencari cucunya kembali pada keesokan harinya.
Pada hari selanjutnya barangkatlah kakek ke hutan mencari Nondo kembali. la sangat sedih membayangkan Nondo akan ketakutan sendirian di hutan. Namun, sampai sore hari belum ditemukan juga cucunya itu.
Pada hari berikutnya kembali ia mencarl Nondo ke hutan dan hasilnya pun tetap nihil. Sudah hampir putus asa kembalilah kakek ke rumahnya. Namun, dalam perjalanan.pulang ia mendengar suara yang aneh. la berusaha mencari sumber suara itu. Ternyata itu berasal dari seekor burung yang sedang hinggap di atas sebatang pohon. la menengadah ke atas dan tampak burung itu sedang terbang dari satu cabang ke cabang lainnya. Burung itu memperhatikan kakek Nondo sambil mengeluarkan suara, "moo-poo".
Semula kakek Nondo tidak menyadari akan maksud suara itu, namun lama-lama ia memperhatikan suara itu seperti Opo-ku. Lalu, ia perhatikan kembali burung itu, ternyata burung itu pincang. Kemudian menangislah ia karena teringat cucunya. la yakin burung itu merupakan jelmaan dari cucunya, Nondo.
Setiap hari kakek pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dan hasil hutan lainnya. Nondo sedih tidak dapat membantu kakeknya. Padahal ia ingin sekali pergi ke hutan. Ia ingin menyaksikan sendiri binatang-binatang yang hidup di hutan dan dapat membantu kakeknya mengangkut hasil hutan ke pasar. Namun, apa daya ia tidak mampu melakukannya karena kakinya yang pincang.
Setiap selesai makan malam kakek selalu menceritakan tentang semua binatang yang dilihatnya di hutan. Nondo mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ia selalu membayangkan seperti apakah binatang-binatang dalam cerita kakeknya itu. Dan, biasanya setelah itu Nondo bermimpi bertemu dengan binatang-binatang itu. Dia juga kerap bernyanyi menirukan bunyi burung-burung yang sering diceritakan kakeknya.
Suatu hari kakeknya hendak pergi ke hutan seperti biasanya. Karena Nondo ingin sekali melihat binatang-binatang di hutan, maka ia memohon kepada kakeknya agar diizinkan pergi bersama. Semula kakeknya tidak mengizinkan karena ia kuatir akan kesehatan Nondo. Namun demikian, Nondo terus merengek dan membujuk kakeknya. Akhirnya kakeknya mengizinkan dengan syarat dia harus segera menyelesaikari pekerjaan rumahnya. Dengan penuh semangat Nondo menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian, berangkatlah dia bersama kakeknya ke hutan. .
Di dalam hutan Nondo kerap tertinggal oleh kakeknya karena ia tidak dapat berjalan dengan cepat. Setiap kali ia bertemu dengan seekor binatang hutan, ia selalu berhenti untuk menyaksikan gerak-gerik binatang itu. Bahkan ia pun menirukan suara-suara binatang itu. Semakin asyik ia bermain dengan binatang-binatang itu, semakin jauh pula ia tertinggal kakeknya.
Semula ia tidak menyadari keadaannya yang tinggal sendiri di dalam hutan itu. Setelah hari menjelang sore, baru ia menyadari bahwa kakeknya sudah tidak bersamanya lagi.
Hari semakin malam dan suasana hutan pun sudah semakin menyeramkan. Nondo menangis memanggil-manggil kakeknya, namun tidak ada jawaban sama sekali. la mencoba mencari jalan ke rumahnya, namun semakin lama semakin masuk ia ke hutan sehingga bertambah bingunglah pikirannya.
Malam semakin larut dan burung-burung semakin ramai berbunyi, seperti burung uwak, ayam hutan, kedi-kedi, kakaktua, toin tuenden, dan kuow. Mereka berbunyi bersahut-sahutan. Nondo menjadi takut apalagi setelah mendengar suara burung kuow yang keras dan menakutkan. Maka menangis dan berteriak-teriaklah dia agar suaranya didengar oleh kakeknya.
Sementara itu kakek Nondo, ketika menyadari cucunya tidak ada di belakangnya, menjadi panik. Ia berteriak-teriak memanggil cucunya namun tidak terdengar jawaban. Karena sudah merasa putus asa, akhirnya kakek pulang ke rumahnya. la berjanji akan mencari cucunya kembali pada keesokan harinya.
Pada hari selanjutnya barangkatlah kakek ke hutan mencari Nondo kembali. la sangat sedih membayangkan Nondo akan ketakutan sendirian di hutan. Namun, sampai sore hari belum ditemukan juga cucunya itu.
Pada hari berikutnya kembali ia mencarl Nondo ke hutan dan hasilnya pun tetap nihil. Sudah hampir putus asa kembalilah kakek ke rumahnya. Namun, dalam perjalanan.pulang ia mendengar suara yang aneh. la berusaha mencari sumber suara itu. Ternyata itu berasal dari seekor burung yang sedang hinggap di atas sebatang pohon. la menengadah ke atas dan tampak burung itu sedang terbang dari satu cabang ke cabang lainnya. Burung itu memperhatikan kakek Nondo sambil mengeluarkan suara, "moo-poo".
Semula kakek Nondo tidak menyadari akan maksud suara itu, namun lama-lama ia memperhatikan suara itu seperti Opo-ku. Lalu, ia perhatikan kembali burung itu, ternyata burung itu pincang. Kemudian menangislah ia karena teringat cucunya. la yakin burung itu merupakan jelmaan dari cucunya, Nondo.
DONGENG ANGKARO DAN TUNTURANA (Dari Talaud)
Angkaro dan Tunturana adalah dua ekor kepiting laut yang bersahabat karib. Keduanya tinggal bersama-sama di pinggir laut, berlindung pada batu-batuan dekat pantai. Jika air laut surut, keduanya bersembunyi sebab pada saat itu banyak orang mencari ikan, dan mencari dirinya. Kepiting laut sangat digemari oleh orang-orang karena dagingnya yang lezat. Oleh sebab itu musuh mereka yang paling ditakuti adalah manusia. Manusia beramai-ramai menangkap kepiting pada saat laut surut. Itu sebabnya Angkaro dan Tunturana paling takut keluar pada waktu laut surut. Lain halnya bila air laut pasang, mereka dengan gembira ria bermain, tanpa takut ditangkap oleh manusia.
Pada suatu malam bulan purnama, keduanya keluar menikmati keindahan alam raya. Ketika itu, air pasang dan manusla di darat pun ramai menikmati sinar bulan purnama raya seperti makhluk-makhluk lainnya. Sementara bermain dan bersenda-gurau, Angkaro berkata kepada Tunturana, “Kawan, badan kita polos, tidak indah dipandang mata. Punggung kita perlu dihiasi agar menarik. Tanpa pakaian berhias, kita kurang menarik."
Tunturana menjawab, "Baik sekali buah pikiranmu itu. Sekarang kita upayakan diri kita menjadi cantik dan dapat menawan hati makhluk lain. Sekarang bagaimana caranya?"
"Begini, kawan," kata Angkaro. "Punggung kita dihiasi dengan lukisan yang indah-indah dan berwarna-warni. Pakailah cat tahan zaman dan serasi warnanya dengan kulit kita."
Tunturana berkata, "Baik, kawan. Sekarang marilah kita mempercantik diri di rumah. Saya mempunyai cat dengan kuasnya, marilah kita menghiasi diri secara bergantian."
"Baik," kata Angkaro. "Siapa duluan?"
"Saya duluan," kata Tunturana. "Ukirlah punggung saya ini dengan gambar hiasan yang indah-indah. Hiasi sebagus-bagusnya!
Kemudian mulailah Angkaro mengukir dan melukis punggung kepiting Tunturana. Angkaro menghiasi punggung temannya itu dengan bulatan-bulatan yang bagus, teratur, tersusun rapi, berbaris lurus, dan bervariasi besar kecil dari muka ke belakang dan dari atas ke bawah. Sangat bagus lukisan bulatan-bulatan itu dengan warna-warni yang menawan setiap mata yang memandangnya.
"Sudah selesai, kawan," kata Angkaro.· "Lihatlah di permukaan air laut di bawah sinar bulan purnama itu, bagus bukan?"
"Bagus sekali, kawan. Terima kasih!" kata Tunturana.
"Sekarang giliran kamu mengukir punggung saya," kata Angkaro kepada kawannya, Tunturana. "Bikin yang bagusya?"
"Baik," kata Tunturana. "Tanam punggungmu, saya akan percantik badanmu." Lalu, segera ia mengambil kuas dan cat hendak mengukir punggung Angkaro. Tetapi, apa yang terjadi?
Air laut dengan tiba-tiba menjadi surut, datanglah suluh dan lampu-Iampu pencari ikan di pinggir pantai. Keduanya sangat terkejut, maka segeralah mereka lari menghindari bahaya.
“Maaf, kawan," kata Tunturana. "Orang-orang sudah datang mau menangkap kita. Tidak ada lagi waktu untuk mengukir punggungmu!"
"Tidak! Punggung saya harus diberi lukisan, jangan dibiarkan polos tanpa gambar dan warna!" teriak Angkaro.
Melihat lampu-Iampu sudah dekat, maka Tunturana mencakar-cakar punggung Angkaro dengan kuas dan cat. Punggung Angkaro kini penuh cakaran tidak keruan karena terburu-buru keduanya hendak melarikan diri.
"Jangan marah, kawan," kata Tunturana. "Gambar dipunggungmu jelek sebab bahaya sudah datang. Lebih baik tubuhmu itu penuh cakaran-cakaran daripada hidup kita binasa. Ini tidak sengaja."
Angkaro menerima keadaan tubuhnya yang bergambar cakaran-cakaran karena keadaan terpaksa. Keduanya tetap berkawan dalam bentuk yang kontras. Tunturana cantik dan Angkaro jelek.
(Catatan:Tunturana dalam bahasa Talaud berarti teratur, bagus, sedangkan Angkaro berarti cakar-cakaran).
Pada suatu malam bulan purnama, keduanya keluar menikmati keindahan alam raya. Ketika itu, air pasang dan manusla di darat pun ramai menikmati sinar bulan purnama raya seperti makhluk-makhluk lainnya. Sementara bermain dan bersenda-gurau, Angkaro berkata kepada Tunturana, “Kawan, badan kita polos, tidak indah dipandang mata. Punggung kita perlu dihiasi agar menarik. Tanpa pakaian berhias, kita kurang menarik."
Tunturana menjawab, "Baik sekali buah pikiranmu itu. Sekarang kita upayakan diri kita menjadi cantik dan dapat menawan hati makhluk lain. Sekarang bagaimana caranya?"
"Begini, kawan," kata Angkaro. "Punggung kita dihiasi dengan lukisan yang indah-indah dan berwarna-warni. Pakailah cat tahan zaman dan serasi warnanya dengan kulit kita."
Tunturana berkata, "Baik, kawan. Sekarang marilah kita mempercantik diri di rumah. Saya mempunyai cat dengan kuasnya, marilah kita menghiasi diri secara bergantian."
"Baik," kata Angkaro. "Siapa duluan?"
"Saya duluan," kata Tunturana. "Ukirlah punggung saya ini dengan gambar hiasan yang indah-indah. Hiasi sebagus-bagusnya!
Kemudian mulailah Angkaro mengukir dan melukis punggung kepiting Tunturana. Angkaro menghiasi punggung temannya itu dengan bulatan-bulatan yang bagus, teratur, tersusun rapi, berbaris lurus, dan bervariasi besar kecil dari muka ke belakang dan dari atas ke bawah. Sangat bagus lukisan bulatan-bulatan itu dengan warna-warni yang menawan setiap mata yang memandangnya.
"Sudah selesai, kawan," kata Angkaro.· "Lihatlah di permukaan air laut di bawah sinar bulan purnama itu, bagus bukan?"
"Bagus sekali, kawan. Terima kasih!" kata Tunturana.
"Sekarang giliran kamu mengukir punggung saya," kata Angkaro kepada kawannya, Tunturana. "Bikin yang bagusya?"
"Baik," kata Tunturana. "Tanam punggungmu, saya akan percantik badanmu." Lalu, segera ia mengambil kuas dan cat hendak mengukir punggung Angkaro. Tetapi, apa yang terjadi?
Air laut dengan tiba-tiba menjadi surut, datanglah suluh dan lampu-Iampu pencari ikan di pinggir pantai. Keduanya sangat terkejut, maka segeralah mereka lari menghindari bahaya.
“Maaf, kawan," kata Tunturana. "Orang-orang sudah datang mau menangkap kita. Tidak ada lagi waktu untuk mengukir punggungmu!"
"Tidak! Punggung saya harus diberi lukisan, jangan dibiarkan polos tanpa gambar dan warna!" teriak Angkaro.
Melihat lampu-Iampu sudah dekat, maka Tunturana mencakar-cakar punggung Angkaro dengan kuas dan cat. Punggung Angkaro kini penuh cakaran tidak keruan karena terburu-buru keduanya hendak melarikan diri.
"Jangan marah, kawan," kata Tunturana. "Gambar dipunggungmu jelek sebab bahaya sudah datang. Lebih baik tubuhmu itu penuh cakaran-cakaran daripada hidup kita binasa. Ini tidak sengaja."
Angkaro menerima keadaan tubuhnya yang bergambar cakaran-cakaran karena keadaan terpaksa. Keduanya tetap berkawan dalam bentuk yang kontras. Tunturana cantik dan Angkaro jelek.
(Catatan:Tunturana dalam bahasa Talaud berarti teratur, bagus, sedangkan Angkaro berarti cakar-cakaran).
TALE ABOUT ANGKARO AND TUNTURANA (From Talaud)
Angkaro and Tunturana are two sea crabs are best of friends. Both lived together at the seaside, take refuge on the rocks near the shore. If low tide, both in hiding because at that time a lot of people fishing, and looking for him. Sea crabs are very popular with people because the meat is delicious. Therefore, their most feared enemy is man. Human rollicking catch crabs at low tide. That's why Angkaro and Tunturana most afraid to go out at low tide. Another case when high tides, they are fun to play happily, without fear of being caught by humans. On a full moon night, they came out to enjoy the beauty of the universe. At that time, tide and manusla on land too busy enjoying the full moon feast like other creatures. While playing and bersenda kidding, Angkaro told Tunturana, "Comrade, our bodies plain, not beautiful to the eye. Backs we have decorated to attract. Without ornate clothing, we are less interesting. "Tunturana replied," Well it's the fruit your mind. Now we try ourselves to be beautiful and captivating the hearts of other beings. Now how? "" Look, comrade, "said Angkaro." Backs we decorated with beautiful paintings, beautiful and colorful. Wear-resistant paint color matching by age and our skin. "Tunturana said," Well, my friend. Now let us beautify themselves at home. I have a paint with a brush, let us adorn ourselves in turn. "" Good, "said Angkaro." Who's first? "" I go first, "said Tunturana." Ukirlah my back is decorated with beautiful pictures, beautiful. Decorate the most beautiful! Then start carving and painting Angkaro Tunturana crab backs. Angkaro adorn the back of his friend with dots of a good, orderly, neat, straight line, and great varies little from the front to back and top to bottom. Very nice painting dots with colorful charming every eye looking at him. "It's over, comrade," said Angkaro. • "Look at the sea in the moonlight, the good is not it?" "Well done, mate. Thank you!" Tunturana said. "Now turn you carve my back," said Angkaro to his friend, Tunturana. "Make it bagusya?" "Good," said Tunturana. "Plant your back, I'll beautify your body." Then, as soon as he took the brush and the paint was about to carve back Angkaro. But, what happens? Seawater suddenly become retroactively, torches and lamps come-Iampu fish finder on the beach. Both were very surprised, then immediately they are running from danger. "Sorry, comrade," said Tunturana. "People have come would have arrested us. No more time to carve your back! "" No! My back should be attached, do not be left plain with no picture and color! "Shouted Angkaro. Seeing the light-Iampu is imminent, then clawing back Tunturana Angkaro with brushes and paint. Angkaro full claw back a mess now because they want to rush to escape. "Do not be angry, my friend," said Tunturana. "Figure dipunggungmu ugly because the danger had come. Better your body is full of scratch-scratch instead destroyed our lives. It's no accident. "Angkaro received his pictorial state-claw scratches due to forced circumstances. Both remained consort in the form of a contrast. Tunturana Angkaro beautiful and ugly. (Note: Tunturana in Talaud means regular, good, while the mean claw-claw Angkaro ).
ABO MAMONGKUROIT (dari Minahasa)
Abo Mamongkuroit dan istrinya, Buwal Putri Monondeaga, tinggal di tengah-tengah hutan. Mereka sangat berbahagia karena saling menyayangi. Suatu ketika Abo memutuskan untuk merantau, mencari nafkah agar kehidupannya menjadi lebih baik. Abo meminta izin kepada istrinya dan ternyata istrinya merelakan Abo untuk merantau asalkan tidak terlalu lama. Abo pun bersiap untuk merantau dan istrinya membekali Abo dengan ketupat dan telur rebus. Walaupun dengan hati terlalu berat terpaksa Abo harus meninggalkan istrinya yang cantik ini.
Suatu ketika, belum beberapa lama setelah keberangkatan Abo, datanglah Tulap, raksasa rakus pemakan manusia yang tinggal di sekitar hutan itu. Monondeaga pun ketakutan melihat Tulap, tetapi Tulap tenang saja dan berkata, "Jangan takut, Monondeaga! Aku tak akan memakan engkau."
Monondeaga pun bingung dan berpikir bagaimana caranya menghindari diri dari si Tulap. Tulap berkata dengan suara menggelegar, "Hai, Deaga, kau akan senang sekali apabila berada di rumahku," demikian ia membujuk, namun Deaga mendapatkan akal untuk menahan niat Tulap yang jahat itu, "Hari ini jangan dulu kau bawa sebab aku akan mencuci rambut. Sebaiknya besok saja kau jemput aku di sini." Tanpa berpikir lama si Tulap langsung pergi dengan penuh harapan besok dia pasti mendapatkan Deaga. Sementara itu, Deaga terus memikirkan alasan apa lagi yang akan disampaikannya besok kepada si Tulap.
Kalau saja suamiku ada tentu hal ini tidak akan terjadi, keluh Deaga dalam hati. Semalaman Deaga tidak bisa tidur. Ia hanya memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Akankah Tulap memakannya?
Esok harinya ketika hari sudah petang muncullah si Tulap di rumah Deaga. Dengan senyum mengerikan Tulap menghampiri Deaga. Deaga tak kehabisan akal, dia berkata, "Hai Tulap, bagaimana kalau kau jemput aku besok saja sebab aku belum mandi." Tulap semula tidak mau mendengarkan alasan itu, namun Deaga terus membujuknya, akhirnya Tulap mau menerimanya dan segera pulang ke rumahnya untuk kembali lagi keesokan harinya.
Alasan demi alasan disampalkan Deaga kepada Tulap untuk mengulur-ulur waktu sampai suaminya tiba kembali di rumah. Namun, dari hari ke hari suainya belum juga datang dari perantauan.
Keesokan harinya ketika Deaga sedang duduk merenung memikirkan nasibnya tiba-tiba datanglah Tulap. Alangkah terkejutnya Deaga melihat Tulap karena tidak ada lagi alasan yang dapat diberikan kepadanya. la sangat ketakutan, sementara Tulap sudah tidak sabar lagi. Tulap membentak, "Sekarang apa lagi alasanmu? Mari ikut akul" Deaga gemetaran, "Tamatlah sudah riwayatku ini. Aku akan mati ditelan raksasa rakus ini," ia berkata dalam hatinya.
Sementara Deaga merenungi nasibnya, dia dikagetkan lagi oleh suara Tulap yang menggelegar.
"Tunggu sebentar, Tulap. Aku mau menyisir rambutku dahulu dan mengganti bajuku ini,” bujuk Deaga untuk menenangkan si Tulap. Setelah selesai mendandani dirinya, Deaga keluar dari rumahnya. Tanpa menunggu lama, Tulap langsung membopong Deaga ke rumahnya di tengah hutan. Setibanya di rumah Tulap, Deaga dimasukkan ke dalam kandang besi yang berada di kolong rumahnya.
Selama dikurung di rumah Tulap, Deaga semakin lama semakin kurus dan kecantikannya semakin hari semakin pudar. Setiap hari ia hanya memikirkan akan nasibnya. la juga memikirkan suaminya yang kelak setelah pulang dari rantau tidak akan menemuinya di rumah. Suaminya pasti akan sedih sekali dan ia akan berusaha mencarinya. Lalu, kalau ia menemui dirinya berada di rumah Tulap, ia pasti akan marah dan akan terjadi sesuatu yang mengerikan.
Kira-kira dua minggu di perantauan Abo pun kembali ke rumah. Dengan membawa oleh-oleh dan uang untuk istrinya yang dikasihinya, Abo tiba di rumah. la memanggil-manggil istrinya, tetapi tidak ada jawaban. Betapa sedih hatinya ketika mengetahui rumahnya kosong.
Ke mana gerangan istrinya? Muncullah bermacam-macam pikiran. Mungkinkah istrinya dimakan binatang buas, atau hanyut terbawa arus di sungai. la berusaha mencari jejak-jejak istrinya di sekitar rumah dan sungai yang berada tidak jauh dari rumahnya. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda bahwa istrinya hanyut terbawa arus atau dimakan binatang buas, Akhirnya Abo memutuskan untuk mencarinya sampai dapat. Esok harinya ia menyiapkan bekal perjalanan dan bersiap-siap melakukan perjalanan.
Berangkatlah Abo mencari istrinya, berjalan tanpa mengenal lelah menelusuri hutan belantara. Siapa saja yang ditemukannya ditanyakan tentang istrinya, namun jawaban yang diterimanya selalu tidak menyenangkan, yaitu bahwa mereka tidak mengetahuinya. Kemudian, Abo melanjutkan Iagi perjalanannya, dan tibalah Abo di rumah Tulap yang cukup besar. Kedatangannya disambut dengan gembira oleh Tulap, seolah-olah dia tidak mengetahui akan nasib istri Abo.
Tulap menegur Abo untuk jangan cepat pulang dan mengajaknya untuk minum kopi dulu. Sesudahnya Abo diajak mengadakan pertarungan adu betis. Ajakan ini disambut dengan gembira oleh Abo dan keduanya segera turun dari rumah menuju halaman.
Pertandingan adu betis dimulai. Tulap memulai pertandingan dengan serangan. Serangan demi serangan dapat ditahan oleh Abo. Anehnya, bukan Abo yang terpelanting karena diserang, malah Tulap yang terpelanting jauh. "Hai, Tulap," seru Abo. "Menyerahlah kau karena ternyata aku lebih kuat dari dirimu. Kekuatanku melebihi kekuatanmu, kau tak berdaya, terbukti kau tak dapat merobohkan aku."
Kali ini Tulap berpikir untuk menahan serangan. Abo memulai serangannya terhadap Tulap, namun kasihan. Tulap si raksasa hutan itu. la terpelanting jauh ke atas pohon dan menggelepar-gelepar seperti ayam dipotong lehernya. Akhirnya ia mati. Keadaan ini disaksikan pula oleh istri Tulap. Melihat hal ini istri Tulap langsung mengambil pisau yang sudah diasah untuk menyerang Abo. Tetapi, apa yang terjadi? Istri Tulap ini juga mendapat pukulan yang dahsyat dari Abo dan terlempar jauh, maka matilah suami istri itu.
Selanjutnya Abo melihat bahwa di kolong rumah Tulap terdapat banyak manusia yang akan dijadikan makanan sehari-hari. Nampak pula istrinya yang tercinta berada di dalamnya. Segera dibukakannya kurungan yang penuh dengan manusia itu dan disuruhnya mereka semua pulang untuk menjalankan kehidupan seperti biasanya, berkebun di ladang mereka. Dipeluknya istrinya dan diajaknya pulang. Setelah itu mereka hidup bahagia, tidak ada yang berani mengganggu lagi.
Suatu ketika, belum beberapa lama setelah keberangkatan Abo, datanglah Tulap, raksasa rakus pemakan manusia yang tinggal di sekitar hutan itu. Monondeaga pun ketakutan melihat Tulap, tetapi Tulap tenang saja dan berkata, "Jangan takut, Monondeaga! Aku tak akan memakan engkau."
Monondeaga pun bingung dan berpikir bagaimana caranya menghindari diri dari si Tulap. Tulap berkata dengan suara menggelegar, "Hai, Deaga, kau akan senang sekali apabila berada di rumahku," demikian ia membujuk, namun Deaga mendapatkan akal untuk menahan niat Tulap yang jahat itu, "Hari ini jangan dulu kau bawa sebab aku akan mencuci rambut. Sebaiknya besok saja kau jemput aku di sini." Tanpa berpikir lama si Tulap langsung pergi dengan penuh harapan besok dia pasti mendapatkan Deaga. Sementara itu, Deaga terus memikirkan alasan apa lagi yang akan disampaikannya besok kepada si Tulap.
Kalau saja suamiku ada tentu hal ini tidak akan terjadi, keluh Deaga dalam hati. Semalaman Deaga tidak bisa tidur. Ia hanya memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Akankah Tulap memakannya?
Esok harinya ketika hari sudah petang muncullah si Tulap di rumah Deaga. Dengan senyum mengerikan Tulap menghampiri Deaga. Deaga tak kehabisan akal, dia berkata, "Hai Tulap, bagaimana kalau kau jemput aku besok saja sebab aku belum mandi." Tulap semula tidak mau mendengarkan alasan itu, namun Deaga terus membujuknya, akhirnya Tulap mau menerimanya dan segera pulang ke rumahnya untuk kembali lagi keesokan harinya.
Alasan demi alasan disampalkan Deaga kepada Tulap untuk mengulur-ulur waktu sampai suaminya tiba kembali di rumah. Namun, dari hari ke hari suainya belum juga datang dari perantauan.
Keesokan harinya ketika Deaga sedang duduk merenung memikirkan nasibnya tiba-tiba datanglah Tulap. Alangkah terkejutnya Deaga melihat Tulap karena tidak ada lagi alasan yang dapat diberikan kepadanya. la sangat ketakutan, sementara Tulap sudah tidak sabar lagi. Tulap membentak, "Sekarang apa lagi alasanmu? Mari ikut akul" Deaga gemetaran, "Tamatlah sudah riwayatku ini. Aku akan mati ditelan raksasa rakus ini," ia berkata dalam hatinya.
Sementara Deaga merenungi nasibnya, dia dikagetkan lagi oleh suara Tulap yang menggelegar.
"Tunggu sebentar, Tulap. Aku mau menyisir rambutku dahulu dan mengganti bajuku ini,” bujuk Deaga untuk menenangkan si Tulap. Setelah selesai mendandani dirinya, Deaga keluar dari rumahnya. Tanpa menunggu lama, Tulap langsung membopong Deaga ke rumahnya di tengah hutan. Setibanya di rumah Tulap, Deaga dimasukkan ke dalam kandang besi yang berada di kolong rumahnya.
Selama dikurung di rumah Tulap, Deaga semakin lama semakin kurus dan kecantikannya semakin hari semakin pudar. Setiap hari ia hanya memikirkan akan nasibnya. la juga memikirkan suaminya yang kelak setelah pulang dari rantau tidak akan menemuinya di rumah. Suaminya pasti akan sedih sekali dan ia akan berusaha mencarinya. Lalu, kalau ia menemui dirinya berada di rumah Tulap, ia pasti akan marah dan akan terjadi sesuatu yang mengerikan.
Kira-kira dua minggu di perantauan Abo pun kembali ke rumah. Dengan membawa oleh-oleh dan uang untuk istrinya yang dikasihinya, Abo tiba di rumah. la memanggil-manggil istrinya, tetapi tidak ada jawaban. Betapa sedih hatinya ketika mengetahui rumahnya kosong.
Ke mana gerangan istrinya? Muncullah bermacam-macam pikiran. Mungkinkah istrinya dimakan binatang buas, atau hanyut terbawa arus di sungai. la berusaha mencari jejak-jejak istrinya di sekitar rumah dan sungai yang berada tidak jauh dari rumahnya. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda bahwa istrinya hanyut terbawa arus atau dimakan binatang buas, Akhirnya Abo memutuskan untuk mencarinya sampai dapat. Esok harinya ia menyiapkan bekal perjalanan dan bersiap-siap melakukan perjalanan.
Berangkatlah Abo mencari istrinya, berjalan tanpa mengenal lelah menelusuri hutan belantara. Siapa saja yang ditemukannya ditanyakan tentang istrinya, namun jawaban yang diterimanya selalu tidak menyenangkan, yaitu bahwa mereka tidak mengetahuinya. Kemudian, Abo melanjutkan Iagi perjalanannya, dan tibalah Abo di rumah Tulap yang cukup besar. Kedatangannya disambut dengan gembira oleh Tulap, seolah-olah dia tidak mengetahui akan nasib istri Abo.
Tulap menegur Abo untuk jangan cepat pulang dan mengajaknya untuk minum kopi dulu. Sesudahnya Abo diajak mengadakan pertarungan adu betis. Ajakan ini disambut dengan gembira oleh Abo dan keduanya segera turun dari rumah menuju halaman.
Pertandingan adu betis dimulai. Tulap memulai pertandingan dengan serangan. Serangan demi serangan dapat ditahan oleh Abo. Anehnya, bukan Abo yang terpelanting karena diserang, malah Tulap yang terpelanting jauh. "Hai, Tulap," seru Abo. "Menyerahlah kau karena ternyata aku lebih kuat dari dirimu. Kekuatanku melebihi kekuatanmu, kau tak berdaya, terbukti kau tak dapat merobohkan aku."
Kali ini Tulap berpikir untuk menahan serangan. Abo memulai serangannya terhadap Tulap, namun kasihan. Tulap si raksasa hutan itu. la terpelanting jauh ke atas pohon dan menggelepar-gelepar seperti ayam dipotong lehernya. Akhirnya ia mati. Keadaan ini disaksikan pula oleh istri Tulap. Melihat hal ini istri Tulap langsung mengambil pisau yang sudah diasah untuk menyerang Abo. Tetapi, apa yang terjadi? Istri Tulap ini juga mendapat pukulan yang dahsyat dari Abo dan terlempar jauh, maka matilah suami istri itu.
Selanjutnya Abo melihat bahwa di kolong rumah Tulap terdapat banyak manusia yang akan dijadikan makanan sehari-hari. Nampak pula istrinya yang tercinta berada di dalamnya. Segera dibukakannya kurungan yang penuh dengan manusia itu dan disuruhnya mereka semua pulang untuk menjalankan kehidupan seperti biasanya, berkebun di ladang mereka. Dipeluknya istrinya dan diajaknya pulang. Setelah itu mereka hidup bahagia, tidak ada yang berani mengganggu lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)
Label
. Menkeu
1946
1947
1948
1949
1950
1951
1952
1953
1954
1955.
1956
1957
1958
1959
1960
1961
1962
1963
1965
1966
1967
1968
1969
1970
1972
1973
1974
1975
1976
1977
1978
1979
1980
1981
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2010
2011
2013.
2014
A
AA
abad ke-7
ABC
abdul hadi wm
ABK
Abu Nawas
Aceh
achdiat k mihardja
Adat
agama
Ahok
AI
airmadidi
Airmadidi.
ajaran sesat
ajib hamdani
Al-Qur'an
Alkitab
AMBON
amsal
amurang
anak yatim/piatu
anak-anak
anggaran
Angkatan 45
angsuran
animal
animasi
animation
Anjab
Antasari
aplikasi mobile
apresiasi sastra
Apuse
Arab
architectur
architecture
arsitektur
artificial intelligence
artikel.
asal-usul lagu yamko rambe yamko
Askes
ASN
Asrul Sani
Astinet
asuransi
audio
audio to text
ayu ting ting
B
Babilonia
baca artikel dibayar
bahasa
Bahasa Belanda
bahasa daerah
Bahasa Indonesia
bahasa kreol
Bahasa Portugis
bahasa Termate
Bahlil Dahadalia
bahundak
Bait Allah
bajak
BANJAR
bank
banten
bantuan korea selatan
Bapertarum
barang dan jasa pemerintah
Basuki
BATAK
batas laut
batas usia pensiun. PP
BB
BBM bersubsidi
Bea Cukai
beasiswa
bekerja dari rumah
Belanda
bencana
bendera
beras
berita
Betlehen
biaro
Bidat
billing
bimbo
BIODATA
BIOGRAFI
bisnis
bisnis gratis
bisnis properti
bisnis sampingan
Bitung
BKD
BKN
blogger
BNI
BNN
bobbit worm
Bolaang Mongondow
Bolmut
Bolong
Bolsel
Boltim
BPJS
BPKB
BRI
briptu norman kamaru
BTN
Bu Tahanusang
budaya
Budaya Kerja
budayawan
bugil
building
buku
bulan
BUMD
BUMN
bunaken
bung karno
BUP
bupati
C
Camat
CC
ccovid-19
cerita rakyat
cerpen
Chairil Anwar
China
choir
cicilan
cincin
cinta
CIO
CIPTA KERJA
CIPTAKERJA
civil servant
classical
coconut octopus
collorydianisme
conference
contoh
convert
copy-paste foto
covid-19
CPNS
cuti
cuti bersama
D
D.Brilman
Dacuda Pocket Scanner
daerah
daerah otonom baru
Dana Sehat
DAU
denda
desa
desain
detektor logam
Dhana Widyatmika
Dialek
Diklat Kompetensi
DIKLAT PIM
dirjen
dirjen anggaran
disiplin
diskusi
diving
DKI
doa
dogma
dokumen
dolar
domain
dongeng
download
DP3
DPR
drama
dramatik
dramatis personae
DRH
Driver
duasudara
dubes
duda
duit
dunia
E
e-billing
e-Gov
E-KTP
e-voting
edaran
Edaran Mendagri
eigendom
ekonomi
eksistensialisme
eksperimental
ekstensi
eliezer
Ensiklopedi
Epifanius
erupsi
esai
eselon
extension
F
f. Kelling
facebook
Fiery Cross Reef
Filsafat
fisik
foto
funny
gaji
gaji baru PNS
gaji baru Polri
gaji baru TNI
gaji hakim
gaji ke-13
Gaji PNS 2013
gaji polri 2011
gaji polri 2013
gaji tni 2011
gaji TNI 2012
gaji tni 2013
galungan
Ganefo
gangguan kecemasan
ganti logo blogger
garuda
gaya hidup
gayus
GCIO
gelombang
gembala
gempa
generasi Alfa
generasi baby boomers
generasi diam
generasi milenial
generasi Z
gereja
GG
Gibran Rakabuming
GMIM
Golongan Ruang
Google Cloud
Google drive
Google One
grafik
Gregorian
gubernur
gunung api
Gunung Ruang
gunung Salak
guru
hairy frogfish
hakim
halmahera
HAM
hari libur
hari raya
HB Yassin
HB Yassin. HB Yassin
HB Yassin. Pusat Dokumentasi
hewan
Hijriyah
Hindu
hobby
home
honorer
house
hukum
hut
I Nyoman Nuarta
idul fitri
II
Ijazah Palsu
iklan gratis
iklan rumah
IKN
imlek
Indihome
Indonesia
industri
Infotek
Inggris
Injil
Inpres
instansi pemerintah
integritas
interior
internet
Islam
israel
istana garuda
Istana Garuda Ibukota Nusantara
Istana Presiden IKN
IT
ITE
ITM
jabatan fungsional
jabatan pimpinan
jabatan struktural
jaksa
janda
JAWA
jenderal
jiwa
Johnson Reef
Jokowi
jual-beli
jual-beli rumah
Julian
K-1
K-2
KABUPATEN
kalabat
kalender
Kalimantan
kampanye
kampus
Kamus
kandang domba
kartu kredit
karunia
KARYA SATYA
Kasus
kata bijak
kata mutiara
kata-kata bijak
kata-kata hikmat
kata-kata mutiara
kawasan khusus
kawin
KBBI
KDKMP
keamanan
KEK
Kekayaan
kelahiran Yesus
kelas
keluarga
kelurahan
Kemen-PU
Kemendagri
Kemenkeu
Kemenkum-HAM
Kementrian
kenaikan gaji
kenaikan pangkat
Kepala Daerah
Kepdirjen
Keppres
kepribadian
Keputusan Ka BKN
keputusan menteri
kerajaan
kereta jenazah
kereta kerajaan
kereta pernikah william
kerja
Kesehatan
keuangan
Khotbah
khotbah.
kiamat
Kisah Mahabarata
KK
Klasik
Kode Etik
koloriadianisme
komedi
Kominfo
konstitusi
konversi
koor
koperasi
korpri
Korupsi
KOTA
Kotamobagu
koupsi
KPCPEN
KPK
kristen
Kritik Sastra
kritik seni
kue
kuliah
kunci foto
L
lagu
lagu daerah
Lagu Daerah
lagu daerah Jawa Timur
Lagu daerah Papua
Lagu daerah Riau
Lagu Daerah Sangihe
lagu nasional
lagu Papua
lambang daerah
langganan
langowan
lapas
larangan
laut
Laut China Selatan
lawak
lebaran
legenda
lemang
Lembaga Negara
lembeh
Lembeh Resort
Lembeh Strait
LG
LHKPN
libur nasional
liburan
Likupang
lingkungan kerja
Lirang
lirik
lirik lagu
Lirik Lagu Daerah
litle
logo
lokon
lomba sastra
lowongan
lucu
Lurah
M
magnitudo
mahasiswa
mahasiswa baru
mahawu
makar
MALUKU
Malut
Manado
mandarin fish
Manganitu
manusia
marah rusli
marga
masa Anak-anak
masamper
masarang
Masehi
Mawali
Mazmur
media massa
meja
Melayu
mendagri
mengajar
menkeu
Menpan
merah putih
MERS
Mesir
mesjid
metal detector
Meyer
migdal eder
mimic octopus
Minahas
minahasa
Minahasa Selatan
Minahasa Tenggara
Minahasa Utara
minangkabau
Mischief Reef
mistik
mitos
MM
mobil bekas
mobil jenazah
mobil mewah
mochtar lubis
model
money
Mongondow
monumen
moratorium
motivasi
motivasi hidup
Mouse Scanner
MPR
Mr. Assat
Mr. Sjafruddin
muhaling
Muhammad
Musa
mutasi
nabi
NAD
nama domain
nama etnis
nama fam
nama klan
nama marga
nama orang
nama suku
NARKOBA
Nasdem
nasi jaha
Nasrani
natal
negara
NEWS
NII
nikah
NIP
novel
Nuklir
Nusantara
o ina ni keke
OMNIBUS LAW
oneness
Orang Terkaya
orde baru
outsourcing
pada pahlawan
padang gembala
paduan suara
Pajak
PAK
pakaian adat
Pakaian Dinas
pandemi
Pangdam
pangkat PNS
pangkat polri
pangkat TNI
pantai
pantekosta
pantun
papan tulis elekronik
papan tulis sekolah
PAPUA
partitur
paskah
paypal
pdf
pegawai
pegawai tidak tetap pemerintah
pejabat
pejabat eselon
pejabat pimpinan tinggi
pelantikan
pelayan khusus
Pelindo
pemalsuan
pembunuhan
Pemda
Pemerintah
pemerintah daerah
pemilihan
pemukiman
pendaki
pendeta
pendidikan
penembakan
penerbangan
penerimaan CPNS
penerimaan pegawai BUMN
penipuan
Penpres
pensiun
pensiun pokok
pensiunan
pentakosta
penyair
penyaliban
penyimpanan
Perang Dunia
peraturan kepala BKN
peraturan menteri
Peraturan Pemerintah
perda
perguruan tinggi
perhubungan
Peribahasa
Periodisasi
Perjalanan Dinas
Perjanjian Lama
perjuangan
perkawinan
Permen
pernikahan william dan kate
PERPPU
PERPPU 1959
Perpres
pers
perumahan
Perumnas
pesawat
pidato
pigmy seahorse
Pilgub DKI
Pilkada
Pilpres
pinjaman
plagiat
PLN
PMK
PMK. Menkeu
PNBP
PNS
PNS. Kekayaan
poem
poetry
polisi
politik
politisi
polling
polri
Portugis
postmodernism
PP
PP 53
PP1998
PP2000
PP2001
PP2002
PP2011
PP2012 CPNS
PPATK
PPPK
Prabowo
prabu siliwangi
pramugari
Presiden RI
Presiden SBY
pria
profesi
propinsi
proposal
prosa
protes
Provinsi
proyek
psikiater
psikis
psikologi
PTTP
Puisi
puisi lama
pulau Spratly
pulsa
PUPNS
PUPR
purnawirawan
Pusat
Pusat Dokumentasi
R
raja
ramalan
ramayana
rapel
Rasul
Rasul Paulus
Ratahan
read
real estate
Rek Ayo Rek
rekening
rekening gendut
remunerasi
remunerasi PNS daerah
renovasi
renungan
resensi
Retribusi Menara
review sastra
ribbon eel
RIS
Rismon Sianipar
ritual
Rivai Apin
roh
roman
Romawi
ROSIHAN ANWAR
Roy Suryo
rumah
rumah kontrakan
rumah mewah
rumah murah
Rumah Sakit
rumah sederhana
rumah tangga
RUU
RUU ASN
RUU BPJS
RUU Tipikor
S
salary
salib
sambo
sandi
sangihe
SANGIHE TALAUD
SANKSI
santo
sapaan
SARS
sastra
sastra daerah
sastra indonesia
sastra online
satgas
SATYALENCANA
Scribd
sejarah
sejarah Al'Quran
sejarah gereja
sejarah gereja.
Sejarah Sastra
Sekda
sekolah dasar
selingkung
Seminar
seniman
sertifikasi guru
server
Shukoi
siau
siber
SIM
sinagoge
Singapura
sinopsis
sipir
siswa
Sitaro
siti nurbaya
SK
skala richter
sms
soeharto
Soekarno
Soleram
Solo
Soputan
sosialisasi
sosiologi
Spanyol
STAN
standar biaya
STNK
storage
stress
studi komparasi
su domain
sub domain
Subi Reef
sufi
Sukhoi
suku maya
Sulawesi Utara
Sulut
surat edaran
Surat Kepercayaan Gelanggang
Sutiyoso
syahrini
syair
T
tabel
tabel gaji pns 2000
tabel gaji pns 2011
tabel gaji pns 2012
tabel gaji pns 2013
tabel gaji pns 2019
Tabel Gaji Polri 2012
Tabel Gaji Polri 2014
TABEL GAJI TNI 2011
TABEL GAJI TNI 2012
TABEL GAJI TNI 2013
tabel gaji TNI 2014
TABEL LENGKAP GAJI POLRI 2011
tabungan
tabut
Taguladang
tagulandang
tahun baru
tahuna
takhayul
talaud
tanah
Tangkoko
TAP MPR
Taperum
tarian
tata bahasa
taurat
taurat.
teater Dian
teknologi
teks
Telekomunikasi
Tenaga Ahli
terminal
Ternate
teror
TERORIS
text to audio
The Age
the royal wedding
TIK
tips
tni
TOKOH
tokoh dunia
tokoh indonesia
tokoh islam
tomohon
tondano
torah
tradisi
transfer
trinitas
Try Sutrisno
tsunami
Tsunami
tulude
tunjangan
TVRI
Two Fish
U
uang
UGM
UN
undang-undang
Undang-Undang Pokok Agraria
unduh
unitarian
Unpad
Unsrat
upacara
upacara adat
UU
UU 1948
UU ASN
UU Penerbangan
UUD
UUDS
UUPA
V
vaksin
video
video conference
video lucu
viral
virus
VOC
W
wabah
waisak
wakil presiden
wali kota
walikota
wamen
warakawuri
wartawan
website
WHO
Wikileaks
william shakespeare
wisata selam
wise word
Woody Reef
Wuhan
Yahudi
yamko rambe yamko
Yehuda
Yerusalam
Yesus
Yosua
Yus Badudu
yusuf hamka