Berbagi pengetahuan bahasa, seni musik, sastra, sejarah, budaya, etnik, agama Kristen, agama Islam, lagu daerah, lagu rohani, undang-undang dll.
Senin, 28 Agustus 2023
SASAMBO: STRUKTUR, FUNGSI & WAWASAN ESTETIKA
Rabu, 02 Agustus 2023
Puisiku: Memento Mori
Jumat, 28 April 2023
Peribahasa dan Maknanya
Berikut adalah beberapa contoh peribahasa dan artinya:Air beriak tanda tak dalam: orang yang banyak cakap karena sombong dan lain-lain.
- Bagai air di daun talas: tidak punya pendirian dan selalu berubah-ubah.
- Bagai air dengan minyak: dua orang yang tidak mau bersatu.
- Air susu dibalas air tuba: kebaikan yang dibalas dengan kejahatan.
- Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna: berpikir dahulu sebelum berbuat sesuatu.
- Bagai siang dan malam: dua hal yang tidak mungkin dipertemukan.
- Tabir sudah tergantung, tikar sudah terbentang: telah dilakukan persiapan untuk mengadakan pesta.
- Tahu makan tahu simpan: dapat menyimpan suatu rahasia.
- Bagaimana ditanam, begitulah dituai: tiap orang yang berbuat jahat, maka akan dibalas dengan kejahatan, begitu juga sebaliknya.
- Ada air, ada ikan: di mana kita tinggal, pasti akan ada rezeki.
- Ada angin ada pohonnya: segalah hal ada asal-usulnya.
- Ada gula ada semut: dimana ada kesenangan, disitu banyak orang datang.
- Ada udang di balik batu: ada suatu maksud yang tersembunyi.
- Asam di gunung, garam di laut bertemu di belanga: kalau sudah berjodoh, pasti akan bertemu juga.
- Bagai api dengan asap: suami istri atau sahabat karib yang sehidup semati.
- Bagai memegang tali layang-layang: orang yang merasa berkuasa bertindak sesuka hati kepada orang lain.
- Bagai memindahkan air ke bukit: mengerjakan suatu hal yang mustahil akan berhasil.
- Bagai menentang matahari: melawan kekuatan atau kekuasaan yang jauh lebih tinggi dari kuasa sendiri yang akan membuat binasa.
- Bagai menulis di atas air: melakukan pekerjaan yang sulit.
- Bagai pinang dibelah dua: serupa dan sama benar.
- Berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian: siapa yang ingin senang harus kerja keras terlebih dahulu.
- Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing: bersama dalam suka dan duka.
- Di laut boleh diajak, di hati siapa tahu: apa yang tersembunyi dalam hati seseorang tidak dapat diketahui.
- Datang kelihatan muka, pergi tampak punggung: datang mengucapkan salam, pergi berpamitan
- Biarpun kucing naik haji, pulangnya mengeong juga: kepribadian dan pembawaan seseorang tidak akan berubah ke mana pun ia pergi.
- Anjing menggonggong, kafilah berlalu: asalkan maksud dan tujuannya baik, tidak usah cemas menghadapi rintangan.
- Besar pasak daripada tiang: belanja lebih besar daripada penghasilan.
- Bertepuk sebelah tangan: tidak bersambut dengan baik.
- Beriak tanda tak dalam, berguncang tanda tak penuh: orang yang suka sombong pertanda kurang dalam pengetahuannya.
- Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi: ilmu yang didapat tidak sempurna, tidak akan bermanfaat.
- Ombak kecil jangan diabaikan: persoalan kecil jangan dianggap enteng.
- Ada uang abang sayang, tak ada uang abang ditendang: hanya mau senang-senang atau harta saja.
- Nasi sudah jadi bubur: sudah terlanjur terjadi.
- Hidup bercermin bangkai: dalam kehinaan dan malu yang teramat sangat.
- Serapat-rapat menyimpan bangkai pasti tercium juga: walau menutupi kejahatan, pasti akan diketahui orang juga.
- Semudah membalik telapak tangan: terlalu mudah.
- Gayung bersambut kata berbalas: selalu mendapat tanggapan atau balasan.
- Bagai orang tua kebakaran jenggot: sangat gusar sekali.
- Selama hayat masih dikandung badan: selama masih hidup, tidak boleh putus asa.
- Seperti anak ayam kehilangan induknya: orang yang mengalami kebingungan dan kebimbangan dalam hatinya.
- Ada hujan ada panas: Tuhan menciptakan sesuatu secara berpasang-pasangan.
- Darah lebih kental daripada air: hubungan keluarga lebih kuat dari hubungan apa pun.
- Datang tak dijemput, pulang tak diantar: orang yang tidak diharapkan kehadirannya.
- Ilmu orang dihormati, lebih orang dihargai: kepandaian dan kelebihan seseorang harus dihargai.
- Hidup segan mati tak mau: keadaan seseorang yang hidupnya sulit tapi masih bertahan.
- Hendak menggaruk, tidak berkuku: ingin melakukan sesuatu namun tidak ada alat pendukungnya.
- Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah: selama hidup, manusia hendaknya taat pada adat kebiasaan masyarakat.
- Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang: orang yang selalu berbuat baik jika meninggal akan selalu dikenang.
- Dunia tak seluas daun kelor: jalan keluar dari masalah pasti ada.
- Di luar bagai madu, di dalam bagai empedu: kata-kata manis yang mengandung maksud jahat.
Kamis, 28 April 2022
Puisi: Aku
Aku, takkan beralih kau
Aku, diriku jazad
Aku, takkan kau poles
Aku, jadi aku selamanya
Aku adalah tujuan
Aku adalah hajat
Aku adalah nafas
Aku adalah geliat
Aku adalah kerja
Aku adalah doa
Aku adalah nyanyi sunyi
Aku takkan terjual dan dijual
Aku takkan tergadai dan digadai
Aku takkan minggat
karena
aku
di
sini
dalam
diri
selamanya.
Hari puisi Nasional 2022
Semuel Muhaling
Rabu, 15 April 2020
Puisiku: Revolusi ala Kampret
REVOLUSI ALA KAMPRET
revolusi ini revolusi kampret
dunia serba terbalik
revolusi ini revolusi kemanusiaan
dari kampret ke manusia
kampret memandang manusia terbalik
manusia memandang kampret terbalik
maka kampret jadikan manusia terbalik
kampret pun diserang balik: "gara-gara kau!"
ingin kujenguk batin kampret telusur dunianya
sayang tak ada wahana tumpangan
karena jalan lagi kena PSBB
dan kota lagi lockdown
kampret datang menjenguk manusia
menyusuri cerita alih fungsi hakikatnya
kala covid-19 lawat dunia
ada revolusi ala kampret di sini, di bumi ini
dunia jungkir balik:
komunal ke individual
kecongkakan ke idiot
adikuasa ke lunglai
kecongkakan agama ke gamang
bersatu ke bercerai
rindu ke benci
jabatan ke namaste
komunitas ke individualitas
satu mimbar ke sejuta mimbar
jenuh rumah kehome sweet home
ramai ke sepipekerja ke penganggur
pengangguran jadi berharga
bekerja jadi momok
topeng jadi wajah
wajah jadi ancaman
sakit jadi aib
kematian jadi auman singa
rumah jadi kantor, jadi sekolah
jadi masjid, gereja, pura, vihara, kelenteng
perjumpaan jadi bencana
penganggur jadi direktur dapat upah ala bansos
Covid kampret bawa revolusi di sini
namun Tuhan tak bisa be-revolusi jadi hantu.
Bitung, 15 April 2020
Dalam renung bencana Covid-19
Kamis, 06 Juli 2017
Sem Muhaling ‘Penyair Masamper’
Nyanaan itu untuk kurun waktu tertentu tidak salah. Penyair Sem tampak tenggelam ke dalam rawa payah rutinitas selaku birokrat.
Syukurlah, meski tidak lagi sederas dahulu, Sem belakangan berproduksi lagi sebagai penyair. Malahan, atas ‘tantangan’ seorang Leonardo Axsel Galatang, kami bertiga pada tahun ini akan menerbitkan buku antologi cerpen yang pernah kami tulis pada sekitar 30an tahun silam – semogalah rencana ‘melangit’ ini terwujud paling lambat tanggal 31 Desember tahun ini – he… he…he…
Sajak-sajak yang dibuat oleh penyair Sem pada waktu belakangan cenderung masih memperlihatkan gaya (style) khas kepenyairannya seperti yang tersuguh dalam buku antologi “Sasambo”. Itulah gaya improvisatoris, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Kamajaya Al. Katuuk dalam ulasannya yang dipublikasikan di harian Manado Post menyambut kehadiran buku antologi ‘patungan’ tersebut. Penyair Sem dalam hal ini memanfaatkan sifat lentur kata-kata untuk keperluan repetisi dan ‘permainan bunyi’. Jika Kamajaya mengilustrasikan ciri kepenyairan Sem ini dengan ‘lagu dolanan anak-anak’, maka dengan maksud yang sama, saya mengilustrasikan ciri kepenyairan yang demikian dengan teknik menyanyi dalam tradisi Masamper. Dengan gaya kepenyairan yang demikian, sajak Sem menjadi ritmis. Nikmati saja sajaknya yang melukiskan ‘kelakuan’ roh-roh yang bertentangan tabiat.
Ruh hitam ruh putih, ruh hitam ruh putih
di sini ruh kelabu makan bimbang makan bimbang
ruh hitam makan nista makan dusta
ruh putih makan cinta makan rasa
ruh kelabu menggelantung di awan
tak turun tak naik
di manakah engkau ruh-ruh leluhur ruh-ruh moyang
di manakah engkau ruh-ruh buyut ruh-ruh pewaris
jangan bimbang
lepas timbang
jangan tumbang
sebelum rembang
datang sini datang mari
ruh putih ruh suci
peluk kami peluk pewaris
biar nyanyi dalam nirwana
datang sini datang mari
ruh putih ruh suci
rasuk kalbu rasuk pikir
biar angkara lepas diri
(Album SATAS / NUSA UTARA, 23 Februari 2014)
Untuk bait-bait sajak yang terdiri atas empat larik yang berukuran pendek (dihitung dari jumlah sukukata!), maka gaya improvisatoris Sem itu membuat sajaknya mirip karmina (pantun kilat). Perbandingannya dapat dilihat lewat contoh berikut.
jangan bimbang
lepas timbang
jangan tumbang
sebelum rembang.
gendang gendut
tali kecapi
kenyang perut
senang hati
(Karmina)
Sementara untuk bait-bait sajak yang terdiri atas empat larik yang berukuran relatif panjang (delapan sampai dua belas sukukata), maka gaya kepenyairan yang demikian membuat sajak Sem menyerupai pantun seumumnya. Perbedaannya, sajak Sem tidak mengedepankan rima akhir sebagaimana yang menjadi formula pantun (a-b-a-b). Perhatikan juga sajaknya yang berjudul “Kecubung”.
Mekar lembayung kecubung
dipercik embun langit pelangi
kala angin menghembus ke utara
terbangkan wewangi mimpi tua
senyum pagi ucapkan doa:
selamat pagi pelangiku
Mekar kecubung pulau doa
tebarkan putik, janjikan rasa
ketika laut biru singkatkan langkah
menghitung tapak seribu riak
padamu kecubung
mabukkan jantung merah
pelangi kota bising.
(Album SATAS / NUSA UTARA, 30 Juni 2014)
Dalam gamitan dengan Masamper, maka perbandingan bentuk sajak-sajak Sem dengan pantun adalah hal niscaya. Pasalnya, dari sisi lirik lagunya, Masamper memang berbentuk pantun atau campuran antara pantun dan syair. Ini misalnya dibuktikan dengan lagu Masamper “Di Pantai Enemawira”
Di pantai Enemawira
kududuk dengan murung
mengenangkan si saudara
sepri burung terkurung
Ke utara peperangan
ke selatan dilarangan
hati mana boleh tahan
sindiran kiri kanan
(Catatan : Bait pertama lagu ini berbentuk pantun sedangkan bait keduanya, yang nota bene bersifat refrain, berbentuk syair)
Kemudian, sehubungan dengan teknik improvisatoris dalam menyanyikan lagu-lagu Masamper, maka teknik tersebut dapat digambarkan antara lain sebagai berikut.
Di pantai (di pantai) Enemawira
kududuk (kududuk) dengan murung
mengenang… (mengenang…) –kan si saudara
sepri bu… (sepri bu…) – rung terkurung.
Kiranya perlu dijelaskan bahwa dalam ber-masamper, kata-kata yang dikurung merupakan wujud improvisasi dengan tempo yang sesuai dengan birama lagu tersebut, yakni 6/8. Akan tetapi sering juga improvisasinya melampaui tempo yang dimaksud, sehingga lagu tersebut dinyanyikan sebagai berikut.
Di pantai (di pantai di pantai) Enemawira
(Kududuk kududuk kududuk kududuk) Kududuk
(kududuk kududuk) dengan murung
(mengenangkan mengenangkan) mengenang…
(mengenang mengenang) –kan si saudara
(sepri burung sepri burung) sepri bu…
(sepri burung sepri bu) –rung terkurung.
Gaya improvisatoris penyair Sem sedikit banyak mencuat juga dalam sajaknya yang berikut.
NEGERIKU MENYULAM SEJARAH
Negeri ini sedang menyulam sejarah untuk generasi mendatang
Sulaman penuh benang-benang kusut dan kotor
benang-benang kotor yang dipungut dari lumpur reformasi
benang-benang kusut yang ditarik dari inkonsistensi hukum
Negeri ini sedang menyulam sejarah kakek-nenek untuk cucu
sejarah yang penuh cerita horor dan teror politik
horor karena ceritanya menyeramkan
teror karena perilaku saling menakut-nakuti
katanya negeri ini nanti jadi komunis
katanya negeri ini nanti jadi fasis
katanya negeri ini nanti jadi orde baru jilid 2
katanya negeri ini nanti jadi boneka negeri seberang
katanya negeri ini nanti jadi negeri syariah
katanya negeri ini nanti jadi negeri kafir
katanya negeri ini nanti jadi apa?
Negeri ini sedang menyulam sejarah colak hitam dan kelabu
ketika benang-benang putih disirami lumpur-lumpur lebam
hitamnya caci dan nista
kelabunya pandangan insan
putihnya generasi pewaris
Negeri ini sedang menyulam sejarah penuh borok
borok politisi dan bisul-bisul rakyat jelata
menjadi epidemi kronis
(Album SATAS / NUSA UTARA, 1 Juli 2014)
Kamajaya memahami gaya improvisatoris Sem itu sebagai pengaruh gaya persajakan Sutardji Calzoum Bachri. Kamajaya sehemat saya tepat dengan pemahamannya tersebut. Welakinpun demikian, saya lebih suka memahaminya dari sisi ‘Masamper’, supaya kepenyairan Sem mendapat semacam akar pada tradisi kultural moyangnya. Maklum, Sem juga gemar ber-masamper, bahkan dengan prinsip “siang kalau siang”. ***
Bitung, 5 Juli 2017
Selasa, 06 Juni 2017
Gadis Kecilku Pertama Kali Tampil di Panggung
PAPOTO TAMONG TULUDE
Bapak-bapak, ibu-ibu, hadirian sekalian yang saya sangat hormati. Diiringi doa kepada Tuhan yang maha kuasa, kiranya saya berkenan untuk memotong kue adat Tamong Banua ini.
Manga gaghurang ileadatengku, ore lai manga anau sembau. Kere tatanatang u gaghurang su tempong horo, su orase ii ia seng mubisara.
Mesuang kalu tengkang, Mangonto eng kalu pahepa
Menanam pohon beringin, menanam pohon bakau
Isuang apa tuwo, Ionto su sebung lua
Menanam agar tumbuh, menanamnya di deburan ombak.
Isuang apa tuwo, Ionto apa sombo
Menanam agar tumbuh, menanam agar subur
Petuwo su kararaluhe, Pesombo su kalaumure
Bertumbuh semakin subur, tumbuh hingga berumur panjang
Ni suang su pedarame, Ni poto su imbengu bubato
Ko sarung tuwangeng, hundinganeng u dudato
Kalu tinuwo ndai tinuwo, Simombo ndai simombo
Kalu tinuwo nudakulung su taloara i kite sinsulung
Uare kalu simombo nuraung su taloara i kite ana u simbau
Kalu tamalahakang anging, Tamalenggeng suwu-suwu
Boko kalu nangiraļung soa, Ute daku tuwangeng u daroa
Ute ia muwihu ko werang gaghurang
Ipanumbaļi wahasa: masaka ndai masaka, rumanggeng ndai ranggeng, Rengkang ndai rumengkang, rumengkang su wulude kumisei su tadetene
Marintik nanau, kukate mogho si Ghenggona
Ko katentungke alamate kanawoeng barakati
Katentungke su hiwa, kanawoeng su saruang
Ute ia manapingke waliung seke, Iasa su baru-baru
Ilempang su tengong seke, Ipanuwang kalu su wulude
Tinowu so tadetene, uare kate kalu piniwangkulang
Kulimbene sinsule, pili e takasaukang
Kalu lawe mahaka e lisang pinungokondorong
Ku ikatoang timondo tamakasulung
Taung naliu napene sasungkala
Su orasi ii daku tuwangeng kalu makanau
Kutuwangeng dingangu arengu Ghenggona
Daļai tulindeng dorong, Mapia puding gahagho
Daļai ari karoro, Mapia ari kahagho
Tarima kaseh.
Pakaumure pakaraluhe su kite kebi manga gaghurang ore lai manga ana u sembau.
Artinya:
Menanam pohon beringin
Menanam pula pohon bakau
Menanamnya yang muda
Tumbuhnya di deburan ombak
Menanamnya supaya tumbuh
Tumbuhnya makin subur
Berkembang hingga panjang umur
Tumbuh terus kian subur
Pohon berbuah kedamaian
Ditanam dalam kebersamaan
Ditanam dalam perdamaian
Ditebang dalam pesta khalayak
Menebangnya diiringi ucapan-ucapan
Pohon tumbuh ayolah tumbuh
Tumbuhlah ayo tumbuhlah subur
Pohon tumbuh rimbun di tengah kita
Lebat dedaunan di antara saudara-saudari sekalian
Pohon tak mudah roboh oleh angin
Takkan condong oleh badai
Jika pohon jadi penghalang negeri
Maka akan kutebang diiringi doa
Kini kukenang amanah orangtua
Yang mengatakan: mendaki ayolah mendaki,
Berjalan ayolah berjalan melewati bukit
Melompat ke bukit melangkah ke puncak gunung
Terlalu sulit untuk bernaung, kupinta kepada Tuhan
Menanti keselamatan, dan turunnya segala berkat
Turunnya di pangkuan, jatuhnya di hadapan kita
Kini kan kuambil kapak perang
Diasah pada batu asah
Melangkah ke tengah pertempuran
Untuk menebang pohon di atas bukit
Tumbuh di puncak gunung, katanya pohon tertua
Kuayunkan sekali, tebasannya takkan berulang
Pohon gaib dirobohkan oleh kata-kata
Ular menjalar tiada bandingnya
Tahun yang lalu penuh tantangan
Saat ini akan kutebang pohon yang jadi penghalang
Akan kutebang di dalam nama Tuhan
Yang jahat harus dijauhi
Yang baik selalu diminta
Yang jahat janganlah datang
Yang baik teruslah dipegang
.jpeg)