Tampilkan postingan dengan label upacara adat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label upacara adat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Januari 2025

Mengenal Sekilas Pakaian Adat Sangihe

Mengenal Pakaian adat Sangihe yang dikenakan di setiap pelaksanaan upacara adat Tulude.

Pakaian adat Sangihe adalah pakaian yg dikenakan secara khusus pada acara-acara atau ritual adat, terutama pada hajatan upacara adat tulude yang dilaksanakan setiap akhir bulan Januari atau awal bulan Februari. Selain dikenakan pada ritual upacara adat tulude, juga dikenakan pada acara penjemputan tamu penting, naik rumah baru, peluncuran perahu dll.

Secara umum, pakaian adat Sangihe terdiri atas beberapa jenis seperti terurai di bawah ini:

1. Laku Tepu

Laku tepu adalah pakaian adat untuk laki-laki maupun perempuan. Namun bagi laki-laki berupa busana panjang hingga ke mata kaki berlengan panjang tanpa kerah, tanpa belahan di bagian leher, dipasangkan dengan celana panjang. Bagi perempuan panjang hingga ke lutut atau separuh betis dan dipasangkan dengan rok hingga ke mata kaki. Dahulu bahan laku tepu terbuat dari serat kofo atau hote atau pisang abaka yang ditenun. Laku tepu laki-laki dipadukan pula dengan ikat pinggang bahan kain serupa selebar 15 cm panjang kira-kira 2 meter dilingkar ke pinggang, diikatkan di sebelah kanan dan kedua ujungnya dibiarkan terurai ke bawah. Sedangkan pada perempuan dipadukan dengan selendang yg melingkar dari bahu kanan lalu disimpul ke pinggang kiri untuk perempuan yg sudah menikah, dan dari bahu kiri dan disimpul ke pinggang kanan untuk anak gadis. Selendang ini disebut bawandang; Laku tepu pria dikenakan oleh pemimpin dan tokoh adat yg akan melakukan ritual adat (pemotong tamo, pembawa tatahulending, penabuh tagonggong, dll). sedangkan laku tepu perempuan dikenakan siapa saja yg mampu menyediakannya. 

model laku tepu laki-laki
 
model laku tepu perempuan

2. Baniang

Baniang adalah kemeja pria tangan panjang hasil modifikasi dr laku tepu yg panjangnya hanya sebatas pinggul, berbelahan dengan kancing di bagian depan. 

model baniang


3. Laku kingking/kongkong

Kingking adalah kemeja tanpa lengan dan kongkong adalah celana pendek sebatas lutut digunakan penari adat pria atau pengawal raja dengan warnanya merah. Untuk kongkong bisa merah bisa juga hitam. Kelengkapannya adalah pedang bara dan kellung atau perisai.

kingking dan kongkong

4. Paporong

Paporong atau umbe adalah ikat kepala dari kain segi tiga yang dilipat tiga atau empat selebar kira-kira 10 cm hingga bersisa sudut kain di bagian atas. Paporong diikat ke kepala melingkar dari belakang ke depan kemudian putar ke belakang kepala dan kedua ujungnya diikatkan (disimpul) di belakang kepala. Paporong ini khusus untuk pria. Paporong acara resmi mengikuti ketentuan ini sedangkan paporong sehar-hari untuk ke laut atau ke ladang atau sekadar digunakan di rumah tanpa memperhatikan ketentuan paporong resmi.

Paporong atau juga disebut umbe dibuat dari bahan kain yang cukup tebal atau agak kaku seperti kain kofo (mengingat kain kofo sulit sekali ditemukan dewasa ini maka dapat menggunakan kain tipis sejenis kain hero atau tetron dan dilapisi dengan staplek atau kain krah; bisa juga direndam tepung kanji),  dengan ukuran bujur sangkar sekitar 120 cm x 120 cm. Cara membualnya adalah sbb.:
  1. Kain dilipat dua secara diagonal sehingga akan terbentuk segi tiga sama kaki;
  2. Setelah membentuk segi tiga, kain kemudian dilipat dari bagian sisi alas (sisi lipatan) selebar kira-kira 10 cm. Dilipat beberapa kali sampai akan tersisa sudut kain setinggi sekitar 10-15 cm;
  3. Kain yang sudah terlipat kemudian dilingkar ke lutut untuk membentuk lingkaran kepala atau bisa dilingkar langsung ke kepala; jika diikat langsung ke kepala, bagian segi tiga diletakkan di belakang kepala lalu bagian lipatan ditarik ke dahi terus dilingkar ke belakang sehingga kedua ujung lipatan bertemu kemudian disimpul (diikat) atau dijahit.
  4. Setelah selesai melipat dan membeniuk paporong, selanjuinya adalah membentuk tekukan sudut atas (sisa sudul yang sekitar 10-15 cm) untuk memberikan petunjuk siapa gerangan orang yang mengenakan paporong tersebui, Untuk hal ini dapat dibedakan atas lima jenis tekukan sudut paporong sbb:

1) Paporong Mararatu

Paporong ini untuk pemimpin atau raja. Sudut kain ditekuk penuh menutupi bagian ikatan dan ketika dikenakan, baglan ini diletakkan di belakang kepala. lni melambangkan beban tanggung jawab seorang pemirnpin atau raja; 

2) Paporong Alabadiri atau Ransa

Sudut kain dan ikatan diletakkan di samping kanan kepala, lalu sudut kain ditekuk ke bawah mendekati bagian ikatan. Ini melambangkan penghormatan dan kepatuhan kepada pemimpin;


3) Paporong Upase

Sudut kain dan ikatan diletakkan di bagian belakang kepala, sedangkan sudutnya ditekuk sedikit sehingga kelihatan agak miring sekitar 45 derajat ke belakang. lni melambangkan kedengar-dengaran atau penurutan. Paporong atau umbe ini adalah paporong umum. 

4) Paporong Salo 

Sudut kain dan ikatan berada di belakang kepala, tapi sudut kain ditekuk ke arah depan sehingga agak menutup bagian ubun-ubun. Ini melambangkan keberanian dan kepeloporan; 

5) Paporong sehari-hari:

Paporong ini ndak menyisahkan sudut kain atau tanpa sudut untuk ditekuk. Yang ada hanya ikatan saja. Paporong ini adalah paporong untuk penggunaan sehari-hari oleh masyarakat umum, baik untuk dikenakan di rumah, di laut maupun di ladang/kebun; 

5. Bawandang

Bawandang adalah selendang yg dikenakan kepada perempuan sebagai padanan laku tepu perempuan. ukurannya kira-kira lebar 15 cm dan panjang 2 meter. Warnanya menyesuaikan warna laku tepu. Cara menggantung bawandang adalah sbb.:
  • bagi perempuan yang sudah menikah digantungkan pada bahu kanan dan turun melingkar ke pinggang kiri lalu disimpul atau bisa juga dijepit menggunakan peniti;
 


  • bagi perempuan yg belum menikah atau gadis digantungkan pada bahu kiri dan turun melingkar ke pinggang kanan lalu disimpul atau bisa juga dijepit menggunakan peniti. 

6. Ikat pinggang (Papehe)

Ikat pinggang atau papehe adalah padanan atau pelengkap laku tepu pria. Ukurannya hampir sama dengan bawandang perempuan. Lebar sekitar 15 cm atau lebih dan panjang sekitar 2 meter. Cara mengikatnya, dimulai dari pinggang kiri melingkar ke kanan lalu disimpul dengan ujungnya terjurai. Warna ikat pinggang mengikuti warna laku tepu;
papehe

Warna laku tepu, baniang, paporong dan bawandang ketentuannya sbb.:
  1. Warna kuning emas khusus untuk pemimpin wilayah (dahulu raja), baik untuk gaunnya, ikat pinggang, selendang, paporong maupun baniang.
  2. Warna hijau untuk wanita.
  3. Warna ungu untuk pria maupun wanita.
  4. Warna putih untuk tokoh agama dan tokoh masyarakat.
  5. Warna hitam untuk celana panjang pria sebagai pasangan baniang.
  6. Warna merah untuk pengawal pemimpin (dahulu hulubalang) dan para penari salo.
  7. Warna ledo (tanpa diwarnai atau warna asli serat kofo) untuk khayalak umum.
Warna-warna tersebut merupakan warna dari alam, baik dr getah pohon, dedaunan maupun umbi-umbian. 

CATATAN: Untuk perempuan ada hal lain di luar busana yg cukup penting dimiliki jika mengenakan laku tepu, yakni konde. Konde perempuan Sangihe memiliki kekhasan karena bentuknya seperti ulekan yg disebut boto pusige (boto = konde, sanggul, pusige = mahkota). Boto pusige atau sanggul ini posisinya perada di atas kepala atau di ubun-ubun.

boto pusige


tag: tulude, upacara adat tulude, pagelaran tulude, gelaran tulude, upacara adat sangihe, pakaian adat sangihe, pakaian adat laku tepu, laku tepu pakaian adat Sangihe. pakaian adat baniang, baniang pakaian adat Sangihe, bawandang selendang adat Sangihe, selendang Sangihe bawandang, paporong ikat kepala adat Sangihe, topi adat Sangihe paporong, Umbe topi adat Sangihe, topi tradisional Sangihe umbe, tari tradisional Sangihe salo, tari tradisional Sangihe ransa, tari tradisional Sangihe alabadiri, tari tradisional Sangihe gunde, tari salo, tari gunde, tari alabadiri, tari ransa, tari ransansahabe, 







Sabtu, 19 Desember 2020

Upacara Adat Tanakakuy dari Peru setiap Tanggal 25 Desember

Takanakuy ( Quechua untuk "memukul satu sama lain") adalah praktek tahunan yang didirikan untuk memerangi sesama anggota komunitas yang diadakan pada tanggal 25 Desember, oleh penduduk Provinsi Chumbivilcas, dekat Cuzco di Peru. Latihan ini dimulai di Santo Tomás, ibu kota Chumbivilcas, dan sekarang menyebar ke desa dan kota lain, yang menonjol adalah Cuzco dan LimaFestival ini terdiri dari tarian dan individu yang saling bertarung untuk menyelesaikan konflik lama Festival ini terdiri dari tarian dan individu yang saling bertarung untuk menyelesaikan konflik lama.

 
Gaun

Ada lima jenis 'karakter' tradisional yang digambarkan dalam upacara yang memiliki peran berbeda berdasarkan simbol budaya Andes . Mayoritas gaun itu didasarkan pada perlengkapan menunggang kuda tradisional dan topeng ski Peru yang berwarna cerah, yang merupakan ciri khas daerah tertentu. Tidak semua topeng ski sama: mereka memiliki warna berbeda, desain berbeda, dan pola tekstil berbeda untuk menghasilkan uang.

Majeno

Majenos adalah pakaian tingkat paling dasar yang menghiasi perlengkapan berkuda tradisional. A majeta adalah orang yang tinggal di dekat Sungai Majes di Andes dan pakaian karakter ini didasarkan pada itu. Celana wol untuk menunggang kuda, topi kulit, jaket tradisional Peru mirip harrington, melubangi tanduk banteng untuk mendapatkan alkohol. Topeng ski khas Peru disebut uyach'ullu , yang memiliki asosiasi simbolis abstrak dan menampilkan empat warna (merah, hijau, kuning, dan putih) yang seharusnya mewakili empat kuadran alam semesta. Namun tujuan utama dari topeng ski adalah untuk menyembunyikan identitas para pejuang untuk mencegah ketegangan dan permusuhan yang berlarut-larut hingga tahun depan. Quarawatanna

Gaun majeta dengan tambahan jaket kulit biker, celana koboi panjang dari kulit, dan bangkai tengkorak burung atau rusa di atas kepala. Mayoritas anak muda masyarakat adat memilih petarung jenis ini karena faktor intimidasinya.
Negro

Aspek dari pakaian ini berusaha untuk menggambarkan seorang tuan budak selama periode kolonial; misalnya, sepatu bot kulit setinggi lutut, celana wol mewah, kemeja dan rompi bagus, jubah bersulam sutra dengan warna pink atau biru muda, dan mahkota karton dengan kertas kado mengkilap di samping dan bintang di atasnya. Kemudian karakter tersebut harus menari dalam lingkaran seperti ayam jago, yang merupakan hewan roh terkait karakter tersebut. Jenis pakaian ini secara tradisional disediakan untuk orang-orang kaya di kota dan disajikan berbeda dengan pola dasar mabuk majeno . Seiring waktu, karakter menjadi kurang kostum orang kaya daripada petarung papan atas. Langos

Kata peru langos diterjemahkan menjadi belalang , dan kostum ini dibuat menyerupai satu. Pakaiannya terbuat dari bahan mengkilap, dan seringkali pemakainya memegang bangkai burung untuk menggambarkan kematian yang disebabkan belalang di daerah itu pada tahun 1940-an.
Q'ara Gallo

Pejuang khusus ini tidak mengenakan jenis pakaian berbeda yang dikaitkan dengan budaya Andes tetapi masih mengambil bagian dalam prosesi tetapi tidak dalam pertarungan seremonial.

Berjuang

Prosesi menuju lokasi pertarungan dimulai dengan falsetto bernada tinggi, metode produksi suara yang digunakan oleh penyanyi pria, terutama tenor, untuk menyanyikan nada yang lebih tinggi dari biasanya, melalui jalan-jalan. Prosesi ini berorientasi pada keluarga sebagai persiapan bagi anak-anak kecil yang akan melihat perkelahian yang kejam di kemudian hari. Anak-anak juga berdandan untuk acara tersebut, biasanya menyerupai karakter ayah mereka.

Tujuan pertempuran adalah untuk menyelesaikan konflik dengan individu, teman, anggota keluarga atau untuk menyelesaikan konflik teritorial yang muncul sepanjang tahun. Gaya tarung yang digunakan dalam perayaan tersebut relatif mirip dengan seni bela diri, yaitu menendang, meninju, dan kecepatan geraknya.

Mereka yang bertempur memanggil lawan mereka dengan nama depan dan belakang mereka. Mereka kemudian melanjutkan ke tengah lingkaran dan memulai pertarungan. Para pria yang bertarung harus membungkus tangan mereka dengan kain sebelum pertarungan. Menggigit, memukul orang di tanah, atau mencabut rambut tidak diperbolehkan selama pertarungan. Pemenang dipilih berdasarkan KO atau intervensi oleh ofisial. Ada pejabat amatir yang membawa cambuk untuk mengendalikan massa. Di awal dan di akhir pertarungan, lawan harus berjabat tangan atau saling berpelukan.

Jika yang kalah dalam pertarungan tidak setuju dengan hasilnya, dia dapat mengajukan banding untuk pertarungan lain. Jenis pertempuran ini juga menunjukkan tingkat kejantanan seseorang di komunitas Santo Tomás.
Musik

Jenis musik yang dimainkan dalam upacara tersebut disebut waylilla atau wayliya . Musik ini berasal dari tahun 1960 sebagai bagian dari gerakan perlawanan ideologis Taki Unquy . Lirik di waylilla berpusat di sekitar pencabutan otoritas, konfrontasi, dan kebebasan. Paduan suara diulangi dalam satu putaran tanpa henti selama prosesi menuju pusat kota. Masyarakat adat percaya bahwa menari waylilla akan mengubah mereka menjadi pribadi baru.
Alkohol

Ada hari-hari minum awal sebelum perayaan. Pada hari perayaan tersebut masyarakat berkumpul bersama, sarapan pagi di gereja setempat dan minum sebelum pertempuran dimulai. Setelah pertarungan, petarung akan minum lebih banyak alkohol untuk mematikan rasa sakit yang dialaminya selama pertarungan.
Lokasi

Perayaan utama terjadi di Peruvian Andes di provinsi Chumbivilcas yang berpenduduk sekitar 300, tetapi selama perayaan itu sekitar 3.000 berkumpul untuk menyaksikan perkelahian. Ada perayaan kedua yang berlangsung sehari setelah Natal di desa Llique, yang terletak di provinsi Cuzco. Di sinilah pejuang terbaik dari beberapa desa adat berkumpul untuk melepaskan energi negatif yang terpendam antara pria, wanita, dan bahkan anak-anak terkuat. Tidak ada polisi, tidak ada dinas militer dan tidak ada dinas pemerintah di komunitas-komunitas ini. Perayaan Takanakuy kini telah menyebar ke lingkungan perkotaan seperti Cuzco dan Lima.
Tanggal

Praktik adat yang sudah mapan terjadi pada tanggal 25 Desember atau, seperti yang dilihat sebagian orang di luar komunitas adat, Hari Natal. Seorang guru dari komunitas adat setempat di Santo Tomás menunjukkan pentingnya mengadakan upacara kekerasan seperti itu pada hari yang dianggap damai. "Ada makna sosial di dalamnya. Justru penyelesaian konflik, dan juga sebagai bentuk katarsis sosial ."
Gerakan kontemporer

Meski pemerintah Lima sudah berupaya memberantas Takanakuy, namun perayaan tersebut merambah ke daerah perkotaan seperti Cuzco dan Lima. Orang-orang non-pribumi sekarang mengambil bagian dalam adat budaya asli ini. Perayaan ini telah melewati batasan kelas dan masyarakat dari kelas menengah dan atas sekarang juga mengambil bagian dalam perayaan tersebut. Ada perayaan serupa di Bolivia yang disebut Tinku ; perayaan berlangsung pada bulan Mei di desa Potosi . Perayaan ini sangat mirip dengan Takanakuy; Namun, para wanita jarang bertengkar, dan perkelahian antara pria adalah perkelahian besar.

Dikutip dan diterjemahkan dari Wikipedia tgl 19 Desember 2020

Minggu, 13 Januari 2019

TULUDE SINKRETIS & TULUDE POLITIS

Catatan Budaya Sovian Lawendatu

Tulude memang berubah berbareng dengan perubahan zaman. Maka, kita dapat membincangkan tentang adanya dua jenis (genre) tulude, yakni ‘tulude masa purba’ dan ‘tulude masa kini’.

TULUDE MASA PURBA : TULUDE SINKRETIS
Pada masa purba, tulude merupakan ritus menolak tulah dari arwah leluhur dan dewa-dewa. Hakikat tulude ini tergambar dengan jelas secara sosiologis fenomenologis. Di dalam sasalamate, misalnya, yang merupakan semacam mitos aetologis dalam tulude, nilai-nilai magis (praanimisme), animisme dan dewaisme (kepercayaan dewa-dewa), yang mendasari pelaksanaan tulude, begitu kental. Juga dalam mitologi pembuatan tamo, kue tradisional Sangihe yang dipotong dalam pelaksanaan tulude.

Tulude pada masa purba agaknya dapat disejajarkan dengan ritus meruwat alam di pulau Bali. Atau ritus memotong nasi tumpeng di Jawa, dengan sentrumnya Jogjakarta. Tentang hal ini, Brilman memang mensinyalir adanya pengaruh Hinduisme atas kepercayaan masyarakat Sangihe (dan Talaud) purba, yaitu eksistensi Duata atau Ruata. Sinyalemen Brilman ini, yang bertolak dari kesejajaran bentuk (morf) nama Duata dan Dewata, berterima, manakala kita mengingat akan realitas historis yang berkaitan dengan kehadiran Majapahit, sebagai Kerajaan Nusantara II sekaligus Kerajaan Hindu-Jawa. Sementara itu, kepulauan Sangihe (dan Talaud) merupakan wilayah ‘taklukan’ Majapahit, sehingga pengaruh keagamaan Majapahit ‘merasuki’ kehidupan religious masyarakat Sangihe.

Tulude pada masa purba mencerminkan sinkretisme. Ini sejalan dengan keberadaan agama masyarakat atau penduduk kepulauan Sangihe pada masa itu yang berbentuk campuran antara magi, animisme, kepercayaan dewa-dewa (dewaisme) dan penyembahan orang mati, sebagaimana dinyatakan oleh Brilman. Harap diingat bahwa di dalam sinkretisme itu, apalagi di dalam magi, tidak ada rasa atau sikap syukur dan terima kasih masyarakat Sangihe terhadap arwah leluhur dan dewa-dewa. Ini, oleh Brilman, dengan amat meyakinkan dibuktikan secara psikososiolinguistik. Tegasnya, tidak ada kata dalam bahasa asli Sangihe yang mengungkapkan rasa terima kasih --- kata “kase” atau tarima kase jelas diadaptasikan dari bahasa Melayu kasih atau terima kasih. Oleh sebab itu, nilai-nilai religiusitas tulude pada masa purba sama sekali tidak berdimensi etis, tapi magis. Dengan kata lain, tulude pada masa purba merupakan wahana penyelamatan masyarakat Sangihe dari malapetaka yang ditimpakan oleh arwah leluhur, dewa-dewa dan zat-zat ‘adikorati’ atau ‘adiinderawi’ lainnya. Tidak kebetulanlah bahwa nama sasalamate, sebagai komponen verbal religius tulude, berarti ‘alat penyelamatan’ (kata Sangihe ‘sa-‘ artinya ‘alat’, sedangkan ‘salamate’ artinya ‘selamat’).

TULUDE MASA KINI : TULUDE POLITIS
Hakikat tulude pada era perubahannya atau pada masa ‘sekarang’ secara umum digambarkan sebagai tradisi pengucapan syukur (thanks giving).  Ini berangkat dari pemahaman teologis agama-agama samawi di Sangihe, terutama kekristenan, terkait dengan ‘strategi pelayanan’ Gereja yang bertumpu pada paradigma ‘teologi kontekstual’ atau (barangkali lebih tepat) ‘teologi lokal’ (local theology). Berhubung dengan ini, maka kue tamo yang dipotong dalam tulude lebih dimaknai sebagai simbol harapan masyarakat Sangihe akan kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan, daripada sebagai sebuah realitas magis-mitis.

Sungguhpun demikian, tidak sepenuhnya berlaku bahwa fenomena tulude dewasa ini merupakan tradisi yang berdimensi religius-etis (pengucapan syukur). Pada kenyataannya, ada saja tulude yang berdimensi politik praktis. Tulude semacam ini dilaksanakan dengan motif massifikasi massa atau pencitraan, jika tokoh masyarakat tertentu diusung atau mengusung diri sebagai calon legislator (caleg), misalnya. Ini pernah terjadi dalam konteks tulude pada kitaran tahun 1990 atau 1991 di Kota Manado yang dilaksanakan oleh sebuah organisasi sosial kemasyarakatan Sangihe Talaud; sehingga pada tahun 1992, saya terdorong untuk menulis dan memuatkan sebuah artikel yang bertajuk “Tulude Politik” di Manado Post (artikel ini sampai sekarang tersimpan dalam kliping saya).

Dalam era perubahannya, pemahaman akan hakikat keberadaan tulude memang amat bergantung juga pada perspektif motivasi penyelenggaranya. Jika seandainya si ungke yang bernama ‘Petris Sasamboadile’ (nama ilustratif) mencalonkan diri sebagai Walikota atau Bupati, dan ia mendanai penyelenggaraan tulude, maka akan kelihatan gelagatnya untuk menjadikan tulude sebagai tradisi pengucapan syukur itu menjadi juga ‘keledai politik’. Dalam pepatah masyarakat Sangihe, motivasi penyelenggaraan tulude seperti ini dapat disebut ‘pia ambinge’, semacam pepatah ‘ada udang di balik batu’.

Pada masa kini, acuan umum bagi penatalaksanaan tulude sebagai tradisi upacara pengucapan syukur adalah Rumusan Hasil Seminar Nasional Kebudayaan Sangihe Talaud yang diselenggarakan pada tahun 1994 di Kota Tahuna (sayang sekali saya tidak sempat menghadiri acara spektakuler itu). Di dalam dokumen acuan umum itu sama sekali tidak diatur bahwa pelaksanaan tulude harus atau dapat ditandai dengan ‘upacara’ lainnya, seperti Upacara Penganugerahan Gelar Adat Sangihe.

Meskipun demikian, fakta yang terjadi justru lain. Bahwa pelaksanaan tulude pada masa kini tidak jarang ‘diboncengi’ oleh Upacara Penganugerahan Gelar Adat Sangihe kepada sejumlah tokoh. Ironisnya, tokoh-tokoh yang menerima anugerah gelar adat itu bisa dianggap ‘tidak tahu adat’, dalam arti tidak mengenal lekak-lekuk, seluk-beluk adat budaya masyarakat Sangihe. Dalam konteks ini, peran Dewan Adat lokal dominan; lembaga yang tidak jelas akar historis-kulturalnya ini justru menjadi pemegang hak paten atas penganugerahan gelar adat Sangihe. Ini sungguh ganjil, manakala kita sadar bahwa dalam tradisi kultural leluhur Sangihe, atau dalam khazanah kebudayaan Sangihe lama, tidak ada entitas upacara penganugerahan gelar adat, apalagi jika upacara ini dijadikan selayak ‘daging menumpang’ dalam tradisi ritual tulude. Sebaliknya saya justru melihat bahwa upacara penganugerahan gelar adat Sangihe itu lebih merupakan cangkokan dari ‘tradisi’ serupa dalam dunia kebudayaan Minahasa kontemporer.

Perubahan zaman memang menghadirkan semacam keragaman atas keseragaman masyarakat Sangihe dari sisi dunia-kehidupan (lebenswelt). Dan ini adalah realitas sosiologis yang niscaya. Dalam konteks tulude, persatupaduan dan kesatuan masyarakat Sangihe kini lebih merupakan keseragaman atau homogenitas interes sosial-keagamaan dan sosiopolitik daripada keseragaman atau kesatuan dunia-kehidupan (lebenswelt) yang berbasiskan nilai-nilai kultural leluhur. Maka, pada masa kini, hakikat tulude amat bergantung pada siapa penyelenggaranya, dan, tentu saja, siapa sponsornya.****
(Tulisan ini pernah dimuat di Manado Mags, Edisi 8 Januari 2016)

Senin, 14 Maret 2011

TATA UPACARA ADAT TULUDE KOTA BITUNG

HUNDUGU MANGAMPANG TEMBONANGU WANUA DINGANGU MATAHUENA SUWALAN MUNARANG TULUDE

 
(PROCEDURE FOR MAYOR Mr Pick
ON LOCATION WITH THE IMPLEMENTATION TULUDE Mrs)

 
Kapitan Bisara: Menaka papulise
(Installation Paporong)
Mayore laboratory: This Papulise TAKU itaka sutembou Tembonang tanggulu malambe, tembonang netendau soa malambeng pe dimpolongang, saretau papulise ndai ko bou nitaka ute katuwo katameng soluheng selambungang tuwoko we katamang pehiking banua.
Kapitang Bisara: kukenakan Paporong will be at the head of Mr Major as leader in the city of Bitung. After paporong charged, then let the city keep growing and growing Bitung.
Kapitan Bisara: Menange U Bawandang
(Installation Shawls)
CPC. D. Lahunduitan: Bawandang manungkiraeng tatahulending nighuanting ampe kentongang sehiwu su i sangeko matahuena host. Bawandang kick karalungsemahe kararinda, kasasanau home, katulusu endumang, wawengi melelaheu takasengkulang modo.
Kapitan Bisara: Sheet scarves subject to a wise mother as a sign of blessing the people covered by the purity of heart is given to the principal symbol of a good relationship. Keanggunanan scarf is a symbol, simplicity, humility, honesty, integrity and wisdom indicates fragrance................................

HUNDUGU MANGAMPANG TEMBONANGU WANUA
DINGANGU INANG MATAHUENA SUWALAN MUNARANG TULUDE
(TATA CARA PENJEMPUTAN BAPAK WALIKOTA
BERSAMA NYONYA DI LOKASI PELAKSANAAN TULUDE)

Kapitan Bisara    : Menaka papulise
          (Pemasangan Paporong)
Mayore Labo    :  Papulise ini taku itaka sutembou Tembonang tanggulu malambe, tembonang netendau soa malambeng pe dimpolongang, saretau papulise bou nitaka ute ndai ko katuwo katameng soluheng selambungang tuwoko we katamang pehiking banua.
Kapitang Bisara    :  Paporong ini akan kukenakan di kepala Bapak Walikota sebagai pemimpin di Kota Bitung. Setelah paporong dikenakan, maka marilah bertumbuh dan bertumbuh memelihara kota Bitung.
Kapitan Bisara    : Menange U Bawandang
      (Pemasangan Selendang)
Bpk. D. Lahunduitan    :  Bawandang manungkiraeng tatahulending nighuanting ampe kentongang sehiwu i sangeko su inang matahuena. Bawandang tendang karalungsemahe kararinda, kasasanau naung, katulusu endumang, wawengi melelaheu modo takasengkulang.
Kapitan Bisara    :    Lembaran selendang dikenakan kepada ibu yang bijaksana sebagai pertanda doa restu terangkum oleh kemurnian hati masyarakat diberikan kepada ibu perlambang suatu hubungan yang baik. Selendang adalah lambang keanggunanan, kesederhanaan, kerendahan, kejujuran, ketulusan dan keharuman menandakan kebijaksanaan.



MUNARANG KAKAKOA U TULUDE
TATA ACARA PROSESI TULUDE

Jam 15.00    :  Tamong Banua seng nasadia suwaleng Tembonangu Wanua’ng Bitung
        (Kue adat Tamo telah siap di rumah Bapak Walikota Bitung)

Jam 15.00 – 16.30    :  Buntuangu tamong banua niwawa wou waleng tembonangu wanua, metimona wanalang penanuludang.
       (Arak-arakan kue adat Tamo dari rumah Bapak Walikota menuju lokasi upacara adat Tulude)

Jam 16.30 – 17.30    :     Mengapia Hunduge
        (Gladi bersih)

Jam 17.30 – 18.00    :  Pedariahi munara seng iteta
        (Persiapan acara segera dimulai)

Jam 18.00     :     Mengampang Tembonangu Wanua dingangu inang leadateng.
        (Penjemputan Bapak Walikota bersama nyonya yang terhormat)


Catatan    : Prosesi ini diiringi oleh BARISAN KEBESARAN ADAT.


MANGINSOMAHE TEMBONANGU WANUA DINGANGU INANG
(PENJEMPUTAN BAPAK WALIKOTA BERSAMA NYONYA)

Kapitan Bisara    :     Tembonangu wanua dingangu inang leadateng seng nasahampi.
        (Bapak Walikota bersama nyonya yang terhormat telah tiba)

Mayore Labo    : Adate su Tembonangu Wanua dingangu inang
Kapitan Bisara    :     Penghormatan kepada Bapak Walikota bersama Nyonya.

Mayore Labo    :     Medalo Mawu Ruatang sembah, mengalamate su Tembonang dingang su inang leadateng, haki eweng nawuna su kudatong gighile tampa luliwosong daluase ore nilelesang takurange apa. Salamate nasahampi su taloarang u ana u wanua, mumanendeng adate su pukauhang tumanau tahanusa.
Kapitang Bisara    :    Terpujilah Allah yang disembah memberkati Bapak Walikota bersama nyonya sehingga tiba dengan selamat di tempat pelaksanaan Tulude, tempat yang dipenuhi sukacita dan damai sejahtera. Selamat datang di tengah-tengah masyarakat kawanua, menjunjung adat, mempersatukan bangsa.
Mayore Labo    :    Salamate naonto suwalang gumoba, nasahampi  sunileseng banalang iararo Konda iredorong sumalambeng ore lai si wawu inang Mahie dumaleng ore dumaleng, tumempang ore tumempang, dumaleng suraleng kimerong intang, daleng takonsange apa I ghenggona manangkoda, Ruata manireda o Mawu Rendingane.
Kapitang Bisara    :    Bapak Walikota bersama Nyonya, dimohon dengan penuh hormat, marilah kita berjalan dan berjalan, melangkah dan melangkah, berjalan beralaskan berkat Tuhan menuju tempat pelaksanaan Tulude, bangsal penyembahan dan pengucapan syukur.
Mayore Labo    :    Mitu Ganding…………
        (Barisan adat mengiringi Bapak Walikota berjalan menuju panggung).

MENDANGENG TEMBONANG
(Acara dilaksanakan di bawah panggung)

Kapitan Bisara    :     Mendangeng Tembonang
        (Mempersilakan junjungan naik ke atas panggung utama)
Mayore Labo    :    Nihengke nilawo niruiu nuhung suhiwang senggelangi tau makasalang naonto pekentengang suwalang tampungan ini lelawokang sambo pesasinengang.
Kapitan Bisara    :    Kedatangan pemimpin yang dijunjung dan dihormati Walikota Bitung beserta nyonya dan rombongan disambut dengan ketulusan hati dalam pangkuan damai sejahtera dari Allah Maha Kuasa.
Mayore Labo    :     Dangengke endai dangeng, karengkang endai karengkang endai dangeng antareng karengkang balobakeng ku endai rengkang, batungang taku batungang dengkaneng taku dengkaneng taku barungangu ukure dengkanengu kadadalure.
Kapitan Bisara    :    Kini yang dijunjung dan semua yang dihormati, silakan naik ke atas panggung utama melalui tangga yang disiapkan dalam kerinduan. Ayunan langkah memasuki rumah dibangun dengan sukacita berkat Tuhan menyertai. Selamat menaiki anak tangga ini.
Mayore Labo    :     Sohoko kaiang su kadera ure kaitolang sugaghalang bulaeng sene pia tatahulending.
Kapitan Bisara    :    Dipersilakan duduk di kursi kehormatan karena di situlah tempat yang diberkati.



HUNDUGU MONARANG TULUDE TAUNG 2006
KAWANUA DUNGANGU MENGA ANA
U WANUA KUDATO’NG BITUNG
SUELONG …….. 7 FEBRUARI 2006
SU NILESENG U BALENG LAWO BITUNG
TATA UPACARA PESTA ADAT TULUDE TAHUN 2006
MASYARAKAT DAN PEMERINTAH KOTA BITUNG
PADA HARI SELASA, 7 FEBRUARI 2006
DI LAPANGAN KANTOR WALIKOTA BITUNG

I..   KUMUI MENULUDE
      (AJAKAN MENULUDE)

Mayore Labo    :    (Mengucapkan kata-kata ajakan)
        Manga gaghurang, manga anau sembau, komolang leadateng, mahie ikite M E N U L U D E.
        ……………………………………………………………..
        Gandinge ………………………………………………..
Kapitan Bisara    :    Bapak-bapak, ibu-ibu dan undangan, hadirin yang terhormat, marilah kita M E N U L U D E.

MEKANTARI/MENYANYI (HADIRIN)

SUWULUDU DUMPAENG KILA

Suwuludu dumpaeng kila,  Suweda u Mawu Dalo
Mesuba Ruata su Mawu Ghenggona
Aha suraleng mapia
     Reff.      Inang, iamang Manembah
    Dudalahiwa sembah
    Ku’ mang menendeng kaliomaneng
    Kebi sulimang Duata……………..
Asalisang dedorongan salentiho gegausang
Uwuse pananggung katentung sulambung
Berkatu Mawu Rendingang
   Reff. …….

II..  TAMONG BANUA DUMOLONG BANALA
      MANARAKANG DINGANGU MANARIMA TAMO
      KUE ADATA TAMO MEMASUKI BANGSAL
      SERAH-TERIMA TAMO.

Kapitan Bisara    :    Tamong Banua dumolong banala
        (Kue adat Tamo memasuki bangsal utama)
        Menarakang dingangu menarima Tamo.
        (Serah-terima kue adat  tamo)
Bpk. A. Kakomba    :    Tamo mawangung kere woiang hundungi wansana, ambiaeng pedalawokang, kai biahe mapia uwuseng selambungang. Daeke doko daeke, tarima doko tarima.
Kapitan Bisara    :    Kue adat Tamo yang diolah oleh juru masak ulung, adalah santapan yang baik untuk semua orang. Ambillah dan terimalah.
Bpk. D. Lahunduitan    :    Manarimae tamong banua ini bebantugang, i pato su tengong kalipoho selambungang supatiku maehesu belageng ku ini’e seng tempone ikite metunduang.
Kapitan Bisara    :    Menerima kue adat tamo ini diletakkan di tengah-tengah para hadirin sekalian dan inilah saatnya akan diacarakan.

(Catatan : Sementara kue adat tamo naik ke atas panggung utama, disambut dengan nyanyiang: TAUNG TAMAI NALIU  oleh hadirin)

Taung tamai naliu
makatompe elo
Nanentangkeng susah naung
su tempong lahuang
Takudeakeng suapa
sau mesombang kapia
Arenge i  makakondo
I makatatompe elo



III.. BAWIKE BERANG TULUDE
      (PENGANTAR TULUDE)

Kapitan Bisara    :    Bawika berang tulude taung 2006
        (Pengantar Tulude Tahun 2006 oleh Ketua Panitia)
        Kata-kata : …………………………………………

IV..  KAKUMBAEDE
        (PERNYATAAN PUJIAN DAN HARAPAN)

Kapitan Bisara    :    Kakumbaede
        (Pernyataan pujian dan harapan)
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Katentung, kapapia, sau kapia mabawa sutempo mededaliu matuhu sukapulung kawasa liu’ng kawasa.
Kapitan Bisara    :    Keberadaan dan perobahan sejalan dengan waktu silih berganti untuk kehendak Dia yang Maha Kuasa.
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Petatumbiahe, barauntu, hombang sigesa mededaliu maitu papaduline imatalentu liu’ng talentu.
Kapitan Bisara    :    Hidup dan penghidupan, keberuntungan, duka nestapa, semuanya di dalam pemeliharaan dan penghasilan Allah yang Maha Penyayang.
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Penaniti, penanahimata, talengkong kakanoa, natentang tataghupia imasingking liuntuhaseng.
Kapitan Bisara    :    Penilikian dan bimbingan atas kekurangan dan ketidaklayakan kita, tertata menurut kesucian Allah yang cemburu adanya.
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Kasasuku natinalung, kasasalamate samatang sulimang tintanude palede maralending matang ake u pubawiahe.
Kapitan Bisara    :    Kebahagiaan lahir dan  batin dan keselamatan hanyalah di kesejukan tangan Allah sumber air kehidupan.
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Sutempong taumata nesilontahe, banua taniedong seke, apang bangsa mempeseke ketaeng Duata banggil’u karalungsemahe dimuluse dingangu pedarame.
Kapitan Bisara    :    Ketika manusia saling bermusuhan, negeri rusuh tiada hentinya, bangsa saling berperang, maka hanyalah Allah sumber ketenangan, turun menyelesaikannya dengan damai sejati.
Mayore Labo    :    Katuwo katamang sulimang Duata, katuwo katamang pehiking banua.
Kapitan Bisara    :    Bertumbuh dan bertumbuhlah di tangan Allah. Bertumbuh dan bertumbuhlah untuk negeri tercinta.

MENYANYI: MAKAKENDUNG SUSANGI

Makakendung susangi suralungu naungku
Makatahendung elo sarung pebiahengku
      Reff    Sutaung bulang kadentane
    Taung pinedaliune
    Mawu Ruataku, abe tentang elangU.

V.    MENAHULENDING BANUA
        (DOA PENGAKUAN-PENYERAHAN-PERMOHONAN)
         Penjelasan tentang Tathulending
                Kata-kata : …………………………………………..
Kapitan Bisara    :    Menahulending banua!
Bpk. D. Lahunduitan    :    (Membawakan doa tatahulending)
        Kata-kata ………………………………………

MENYANYI: OH MAWU RUATA

Oh Mawu Ruata talentuko ia
Napene u rosa, rosa masaria
       Reff. Tentiro ko sia daleng mapia
                Penata elangU suraralengangU.

VI.   SASALAMATE
       (UNGKAPAN HIKMAT MENGUNDANG KESELAMATAN)

Kapitan Bisara    :    S A S A L A M A T E
        ………………………………………………………
Bpk. Zaskar M.    :    M e b e r a n g
        Kata-kata ……………………………………………….

MENYANYI:  DALO SUMAWU RUATA

Dalo su Mawu Ruata, kakendage sutaumata
Ku untungke kaselahe su kebi umate
Salamate, leantibe suapang mempesasesile
Sorga mawantuge, luingate suapang mempetobate.
    Reff.    Ku’ untung salamate seng tetaghuanengu
    Ualing liaghang gatinU ore wuang saghedu
    Ku’ abe ghagholo… u…

VII.   MAMOTO TAMO
         (Pemotongan Kue Adat Tamo)

…..    :    Karalaheu Tamong Banua
Kapitan Bisara    :     Sekilas penjelasan tentang kue Tamo
…..    :      Meberang Papoto Tamo
        Kata-kata ……………………………………………..

MENYANYI:  KALU TINUWANG SUSERE
                      (Oleh Group Masamper)

VIII.    KAKALIOMANENG PATIKU
           (DOA UMUM)

Unsur Kristen Oleh : ………………………………………………….
Unsur Islam oleh    : ………………………………………………….
MENYANYI :  TAUNG INI RIMENTA
                       (Dinyanyikan oleh Group Masamper)

Taung ini rimenta, medorong su Ruata
Pehiking ko lai kapia, si kami manga elang
Bou rarodo matelang,  alamatu apahundingang
        Reff.  Su apang dalengang, Mawu abe panentang
                  Maning lai seng kakonda Mawu mambeng patenda
                  Kalaumure kebi, pakaraung dalai
                  Sarang taung ini mahi lai.

IX.     SASASA-SASALENTIHO
          (SAMBUTAN-SAMBUTAN)

Tembonangu IKSAT    : Bpk. Wilmers Lalelah, BcAk
Tembonangu Wanua    : …………………………………


X.      MEGEGHAUSE SEMOKOLE

Kapitan Bisara    :    Kakaliomanengu Saliwang
    :     Doa makan bersama oleh Bpk. Pdt. S. Darosa.
    Medoa …………………………………………………

Kapitan Bisara    :    Idope seng mapapato suimbe, galiopohe balageng ku dingangu adate Panitia megagause su Tembonangu Wanua, ore lai su manga Mawu leadateng, seng tempone ikite  metundung susaliwangu wanua pegionateng. Salamate masemang.
   Sajian telah tersedia di meja makan, dengan hormat Panitia mengundang dan mempersilakan Bapak Walikota Bitung bersama nyonya dan hadirin yang terhormat untuk santap bersama. Selamat menikmati santapan yang telah tersedia.


XII.     TATARIMA KASEH
          (UCAPAN TERIMA KASIH)

Kapitan Bisara    :    Tatarima kaseh u metetangkiang monarang Tulude taung 2006
        Ucapan terima kasih Panitia Tulude tahun 2006 disampaikan oleh Sekretaris Panitia.




XIII.     TATODE HUNDUGE II
           (PAGELARAN II)

Tari Gunde
Tari Salo
Koor dari empat (4) sub etnis
Sub etnis Sangihe     : lagu Sangihe Ikakendage
Sub etnis Siau    : lagu Tahanusaeng Siau
Sub etnis Talaud       : lagu Lembungu Rintulu
Sub etnis Tagulandang    : lagu di Utara Minahasa
Musik bambu
Masamper (3 jenis lagu)

XIV.     MENONDA TEMBONANG
            (MENGANTAR PEMIMPIN)


HUNDUGU MENONDA TEMBONANG
BOU WANALAN MONARANG TULUDE TAUNG 2006
(TATA ACARA MENGANTAR PEMIMPIN
DARI BANGSAL ACARA TULUDE TAHUN 2006)

Kapitan Bisara    :    Menonda Tembonang
        (Mengantar Pemimpin)

Mayore Labo    :    Manga gaghurang, manga anau sengkatau ….. engdangu dokolu moleng bauna, Malamber liune sukudatong Bitung, seng mebua dingangu bebatone boeng banala penanuludang ini.
Lumintu maranung hombang, lisadeng tawe silaka.
Lumempang sukoko Mawu, dumaleng sughaghengganu Ruata, kai koko ipenenda hombang. Gaghenggang, ipemalawa silaka mawuna u suniolang tawe kongsange apa.
Salamate mebua, dingangu tarima kaseh sumalambe leadateng.
Kapitan Bisara    :    Hadirin yang terhormat, kini Bapak Walikota Bitung bersama nyonya dan rombongan akan beranjak pergi dan berpisah dengan kita. Untuk itu, dengan segala hormat dan mengucapkan terima kasih serta dengan penuh suka cita, kami melepaskan Bapak Walikota turun dari bangsal di dalam nama Tuhan, pergi meninggalkan tempat ini, juga di dalam naungan kasih sayang-Nya.
        Nama yang menghapus segala yang jahat dan naungan yang dapat memberi keselamatan dalam perjalanan, hingga tiba di tempat yang dituju dengan damai sejahtera.
        Selamat jalan dan selamat berpisah Tuhan memberkati!

Mayore Labo    :    G a n d i n g e …………………….

Kapitan Bisara    :    Komolang dedorongang dumarisi
        (Hadirin dimohon berdiri)

MENYANYI :  OH MAWU RENDINGANE

Oh Mawu rendingane, i  kami manga elang
Su tempo kadentane, oh Mawu kaselaheng
      Reff.  Bae darodo matelang, tembonang kawanua
                Ahako suralengu, su i kekapulunu.

(Sementara bapak Walikota Bitung bersama nyonya meninggalkan tempat gelar adat Tulude)

Kapitan Bisara    :    Dingangu adate Tembonangu Wanua, seng manentangu tampa penanuludang.
        Dengan segala hormat, Bapak Walikota bersama Nyonya diperkenankan meninggalkan bangsal ini.




CATATAN:
MAYORE LABO     = PEMIMPIN UPACARA
KAPITAN BISARA = PEMANDU ACARA
WALIKOTA BITUNG DAPAT DIGANTI DENGAN NAMA JABATAN LAIN SESUAI WILAYAH ATAU TINGKATAN PEMERINTAHAN. MISALNYA GUBERNUR UNTUK TINGKAT PROPINSI, BUPATI UNTUK KABUPATEN, CAMAT UNTUK TINGKAT KECAMATAN, LURAH/KEPALA DESA/KAPITALAUNG UNTUK TINGKAT DESA/KELURAHAN.



* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

LAGU-LAGU DARI SUB ETNIS


SANGIHE IKAKENDAGE (Sub Etnis Sangihe)

Sangihe ikakendage sarang papateku
Sidutu makaluase dalungu naungku
Maning pia dade dala limembong bantuge
Takere soang Sangihe maning kurang damene
          Reff.  Soang kinariadiangku (2x)
                   Ore ene naungang
                   Ore tetahendungang
                   Soang kinariadiangku.


TAHANUSAENG SIAU (Sub etnis Siau)

Tahanusaeng Siau banuaku tutune
Kakelaeng bou marau awu pia tipune
        Reff.   Maning itentang marau
                  Karangetang katahendungang
                  Sene ana u sembau tawe takawulenang


LEMBUNGU RINTULU (Sub Etnis Talaud)

Lembungu rintulu banua nilungkang
Porodisa ilelareng,
maning ta’ damene tala arangsange
Taloda mananaunganna.
       Reff.    Imberang wala asegone
                  Arie wala asiare
                  Porodisa mang su naungan-naungan
                  Talode mang su endumang.


DI UTARA MINAHASA  (Sub etnis Tagulandang)

1. Di utara Minahasa, terdapat pulaulah
    Diingat setiap masa berturut-turutlah

            Talise, Tagulandang, Biaro di tengah
             Para dan Mahangetang tiada jauhlah
             Pulau Karangetang, bahkan Siaulah
             Semuanya dipandang di mata manislah.

2.  Berjajar terus ke utara, Tampungang-Porodisa
     Terhimpun pulaunya yang indah, menghias cakrawala
         
    Kahakitang, Kalama, Bebalang, Batunderang
    Lipaeng, Kawaluso, Kawio, Marore
    Pulau Karakelang serta Salibabu
    Kabaruan, Karatung, Marampit, Miangas.

Label

. Menkeu 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955. 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2010 2011 2013. 2014 A AA abad ke-7 ABC abdul hadi wm ABK Abu Nawas Aceh achdiat k mihardja Adat agama Ahok AI airmadidi Airmadidi. ajaran sesat ajib hamdani Al-Qur'an Alkitab AMBON amsal amurang anak yatim/piatu anak-anak anggaran Angkatan 45 angsuran animal animasi animation Anjab Antasari aplikasi mobile apresiasi sastra Apuse Arab architectur architecture arsitektur artificial intelligence artikel. asal-usul lagu yamko rambe yamko Askes ASN Asrul Sani Astinet asuransi audio audio to text ayu ting ting B Babilonia baca artikel dibayar bahasa Bahasa Belanda bahasa daerah Bahasa Indonesia bahasa kreol Bahasa Portugis bahasa Termate Bahlil Dahadalia bahundak Bait Allah bajak BANJAR bank banten bantuan korea selatan Bapertarum barang dan jasa pemerintah Basuki BATAK batas laut batas usia pensiun. PP BB BBM bersubsidi Bea Cukai beasiswa bekerja dari rumah Belanda bencana bendera beras berita Betlehen biaro Bidat billing bimbo BIODATA BIOGRAFI bisnis bisnis gratis bisnis properti bisnis sampingan Bitung BKD BKN blogger BNI BNN bobbit worm Bolaang Mongondow Bolmut Bolong Bolsel Boltim BPJS BPKB BRI briptu norman kamaru BTN Bu Tahanusang budaya Budaya Kerja budayawan bugil building buku bulan BUMD BUMN bunaken bung karno BUP bupati C Camat CC ccovid-19 cerita rakyat cerpen Chairil Anwar China choir cicilan cincin cinta CIO CIPTA KERJA CIPTAKERJA civil servant classical coconut octopus collorydianisme conference contoh convert copy-paste foto covid-19 CPNS cuti cuti bersama D D.Brilman Dacuda Pocket Scanner daerah daerah otonom baru Dana Sehat DAU denda desa desain detektor logam Dhana Widyatmika Dialek Diklat Kompetensi DIKLAT PIM dirjen dirjen anggaran disiplin diskusi diving DKI doa dogma dokumen dolar domain dongeng download DP3 DPR drama dramatik dramatis personae DRH Driver duasudara dubes duda duit dunia E e-billing e-Gov E-KTP e-voting edaran Edaran Mendagri eigendom ekonomi eksistensialisme eksperimental ekstensi eliezer Ensiklopedi Epifanius erupsi esai eselon extension F f. Kelling facebook Fiery Cross Reef Filsafat fisik foto funny gaji gaji baru PNS gaji baru Polri gaji baru TNI gaji hakim gaji ke-13 Gaji PNS 2013 gaji polri 2011 gaji polri 2013 gaji tni 2011 gaji TNI 2012 gaji tni 2013 galungan Ganefo gangguan kecemasan ganti logo blogger garuda gaya hidup gayus GCIO gelombang gembala gempa generasi Alfa generasi baby boomers generasi diam generasi milenial generasi Z gereja GG Gibran Rakabuming GMIM Golongan Ruang Google Cloud Google drive Google One grafik Gregorian gubernur gunung api Gunung Ruang gunung Salak guru hairy frogfish hakim halmahera HAM hari libur hari raya HB Yassin HB Yassin. HB Yassin HB Yassin. Pusat Dokumentasi hewan Hijriyah Hindu hobby home honorer house hukum hut I Nyoman Nuarta idul fitri II Ijazah Palsu iklan gratis iklan rumah IKN imlek Indihome Indonesia industri Infotek Inggris Injil Inpres instansi pemerintah integritas interior internet Islam israel istana garuda Istana Garuda Ibukota Nusantara Istana Presiden IKN IT ITE ITM jabatan fungsional jabatan pimpinan jabatan struktural jaksa janda JAWA jenderal jiwa Johnson Reef Jokowi jual-beli jual-beli rumah Julian K-1 K-2 KABUPATEN kalabat kalender Kalimantan kampanye kampus Kamus kandang domba kartu kredit karunia KARYA SATYA Kasus kata bijak kata mutiara kata-kata bijak kata-kata hikmat kata-kata mutiara kawasan khusus kawin KBBI KDKMP keamanan KEK Kekayaan kelahiran Yesus kelas keluarga kelurahan Kemen-PU Kemendagri Kemenkeu Kemenkum-HAM Kementrian kenaikan gaji kenaikan pangkat Kepala Daerah Kepdirjen Keppres kepribadian Keputusan Ka BKN keputusan menteri kerajaan kereta jenazah kereta kerajaan kereta pernikah william kerja Kesehatan keuangan Khotbah khotbah. kiamat Kisah Mahabarata KK Klasik Kode Etik koloriadianisme komedi Kominfo konstitusi konversi koor koperasi korpri Korupsi KOTA Kotamobagu koupsi KPCPEN KPK kristen Kritik Sastra kritik seni kue kuliah kunci foto L lagu lagu daerah Lagu Daerah lagu daerah Jawa Timur Lagu daerah Papua Lagu daerah Riau Lagu Daerah Sangihe lagu nasional lagu Papua lambang daerah langganan langowan lapas larangan laut Laut China Selatan lawak lebaran legenda lemang Lembaga Negara lembeh Lembeh Resort Lembeh Strait LG LHKPN libur nasional liburan Likupang lingkungan kerja Lirang lirik lirik lagu Lirik Lagu Daerah litle logo lokon lomba sastra lowongan lucu Lurah M magnitudo mahasiswa mahasiswa baru mahawu makar MALUKU Malut Manado mandarin fish Manganitu manusia marah rusli marga masa Anak-anak masamper masarang Masehi Mawali Mazmur media massa meja Melayu mendagri mengajar menkeu Menpan merah putih MERS Mesir mesjid metal detector Meyer migdal eder mimic octopus Minahas minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara minangkabau Mischief Reef mistik mitos MM mobil bekas mobil jenazah mobil mewah mochtar lubis model money Mongondow monumen moratorium motivasi motivasi hidup Mouse Scanner MPR Mr. Assat Mr. Sjafruddin muhaling Muhammad Musa mutasi nabi NAD nama domain nama etnis nama fam nama klan nama marga nama orang nama suku NARKOBA Nasdem nasi jaha Nasrani natal negara NEWS NII nikah NIP novel Nuklir Nusantara o ina ni keke OMNIBUS LAW oneness Orang Terkaya orde baru outsourcing pada pahlawan padang gembala paduan suara Pajak PAK pakaian adat Pakaian Dinas pandemi Pangdam pangkat PNS pangkat polri pangkat TNI pantai pantekosta pantun papan tulis elekronik papan tulis sekolah PAPUA partitur paskah paypal pdf pegawai pegawai tidak tetap pemerintah pejabat pejabat eselon pejabat pimpinan tinggi pelantikan pelayan khusus Pelindo pemalsuan pembunuhan Pemda Pemerintah pemerintah daerah pemilihan pemukiman pendaki pendeta pendidikan penembakan penerbangan penerimaan CPNS penerimaan pegawai BUMN penipuan Penpres pensiun pensiun pokok pensiunan pentakosta penyair penyaliban penyimpanan Perang Dunia peraturan kepala BKN peraturan menteri Peraturan Pemerintah perda perguruan tinggi perhubungan Peribahasa Periodisasi Perjalanan Dinas Perjanjian Lama perjuangan perkawinan Permen pernikahan william dan kate PERPPU PERPPU 1959 Perpres pers perumahan Perumnas pesawat pidato pigmy seahorse Pilgub DKI Pilkada Pilpres pinjaman plagiat PLN PMK PMK. Menkeu PNBP PNS PNS. Kekayaan poem poetry polisi politik politisi polling polri Portugis postmodernism PP PP 53 PP1998 PP2000 PP2001 PP2002 PP2011 PP2012 CPNS PPATK PPPK Prabowo prabu siliwangi pramugari Presiden RI Presiden SBY pria profesi propinsi proposal prosa protes Provinsi proyek psikiater psikis psikologi PTTP Puisi puisi lama pulau Spratly pulsa PUPNS PUPR purnawirawan Pusat Pusat Dokumentasi R raja ramalan ramayana rapel Rasul Rasul Paulus Ratahan read real estate Rek Ayo Rek rekening rekening gendut remunerasi remunerasi PNS daerah renovasi renungan resensi Retribusi Menara review sastra ribbon eel RIS Rismon Sianipar ritual Rivai Apin roh roman Romawi ROSIHAN ANWAR Roy Suryo rumah rumah kontrakan rumah mewah rumah murah Rumah Sakit rumah sederhana rumah tangga RUU RUU ASN RUU BPJS RUU Tipikor S salary salib sambo sandi sangihe SANGIHE TALAUD SANKSI santo sapaan SARS sastra sastra daerah sastra indonesia sastra online satgas SATYALENCANA Scribd sejarah sejarah Al'Quran sejarah gereja sejarah gereja. Sejarah Sastra Sekda sekolah dasar selingkung Seminar seniman sertifikasi guru server Shukoi siau siber SIM sinagoge Singapura sinopsis sipir siswa Sitaro siti nurbaya SK skala richter sms soeharto Soekarno Soleram Solo Soputan sosialisasi sosiologi Spanyol STAN standar biaya STNK storage stress studi komparasi su domain sub domain Subi Reef sufi Sukhoi suku maya Sulawesi Utara Sulut surat edaran Surat Kepercayaan Gelanggang Sutiyoso syahrini syair T tabel tabel gaji pns 2000 tabel gaji pns 2011 tabel gaji pns 2012 tabel gaji pns 2013 tabel gaji pns 2019 Tabel Gaji Polri 2012 Tabel Gaji Polri 2014 TABEL GAJI TNI 2011 TABEL GAJI TNI 2012 TABEL GAJI TNI 2013 tabel gaji TNI 2014 TABEL LENGKAP GAJI POLRI 2011 tabungan tabut Taguladang tagulandang tahun baru tahuna takhayul talaud tanah Tangkoko TAP MPR Taperum tarian tata bahasa taurat taurat. teater Dian teknologi teks Telekomunikasi Tenaga Ahli terminal Ternate teror TERORIS text to audio The Age the royal wedding TIK tips tni TOKOH tokoh dunia tokoh indonesia tokoh islam tomohon tondano torah tradisi transfer trinitas Try Sutrisno tsunami Tsunami tulude tunjangan TVRI Two Fish U uang UGM UN undang-undang Undang-Undang Pokok Agraria unduh unitarian Unpad Unsrat upacara upacara adat UU UU 1948 UU ASN UU Penerbangan UUD UUDS UUPA V vaksin video video conference video lucu viral virus VOC W wabah waisak wakil presiden wali kota walikota wamen warakawuri wartawan website WHO Wikileaks william shakespeare wisata selam wise word Woody Reef Wuhan Yahudi yamko rambe yamko Yehuda Yerusalam Yesus Yosua Yus Badudu yusuf hamka