Tampilkan postingan dengan label Kritik Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kritik Sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Agustus 2024

Memahami Kritik Seni dalam Teori dan Praktek Terkait Istana Garuda IKN

Kritik dan Kritik Seni dalam Teori dan Praktek

Banyak orang menilai secara negatif arsitektur istana presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN) Kalimantan Timur. Penilaian negatif itu dianggap sebaga kritik. Padahal secara teori, apa yang disampaikan di media sosial bukanlah kritik seni yang sesungguhnya melainkan nyinyiran. Ya, nyaris semua penilaian di media sosial dapat dikategorikan sebagai nyinyiran. Bukan sebagai kritik seni sebagaimana mestinya.
Dari begitu banyak tanggapan, atau dapat dikatakan nyinyiran dan kritik, sangat sedikit (bahkan hampir tidak ada) yang memberikan APRESIASI KARYA SENI sebagai pembanding KRITIK SENI. Padahal, selain kritik seni secara akademis, sebuah karya seni juga membutuhkan apresiasi seni secara akademis pula.

Nah, untuk meliterasi para netizen selaku penilai atas karya besar anak negeri, berikut saya coba paparkan apa dan bagaimana sesungguhnya kritik, kritik seni dan apresiasi seni atas sebuah karya seni. Termasuk karya arsitektur sebagai bagian dari seni (patung) dan seni arsitektur.

1. Pengertian Kritik 
 
Secara umum, kritik adalah suatu penilaian atau evaluasi terhadap suatu hal, baik itu ide, karya, tindakan, atau bahkan orang. Kritik bisa bersifat positif (pujian) atau negatif (saran perbaikan), namun tujuan utamanya adalah untuk memberikan masukan atau pandangan yang konstruktif. Kritik yang baik adalah kritik yang disampaikan dengan sopan, jelas, dan disertai alasan yang logis.

2. Pengertian Kritik Seni

Kritik seni adalah bentuk khusus dari kritik yang berfokus pada penilaian terhadap karya seni. Karya seni di sini bisa dalam bentuk rupa, sastra, musik, pertunjukan, atau bentuk seni lainnya. Kritik seni bertujuan untuk
  • Menganalisis: Membongkar unsur-unsur yang membentuk karya seni, seperti teknik, gaya, pesan, dan konteks pembuatannya.
  • Menilai: Memberikan penilaian terhadap kualitas estetika, makna, dan relevansi karya seni.
  • Menafsirkan: Mencari makna yang lebih dalam dari karya seni, baik bagi seniman maupun bagi penikmatnya.
  • Memberikan masukan: Memberikan saran atau masukan kepada seniman untuk meningkatkan kualitas karya berikutnya.
3. Tujuan Kritik Seni 
  • Meningkatkan pemahaman: Membantu penikmat seni untuk memahami karya seni secara lebih mendalam.
  • Meningkatkan apresiasi: Menumbuhkan apresiasi terhadap seni dan seni rupa.
  • Mengembangkan kualitas seni: Memberikan masukan kepada seniman untuk terus berkreasi dan meningkatkan kualitas karya.
  • Mencatat sejarah seni: Kritik seni menjadi dokumentasi penting dalam perkembangan sejarah seni.

4. Jenis-jenis Kritik Seni

Ada beberapa jenis kritik seni, di antaranya: Kritik jurnalistik: Kritik yang ditujukan untuk publik umum, biasanya disampaikan melalui media massa.
Kritik akademik: Kritik yang lebih mendalam dan menggunakan pendekatan teoritis, seringkali ditujukan untuk kalangan akademisi.
Kritik populer: Kritik yang lebih santai dan mudah dipahami, seringkali ditemukan di majalah atau blog.

5. Tahapan dalam Kritik Seni

Secara umum, proses kritik seni meliputi beberapa tahapan:
1) Pengamatan: Melihat, mendengarkan, atau membaca karya seni secara cermat.
2) Analisis: Membongkar unsur-unsur yang membentuk karya seni.
3) Interpretasi: Mencari makna dan pesan yang terkandung dalam karya seni.
4) Evaluasi: Memberikan penilaian terhadap kualitas karya seni.
5) Kesimpulan: Menyimpulkan hasil analisis, interpretasi, dan evaluasi.
 
Contoh Kritik Seni

"Lukisan abstrak ini sangat menarik perhatian dengan permainan warna yang berani dan bentuk-bentuk dinamis. Penggunaan garis-garis tebal menciptakan kesan gerakan yang kuat. Namun, bagi saya, komposisi keseluruhan terasa sedikit terlalu ramai dan kurang fokus pada satu titik pusat. Mungkin dengan mengurangi beberapa elemen, karya ini akan terasa lebih bersih dan elegan."

6. Perbedaan antara kritik seni dan apresiasi seni.

Kritik seni dan apresiasi seni merupakan aktivitas yang berhubungan dengan seni, namun memiliki fokus yang berbeda.

a. Apresiasi Seni

Apresiasi seni adalah proses menikmati, memahami, dan menghargai karya seni. Ini melibatkan: Pengalaman langsung: Menikmati keindahan karya seni secara pribadi, tanpa harus mencari makna yang terlalu dalam.
Emosi: Merespons karya seni secara emosional, baik itu senang, sedih, kagum, atau terinspirasi.
Pengalaman estetika: Menghargai keindahan formal karya seni, seperti warna, bentuk, komposisi, dan teknik.

b. Kritik Seni


Kritik seni adalah proses menganalisis, menafsirkan, dan mengevaluasi karya seni. Ini melibatkan: Analisis mendalam: Membongkar unsur-unsur yang membentuk karya seni, seperti gaya, teknik, dan pesan yang ingin disampaikan.
Interpretasi: Mencari makna yang lebih dalam dari karya seni, baik bagi seniman maupun bagi masyarakat.
Evaluasi: Memberikan penilaian terhadap kualitas estetika, makna, dan relevansi karya seni.

Perbedaan Utama Apresiasi dan Kritik



Singkatnya:

Apresiasi seni lebih bersifat subjektif dan fokus pada pengalaman pribadi.
Kritik seni lebih bersifat objektif dan berusaha untuk memahami karya seni secara lebih mendalam.

Contoh:

Anda melihat sebuah lukisan abstrak. Apresiasi: Anda merasa lukisan itu indah karena warna-warni cerah dan bentuk-bentuk yang dinamis. Anda merasa senang dan terinspirasi.
Kritik: Anda menganalisis penggunaan warna, garis, dan komposisi. Anda mencoba mencari tahu makna di balik bentuk-bentuk abstrak tersebut. Anda membandingkannya dengan karya seniman abstrak lainnya.

Keduanya saling melengkapi: Apresiasi seni memberikan dasar emosional untuk menikmati karya seni, sedangkan kritik seni memberikan pemahaman yang lebih mendalam. Dengan menggabungkan keduanya, Anda dapat menikmati karya seni secara lebih kaya dan bermakna.

7. Langkah-langkah Mengkritik Karya Seni
  • Pilih Karya Seni: Tentukan karya seni yang ingin Anda kritik. Bisa berupa lukisan, patung, instalasi, pertunjukan, atau bentuk seni lainnya.
  • Perhatikan detail-detail seperti judul, seniman, tahun pembuatan, media yang digunakan, dan ukuran.
  • Pelajari Latar Belakang Seniman: Cari tahu tentang seniman yang menciptakan karya tersebut. Gaya seninya, periode aktifnya, dan pengaruh-pengaruh yang mempengaruhinya dapat memberikan konteks yang lebih luas terhadap karya.
  • Gerakan Seni: Jika karya tersebut terhubung dengan suatu gerakan seni tertentu (misalnya, Impresionisme, Kubisme, atau Surealisme), pahami karakteristik dan tujuan gerakan tersebut.
  • Konteks Historis: Pertimbangkan periode waktu ketika karya tersebut dibuat. Apa yang terjadi di dunia pada saat itu? Bagaimana peristiwa-peristiwa sejarah memengaruhi karya seni?
  • Amati Secara Mendalam:Elemen Visual: Perhatikan warna, garis, bentuk, tekstur, ruang, dan cahaya. Bagaimana elemen-elemen ini disusun dan menciptakan kesan tertentu?
  • Komposisi: Bagaimana elemen-elemen visual diatur dalam karya? Apakah ada keseimbangan, irama, atau kontras?
  • Teknik: Teknik apa yang digunakan seniman untuk menciptakan karya ini? Apakah teknik tersebut efektif dalam menyampaikan pesan?
  • Interpretasi:Makna: Apa yang ingin disampaikan oleh seniman melalui karya ini? Apakah ada pesan tersirat atau simbolisme yang digunakan?
  • Emosi: Emosi apa yang ditimbulkan oleh karya ini pada Anda? Bagaimana karya ini membuat Anda merasa?
  • Konteks Sosial dan Budaya: Bagaimana karya ini merefleksikan nilai-nilai sosial dan budaya pada zamannya?
  • Evaluasi:Keaslian: Apakah karya ini menawarkan sesuatu yang baru atau berbeda?
  • Kualitas Estetika: Apakah karya ini menarik secara visual?
  • Keberhasilan Menyampaikan Pesan: Apakah seniman berhasil menyampaikan pesan yang ingin disampaikan?
  • Teknik: Apakah teknik yang digunakan efektif dalam mendukung pesan karya?
Tulislah Kritik Anda denangan komposisi sbb.:
  • Pendahuluan: Perkenalkan karya seni yang akan dikritik, termasuk judul, seniman, dan media yang digunakan.
  • Deskripsi: Jelaskan secara detail tentang karya seni.
  • Analisis: Uraikan unsur-unsur formal dan interpretasi Anda.
  • Evaluasi: Berikan penilaian Anda terhadap karya seni.
  • Kesimpulan: Tutup kritik dengan kesimpulan yang kuat.

Contoh Kritik Seni:

Mari kita ambil contoh lukisan "Starry Night" karya Vincent van Gogh. 
  • Pendahuluan: Lukisan "Starry Night" adalah salah satu karya paling terkenal dari Vincent van Gogh. Lukisan ini menggambarkan pemandangan malam yang penuh dengan bintang-bintang berputar dan sebuah desa yang tenang.
  • Deskripsi: Dominasi warna biru tua menciptakan suasana malam yang gelap. Bintang-bintang digambarkan dengan goresan-goresan tebal dan bercahaya, menciptakan efek gerakan yang dinamis.
  • Analisis: Penggunaan warna yang kontras antara biru tua dan kuning menciptakan efek dramatis. Pohon-pohon cypress yang menjulang tinggi memberikan kesan mistis.
  • Interpretasi: Banyak yang berpendapat bahwa lukisan ini menggambarkan perasaan gelisah dan terasing yang sering dialami oleh van Gogh. Bintang-bintang yang berputar mungkin melambangkan alam semesta yang tak terbatas dan pencarian akan makna hidup.
  • Evaluasi: "Starry Night" adalah sebuah karya yang sangat emosional dan penuh imajinasi. Penggunaan warna dan teknik yang unik membuat lukisan ini sangat menonjol. Van Gogh berhasil menciptakan sebuah karya yang terus menginspirasi hingga saat ini.

Tips Tambahan: Baca kritik seni lainnya: Pelajari bagaimana kritikus seni lain menulis.
Gunakan bahasa yang jelas dan lugas: Hindari bahasa yang terlalu berbunga-bunga atau terlalu teknis.
Dukung pendapat Anda dengan bukti: Jangan hanya memberikan opini, tetapi juga jelaskan alasan di balik pendapat Anda.
Tetap terbuka: Kritik seni adalah sebuah proses yang subjektif. Hormati pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat Anda.

Contoh Karya Seni untuk Dikritik:

Jika Anda ingin mencoba menulis kritik seni, Anda bisa memilih salah satu karya berikut: 
  • Lukisan: Mona Lisa (Leonardo da Vinci), The Scream (Edvard Munch), Guernica (Pablo Picasso)
  • Patung: The Thinker (Auguste Rodin), David (Michelangelo)
  • Instalasi: The Weather Project (Olafur Eliasson)
  • Fotografi: Migrant Mother (Dorothea Lange)
  • Arsitektur: Taj Mahal, Sydney Opera House dan yang populer di Indonesia saat ini adalah Istana Garuda Ibu Kota Nusantara (IKN).

Terlalu banyak orang mengritik karya arsitektur istana garuda ini di media sosial walau sebenarnya itu bukan bentuk kritik tapi nyinyiran. Sebab, kritik seni atas karya arsitektur istana garuda IKN ini mestinya dilakukan secara akademis oleh seorang kritikus seni atau kritikus arsitektur. Bukanorang-orang awam yang pada intinya bukan melakukan kritik seni, tetapi kritik politis atas kebijakan pemerintahan presiden Jokowi yang memindahkan ibukota negari dari Jakarta ke Nusantara Kalimantan Timur.

CATATAN: Kritik seni arsitektur istana garuda hendaknya dilakukan secara akademis sehingga dapat diterima sebagai sebuah kritik seni. Bukan kritik di medsos yang nadanya bukan kritik tapi nyinyir dan dilakukan orang yang tidak mengerti teori kritik seni.

8. Peran Kritikus Seni dalam Dunia Seni

Kritikus seni memainkan peran yang sangat penting dalam ekosistem seni. Mereka bertindak sebagai jembatan antara seniman, karya seni, dan publik. Berikut adalah beberapa peran utama kritikus seni:
  • Menganalisis dan Menafsirkan: Kritikus seni menganalisis karya seni secara mendalam, membongkar elemen-elemen visual, teknik, dan pesan yang ingin disampaikan oleh seniman. Mereka kemudian menafsirkan makna yang terkandung dalam karya tersebut, membantu publik memahami karya seni secara lebih mendalam.
  • Memberikan Penilaian: Kritikus seni memberikan penilaian terhadap kualitas estetika, inovasi, dan relevansi karya seni. Penilaian ini dapat bersifat positif maupun negatif, namun selalu didasarkan pada analisis yang objektif.
  • Membentuk Opini Publik: Melalui tulisan atau ulasan, kritikus seni membentuk opini publik tentang karya seni dan seniman. Mereka dapat memperkenalkan seniman baru, mempromosikan pameran, atau bahkan memicu perdebatan tentang isu-isu seni kontemporer.
  • Mendidik Publik: Kritikus seni berperan sebagai pendidik. Mereka membantu publik memahami bahasa visual, sejarah seni, dan konteks budaya yang melingkupi karya seni.
  • Memberikan Masukan kepada Seniman: Kritikus seni dapat memberikan masukan yang konstruktif kepada seniman. Feedback yang objektif dapat membantu seniman memperbaiki karya mereka dan mengembangkan gaya mereka.
  • Mencatat Sejarah Seni: Kritik seni menjadi dokumentasi penting dalam perkembangan sejarah seni. Tulisan-tulisan kritikus seni dapat menjadi referensi bagi generasi mendatang untuk memahami konteks sejarah suatu karya seni.
  • Memperkaya Diskusi tentang Seni: Kritik seni memicu diskusi dan perdebatan yang sehat tentang seni. Hal ini dapat memperkaya pemahaman kita tentang seni dan mendorong pemikiran kritis.

Singkatnya, kritikus seni berperan sebagai: 
  • Juru bicara: Menyampaikan pesan seniman kepada publik.
  • Penilai: Memberikan penilaian objektif terhadap karya seni.
  • Pendidik: Membantu publik memahami seni.
  • Pemicu diskusi: Mendorong percakapan yang lebih dalam tentang seni.

Tantangan yang Dihadapi Kritikus Seni: 
  • Subjektivitas: Seni adalah bentuk ekspresi yang sangat subjektif. Setiap orang memiliki interpretasi yang berbeda terhadap sebuah karya seni.
  • Tekanan Komersial: Kritikus seni seringkali berada di bawah tekanan untuk menulis ulasan yang menarik perhatian publik, yang terkadang dapat mengorbankan objektivitas.
  • Perubahan Cepat dalam Dunia Seni: Dunia seni terus berkembang dengan pesat. Kritikus

8. Peran Kritikus Seni dalam Dunia Seni

Kritikus seni memainkan peran yang sangat penting dalam ekosistem seni. Mereka bertindak sebagai jembatan antara seniman, karya seni, dan publik. Berikut adalah beberapa peran utama kritikus seni: 
  • Menganalisis dan Menafsirkan: Kritikus seni menganalisis karya seni secara mendalam, membongkar elemen-elemen visual, teknik, dan pesan yang ingin disampaikan oleh seniman. Mereka kemudian menafsirkan makna yang terkandung dalam karya tersebut, membantu publik memahami karya seni secara lebih mendalam.
  • Memberikan Penilaian: Kritikus seni memberikan penilaian terhadap kualitas estetika, inovasi, dan relevansi karya seni. Penilaian ini dapat bersifat positif maupun negatif, namun selalu didasarkan pada analisis yang objektif.
  • Membentuk Opini Publik: Melalui tulisan atau ulasan, kritikus seni membentuk opini publik tentang karya seni dan seniman. Mereka dapat memperkenalkan seniman baru, mempromosikan pameran, atau bahkan memicu perdebatan tentang isu-isu seni kontemporer.
  • Mendidik Publik: Kritikus seni berperan sebagai pendidik. Mereka membantu publik memahami bahasa visual, sejarah seni, dan konteks budaya yang melingkupi karya seni.
  • Memberikan Masukan kepada Seniman: Kritikus seni dapat memberikan masukan yang konstruktif kepada seniman. Feedback yang objektif dapat membantu seniman memperbaiki karya mereka dan mengembangkan gaya mereka.
  • Mencatat Sejarah Seni: Kritik seni menjadi dokumentasi penting dalam perkembangan sejarah seni. Tulisan-tulisan kritikus seni dapat menjadi referensi bagi generasi mendatang untuk memahami konteks sejarah suatu karya seni.
  • Memperkaya Diskusi tentang Seni: Kritik seni memicu diskusi dan perdebatan yang sehat tentang seni. Hal ini dapat memperkaya pemahaman kita tentang seni dan mendorong pemikiran kritis.

Singkatnya, kritikus seni berperan sebagai: 
  • Juru bicara: Menyampaikan pesan seniman kepada publik.
  • Penilai: Memberikan penilaian objektif terhadap karya seni.
  • Pendidik: Membantu publik memahami seni.
  • Pemicu diskusi: Mendorong percakapan yang lebih dalam tentang seni.

Tantangan yang Dihadapi Kritikus Seni: 
  • Subjektivitas: Seni adalah bentuk ekspresi yang sangat subjektif. Setiap orang memiliki interpretasi yang berbeda terhadap sebuah karya seni.
  • Tekanan Komersial: Kritikus seni seringkali berada di bawah tekanan untuk menulis ulasan yang menarik perhatian publik, yang terkadang dapat mengorbankan objektivitas.
  • Perubahan Cepat dalam Dunia Seni: Dunia seni terus berkembang dengan pesat. Kritikus seni harus terus belajar dan beradaptasi dengan tren dan perkembangan terbaru 
 
10. Tahapan Menulis Kritik Seni
  • Pengamatan yang Mendalam: Amati seluruh aspek karya: Mulai dari judul, media yang digunakan, ukuran, warna, komposisi, hingga detail-detail kecil yang mungkin tersembunyi.
  • Perhatikan suasana yang diciptakan: Apakah karya tersebut menimbulkan perasaan senang, sedih, marah, atau yang lainnya?
  • Bandingkan dengan karya lain: Jika memungkinkan, bandingkan karya ini dengan karya seniman yang sama atau karya lain dengan gaya yang serupa.
  • Analisis Formal Unsur-unsur visual: Warna, garis, bentuk, tekstur, ruang, dan cahaya.
  • Prinsip desain: Keseimbangan, irama, proporsi, kesatuan, dan penekanan.
  • Teknik: Bagaimana seniman menciptakan karya ini? Teknik apa yang digunakan?
  • InterpretasiMakna yang terkandung: Apa yang ingin disampaikan oleh seniman melalui karya ini?
  • Simbolisme: Apakah ada simbol-simbol yang digunakan? Jika ada, apa maknanya?
  • Konteks: Pertimbangkan konteks sosial, budaya, dan sejarah yang melatarbelakangi karya ini.
  • EvaluasiKualitas estetika: Apakah karya ini menarik secara visual?
  • Keaslian: Apakah karya ini menawarkan sesuatu yang baru atau berbeda?
  • Keberhasilan menyampaikan pesan: Apakah seniman berhasil menyampaikan pesan yang ingin disampaikan?
  • KesimpulanRingkasan analisis: Rangkum poin-poin penting dari analisis Anda.
  • Penilaian keseluruhan: Berikan penilaian akhir terhadap karya seni tersebut.
  • Rekomendasi: Hal perlu dilakukan jika Anda ingin mberikan rekomendasi kepada pembaca, misalnya untuk melihat karya lain dari seniman ini atau karya-karya serupa.
Struktur Kritik Seni 
  • Pendahuluan: Perkenalkan karya seni yang akan dikritik, termasuk judul, seniman, dan media yang digunakan.
  • Deskripsi: Jelaskan secara detail tentang karya seni.
  • Analisis: Uraikan unsur-unsur formal dan interpretasi Anda.
  • Evaluasi: Berikan penilaian Anda terhadap karya seni.
  • Kesimpulan: Tutup kritik dengan kesimpulan yang kuat.

Contoh Struktur Kritik Seni

  • Pendahuluan: Lukisan berjudul "Kesunyian" karya Joko Susilo ini menghadirkan pemandangan seorang wanita duduk di tepi pantai.
  • Deskripsi: Dominasi warna biru dan abu-abu menciptakan suasana yang melankolik. Ekspresi wajah wanita tersebut tampak kosong dan jauh.
  • Analisis: Penggunaan garis lengkung pada rambut dan tubuh wanita menciptakan kesan lembut dan feminin. Namun, garis pantai yang kasar kontras dengan kesan lembut tersebut, mungkin melambangkan konflik batin yang dialami wanita itu.
  • Evaluasi: Secara keseluruhan, lukisan ini berhasil menyampaikan perasaan kesepian dan kerentanan. Penggunaan warna dan komposisi yang tepat mendukung tema yang ingin disampaikan.
  • Kesimpulan: "Kesunyian" adalah sebuah karya yang menyentuh dan mengundang penonton untuk merenung. Joko Susilo berhasil menciptakan sebuah karya yang penuh emosi dan makna.
Tips Menulis Kritik Seni 
Baca kritik seni lainnya: Pelajari bagaimana kritikus seni lain menulis.
Gunakan bahasa yang jelas dan lugas: Hindari bahasa yang terlalu berbunga-bunga atau terlalu teknis.
Dukung pendapat Anda dengan bukti: Jangan hanya memberikan opini, tetapi juga jelaskan alasan di balik pendapat Anda.
Tetap terbuka: Kritik seni adalah sebuah proses yang subjektif. Hormati pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat Anda.

Contoh Kritik Seni Lengkap

Anda bisa mencari contoh kritik seni lengkap di internet atau buku-buku tentang seni. Dengan membaca contoh-contoh tersebut, Anda akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana menulis kritik seni yang baik.

----------------------------

Tag: kritik istana garuda IKN, kritik burung garuda IKN, kritik garuda karya I Nyoman Nuarta, kritik istana presiden di IKN, kritik konstruksi istana garuda IKN, kritik arsitektur istana presiden di IKN, pembelaan I Nyoman Nuarta soal desain istana presiden IKN.


Jumat, 26 Maret 2021

Sem Muhaling ‘Penyair Masamper’

 

Oleh: Sovian Lawendatu

Sesudah menerbitkan sajak-sajaknya dalam buku antologi sajak “Sasambo” (1991), penyair Sem Muhaling tidak kelihatan lagi batang hidungnya di dunia publikasi sastra. Banyak rekan penyair menyana bahwa kepenyairan Sem telah impoten. Atau bahwa kepenyairan Sem sudah berpulang ke alam fana sebelum dirinya kelak berpulang ke alam baka.
Nyanaan itu untuk kurun waktu tertentu tidak salah. Penyair Sem tampak tenggelam ke dalam rawa payah rutinitas selaku birokrat.
Syukurlah, meski tidak sederas dahulu, penyair ini belakangan berproduksi lagi. Malahan, atas ‘tantangan’ seorang Leonardo Axsel Galatang, kami bertiga pada tahun ini akan menerbitkan buku antologi cerpen yang pernah kami tulis pada sekitar 30an tahun silam – semogalah rencana ‘melangit’ ini terwujud paling lambat tanggal 31 Desember tahun ini – he… he…he…
Sajak-sajak yang dibuat oleh penyair Sem pada waktu belakangan cenderung masih memperlihatkan gaya (style) khas kepenyairannya seperti yang tersuguh dalam buku antologi “Sasambo”. Itulah gaya improvisatoris, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Kamajaya Al. Katuuk dalam ulasannya yang dipublikasikan di harian Manado Post menyambut kehadiran buku antologi ‘patungan’ tersebut. Penyair Sem dalam hal ini memanfaatkan sifat lentur kata-kata untuk keperluan repetisi dan ‘permainan bunyi’. Jika Kamajaya mengilustrasikan ciri kepenyairan Sem ini dengan ‘lagu dolanan anak-anak’, maka dengan maksud yang sama, saya mengilustrasikan ciri kepenyairan yang demikian dengan teknik menyanyi dalam tradisi Masamper. Dengan gaya kepenyairan yang demikian, sajak Sem menjadi ritmis. Nikmati saja sajaknya yang melukiskan ‘kelakuan’ roh-roh yang bertentangan tabiat.
Ruh hitam ruh putih, ruh hitam ruh putih
di sini ruh kelabu makan bimbang makan bimbang

ruh hitam makan nista makan dusta
ruh putih makan cinta makan rasa

ruh kelabu menggelantung di awan
tak turun tak naik 

di manakah engkau ruh-ruh leluhur ruh-ruh moyang
di manakah engkau ruh-ruh buyut ruh-ruh pewaris

jangan bimbang
lepas timbang
jangan tumbang
sebelum rembang

datang sini datang mari
ruh putih ruh suci
peluk kami peluk pewaris
biar nyanyi dalam nirwana

datang sini datang mari
ruh putih ruh suci
rasuk kalbu rasuk pikir
biar angkara lepas diri
 
(Album SATAS / NUSA UTARA, 23 Februari 2014)

Untuk bait-bait sajak yang terdiri atas empat larik yang berukuran pendek (dihitung dari jumlah sukukata!), maka gaya improvisatoris Sem itu membuat sajaknya mirip karmina (pantun kilat). Perbandingannya dapat dilihat lewat contoh berikut. 

jangan bimbang
lepas timbang
jangan tumbang
sebelum rembang.

gendang gendut
tali kecapi
kenyang perut
senang hati

(Karmina)

Sementara untuk bait-bait sajak yang terdiri atas empat larik yang berukuran relatif panjang (delapan sampai dua belas sukukata), maka gaya kepenyairan yang demikian membuat sajak Sem menyerupai pantun seumumnya. Perbedaannya, sajak Sem tidak mengedepankan rima akhir sebagaimana yang menjadi formula pantun (a-b-a-b). Perhatikan juga sajaknya yang berjudul “Kecubung”.

Mekar lembayung kecubung
dipercik embun langit pelangi
kala angin menghembus ke utara
terbangkan wewangi mimpi tua
senyum pagi ucapkan doa:
selamat pagi pelangiku
Mekar kecubung pulau doa
tebarkan putik, janjikan rasa
ketika laut biru singkatkan langkah
menghitung tapak seribu riak
padamu kecubung
mabukkan jantung merah
pelangi kota bising.
 
(Album SATAS / NUSA UTARA, 30 Juni 2014)
Dalam gamitan dengan Masamper, maka perbandingan bentuk sajak-sajak Sem dengan pantun adalah hal niscaya. Pasalnya, dari sisi lirik lagunya, Masamper memang berbentuk pantun atau campuran antara pantun dan syair. Ini misalnya dibuktikan dengan lagu Masamper “Di Pantai Enemawira”
 
Di pantai Enemawira
kududuk dengan murung
mengenangkan si saudara
sepri burung terkurung

Ke utara peperangan
ke selatan dilarangan
hati mana boleh tahan
sindiran kiri kanan
 
(Catatan : Bait pertama lagu ini berbentuk pantun sedangkan bait keduanya, yang nota bene bersifat refrain, berbentuk syair)

Kemudian, sehubungan dengan teknik improvisatoris dalam menyanyikan lagu-lagu Masamper, maka teknik tersebut dapat digambarkan antara lain sebagai berikut.
Di pantai (di pantai) Enemawira
kududuk (kududuk) dengan murung
mengenang… (mengenang…) –kan si saudara
sepri bu… (sepri bu…) – rung terkurung.
 
Kiranya perlu dijelaskan bahwa dalam ber-masamper, kata-kata yang dikurung merupakan wujud improvisasi. Sering improvisasinya lebih rancak; satu kata dinyanyikan secara beruntun.

Di pantai (di pantai di pantai) Enemawira
(Kududuk kududuk kududuk kududuk) Kududuk
(kududuk kududuk) dengan murung
(mengenangkan mengenangkan) mengenang…
(mengenang mengenang) –kan si saudara
(sepri burung sepri burung) sepri bu…
(sepri burung sepri bu) –rung terkurung.
 
Gaya improvisatoris penyair Sem sedikit banyak mencuat juga dalam sajaknya yang berikut.
NEGERIKU MENYULAM SEJARAH

Negeri ini sedang menyulam sejarah untuk generasi mendatang
Sulaman penuh benang-benang kusut dan kotor
benang-benang kotor yang dipungut dari lumpur reformasi
benang-benang kusut yang ditarik dari inkonsistensi hukum
Negeri ini sedang menyulam sejarah kakek-nenek untuk cucu
sejarah yang penuh cerita horor dan teror politik
horor karena ceritanya menyeramkan
teror karena perilaku saling menakut-nakuti
katanya negeri ini nanti jadi komunis
katanya negeri ini nanti jadi fasis
katanya negeri ini nanti jadi orde baru jilid 2
katanya negeri ini nanti jadi boneka negeri seberang
katanya negeri ini nanti jadi negeri syariah
katanya negeri ini nanti jadi negeri kafir
katanya negeri ini nanti jadi apa?
Negeri ini sedang menyulam sejarah colak hitam dan kelabu
ketika benang-benang putih disirami lumpur-lumpur lebam
hitamnya caci dan nista
kelabunya pandangan insan
putihnya generasi pewaris
Negeri ini sedang menyulam sejarah penuh borok
borok politisi dan bisul-bisul rakyat jelata
menjadi epidemi kronis 
 
(Album SATAS / NUSA UTARA, 1 Juli 2014)

Kamajaya memahami gaya improvisatoris Sem itu sebagai pengaruh gaya persajakan Sutardji Calzoum Bachri. Kamajaya sehemat saya tepat dengan pemahamannya tersebut. Welakinpun demikian, saya lebih suka memahaminya dari sisi ‘Masamper’, supaya kepenyairan Sem mendapat semacam akar pada tradisi kultural moyangnya. Maklum, Sem juga gemar ber-masamper, bahkan dengan moto “siang kalau siang”. ***

Bitung, 5 Juli 2017

Selasa, 05 April 2016

Pitres Sombowadile & Budaya Moyangnya

Pitres Sombowadile & Budaya Moyangnya
 
Oleh : Sovian Lawendatu

Dari sekian banyak sajak Pitres Sombowadile yang tercantum dalam buku antologi “Sasambo” (1991), ada satu yang relevan untuk dibicarakan dalam konteks pembicaraan tentang hubungan penyajak dengan budaya moyangnya atau sub-etnisnya. Maksud saya adalah “Bandar”.

Pada ‘beberapa waktu lalu’ Kota Manado digemparkan oleh aksi demonstrasi massa mahasiswa asal Sangihe Talaud yang memprotes rencana pemindahan (relokasi) Pelabuhan Manado. Sebab, kebijakan pemerintah itu secara ekonomi dipandang akan menyusahkan masyarakat Sangihe Talaud, termasuk para demonstran, sebagai pihak yang berkepentingan dengan pelabuhan itu.

Saya tidak tahu apakah Pitres turut serta dalam aksi demonstrasi itu? Ataukah dia mungkin termasuk ‘ki dalang’nya? Yang jelas, sikap dan pandangan massa demonstran itu memengaruhi penulisan sajak “Bandar”. Malahan, Pitres pun memandang bahwa rencana pemindahan Pelabuhan Manado itu merupakan sebentuk penindasan terhadap masyarakat Sangihe Talaud.

Sebagai penyajak, Pitres meleputkan pandangannya tadi secara puitis. Ia menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita rakyat Sangihe, seperti “Bakeng” (raksasa pemangsa) dan “Nangingbulaeng” (gadis). Dalam sajak “Bandar”, tokoh “Bakeng” digunakan sebagai gambaran simbolis penguasa yang menindas masyarakat Sangihe Talaud. Sedangkan tokoh “Nangingbulaeng” digunakan sebagai gambaran simbolis masyarakat Sangihe Talaud yang tertindas oleh penguasa.

Selain memanfaatkan kekayaan kultur moyangnya, Pitres juga memanfaatkan fakta-fakta kesejarahan masyarakat Sangihe Talaud, baik yang berkenaan dengan kehadiran manusia-manusia jahat, maupun yang berkenaan dengan penjajahan Belanda. Demikianlah, dalam sajak ini, Pitres menampilkan sosok-sosok jahat yang bernama Batairo, Mangaia, Panggelawang, dan Mangindano (gerombolan perompak dari Mindanao Selatan), bahkan Padtbrugge (Gubernur Maluku, Hindia Belanda), yang wilayah kekuasaannya meliputi Sangihe Talaud. Sosok-sosok jahat ini ditampilkan guna pencitraan kejahatan penguasa terhadap masyarakat Sangihe Talaud dalam konteks agenda relokasi pelabuhan tersebut.

BANDAR
Di Pelabuhan Manado

bagaimana aku bicara anggur dan mawar
ketika Bakeng memasung Nangingbulaeng
bandar ini dikencingi Batairo
cinta dikhianati
laut rumah kita dinodai.

di pelabuhan tinggal sesal
Mangaia keruk kali Jengki
buat seribu jurang
Panggelawang meniti jembatan Megawati
uji seribu riskan

katakan pada Madunde
sembilan Madonna urung mandi
bandar telah dirampok.

Minggir! Mangindano hendak gelar pesta
domba-domba terperas tinggalkan gubuk
terbantai berkali.

nyanyian duka Sasambo
turun dari ladang ketela ke daseng
tuan Santiago lihat Padtbrugge datang
bawa surat rampasan
selamatkan negeri!

Sampai pada pembicaraan di atas, kiranya jelas, bahwa penyajak Pitres memang mempunyai pengetahuan yang kaya akan budaya dan sejarah kehidupan leluhurnya. Kompetensi intelektual ini, yang sejatinya merupakan salah satu sendi kedigdayaan penyajak, dimungkinkan oleh ‘kesuntukan’ Pitres dalam berotodidak.

Kamajaya Al. Katuuk, dalam tulisan kritisnya terhadap buku antologi sajak “Sasambo”, mengembel-embeli Pitres (dan Sovian Lawendatu) sebagai penyajak yang “kuat mengolah kata”. Mengenai ini Kamajaya menjelaskan bahwa kekuatan mengolah kata ditandai dengan kemampuan Pitres menggunakan kata-kata sebagai pemadat sajaknya. Itu sebabnya, Kamajaya mengategorikan Pitres sebagai penyajak yang cenderung kontemplatif.

Ikhwal kekuatan kepenyajakan Pitres tersebut buat saya ‘terpenuhi’ pula dalam sajak “Bandar”. Sajak ini mematutkan keberadaannya sebagai sebuah renungan, sebuah kontemplasi tentang kehidupan.

KAMAJAYA AL. KATUUK & BUDAYA MOYANGNYA

(Dari Penghayatan Pandangan Dunia Jawa Kejawen hingga Dekonstruksi Legenda Minahasa)

Oleh: Sovian Lawendatu

Dari nama ‘awal’ dan ‘akhir’nya saja, Kamajaya dan Katuuk, sudah jelas penyajak ini memiliki dua latar budaya yang berbeda: Kejawen dan Minahasa. Apa pula lewat sajak-sajaknya. Memang untuk kepentingan kreativitasnya, Kamajaya memanfaatkan produk kedua budaya moyangnya itu.

Produk budaya Kejawen (baca: Jawa Kejawen) yang Kamajaya manfaatkan untuk kreativitasnya adalah pandangan dunia atau ‘dunia-kehidupan’ (lebenswelt) monisme-pantheistis dan magis. Pemanfaatan ini dilakukan dalam penulisan sajak Kamajaya yang berjudul Kupu-kupu Terbang Sampai (KkTS).

Kupu-kupu terbang sampai
demi bunga yang
dimekarkan matahari yang…
Belibis turun melintasi ladang dan tegalan
demi menyambut hujan yang
dimekarkan langit yang….
Indra,
tunggallah!
Merentas jalan sampai
(beru)Jung padaku!
(tu)Run pada-Nya!
(sam)Pai pada Kau!
Ana al’Haqq
Laa illaha illallah.
Tak apa-apa
tak ada siapa-siapa
bunyi tak
lamun tak
lihat tak
rasa tak
Ana al’Haqq!
Ku
pu
Ku
pu
Ana al’Haqq!

(dari naskah antologi “Ziarah Langit” Kamajaya Al.Katuuk).

Dalam sajak ini pandangan dunia monisme- pantheistis dan magi masing-masing dimanfaatkan sebagai tema dan teknik. Berarti, secara praktis, sajak ini mengungkapkan upaya insan Kejawen – bisa juga Kamajaya – untuk mencapai ‘suasana’ Manunggaling Kawulo-gusti, dengan dukungan daya gaib.

Tema Manunggaling Kawulo-gusti (atau: Manunggaling Kawulogusti) dalam sajak ini nyata melalui konsep ketiadaan, “Tak ada apa-apa/tak ada siapa-siapa/bunyi tak/lihat tak/rasa tak”, yang berklimaks pada semacam kredo : “Ana al’Haqq”. Sementara teknik magi dicitrakan dengan penggunaan runtun bunyi “Jung, Run, Pai” yang dibuntungkan dari suku awalnya. Malahan penggunaan artikel (kata sandang) “yang” secara ‘deras-beruntun’ (secara runtut dalam urutan larik-lariknya) mencitrakan teknik (suasana) magis. Demikian pula nada (tone) pengucapan larik “Indra, tunggallah!”) membayangkan suasana (ber) ‘mantra’ – dalam interpretasi saya, larik ini diucapkan oleh si aku-lirik dengan nada ‘memaksa, menghardik”, hal yang khas dalam bermantra-mantra.

Memang di tataran teknis, KkTS terbilang juga ‘puisi mantra’, seperti laiknya sajak-sajak ‘kontemporer’ Soetardji Calzoum Bachri. Bedanya –sekadar dibedakan – ‘mantra’ Kamajaya ini jauh lebih komunikatif alih-alih ‘mantra-mantra’ Soetardji.

Tema sajak KkTS menyamai tema sajak al-Hussain ibnu Mansur al-Hallaj, penyair sufi Arab yang mati ‘martir’ atau ‘syahid’. Tidak kebetulan, sajak KkTS mengadopsi ‘kredo’ al-Hallaj yang terkenal itu : “Ana al’Haqq” (Akulah Realitas Tertinggi). Semuanya ini, sehemat saya, tidak melunturkan kekejawenan KkTS atau penyajaknya. Tapi sekadar untuk mengukuhkannya. Sebab, Monisme “dan” Pantheisme di dunia Jawa Kejawen merupakan ‘transformasi’ dari Sufisme di jazirah pemikiran bangsa Arab – lihat Zoetmulder, “Manunggaling Kawulo Gusti, Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa” (1990). Di bingkai ini, pembanding yang tepat untuk KkTS adalah Suluk – cermati Zoetmulder (1990).

Sebetulnya Monisme-pantheistis (atau Monisme dan Pantheisme di satu pihak) dan magi (di lain pihak) menunjukkan pertentangan yang mencolok. Monisme-pantheistis berdimensi mistis (religious), sedangkan magi bercorak a-religius, bahkan tidak merujuk ke dunia rohani ataupun materi. Meski begitu, toh kedua pandangan dunia tersebut memiliki kemiripan. Kemiripannya terletak pada suasana ‘ketiadaan’ dan ‘kerahasiaan’ atau ‘kemisterian’, yang masing-masing dimungkinkan dalam pandangan dunia monism-pantheistis dan magi. Jadi, dalam rangka pembentukan tema KkTS, pemanfaatan teknik magi bukan sebuah kebetulan (latar budaya juga); ini justru mendukung tema sajak.

Menarik pula bahwa dalam sajak ini, dengan gaya seorang penulis ilmiah, Kamajaya mencomot kata-kata dalam ‘esai’ The Over Soul karya Ralp Waldo Emerson, yang berasal dari negeri Faust. Perhatikan.

We live in succession
in division, in parts, in particles
meantime within man is the soul of the whole
the wise silence; the universal beauty
to wich every part and particles equally related
the eternal.

Secara tematik, ‘comotan’ teks sastrawi Emerson itu relevan dengan KkTS, bahkan dalam kaitannya dengan latar budaya (baca: pandangan dunia) Monisme-Pantheisme Kejawen. Sebab, pandangan dunia Monisme-pantheistis di dunia Barat, yang terimplikasi dalam karya Emerson tadi memiliki, akar historis yang sama dengan pandangan dunia Monisme-pantheistis di dunia Jawa Kejawen. Akar historis itu ialah Neo-platonisme atau filsafat Plotinus. Ini berarti bahwa Sufisme yang terwujud lewat ajaran-ajaran al-Hallaj dan ibnu al-Arabi yang nota bene memengaruhi kemunculan Monisme-pantheistis atau Monisme ‘dan’ Pantheisme di dunia kebudayaan Jawa (yakni Kejawen), bermuasal dari Neoplatonisme –cermati Zoetmulder (1990).

***
Sebagai ‘Minahasaputra’, Kamajaya mengenal budaya leluhurnya. Sebutlah misal legenda tokoh Keke Pandagian, yang dijadikan bahan penulisan sajak Kamajaya.

Menurut makna (meaning) tradisionalnya, atau yang konvensional, Keke Pandagian adalah gadis yang melanggar larangan adat “pulang malam”. Karena pelanggarannya, Keke Pandagian menjalani ‘kutuk’, menjadi bintang timur.

Dalam sajaknya, yang berjudul Keke Pandagian, Kamajaya meruntuhkan hakikat kutukan itu; bahwa menjadi ‘bintang timur’ bukan lagi sebuah kutukan, melainkan ‘berkat’ bagi Keke Pandagian, menjadi “guru kegulitaan”. Di titik ini, Kamajaya sebenarnya menampilkan apa yang oleh Umar Yunus disebut “mitos perlawanan’. Atau dalam perspektif Derrida, sang penyair melakukan dekonstruksi terhadap makna adat Minahasa yang tersuguh di dalam legenda tersebut; penyajak membongkar-bangkir makna legenda Minahasa itu, lalu menyusunnya kembali, sehingga legenda itu mendapatkan makna baru, menurut ‘visi estetik’ penyajak sendiri.

Keke Pandagian
karena berilmu
hidupnya di mahkamah bintang
bukan di bumi

(Aku Tole, lelaki langit
tangga cahaya Mahakemilau
kekasih kebenaran
di timur malam kusunting ceritamu jadi kelip)

Keke Pandagian
di mahkamah bintang
adat dan moyang
tangganya tak akan sampai
yang tak diterima di bumi
memang harus hidup di langit
jadi guru kegulitaan.

(dari naskah antologi sajak “Ziarah Langit” karya Kamajaya Al. Katuuk).

Jumat, 25 Maret 2011

Seminar, conferense dan diskusi Sastra - Persoalan Pusat Dokumentasi Sastra HB Yassin

=
Kamis, 24/03/2011 | 19:33 WIB
Fauzi Beberkan Berkurangnya Anggaran PDS HB Jassin
“Waktu saya masih menjadi Wakil Gubernur, saya tinjau ke sana dan tahunya pada bocor."

Kamis, 24/03/2011 | 11:44 WIB
Pegiat Sastra Jawa Akan Gelar Kongres Sastra Jawa III
Para pegiat sastra Jawa akan menggelar Kongres Sastra Jawa (KSJ) III pada 11-12 November tahun ini.

Kamis, 24/03/2011 | 08:24 WIB
Seniman Bandung Galang Dana untuk Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin
Sejumlah seniman Bandung membuat gerakan solidaritas untuk Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di Jakarta.

Senin, 21/03/2011 | 18:26 WIB
Foke: Anggaran PDS HB Jassin Ternyata Kena Tsunami
Yayasan ini butuh dana operasional minimal Rp 1 miliar per tahun.

Senin, 21/03/2011 | 17:51 WIB
Pusat Sastra HB Jassin Tolak Bantuan Nasdem
"Kalau dari yayasannya baru kami mau."

Senin, 21/03/2011 | 16:30 WIB
Aktivis Prihatinkan Nasib Pusat Dokumentasi HB Jassin
"Pusat dokumentasi sangat penting, bagai harta karun bangsa ini"

Senin, 14/03/2011 | 08:50 WIB
Agenda Seni Hari Ini
Peluncuran dan diskusi novel "Jatisaba" karya Ramayda Akmal rencananya bakal digelar di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM, Yogyakarta, siang ini.

Kamis, 24/02/2011 | 14:38 WIB
Ubud Writers Festival 2011 Dipersembahkan untuk Ida Pedanda Made Sideman
Ida Pedanda Made Sidemen adalah sastrawan besar abad ke-20 di Bali.

Sabtu, 05/02/2011 | 10:20 WIB
Kuliah Umum Filsafat tentang Subyektivitas
Komunitas Salihara, Jakarta, mengadakan kuliah umum filsafat tentang subyektivitas menurut John Searle.

Sabtu, 05/02/2011 | 09:49 WIB
Agenda Seni Hari Ini
Hari ini Komunitas Salihara, Jakarta, akan menggelar kuliah umum filsafat tentang subyektivitas menurut John Searle dengan pembicara Bagus Takwin dari UI.

Kamis, 27/01/2011 | 16:22 WIB
Hamsad Rangkuti Dioperasi Awal Pekan Nanti
Sejumlah dana bantuan telah terkumpul dari para seniman dan masyarakat

Sabtu, 22/01/2011 | 15:22 WIB
Orhan Pamuk Batal Ikut Festival Sastra Sri Lanka
Pemenang Nobel Sastra mengaku kecewa tak dapat hadir karena masalah visa.


Jum at, 21/01/2011 | 15:12 WIB
Seniman Galang Dana untuk Pengobatan Hamsad Rangkuti
Sastrawan Hamsad Rangkuti masih terbaring di di Rumah Sakit Siloam Gleneagles

Sabtu, 15/01/2011 | 14:26 WIB
Empat Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel DKJ 2010
Dewan juri Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 telah mengumumkan empat pemenang unggulannya.

Jum at, 14/01/2011 | 15:26 WIB
Anugerah Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010
Bertempat di Teater Kecil TIM akan digelar Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010.

Jum at, 14/01/2011 | 14:31 WIB
Agenda Seni Hari Ini
Malam ini Dewan Kesenian Jakarta akan menggelar acara Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010

Selasa, 11/01/2011 | 15:38 WIB
Iran Larang Buku Paul Coelho
Pengarang The Alchemist itu akan menerjemahkan semua bukunya ke bahasa Persia dan membaginya gratis di internet.

Kamis, 16/12/2010 | 17:50 WIB
Kenzaburo Oe Bersaing Rebut Hadiah Sastra Asia
Karya pemenang Nobel Sastra itu masuk daftar calon penerima Man Asian Literary Prize 2010

Minggu, 12/12/2010 | 15:10 WIB
Sastrawan Jerman Bedah Fakta Lain Runtuhnya Tembok Berlin
Martin Jankowski mengungkap fakta lain tentang runtuhnya Tembok Berlin dan bersatunya Jerman Barat-Timur dalam novel terbarunya.

Jum at, 10/12/2010 | 16:11 WIB
Ratna Sarumpaet Angkat Konflik Maluku dalam Novel
Untuk mendapat gambaran yang utuh mengenai konflik saat itu, Ratna melakukan riset mendalam selama setahun di kawasan Maluku.
(source: www.tempointeraktif.com)

Senin, 14 Maret 2011

Menggugat Kritik Mapan

After disbanding in an event called "Gathering Critic" at Taman Ismail Marzuki, a few friends, including me, get together again that night at five foot warteg Cikini Raya.
As he sipped coffee and munched fried tempeh, Hamid Jabbar nyeletuk toward me, "Haaa! Meet you guys. This Budi Darma ...! ". Mursal Esten said, "Hehe, this Damiri are not like novels Budi Darma ...!" The heroine, Budi Darma, when it was just a smile alone.
That year, 1984, by chance one of my writing that review the work of Budi Darma's novel Olenka gets the grand prize in a contest criticism. One of the Esten Mursal jury was earlier, when it's the only doctorate of literature in Sumatra!


 

Damiri Mahmud

Seusai bubar dalam satu acara “Temu Kritikus” di Taman Ismail Marzuki, beberapa kawan, termasuk saya, ngumpul lagi malam itu di warteg kaki lima Cikini Raya.
Sambil menghirup kopi dan mengunyah tempe goreng, Hamid Jabbar nyeletuk ke arah saya, “Haaa! Jumpa kalian. Ini Budi Darma…!”. Mursal Esten menimpali, “Hehe, Damiri ini saja yang tak suka novel Budi Darma…!” Sang tokoh, Budi Darma, ketika itu hanya tersenyum saja.
Tahun itu 1984, kebetulan satu tulisan saya yang mengulas novel Olenka karya Budi Darma mendapat hadiah utama dalam sebuah sayembara kritik. Salah satu jurinya adalah Mursal Esten tadi, ketika itu satu-satunya doktor sastra di Sumatera!
Tulisan itu seperti menyeruak atau memencil di tengah-tengah arus deras yang mengelu-elukan novel Olenka yang disambut dengan antusias. Novel itu ditulis pengarangnya, Budi Darma, kabarnya hanya dalam waktu tiga minggu saja, ketika dia bermukim di Amerika Serikat.
Dia mendedahkan seorang tokoh utama, Olenka, seorang perempuan (tanpa kebangsaan, tapi dengan polah dan petualangannya dengan orang-orang menunjukkan dia bukan orang Indonesia) yang kesepian dengan tindakan batiniah dan prilakunya menjurus kepada hal yang tidak biasa atau yang bukan-bukan.
Banyak resensi dan ulasan muncul di kolom-kolom koran dan majalah, sembari menyebutkan bahwa novel semacam itu sudah lama ditunggu-tunggu, ditulis dengan gaya yang lain dari yang lain. Ada lagi yang menyebut, novel itu memberikan pembaharuan dalam penulisan novel Indonesia. Pengarangnya diberikan penghargaan dan sebuah acara langsung digelar di TIM.
Tulisan saya justru menyusup ke sisi lemah novel itu dan menyimpulkan bahwa karya itu sebuah novel melankolik. Meskipun tulisan itu mungkin hanya sebuah denting di tengah-tengah gong besar, tapi ada suatu kesadaran dalam diri saya dan merupakan sikap dalam memandang sebuah karya kritik. Dia bukanlah satu keinginan gagah-gagahan atau kehendak meraih popularitas dan jauh dari pelampiasan rasa dendam kesumat.
Fenomena kritik sastra, yang usianya masih remaja, menurut hemat saya, tidak sehat. Apa yang dihunjamkan oleh HB Jassin, A. Teeuw, A.H. Johns, Keith Foulcher, Arief Budiman, Subagio Sastrowardojo, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, yang kesemuanya berorientasi ke Barat, selalu dilulur lumat-lumat oleh para penelaah berikutnya, apakah dia peneliti, penulis buku, dosen, mahasiswa, peminat dan pembaca.
Pendapat mereka telah menjadi mapan dan kemudian menjadi mitos yang susah diungkai. Aneh sekali, misalnya, ketika Teeuw mengatakan bahwa kata-kata yang dipakai oleh Chairil seperti secepuh, mengelucak, mereksmi, hambus, tidak dapat dipahami, para peneliti pun, salah satunya Zaenal Hakim, peneliti dari Pusat Bahasa, cenderung mengikuti saja pendapat filolog dari Belanda itu (lihat Zaenal Hakim, Edisi Kritis Puisi Chairil Anwar, Dian Rakyat, 1996, hal. 14).

Selengkapnya silakan masuk ke HARIAN ANALISA

Label

. Menkeu 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955. 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2010 2011 2013. 2014 A AA abad ke-7 ABC abdul hadi wm ABK Abu Nawas Aceh achdiat k mihardja Adat agama Ahok AI airmadidi Airmadidi. ajaran sesat ajib hamdani Al-Qur'an Alkitab AMBON amsal amurang anak yatim/piatu anak-anak anggaran Angkatan 45 angsuran animal animasi animation Anjab Antasari aplikasi mobile apresiasi sastra Apuse Arab architectur architecture arsitektur artificial intelligence artikel. asal-usul lagu yamko rambe yamko Askes ASN Asrul Sani Astinet asuransi audio audio to text ayu ting ting B Babilonia baca artikel dibayar bahasa Bahasa Belanda bahasa daerah Bahasa Indonesia bahasa kreol Bahasa Portugis bahasa Termate Bahlil Dahadalia bahundak Bait Allah bajak BANJAR bank banten bantuan korea selatan Bapertarum barang dan jasa pemerintah Basuki BATAK batas laut batas usia pensiun. PP BB BBM bersubsidi Bea Cukai beasiswa bekerja dari rumah Belanda bencana bendera beras berita Betlehen biaro Bidat billing bimbo BIODATA BIOGRAFI bisnis bisnis gratis bisnis properti bisnis sampingan Bitung BKD BKN blogger BNI BNN bobbit worm Bolaang Mongondow Bolmut Bolong Bolsel Boltim BPJS BPKB BRI briptu norman kamaru BTN Bu Tahanusang budaya Budaya Kerja budayawan bugil building buku bulan BUMD BUMN bunaken bung karno BUP bupati C Camat CC ccovid-19 cerita rakyat cerpen Chairil Anwar China choir cicilan cincin cinta CIO CIPTA KERJA CIPTAKERJA civil servant classical coconut octopus collorydianisme conference contoh convert copy-paste foto covid-19 CPNS cuti cuti bersama D D.Brilman Dacuda Pocket Scanner daerah daerah otonom baru Dana Sehat DAU denda desa desain detektor logam Dhana Widyatmika Dialek Diklat Kompetensi DIKLAT PIM dirjen dirjen anggaran disiplin diskusi diving DKI doa dogma dokumen dolar domain dongeng download DP3 DPR drama dramatik dramatis personae DRH Driver duasudara dubes duda duit dunia E e-billing e-Gov E-KTP e-voting edaran Edaran Mendagri eigendom ekonomi eksistensialisme eksperimental ekstensi eliezer Ensiklopedi Epifanius erupsi esai eselon extension F f. Kelling facebook Fiery Cross Reef Filsafat fisik foto funny gaji gaji baru PNS gaji baru Polri gaji baru TNI gaji hakim gaji ke-13 Gaji PNS 2013 gaji polri 2011 gaji polri 2013 gaji tni 2011 gaji TNI 2012 gaji tni 2013 galungan Ganefo gangguan kecemasan ganti logo blogger garuda gaya hidup gayus GCIO gelombang gembala gempa generasi Alfa generasi baby boomers generasi diam generasi milenial generasi Z gereja GG Gibran Rakabuming GMIM Golongan Ruang Google Cloud Google drive Google One grafik Gregorian gubernur gunung api Gunung Ruang gunung Salak guru hairy frogfish hakim halmahera HAM hari libur hari raya HB Yassin HB Yassin. HB Yassin HB Yassin. Pusat Dokumentasi hewan Hijriyah Hindu hobby home honorer house hukum hut I Nyoman Nuarta idul fitri II Ijazah Palsu iklan gratis iklan rumah IKN imlek Indihome Indonesia industri Infotek Inggris Injil Inpres instansi pemerintah integritas interior internet Islam israel istana garuda Istana Garuda Ibukota Nusantara Istana Presiden IKN IT ITE ITM jabatan fungsional jabatan pimpinan jabatan struktural jaksa janda JAWA jenderal jiwa Johnson Reef Jokowi jual-beli jual-beli rumah Julian K-1 K-2 KABUPATEN kalabat kalender Kalimantan kampanye kampus Kamus kandang domba kartu kredit karunia KARYA SATYA Kasus kata bijak kata mutiara kata-kata bijak kata-kata hikmat kata-kata mutiara kawasan khusus kawin KBBI KDKMP keamanan KEK Kekayaan kelahiran Yesus kelas keluarga kelurahan Kemen-PU Kemendagri Kemenkeu Kemenkum-HAM Kementrian kenaikan gaji kenaikan pangkat Kepala Daerah Kepdirjen Keppres kepribadian Keputusan Ka BKN keputusan menteri kerajaan kereta jenazah kereta kerajaan kereta pernikah william kerja Kesehatan keuangan Khotbah khotbah. kiamat Kisah Mahabarata KK Klasik Kode Etik koloriadianisme komedi Kominfo konstitusi konversi koor koperasi korpri Korupsi KOTA Kotamobagu koupsi KPCPEN KPK kristen Kritik Sastra kritik seni kue kuliah kunci foto L lagu lagu daerah Lagu Daerah lagu daerah Jawa Timur Lagu daerah Papua Lagu daerah Riau Lagu Daerah Sangihe lagu nasional lagu Papua lambang daerah langganan langowan lapas larangan laut Laut China Selatan lawak lebaran legenda lemang Lembaga Negara lembeh Lembeh Resort Lembeh Strait LG LHKPN libur nasional liburan Likupang lingkungan kerja Lirang lirik lirik lagu Lirik Lagu Daerah litle logo lokon lomba sastra lowongan lucu Lurah M magnitudo mahasiswa mahasiswa baru mahawu makar MALUKU Malut Manado mandarin fish Manganitu manusia marah rusli marga masa Anak-anak masamper masarang Masehi Mawali Mazmur media massa meja Melayu mendagri mengajar menkeu Menpan merah putih MERS Mesir mesjid metal detector Meyer migdal eder mimic octopus Minahas minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara minangkabau Mischief Reef mistik mitos MM mobil bekas mobil jenazah mobil mewah mochtar lubis model money Mongondow monumen moratorium motivasi motivasi hidup Mouse Scanner MPR Mr. Assat Mr. Sjafruddin muhaling Muhammad Musa mutasi nabi NAD nama domain nama etnis nama fam nama klan nama marga nama orang nama suku NARKOBA Nasdem nasi jaha Nasrani natal negara NEWS NII nikah NIP novel Nuklir Nusantara o ina ni keke OMNIBUS LAW oneness Orang Terkaya orde baru outsourcing pada pahlawan padang gembala paduan suara Pajak PAK pakaian adat Pakaian Dinas pandemi Pangdam pangkat PNS pangkat polri pangkat TNI pantai pantekosta pantun papan tulis elekronik papan tulis sekolah PAPUA partitur paskah paypal pdf pegawai pegawai tidak tetap pemerintah pejabat pejabat eselon pejabat pimpinan tinggi pelantikan pelayan khusus Pelindo pemalsuan pembunuhan Pemda Pemerintah pemerintah daerah pemilihan pemukiman pendaki pendeta pendidikan penembakan penerbangan penerimaan CPNS penerimaan pegawai BUMN penipuan Penpres pensiun pensiun pokok pensiunan pentakosta penyair penyaliban penyimpanan Perang Dunia peraturan kepala BKN peraturan menteri Peraturan Pemerintah perda perguruan tinggi perhubungan Peribahasa Periodisasi Perjalanan Dinas Perjanjian Lama perjuangan perkawinan Permen pernikahan william dan kate PERPPU PERPPU 1959 Perpres pers perumahan Perumnas pesawat pidato pigmy seahorse Pilgub DKI Pilkada Pilpres pinjaman plagiat PLN PMK PMK. Menkeu PNBP PNS PNS. Kekayaan poem poetry polisi politik politisi polling polri Portugis postmodernism PP PP 53 PP1998 PP2000 PP2001 PP2002 PP2011 PP2012 CPNS PPATK PPPK Prabowo prabu siliwangi pramugari Presiden RI Presiden SBY pria profesi propinsi proposal prosa protes Provinsi proyek psikiater psikis psikologi PTTP Puisi puisi lama pulau Spratly pulsa PUPNS PUPR purnawirawan Pusat Pusat Dokumentasi R raja ramalan ramayana rapel Rasul Rasul Paulus Ratahan read real estate Rek Ayo Rek rekening rekening gendut remunerasi remunerasi PNS daerah renovasi renungan resensi Retribusi Menara review sastra ribbon eel RIS Rismon Sianipar ritual Rivai Apin roh roman Romawi ROSIHAN ANWAR Roy Suryo rumah rumah kontrakan rumah mewah rumah murah Rumah Sakit rumah sederhana rumah tangga RUU RUU ASN RUU BPJS RUU Tipikor S salary salib sambo sandi sangihe SANGIHE TALAUD SANKSI santo sapaan SARS sastra sastra daerah sastra indonesia sastra online satgas SATYALENCANA Scribd sejarah sejarah Al'Quran sejarah gereja sejarah gereja. Sejarah Sastra Sekda sekolah dasar selingkung Seminar seniman sertifikasi guru server Shukoi siau siber SIM sinagoge Singapura sinopsis sipir siswa Sitaro siti nurbaya SK skala richter sms soeharto Soekarno Soleram Solo Soputan sosialisasi sosiologi Spanyol STAN standar biaya STNK storage stress studi komparasi su domain sub domain Subi Reef sufi Sukhoi suku maya Sulawesi Utara Sulut surat edaran Surat Kepercayaan Gelanggang Sutiyoso syahrini syair T tabel tabel gaji pns 2000 tabel gaji pns 2011 tabel gaji pns 2012 tabel gaji pns 2013 tabel gaji pns 2019 Tabel Gaji Polri 2012 Tabel Gaji Polri 2014 TABEL GAJI TNI 2011 TABEL GAJI TNI 2012 TABEL GAJI TNI 2013 tabel gaji TNI 2014 TABEL LENGKAP GAJI POLRI 2011 tabungan tabut Taguladang tagulandang tahun baru tahuna takhayul talaud tanah Tangkoko TAP MPR Taperum tarian tata bahasa taurat taurat. teater Dian teknologi teks Telekomunikasi Tenaga Ahli terminal Ternate teror TERORIS text to audio The Age the royal wedding TIK tips tni TOKOH tokoh dunia tokoh indonesia tokoh islam tomohon tondano torah tradisi transfer trinitas Try Sutrisno tsunami Tsunami tulude tunjangan TVRI Two Fish U uang UGM UN undang-undang Undang-Undang Pokok Agraria unduh unitarian Unpad Unsrat upacara upacara adat UU UU 1948 UU ASN UU Penerbangan UUD UUDS UUPA V vaksin video video conference video lucu viral virus VOC W wabah waisak wakil presiden wali kota walikota wamen warakawuri wartawan website WHO Wikileaks william shakespeare wisata selam wise word Woody Reef Wuhan Yahudi yamko rambe yamko Yehuda Yerusalam Yesus Yosua Yus Badudu yusuf hamka