NEONATUS
I
Musafir mengasoh di padang sabana
Lepas jaga ternak kambing bandotan
Di gerhana siang terpapar hening
Bercanda dengan rerumputan sepuh tegap
Musafir mengasoh di padang sabana
Menyimak di sepoi angin deru keplok malak
Bergema lengking sapa:
"Jangan gentar! Telah viral di media sosial
Kabar besar untuk negeri ini,
Sungguh telah lahir Yang Diurapi
di kota-kota penuh kebencian dan serapah.”
Bergema selaksa malak sorakkan sang kemuliaan
“Kemuliaan bagi Gusti di puncak tertinggi
Dan damai sejahtera di negeri ini
Di antara para pendoa yang terzalimi
Saat doa dan pujiannya diusik
Dan bait Gusti dipanggang kaum sakit jiwa”
II
Dua sejoli terlunta di jalan-jalan kota
Tunaikan kewajiban pada negeri penuh dosa
Tiada istana atau gubuk, tiada rumah sakit atau klinik
Tengik kolong jembatan pilihan tersulit
untuk baringkan diri lepas desah neonatus
menanti vagitus vaginalis sang bayi di kotak pandora bau pesing
milik politisi dan penguasa
Musafir pengelana datang sowan dari padang sabana
Gemas menggapai kotak pandora bau pesing
Bertelut nyanyikan syair malak:
“Kemuliaan bagi Gusti di puncak tertinggi
Dan damai sejahtera di negeri ini
Di antara para pendoa yang terzalimi
Saat doa dan pujiannya diusik
Dan bait Gusti dipanggang kaum sakit jiwa”
III
Para arif terlunta di jalan-jalan kota
Mencari kotak pandora bau tengik
Tak ada koran tiada baliho tayang reklame
Cuma kabar siasat penguasa dan politisi
Janjikan madu tapi racun
Para majus tapaki lorong-lorong derita
Menggapai kolong jembatan alamat kotak pandora
Menenteng sesajen keluh, desah, dan senggukan
Berharap Yang Diurapi adalah satrio piningit
Bebaskan negeri ini dari dosa politisi dan penguasa
Bersihkan hati kaum filopolemik dan konglo hitam
Bitung, “-ber” kedua menjelang Natal 2026
Semuel Muhaling
