Tampilkan postingan dengan label sastra daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra daerah. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Agustus 2023

SASAMBO: STRUKTUR, FUNGSI & WAWASAN ESTETIKA

SASAMBO: STRUKTUR, FUNGSI & WAWASAN ESTETIKA
(Perspektif Sosiologi Seni Fenomenologis)

Oleh : Sovian Lawendatu

Sasambo adalah nyanyian-puitis atau juga puisi-nyanyi masyarakat Sangihe dalam arti historis-kultural (Sangihe Besar dan Sitaro). Steller dan Aebersold (1959) menjelaskan, sambo; atau sasambo adalah sejenis himne dan puisi yang unik. Dengan menyebut sasambo sebagai sesamboh, Riedel (1869) mendeskripsikan, bahwa di Kepulauan Sangihḝ sasambo menempati tempat pertama di antara lagu-lagu rakyat; sasambo berisi berbagai ucapan, peribahasa, dan sanjungan, serta curahan hati yang penuh kasih, dan gambaran kehidupan pulau dan laut.

Dalam pembicaraan berikut, khusus tentang fungsi dan wawasan estetika, diletakkan dalam bingkai dunia-kehidupan (lebenswelt) masyarakat Sangihe dahulu kala sebagai masyarakat-genesis sasambo. Ini sesuai dengan perspektif hermeneutik-fenomenologis dalam sosiologi seni yang dibangun oleh Janet Wolff.

 

STRUKTUR DAN FUNGSI 

Sejauh yang teramati pada transkrip Riedel dan transkrip yang lain, sasambo terdiri atas bait-bait yang tidak sama panjangnya. Walaupun demikian, setiap bait sasambo memiliki jumlah larik yang sifatnya genap: 2, 4, 6, 8, 10. 

Dalam pada itu, setiap bait sasambo yang terdiri atas dua larik berbentuk kalimat lengkap atau mengungkapkan gagasan yang bersifat final. Hal yang sama juga berlaku atas setiap dua larik yang terdapat dalam seluruh bait sasambo. Dengan demikian, dapat disarikan, bahwa sasambo terdiri ‘hanya’ atas dua larik per bait.

Bila lebih ditelusuri, sifat genap tersebut juga tampak pada jumlah minimum sukukata dalam setiap larik sasambo. Dalam hal ini, setiap larik sasambo terdiri atas paling sedikit 6 (enam) suku kata. Sifat genap itu paralel dengan kenyataan, bahwa setiap bait sasambo berbentuk kalimat lengkap atau mengungkapkan gagasan yang final. Jadi, terdapat koherensi antara struktur sasambo dengan isinya.

Seperti halnya sasaļamatḝ, sasambo bersifat ritmis. Keritmisan ini terbentuk dari penggunaan majas paralelisme dan repetisi atau anafora dalam rangka strukturisasi sasambo. Sekadar contoh:

Adiung itondo e / itondo e ghumaluhḝ.
Mạtӗntang siagạ / mḝdḝdea bӗke. 

I Andi nitӗbọ biang / nӗtukang tahapӗnggӗlang
Kahiwung Andi nawawa / pinḝsalendang su wobạ.
I Andi nangon duruhang / nangapia tatuwone.
Andi tạ luweng hotene / pӗllọ mḝbawialane.
I Andi timanata / ariwe karoḷong balang. 

Mangasang baḷiung munde-munde/ patụ-patụ i Tamundugḝ.
ipanuwang kalu lawẹ / kalu angkusu wanua.
Tiupoteng anging bahẹ / lapidoten suwụ-suwụ.

Salah satu medium penstrukturan majas paralelisme dan anafora dalam sasambo adalah kata Sangihḝ jenis sasahara. Secara sosiolinguistik-fenomenologis, sasahara merupakan bahasa yang berdaya gaib, sebab menurut Adriani (1893), sasahara adalah bahasa rahasia yang digunakan di laut untuk mencegah roh-roh mendengar dan mengganggu rencana para pelaut. Selain itu, tulis Brilman, sasahara juga digunakan dalam puisi untuk keperluan yang sama. Alhasil, dengan kata-kata sasahara, sasambo berfungsi sebagai sarana penolak tulah yang berasal dari roh-roh dan setan-setan.

Sasambo memang mengekspresikan sikap religius masyarakat Sangihḝ dahulu kala, sebagaimana tersirat dalam keberadaan sasambo raralo (sasambo pujian) dan sasambo kakaļiomaneng (=sasambo doa-permohonan). Sasambo juga mengusung nilai kebijaksanaan hidup manusia dan masyarakat Sangihḝ tentang pentingnya berpikir sebelum bertindak, “Diọko kaiang pḝsipirḝ, kaintoḷang pḝtinӗna” (hendaklah duduk berpikir, duduk berpikir), termasuk peringatan akan ekses buruk dari pengabaian terhadap kebijaksanaan hidup tersebut, “Bӗgang tiringang u alang, kanoakeng u dunia” (tidak tahu diputar dunia, dipermainkan oleh dunia). Sasambo juga mengandung nasihat tentang pentingnya membangun kehidupan bersama yang harmonis dengan cara harmoni pula, “Adiung itondo e, itondo e ghumaluhḝ // Mạtӗntang siagạ, mḝdḝdea bӗke.” Sasambo pun bernilai rekreatif dengan candaan dan sindirannya: “pirua i Arubeka, nitӗntang su sasangitang // baḷinẹ i Arubeka, simahe tạdarurune” (Kasihan si Arubeka, ditinggal dalam kemenangisan // bukan si Arubeka, (yang) liwat tak berbau). Walaupun demikian, dengan penggunaan kata-kata sasahara, maka nilai-nilai religiusitas, kearifan dan kerekreatifan hidup yang tersirat dalam sasambo tidak terlepas dari dunia-kehidupan (lebenswelt) magi yang bermuara pada motif penyelamatan diri masyarakat Sangihḝ dahulu kala dari kuasa jahat jiwa-jiwa, roh-roh dan setan-setan. 

Motif (religio-) magis lebih mencolok pada eksistensi sasambo tatelore, sebab sasambo jenis ini bertujuan untuk mencemarkan nama baik. Motif magis itu bahkan lebih mencolok pada sasambo jenis lagung kapirḝ (lagu kafir’). Pasalnya, sasambo ini dipercaya bermuatan daya gaib mematikan dan digunakan untuk ‘perang magis’ antar- kelompok tahapḝsambo (orang yang mahir menembangkan sasambo).

SASAMBO SEBAGAI TRADISI MEBAWALASE

Sasambo tidak selalu dinyanyikan secara berbalasan. Ada kebiasaan mesambo (menyanyikan sasambo) secara individual, dengan atau tanpa iringan tagonggong. Buktinya, nelayan yang sendirian di laut pada larut malam mengumandangkan sasambo dengan suaranya yang tinggi resik, lewat permukaan laut (Brilman, 1938). Di kampung penulis pada tahun 1980-an, seorang lelaki memiliki kebiasaan mesambo secara sendirian; itu biasa dilakukannya pada malam hari dengan iringan tagonggong yang ditabuhnya sendiri. 

Aktivitas mḝsambo pada saat pengusungan tamong banua (tamo banua) dalam rangka upacara menebang tamo pun tidak dilakukan secara berbalasan. Namun, menurut kebiasaan umum masyarakat Sangihḝ, sasambo dinyanyikan secara berbalasan dengan iringan tagonggong yang ditabuh oleh para penyanyi itu sendiri.

Riedel mencatat bahwa sasambo dinyanyikan di ladang, di perahu, dan di acara-acara pesta dengan iringan tagonggong. Tentang tradisi berbalas sasambo, Brilman mencatat, “Juga pada pelayaran berdayung yang panjang orang saling merangsang melalui bernyanyi. Kebiasaan yang sama juga terjadi tatkala para nelayan Sangihḝ melakukan perjalanan pulang dari ‘melaut’; mereka menyanyikan sasambo secara berbalasan sambil menabuh badan perahu sebagai pengganti tagonggong; suatu kebiasaan mesambo yang kemudian melahirkan jargon sasambo duruhang. Jelaslah, tradisi mesambo secara berbalasan dilakoni dalam berbagai ragam situasi kehidupan masyarakat Sangihḝ.

Dengan karakternya yang berbalasan, semua ragam tradisi mḝsambo dalam kehidupan masyarakat Sangihḝ dapat dinamai dengan kata “mebawalase”, sebab kata mebawalase secara literal berarti “berbalasan” atau “saling membalas”. Namun, mengikuti penjelasan Steller dan Aebersold, nama “mebawalase” telah diberi arti khusus, yakni tradisi berbalas nyanyian sasambo dalam acara-acara pesta, seperti perkawinan dan Tulude atau Saliwang u Wanua.

JENIS-JENIS SASAMBO

 Di Sangihḝ Besar, tradisi Mḝbawalasḝ biasanya bermaterikan sasambo jenis lagung bawine, lagung balang, lagung sondạ, dan lagung sasahola. Di Siau, seperti yang dilansir oleh Riedel, tradisi Mḝbawalasḝ menggunakan tiga jenis sasambo yang bernama sambo nu esẹ (‘sasambo untuk laki-laki’), samboh nu bawine (‘sasambo untuk perempuan’), dan sambo nu oļị (‘sasambo untuk musik oļi).

Steller dan Aebersold menyebut tiga jenis sasambo, yakni sasambo tatelore (sasambo untuk pencemaran nama baik), sasambo raralo (sasambo pujian), dan sasambo kakaļiomaneng (=sasambo doa-permohonan). Ketiga jenis sasambo ini relevan dengan semua klasifikasi sasambo menurut jenis ketukan tagonggong; sebab ketiga jenis sasambo ini lahir dari klasifikasi yang berlandaskan dunia-kehidupan (lebenswelt) atau nilai-nilai sosiokultural masyarakat Sangihe.

WAWASAN ESTETIKA TRADISI BERBALAS SASAMBO

Hakikat tradisi Mebawalase (Berbalas Sasambo) terangkum dalam ungkapan “mepapate wisara”. Secara literal, ungkapan ini bermakna ‘bakubunuh bicara’. Secara konseptual, idiom ini menggambarkan, bahwa tradisi Berbalas Sasambo bukan sekadar aktivitas berbalas nyanyian sasambo, melainkan terutama merupakan aktivitas ‘saling mematahkan gagasan’ atau semacam debat melalui syair sasambo. Dengan demikian, nilai estetika dalam tradisi ini terletak pada aspek kemampuan mepapate wisara (mematahkan gagasan).

Mepapate wisara merupakan manifestasi kemampuan leluhur masyarakat Sangihḝ dalam bersastra, sekaligus sebagai wawasan estetika tradisi Mebawalase. Pasalnya, dengan mḝpapate wisara, kedua kelompok penyanyi dalam tradisi ini terlibat dalam ‘duel kata-kata’, sementara puncak nilai keindahan ‘duel’ ini terletak pada kemampuan mematahkan gagasan lawan bicara. keduanya berlomba untuk mencapai kemenangan, sebagai ‘puncak gunung’ keindahan, dengan jalan nakapate wisara (‘berhasil mematahkan gagasan’). 

Wawasan estetika ini tentu saja bertabiat religio-magis, sesuai dengan eksistensi kata-kata sasahara sebagai medium pengekspresian sasambo dalam tradisi Mebawalase. Tabiat religio-magis itu lebih mengemuka lagi dengan penggunaan sasambo kapire dan sasambo tatelore dalam tradisi Mebawalase. Masalahnya, kedua jenis sasambo ini dianggap memiliki daya magis yang mematikan. 

Dalam praktik tradisi Mebawalase pada zaman dahulu, ada kematian yang dipandang sebagai akibat serangan daya magis dari kedua jenis sasambo tersebut. Di titik ini, wawasan estetika mḝpapate wisara berubah menjadi sadisme mepapate taumata (saling membunuh manusia). Betapapun juga, seperti yang dinyatakan oleh Brilman (1938). sadis-isme (kesenangan berbuat jahat) dengan daya magis memang nyata-ada dalam kehidupan masyarakat yang belum menerima pencerahan (enlightenment; aufklärung) dengan nilai-nilai etika universal.

MEPAPATE WISARA DAN PEPATAH MELAYU

Sekilas saja, mepapate wisara dalam tradisi Berbalas Sasambo sama dengan pepatah dalam dunia sastra Melayu. Keduanya memang memiliki persamaan; keduanya sama-sama mengandung unsur nasihat dan sindiran. Namun, cakupan makna mepapate wisara lebih luas daripada pepatah, sebab mḝpapate wisara mengandung unsur gagasan atau motif-motif yang justru tidak ada dalam pepatah. Motif-motif yang dimaksud antara lain menoe (memuji dengan maksud menjatuhkan), medarendehe (saling membantah), dan mepapangabase (saling mengejek dan menantang dengan nada membual dan menyombongkan diri). 
Motif-motif tersebut diekspresikan dan ditafsirkan melalui lirik-lirik sasambo, baik dalam wujud kata, frase, larik, maupun bait.

Perbedaan mepapate wisara dengan pepatah juga mencolok dari aspek komunikasi. Mepapate wisara bersifat dialogis, bahkan debatis. Dengan kedialogisannya, mepapate wisara ditandai dengan dinamika pertukaran posisi antara komunikator (communicator) dengan komunikan (communicant). 

Dalam hal ini, nasihat, misalnya, bisa dibalas dengan nasihat, sehingga terjadi proses saling menasihati. Dengan kedebatisannya, mepapate wisara memungkinkan terciptanya proses adu argumen, meski argumen-argumen itu hanya sekelas bualan. Di pihak lain, seperti yang berlangsung dalam pidato-pidato Melayu, pepatah bersifat ‘searah’ (monologis).

SASAMBO DAN MASAMPER

Sasambo memengaruhi perkembangan Masamper. Pengaruh sasambo itu butuh ruang pembicaraan tersendiri. 
Tapi sekadar gambaran, pengaruh tradisi sasambo itu nyata dengan penggunaan nama mebawalase untuk Masamper.### 

Catatan:
Gambar hanya penghias postingan😇🤠

Senin, 26 Mei 2014

LOMBA MASAMPER SE-SULAWESI UTARA TAHUN 2014

LOMBA MASAMPER SE-SULAWESI UTARA

PERSYARATAN UMUM:

1.  Pesertaterbuka untuk umum
2.  Peserta wajib memakai seragam (kostum) khas adat daerah
3.  Peserta baik A dan B, naik panggung tidak diperkenankan naik panggung menggunakan alas kaki
4.  Peserta tidak di perkenankan naik panggung dalam keadaan mabuk (meminum minuman beraikohol)
5.  Jumlah peserta untuk seri B 21 orang termasuk pangaha/Wanita
6.  Jumlah peserta untuk seri A 21 orang termasuk pangaha
7.  Urutan naik panggung akan di tentukan melalui undian yang akan dilaksanakan pada saat Rapat Teknik (Technical Meeting)
8.  Peserta yang di panggil tiga kali berturut-turut, dengan interval waktu 3 menit tiap panggilan, dan belum juga naik panggung, maka peserta tersebut dinyatakan gugur
9.   Tim pembanding adalah mereka yang mengerti tentang seni masamper
10.   Keputusanjuri adalah mutlak tidak dapat di ganggu gugat
11.   Peserta yang berhak naik panggung adalah mereka yang sudah melunasi uang pendaftaran
12.   Pesertayang sudah naik seri B tidak diperkenankan naik panggung seri A
13.   Peserta harus hadir 15 menit sebelum lomba dimulai
14.   Tempat pelaksanaan : Lapangan Kantor Walikota Bitung
        Tanggal pelaksanaan           : 26 - 27 September 2014
        Alamat pelaksanaan            : Jln. Sam Ratulangi
        Jam Pelaksanaan                : 18.00 wita

15.   Hal-hal yang belum dimengerti agar dapat menghubungi penanggung jawab lomba : Bpk. Max Galatang HP. 081340853010
16.   Rapat teknik akan dilaksanakan pada
Hari/tanggal                    : 19 Juli 2014
Jam                                  : 14.00 wita
Tempat                            : Pendopo Lapangan Kantor Waiikota Bitung


PERSYARATAN KHUSUS

I.    SERI C / Wanita
a.   Biaya pendaftaran Rp. 250.000,-
b.   Tanda Pangaha Rp. 25.000,- ; Peserta Rp. 5.000,-
c.   Lagu yang dibawakan adalah 6 buah lagu, yaitu :
1. Satu buah lagu pertemuan umum (panggung)
2. Satu buah lagu Pujian Rohani
3. Satu buah lagu Sastra Daerah
4. Dua buah lagu Cinta badani
5. Satu buah lagu perpisahan (panggung)

II.   SERI B
a.   Biaya pendaftaran Rp. 350.000,-
b.   Lagu yang dibawakan adalah 7 buah lagu, yaitu :
1. Satu buah lagu pertemuan umum (panggung)
2. Satu buah lagu Pujian Rohani
3. Dua buah lagu Sastra Daerah
4. Dua buah lagu Cinta badani
5. Satu buah lagu perpisahan (panggung)

III. Seri A
a.   Biaya pendaftaran Rp. 350.000,-
b.   Lagu yang dibawakan adalah 7 buah lagu, yaitu :
1. Satu buah lagu pertemuan umum (panggung)
2. Satu buah lagu Pujian Rohani
3. Dua buah lagu Sastra Daerah
4. Dua buah lagu Cinta badani
5. Satu buah lagu perpisahan (panggung)

IV. GROUP-GROUP YANG MASUK KATEGORI SERI A
      a.   Bitung :       1. G.M. Kariang Kamang Batulubang
2. G.M. Somahe Kai Kehage Tandurusa
3. G.M. Kanaan Winenet
4. G.M. Alkon Pintu Kota
5. G.M. Solagratia Girian

      b.   Manado      1. G.M. Simphoni Indah Malalayang
2. G.M. Putra Galangan Wori
3. G.M. Gloria Tumumpa
6. G.M. Putra Bowontehu Manado Tua
7. G.M. Narwastu Kayuwatu Manado
8. G.M. Putra Tabukan Bahu Manado
9. G.M. Firdaus Mayondi Manado Utara
10. G.M. Haleluyah Tateli
11. G.M. Daseng Sindulang I
12. G.M. Imanuel Buntong Tateli
13. G.M. Efrata Pandu

      c.   Sangihe      1. G.M. Santiago Pangulu
2. G.M. Tunas Muda Tamako
3. G.M. Nahepe Manganitu
4. G.M. Malinggaheng Kendahe
5. G.M. Nipa Nusa Tabukan
6. G.M. Putra Syalom Lenganeng
7. G.M. Binala Tamako
8. G.M. Hiung Manganitu

      d.   Sitaro          1. G.M. Imanuel Balehumara
                              2. G.M. Putra Mohong Sawang

      e.   Minsel         1. G.M. Sendinganeng Rap-rap
                              2. G.M. Air Gale Amurang

V.   HADIAH-HADIAH
      a.   Seri C/Wanita:
Juara I         Trofi Bergilir Ketua Umum IKSSAT + Trofi Tetap +
                    Uang Pembinaan Rp5.000.000,-
Juara II        Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp4.000.000,-
Juara III       Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp3.000.000,-
Juara IV       Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp2.000.000,-
Juara V        Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp1.000.000,-
Juara VI       Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp500.000,-

      b.   Seri B
Juara I         Trofi Bergilir Wakil Walikota Bitung + Trofi Tetap +
                    Uang Pembinaan Rp7.500.000,-
Juara II        Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp5.000.000,-
Juara III       Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp3.500.000,-
Juara IV       Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp2.500.000,-
Juara V        Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp1.500.000,-
Juara VI       Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp1.000.000,-

      c. Seri A
            Juara I                 Trofi bergilir Walikota Bitung + Trofi Tetap +
                                Uang Pembinaan Rp10.000.000,-
            Juara II        Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp7.500.000,-
            Juara III       Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp5.000.000,-
            Juara IV       Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp3.000.000,-
            Juara V        Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp2.000.000,-
            Juara VI       Trofi Tetap + Uang Pembinaan Rp1.500.000,-

VI. CATATAN:
1.   Peserta harus membawa uang pendaftaran saat mengikuti Rapat Teknis (Technical Meeting)
2.   Grup-grup Masamper yang tidak terdaftar dalam kategori Seri A. dapat mendaftar di Seri B.
3.   Empat Grup terbaik di Seri B pada lomba berikutnya akan nalk ke Seri A, dan empat terakhir dari Seri A, akan turun ke Seri B.  

VII. PENUTUP
Demikian Proposal Kegiatan Lomba Masamper  ini dibuat kiranya menjadi acuan dan pedoman dalam rangka kesiapan dan guna terlaksananya kegiatan ini dengan baik, terima kasih.

Contact Person :
1.    Bpk. Max Galatang No.HP.081340853010  
2.    Drs. Semuel Muhaling HP 085240504484
3.    Julius M. Ondang HP 081356366566
4.    Bpk. Fernando Kauntung No.HP.081340155599


PANITIA PELAKSANA
         KETUA                                                        SEKRETARIS

Ors. Semuel Muhaling Julius                               M. Ondang.S.PcI,M.Si

 Mengetahui
Dewan Pengurus IKSSAT Kota Bitung

  Ketua Umum,                                                  Sekretaris Umum,

Drs. Edison Humiang, Msi                                Drs. Moktar A. Parapaga

Jumat, 22 Juni 2012

Tradisi Masamper dalam Masyarakat Etnis Sangihe-Talaud

Kata Masamper berasal dari kata zangvereniging (bahasa Belanda), yang berarti paduan suara masyarakat. Ada juga yang menyebutnya berasal dari kata zang vrij yang berarti menyanyi bebas. Tradisi ini adalah bagian dari budaya masyarakat etnis Sangihe-Talaud. Keberadaannya tidak lepas dari proses penginjilan yang dilakukan oleh para Zending (misionaris Kristen dari Eropa) dalam memperkenalkan lagu-lagu gerejawi yang digunakan dalam ibadah jemaat yang diadaptasi dari tradisi lama masyarakat Nusa Utara yakni metunjuke (bernyanyi dalam kelompok di mana beberapa orang memimpin lagu sambil berkeliling dan menunjuk-nunjuk seluruh yang hadiri dengan mengikuti irama lagu) atau mebawelase (menyanyi dalam kelompok sambil “berbalas pantun” dengan nyanyian).
Dalam tradisi lama sebelum Injil masuk di Sangihe-Talaud, Metunjuke dikenal dengan tiga jenis yaitu: sasambo, kakalumpang dan kakumbaede -- nadanya tidak baku (dengan nada slendro?) karena masyarakat Nusa Utara pra Zending belum mengenal tangga nada atau solmisasi. Kegiatan ini dilakukan ketika melakukan pelayaran panjang sambil berdayung di mana orang-orang para pedayung bernyanyi sampai tiba di tempat tujuan.
Pada sekitar abad ke-18 para Zending datang untuk memberitakan injil dan memperkenalkan lagu-lagu gerejawi yang digunakan dalam ibadah-ibadah bersama. Ketika menyanyi bersama dalam ibadah ini dilakukan, tidak ada istilah bahasa lokal yang bisa mengistilahkannya. Karena itu, para Zending memberikan istilahnya dengan kata zangvereniging atau juga zang vrij. Karena penyebutan kata asing itu mengalami kendala untuk diucapkan secara benar, maka masyarakat Nusa Utara melafalkannya mengikuti dialek setempat dengan menyebutnya sampere.
Jika akan atau sedang melakukan kegiatan bernyanyi bersama (lagu-lagu gerejawi atau rohani), masyarakat menyebutnya dengan masampere. Dalam perkembangan selanjutnya istilah masampere beradaptasi dengan bahasa Indonesia atau bahasa Manado menjadi masamper. Kemudian juga sejak tahun 1990-an muncul istilah baru yakni pato-pato. Sebutan ini terkait dengan sebuah judul lagu masamper Menondong Pato (melayarkan perahu atau bahtera) yang dibawakan oleh Group Masamper pimpinan Max Galatang dan merupakan album rekaman masamper pertama. Lagu-lagu dari pato-pato berirama gembira sehingga ketika orang mendengarnya akan terangsang untuk berdiri dan menggerakan tubuh sambil bernyanyi mengikuti irama lagu.
Tradisi Masamper pada intinya merupakan ungkapan hati nurani selain memiliki nilai religius dan nilai moral. Selain itu, masamper berisi ajakan, ajaran moral dan ajaran tata cara pergaulan dalam hidup bermasyarakat yang tersirat dalam lirik lagu yang bernuansi syair sastrawi. Bertolak dari nilai-nilai tersebut, maka dalam tiga dekade ini masamper telah diperlombakan, baik oleh kelompok organisasi sosial kemasyarakat maupun organisasi gereja dan kelembagaan lainnya. Dalam perlombaan, jenis-jenis lagu dibagi dalam beberapa kategori seperti:
1. Pertemuan.
2. Pujian kepada Tuhan
3. Perjuangan/peperangan rohani
4. Perjuangan/peperangan badani
5. Percintaan rohani
6. Percintaan badani
7. Cinta-kasih orangtua
8. Sastra (antara lain pelayaran, lingkungan hidup, dan pengajaran/moral)
9. Perpisahan
10. Dll.

Kamis, 17 Maret 2011

THE RITES OF TULUDE TRADITIONAL PARTY CEREMONY

 Tulude is an annual event of traditional culture of ethnic communitiesof Sangihe and Talaud in North Sulawesi - Indonesia which is held every end of January or early February. The event was held as a thanksgiving to God for His maintenance to the government and society in the year has passed and prayer request to ask of God's provision in the current year. This event held both province level, district, city, sub district, or village level. This event is by default held every January 31, but given leeway held several days before or after.



Note: I took these photos at the Tulude traditional ceremony in Bitung city in 2007. However, too many sites use them for their content without my permission.

 
HUNDUGU MANGAMPANG TEMBONANGU WANUA
DINGANGU INANG MATAHUENA SUWALAN MUNARANG TULUDE
(PICKUP PROCEDURES TO PICKUP MR. MAYOR AND LADY IN LOCATIONS OF THE IMPLEMENTATION OF TULUDE)

 
Kapitan Bisara: Menaka papulise
(Installation Paporong)
Mayore Labo: This Papulise taku itaka sutembou Tembonang tanggulu malambe, tembonang netendau soa dimpolongang malambeng pe, saretau papulise ko bou nitaka ute ndai katuwo katameng soluheng selambungang tuwoko We katamang pehiking banua.
Kapitang Bisara: This Paporong will wear at the head of the mayor as a leader in the city of Bitung. After paporong charged, then let's keep growing and growing city of Bitung.
Kapitan Bisara: Menange U Bawandang
(Installation Shawl)
Mr. D. Lahunduitan : Bawandang manungkiraeng tatahulending nighuanting ampe kentongang sehiwu i sangeko su inang matahuena. Bawandang tendang karalungsemahe kararinda, kasasanau naung, katulusu endumang, wawengi melelaheu modo takasengkulang.
Kapitan Bisara: Gazette scarves worn to a wise Mrs. as a sign of blessing summarized by the purity of society heart is given to the Mrs. which maintains a good omen. Scarf is a symbol elegance, simplicity, humility, honesty, sincerity and fragrance signifies of wisdom.



MUNARANG KAKAKOA U TULUDE
CORPORATE EVENTS PROCESSION of TULUDE
At 15.00: Tamong Banua seng nasadia suwaleng Tembonangu Wanua'ng Bitung
(Customary Cake Tamo was ready at the Bitung mayor's house)
Hours 15:00 to 16:30: Buntuangu tamong banua niwawa Wou waleng tembonangu Wanua, metimona wanalang penanuludang.
(Procession Tamo cakes custom from the mayor's house to the location of Tulude traditional ceremonies )
Hours 16:30 to 17:30: Mengapia Hunduge
(Rehearsals net)
At 17:30 to 18:00: Pedariahi munara seng iteta
(Preparing the show to begin)
At 18.00: Mengampang Tembonangu Wanua dingangu Inang leadateng.
(Pick-up Mr. and Mrs. Mayor with a respectable)
Note: The procession is accompanied by a great customary group .
MANGINSOMAHE TEMBONANGU WANUA DINGANGU INANG
(PICKUP MR. AND MRS. MAYOR)
Kapitan Bisara: Tembonangu Wanua dingangu inang leadateng seng nasahampi.
(Mr. Mayor along with Lady the honorable has arrived)
Mayore Labo: Adate su Tembonangu Wanua dingangu Inang
Kapitan Bisara: Tribute to Mr. Mayor with Lady.
Mayore Labo : Medalo Mawu Ruatang sembah, mengalamate su Tembonang dingang su inang leadateng, haki eweng nawuna su kudatong gighile tampa luliwosong daluase ore nilelesang takurange apa. Salamate nasahampi su taloarang u ana u wanua, mumanendeng adate su pukauhang tumanau tahanusa.
Kapitang Bisara: Praise your God, bless the mayor with the lady that arrived safely at the place of Tulude, a place filled with joy and peace. Welcome to the Kawanua society, respecting tradition, uniting the nation.
Mayore Labo : Salamate naonto suwalang gumoba, nasahampi sunileseng banalang iararo Konda iredorong sumalambeng ore lai si wawu inang Mahie dumaleng ore dumaleng, tumempang ore tumempang, dumaleng suraleng kimerong intang, daleng takonsange apa I ghenggona manangkoda, Ruata manireda o Mawu Rendingane.
Kapitang Bisara: Mr. Mayor with Lady, requested with respect, let us walked and walked, walked and walked, walked toward the place of repose thanks God to the Tulude implementation, hall of worship and thanksgiving.
Mayore Labo: Mitu Ganding ... ... ... ...
(Customs group accompany the mayor walked to the stage).
MENDANGENG TEMBONANG
(The event held under the stage)
Kapitan Bisara: Mendangeng Tembonang
(Lord invited onto the main stage)
Mayore Labo : Nihengke nilawo niruiu nuhung suhiwang senggelangi tau makasalang naonto pekentengang suwalang tampungan ini lelawokang sambo pesasinengang.
Kapitan Bisara: Arrival leaders who upheld and respected mayor of Bitung and His mistress and the troupe was greeted with sincerity in the lap of peace from God Almighty.
Mayore Labo : Dangengke endai dangeng, karengkang endai karengkang endai dangeng antareng karengkang balobakeng ku endai rengkang, batungang taku batungang dengkaneng taku dengkaneng taku barungangu ukure dengkanengu kadadalure.
Kapitan Bisara: Now that upheld and all are respected, please go up onto the main stage via the stairs that was provided in longing. Swing the step into the house was built with God's blessings be with joy. Congratulations to climb this ladder.
Mayore Labo : Sohoko kaiang su kadera ure kaitolang sugaghalang bulaeng sene pia tatahulending.
Kapitan Bisara: welcome to sit in the seat of honor because that's where the blessed place.

HUNDUGU MONARANG TULUDE TAUNG 2006
KAWANUA DUNGANGU MENGA ANA
U WANUA KUDATO’NG BITUNG
SUELONG …….. 7 FEBRUARI 2006
SU NILESENG U BALENG LAWO BITUNG

TULUDE TRADITIONAL PARTY CEREMONY OF THE 2006
COMMUNITY AND CITY GOVERNMENTOF BITUNG
ON TUESDAY, 7 FEBRUARY 2006
AT FIELD OF BITUNG MAYOR OFFICES

I.. KUMUI MENULUDE
(CALL TO TULUDE CEREMONY)
Mayore Labo: (Saying the words of invitation)
Manga gaghurang, manga anau sembau, komolang leadateng, mahie ikite M E N U L U D E.
……………………………………………………………..
Gandinge ………………………………………………..
Kapitan Bisara: Ladies and gentlement and all of invitations, let us to MMENULUDE.
SUWULUDU DUMPAENG KILA
Suwuludu dumpaeng kila, Suweda u Mawu Dalo
Mesuba Ruata su Mawu Ghenggona
Aha suraleng mapia
Reff. Inang, iamang Manembah
Dudalahiwa sembah
Ku’ mang menendeng kaliomaneng
Kebi sulimang Duata……………..
Asalisang dedorongan salentiho gegausang
Uwuse pananggung katentung sulambung
Berkatu Mawu Rendingang
Reff. …….

II.. TAMONG BANUA DUMOLONG BANALA
MANARAKANG DINGANGU MANARIMA TAMO

CUSTOMARY CAKE TAMO ENTERING HALL
TAMO HANDOVER.
Kapitan Bisara: Tamong Banua dumolong banala
(Customary Cake Tamo entering the main hall)
Menarakang dingangu menarima Tamo.
(Handover custom cakes Tamo)
Mr. A. Kakomba : Tamo mawangung kere woiang hundungi wansana, ambiaeng pedalawokang, kai biahe mapia uwuseng selambungang. Daeke doko daeke, tarima doko tarima.
Kapitan Bisara: Tamo customary cake prepared by master chef, is a good meal for everyone. Take it and take it.
Mr. D. Lahunduitan: Manarimae tamong banua ini bebantugang, i pato su tengong kalipoho selambungang supatiku maehesu belageng ku ini’e seng tempone ikite metunduang.
Kapitan Bisara: Receive a custom cake Tamo, is placed in the middle of the audience all, and this was it will be in-out events.
(Note: While the traditional cake Tamo went upstairs main stage, was greeted with song: TAUNG TAMAI NALIU by audience)
Taung tamai naliu
makatompe elo
Nanentangkeng susah naung
su tempong lahuang
Takudeakeng suapa
sau mesombang kapia
Arenge i makakondo
I makatatompe elo

III .. BAWIKE BERANG TULUDE
(INTRODUCTION OF TULUDE)
Kapitan Bisara : Bawika berang tulude taung 2006
(Introduction OF Tulude Year 2006 by the Chairman of the Committee)
The Speech: ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
IV .. KAKUMBAEDE
(DECLARATION OF PRAISE AND EXPECTATIONS)
Kapitan Bisara: Kakumbaede...........
(Statement of praise and expectations)
Rev. R. Kabuhung, STh: Katentung, kapapia, sau kapia mabawa sutempo mededaliu matuhu sukapulung kawasa liu'ng kawasa.
Kapitan Bisara: The existence and change over time turns to the will of Him who is omnipotent.
Rev. R. Kabuhung, STh: Petatumbiahe, barauntu, hombang sigesa mededaliu maitu papaduline imatalentu liu'ng talentu.
Kapitan Bisara: Life and livelihood, fortune, sorrow, all in the in the maintenance of Merciful God.
Rev. R. Kabuhung, STh: Penaniti, penanahimata, talengkong kakanoa, natentang tataghupia imasingking liuntuhaseng.
Kapitan Bisara: Viewing and guidance for our deficiencies and impropriety, arranged according to the holiness of God who is jealous.
Rev. R. Kabuhung, STh: Kasasuku natinalung, kasasalamate samatang sulimang tintanude palede maralending matang ake u pubawiahe.
Kapitan Bisara: outer and inner happiness and salvation is in the cool hand of God the source of living water.
Rev. R. Kabuhung, STh: Sutempong taumata nesilontahe, banua taniedong seke, apang bangsa mempeseke ketaeng Duata banggil’u karalungsemahe dimuluse dingangu pedarame.
Kapitan Bisara: When a man hostile to each other, constantly troubled the country, the nations warring to each other, the only God of peace, come down to finish with true peace.
Mayore Labo: Katuwo katamang sulimang Duata, katuwo katamang pehiking banua.
Kapitan Bisara: Growi and grow-up in the hands of God. Grow and grow-up to our beloved country.
Sing a song: MAKAKENDUNG SUSANGI
Makakendung susangi suralungu naungku
Makatahendung elo sarung pebiahengku
Reff Sutaung bulang kadentane
Taung pinedaliune
Mawu Ruataku, abe tentang elangU.

V. MENAHULENDING BANUA
(PRAYER OF RECOGNITION-SUBMISSION-APPLICATION)
Description of Tathulending
The speech: ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
Kapitan Bisara: Menahulending banua!
Mr. D. Lahunduitan: (Prayering of tatahulending)
The speech... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...

Sing a song: OH MAWU RUATA
Oh Mawu Ruata talentuko ia
Napene u rosa, rosa masaria
Reff. Tentiro ko sia daleng mapia
Penata elangU suraralengangU.

VI. SASALAMATE
(THE WISDOM PHRASE TO INVITES TEH SAFETY)
Kapitan Bisara: S A S A L A M A T E
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
Mr. Zaskar M. : M e b e r a n g
The speech ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ....
Sing a song: DALO SUMAWU RUATA
Dalo su Mawu Ruata, kakendage sutaumata
Ku untungke kaselahe su kebi umate
Salamate, leantibe suapang mempesasesile
Sorga mawantuge, luingate suapang mempetobate.
Reff. Ku’ untung salamate seng tetaghuanengu
Ualing liaghang gatinU ore wuang saghedu
Ku’ abe ghagholo… u…

VII. MAMOTO TAMO
(Catting the Tamo Traditional Cake)
... .. : Karalaheu Tamong Banua
Kapitan Bisara: Brief description of the cake Tamo
... .. : Meberang Papoto Tamo
The speech ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
Sing a song: KALU TINUWANG SUSERE
(By Group OF Masamper)
VIII. KAKALIOMANENG PATIKU
(GENERAL PRAYER)
Christian Elements By: ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ....
Elements of Islam by: ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ....
Sing a song: TAUNG INI RIMENTA
(Sung by Group OF Masamper)
Taung ini rimenta, medorong su Ruata
Pehiking ko lai kapia, si kami manga elang
Bou rarodo matelang, alamatu apahundingang
Reff. Su apang dalengang, Mawu abe panentang
Maning lai seng kakonda Mawu mambeng patenda
Kalaumure kebi, pakaraung dalai
Sarang taung ini mahi lai.

IX. SASASA-SASALENTIHO
(SPEECH-MESSAGE)
Tembonangu IKSAT: mR. Wilmers Lalelah, BcAk
Tembonangu Wanua: ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...

X. MEGEGHAUSE SEMOKOLE
Kapitan Bisara: Kakaliomanengu Saliwang
: Prayer of dinner by Mr. Rev. S. Darosa.
Medoa/prayering ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
Kapitan Bisara : Idope seng mapapato suimbe, galiopohe balageng ku dingangu adate Panitia megagause su Tembonangu Wanua, ore lai su manga Mawu leadateng, seng tempone ikite metundung susaliwangu wanua pegionateng. Salamate masemang.
Dish has been available at the dinner table, respectfully invite the Committee and invited Mr Mayor Bitung with mistress and Ladies and Gentlemen for the meal together. Enjoy a meal that has been available.

XII. TATARIMA KASE
(ACKNOWLEDGEMENTS)
Kapitan Bisara: Tatarima kase u metetangkiang monarang Tulude Taung 2006
Acknowledgements by Tulude Committee in 2006 submitted by the Secretary of the Committee.

XIII. TATODE HUNDUGE II
(Event II)
Gunde Dance
Salo Dance
The choir of four (4) sub-ethnic
Sub ethnic Sangihe: song Sangihe Ikakendage
Sub ethnic Siau: song Tahanusaeng Siau
Sub ethnic Talaud: song Lembungu Rintulu
Sub ethnic Tagulandang: songs Di Utara Minahasa
Bamboo music
Masamper (3 types of songs)

XIV. MENONDA TEMBONANG
(ESCORT THE LEADER)

HUNDUGU MENONDA TEMBONANG
BOU WANALAN MONARANG TULUDE Taung 2006
(EVENTS TO ESCORT THE LEADER
FROM THE WARD OF TULUDE YEAR OF 2006)

Kapitan Bisara: Menonda Tembonang
(Escort the Leader)
Mayore Labo : Manga gaghurang, manga anau sengkatau ….. engdangu dokolu moleng bauna, Malamber liune sukudatong Bitung, seng mebua dingangu bebatone boeng banala penanuludang ini.
Lumintu maranung hombang, lisadeng tawe silaka.
Lumempang sukoko Mawu, dumaleng sughaghengganu Ruata, kai koko ipenenda hombang. Gaghenggang, ipemalawa silaka mawuna kongsange what u suniolang tawe.
Salamate mebua, dingangu tarima loved sumalambe leadateng.
Kapitan Bisara: Ladies and gentlemen, now the mayor of Bitung with mistress and his entourage will leave and split up with us. For that, with all due respect and say thanks and happily, we let the mayor off the ward in the name of God, go away from this place, also in the shade of His affections.
The Name that removes all the malicious and shade that can provide safety in transit, until arriving at the destination with peace.
Bye bye and God bless!
Mayore Labo: Gandinge ... ... ... ... ... ... ... ....
Kapitan Bisara: Komolang dedorongang dumarisi
(Audience please stand up)
Sing a song: OH MAWU RENDINGANE
Oh Mawu rendingane, i kami manga elang
Su tempo kadentane, oh Mawu kaselaheng
Reff. Bae darodo matelang, tembonang kawanua
Ahako suralengu, su i kekapulunu.
(While the Mayor of Bitung with the Lady left the place of customary Tulude)
Kapitan Bisara: Dingangu adate Tembonangu Wanua, seng manentangu tampa penanuludang.
With all due respect, Mr. Mayor with Mrs allowed to leave this ward.

NOTE:
MAYORE LABO = LEADER of CEREMONY
KAPITAN BISARA = GUIDE EVENTS
MAYOR OF BITUNG CAN BE REPLACED ACCORDING TO REGION OR OTHER GOVERNMENT LEVELS. LIKE THE GOVERNOR FOR THE PROVINCIAL LEVEL, REGENTS FOR DISTRICT, SUBDISTRICT HEAD FOR SUBDISTRICT LEVEL, HEADMAN/ HEAD VILLAGE / KAPITALAUNG FOR VILLAGE LEVEL.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
SONGS OF SUB ETHNIC
SANGIHE IKAKENDAGE (Sub Etnis Sangihe)
Sangihe ikakendage sarang papateku
Sidutu makaluase dalungu naungku
Maning pia dade dala limembong bantuge
Takere soang Sangihe maning kurang damene
Reff. Soang kinariadiangku (2x)
Ore ene naungang
Ore tetahendungang
Soang kinariadiangku.

TAHANUSAENG SIAU (Sub etnis Siau)
Tahanusaeng Siau banuaku tutune
Kakelaeng bou marau awu pia tipune
Reff. Maning itentang marau
Karangetang katahendungang
Sene ana u sembau tawe takawulenang

LEMBUNGU RINTULU (Sub Etnis Talaud)
Lembungu rintulu banua nilungkang
Porodisa ilelareng,
maning ta’ damene tala arangsange
Taloda mananaunganna.
Reff. Imberang wala asegone
Arie wala asiare
Porodisa mang su naungan-naungan
Talode mang su endumang.

DI UTARA MINAHASA (Sub etnis Tagulandang)
1. Di utara Minahasa, terdapat pulaulah
Diingat setiap masa berturut-turutlah
Talise, Tagulandang, Biaro di tengah
Para dan Mahangetang tiada jauhlah
Pulau Karangetang, bahkan Siaulah
Semuanya dipandang di mata manislah.

2. Berjajar terus ke utara, Tampungang-Porodisa
Terhimpun pulaunya yang indah, menghias cakrawala
Kahakitang, Kalama, Bebalang, Batunderang
Lipaeng, Kawaluso, Kawio, Marore
Pulau Karakelang serta Salibabu
Kabaruan, Karatung, Marampit, Miangas.

Senin, 14 Maret 2011

TATA UPACARA ADAT TULUDE KOTA BITUNG

HUNDUGU MANGAMPANG TEMBONANGU WANUA DINGANGU MATAHUENA SUWALAN MUNARANG TULUDE

 
(PROCEDURE FOR MAYOR Mr Pick
ON LOCATION WITH THE IMPLEMENTATION TULUDE Mrs)

 
Kapitan Bisara: Menaka papulise
(Installation Paporong)
Mayore laboratory: This Papulise TAKU itaka sutembou Tembonang tanggulu malambe, tembonang netendau soa malambeng pe dimpolongang, saretau papulise ndai ko bou nitaka ute katuwo katameng soluheng selambungang tuwoko we katamang pehiking banua.
Kapitang Bisara: kukenakan Paporong will be at the head of Mr Major as leader in the city of Bitung. After paporong charged, then let the city keep growing and growing Bitung.
Kapitan Bisara: Menange U Bawandang
(Installation Shawls)
CPC. D. Lahunduitan: Bawandang manungkiraeng tatahulending nighuanting ampe kentongang sehiwu su i sangeko matahuena host. Bawandang kick karalungsemahe kararinda, kasasanau home, katulusu endumang, wawengi melelaheu takasengkulang modo.
Kapitan Bisara: Sheet scarves subject to a wise mother as a sign of blessing the people covered by the purity of heart is given to the principal symbol of a good relationship. Keanggunanan scarf is a symbol, simplicity, humility, honesty, integrity and wisdom indicates fragrance................................

HUNDUGU MANGAMPANG TEMBONANGU WANUA
DINGANGU INANG MATAHUENA SUWALAN MUNARANG TULUDE
(TATA CARA PENJEMPUTAN BAPAK WALIKOTA
BERSAMA NYONYA DI LOKASI PELAKSANAAN TULUDE)

Kapitan Bisara    : Menaka papulise
          (Pemasangan Paporong)
Mayore Labo    :  Papulise ini taku itaka sutembou Tembonang tanggulu malambe, tembonang netendau soa malambeng pe dimpolongang, saretau papulise bou nitaka ute ndai ko katuwo katameng soluheng selambungang tuwoko we katamang pehiking banua.
Kapitang Bisara    :  Paporong ini akan kukenakan di kepala Bapak Walikota sebagai pemimpin di Kota Bitung. Setelah paporong dikenakan, maka marilah bertumbuh dan bertumbuh memelihara kota Bitung.
Kapitan Bisara    : Menange U Bawandang
      (Pemasangan Selendang)
Bpk. D. Lahunduitan    :  Bawandang manungkiraeng tatahulending nighuanting ampe kentongang sehiwu i sangeko su inang matahuena. Bawandang tendang karalungsemahe kararinda, kasasanau naung, katulusu endumang, wawengi melelaheu modo takasengkulang.
Kapitan Bisara    :    Lembaran selendang dikenakan kepada ibu yang bijaksana sebagai pertanda doa restu terangkum oleh kemurnian hati masyarakat diberikan kepada ibu perlambang suatu hubungan yang baik. Selendang adalah lambang keanggunanan, kesederhanaan, kerendahan, kejujuran, ketulusan dan keharuman menandakan kebijaksanaan.



MUNARANG KAKAKOA U TULUDE
TATA ACARA PROSESI TULUDE

Jam 15.00    :  Tamong Banua seng nasadia suwaleng Tembonangu Wanua’ng Bitung
        (Kue adat Tamo telah siap di rumah Bapak Walikota Bitung)

Jam 15.00 – 16.30    :  Buntuangu tamong banua niwawa wou waleng tembonangu wanua, metimona wanalang penanuludang.
       (Arak-arakan kue adat Tamo dari rumah Bapak Walikota menuju lokasi upacara adat Tulude)

Jam 16.30 – 17.30    :     Mengapia Hunduge
        (Gladi bersih)

Jam 17.30 – 18.00    :  Pedariahi munara seng iteta
        (Persiapan acara segera dimulai)

Jam 18.00     :     Mengampang Tembonangu Wanua dingangu inang leadateng.
        (Penjemputan Bapak Walikota bersama nyonya yang terhormat)


Catatan    : Prosesi ini diiringi oleh BARISAN KEBESARAN ADAT.


MANGINSOMAHE TEMBONANGU WANUA DINGANGU INANG
(PENJEMPUTAN BAPAK WALIKOTA BERSAMA NYONYA)

Kapitan Bisara    :     Tembonangu wanua dingangu inang leadateng seng nasahampi.
        (Bapak Walikota bersama nyonya yang terhormat telah tiba)

Mayore Labo    : Adate su Tembonangu Wanua dingangu inang
Kapitan Bisara    :     Penghormatan kepada Bapak Walikota bersama Nyonya.

Mayore Labo    :     Medalo Mawu Ruatang sembah, mengalamate su Tembonang dingang su inang leadateng, haki eweng nawuna su kudatong gighile tampa luliwosong daluase ore nilelesang takurange apa. Salamate nasahampi su taloarang u ana u wanua, mumanendeng adate su pukauhang tumanau tahanusa.
Kapitang Bisara    :    Terpujilah Allah yang disembah memberkati Bapak Walikota bersama nyonya sehingga tiba dengan selamat di tempat pelaksanaan Tulude, tempat yang dipenuhi sukacita dan damai sejahtera. Selamat datang di tengah-tengah masyarakat kawanua, menjunjung adat, mempersatukan bangsa.
Mayore Labo    :    Salamate naonto suwalang gumoba, nasahampi  sunileseng banalang iararo Konda iredorong sumalambeng ore lai si wawu inang Mahie dumaleng ore dumaleng, tumempang ore tumempang, dumaleng suraleng kimerong intang, daleng takonsange apa I ghenggona manangkoda, Ruata manireda o Mawu Rendingane.
Kapitang Bisara    :    Bapak Walikota bersama Nyonya, dimohon dengan penuh hormat, marilah kita berjalan dan berjalan, melangkah dan melangkah, berjalan beralaskan berkat Tuhan menuju tempat pelaksanaan Tulude, bangsal penyembahan dan pengucapan syukur.
Mayore Labo    :    Mitu Ganding…………
        (Barisan adat mengiringi Bapak Walikota berjalan menuju panggung).

MENDANGENG TEMBONANG
(Acara dilaksanakan di bawah panggung)

Kapitan Bisara    :     Mendangeng Tembonang
        (Mempersilakan junjungan naik ke atas panggung utama)
Mayore Labo    :    Nihengke nilawo niruiu nuhung suhiwang senggelangi tau makasalang naonto pekentengang suwalang tampungan ini lelawokang sambo pesasinengang.
Kapitan Bisara    :    Kedatangan pemimpin yang dijunjung dan dihormati Walikota Bitung beserta nyonya dan rombongan disambut dengan ketulusan hati dalam pangkuan damai sejahtera dari Allah Maha Kuasa.
Mayore Labo    :     Dangengke endai dangeng, karengkang endai karengkang endai dangeng antareng karengkang balobakeng ku endai rengkang, batungang taku batungang dengkaneng taku dengkaneng taku barungangu ukure dengkanengu kadadalure.
Kapitan Bisara    :    Kini yang dijunjung dan semua yang dihormati, silakan naik ke atas panggung utama melalui tangga yang disiapkan dalam kerinduan. Ayunan langkah memasuki rumah dibangun dengan sukacita berkat Tuhan menyertai. Selamat menaiki anak tangga ini.
Mayore Labo    :     Sohoko kaiang su kadera ure kaitolang sugaghalang bulaeng sene pia tatahulending.
Kapitan Bisara    :    Dipersilakan duduk di kursi kehormatan karena di situlah tempat yang diberkati.



HUNDUGU MONARANG TULUDE TAUNG 2006
KAWANUA DUNGANGU MENGA ANA
U WANUA KUDATO’NG BITUNG
SUELONG …….. 7 FEBRUARI 2006
SU NILESENG U BALENG LAWO BITUNG
TATA UPACARA PESTA ADAT TULUDE TAHUN 2006
MASYARAKAT DAN PEMERINTAH KOTA BITUNG
PADA HARI SELASA, 7 FEBRUARI 2006
DI LAPANGAN KANTOR WALIKOTA BITUNG

I..   KUMUI MENULUDE
      (AJAKAN MENULUDE)

Mayore Labo    :    (Mengucapkan kata-kata ajakan)
        Manga gaghurang, manga anau sembau, komolang leadateng, mahie ikite M E N U L U D E.
        ……………………………………………………………..
        Gandinge ………………………………………………..
Kapitan Bisara    :    Bapak-bapak, ibu-ibu dan undangan, hadirin yang terhormat, marilah kita M E N U L U D E.

MEKANTARI/MENYANYI (HADIRIN)

SUWULUDU DUMPAENG KILA

Suwuludu dumpaeng kila,  Suweda u Mawu Dalo
Mesuba Ruata su Mawu Ghenggona
Aha suraleng mapia
     Reff.      Inang, iamang Manembah
    Dudalahiwa sembah
    Ku’ mang menendeng kaliomaneng
    Kebi sulimang Duata……………..
Asalisang dedorongan salentiho gegausang
Uwuse pananggung katentung sulambung
Berkatu Mawu Rendingang
   Reff. …….

II..  TAMONG BANUA DUMOLONG BANALA
      MANARAKANG DINGANGU MANARIMA TAMO
      KUE ADATA TAMO MEMASUKI BANGSAL
      SERAH-TERIMA TAMO.

Kapitan Bisara    :    Tamong Banua dumolong banala
        (Kue adat Tamo memasuki bangsal utama)
        Menarakang dingangu menarima Tamo.
        (Serah-terima kue adat  tamo)
Bpk. A. Kakomba    :    Tamo mawangung kere woiang hundungi wansana, ambiaeng pedalawokang, kai biahe mapia uwuseng selambungang. Daeke doko daeke, tarima doko tarima.
Kapitan Bisara    :    Kue adat Tamo yang diolah oleh juru masak ulung, adalah santapan yang baik untuk semua orang. Ambillah dan terimalah.
Bpk. D. Lahunduitan    :    Manarimae tamong banua ini bebantugang, i pato su tengong kalipoho selambungang supatiku maehesu belageng ku ini’e seng tempone ikite metunduang.
Kapitan Bisara    :    Menerima kue adat tamo ini diletakkan di tengah-tengah para hadirin sekalian dan inilah saatnya akan diacarakan.

(Catatan : Sementara kue adat tamo naik ke atas panggung utama, disambut dengan nyanyiang: TAUNG TAMAI NALIU  oleh hadirin)

Taung tamai naliu
makatompe elo
Nanentangkeng susah naung
su tempong lahuang
Takudeakeng suapa
sau mesombang kapia
Arenge i  makakondo
I makatatompe elo



III.. BAWIKE BERANG TULUDE
      (PENGANTAR TULUDE)

Kapitan Bisara    :    Bawika berang tulude taung 2006
        (Pengantar Tulude Tahun 2006 oleh Ketua Panitia)
        Kata-kata : …………………………………………

IV..  KAKUMBAEDE
        (PERNYATAAN PUJIAN DAN HARAPAN)

Kapitan Bisara    :    Kakumbaede
        (Pernyataan pujian dan harapan)
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Katentung, kapapia, sau kapia mabawa sutempo mededaliu matuhu sukapulung kawasa liu’ng kawasa.
Kapitan Bisara    :    Keberadaan dan perobahan sejalan dengan waktu silih berganti untuk kehendak Dia yang Maha Kuasa.
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Petatumbiahe, barauntu, hombang sigesa mededaliu maitu papaduline imatalentu liu’ng talentu.
Kapitan Bisara    :    Hidup dan penghidupan, keberuntungan, duka nestapa, semuanya di dalam pemeliharaan dan penghasilan Allah yang Maha Penyayang.
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Penaniti, penanahimata, talengkong kakanoa, natentang tataghupia imasingking liuntuhaseng.
Kapitan Bisara    :    Penilikian dan bimbingan atas kekurangan dan ketidaklayakan kita, tertata menurut kesucian Allah yang cemburu adanya.
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Kasasuku natinalung, kasasalamate samatang sulimang tintanude palede maralending matang ake u pubawiahe.
Kapitan Bisara    :    Kebahagiaan lahir dan  batin dan keselamatan hanyalah di kesejukan tangan Allah sumber air kehidupan.
Pdt. R. Kabuhung, STh:    Sutempong taumata nesilontahe, banua taniedong seke, apang bangsa mempeseke ketaeng Duata banggil’u karalungsemahe dimuluse dingangu pedarame.
Kapitan Bisara    :    Ketika manusia saling bermusuhan, negeri rusuh tiada hentinya, bangsa saling berperang, maka hanyalah Allah sumber ketenangan, turun menyelesaikannya dengan damai sejati.
Mayore Labo    :    Katuwo katamang sulimang Duata, katuwo katamang pehiking banua.
Kapitan Bisara    :    Bertumbuh dan bertumbuhlah di tangan Allah. Bertumbuh dan bertumbuhlah untuk negeri tercinta.

MENYANYI: MAKAKENDUNG SUSANGI

Makakendung susangi suralungu naungku
Makatahendung elo sarung pebiahengku
      Reff    Sutaung bulang kadentane
    Taung pinedaliune
    Mawu Ruataku, abe tentang elangU.

V.    MENAHULENDING BANUA
        (DOA PENGAKUAN-PENYERAHAN-PERMOHONAN)
         Penjelasan tentang Tathulending
                Kata-kata : …………………………………………..
Kapitan Bisara    :    Menahulending banua!
Bpk. D. Lahunduitan    :    (Membawakan doa tatahulending)
        Kata-kata ………………………………………

MENYANYI: OH MAWU RUATA

Oh Mawu Ruata talentuko ia
Napene u rosa, rosa masaria
       Reff. Tentiro ko sia daleng mapia
                Penata elangU suraralengangU.

VI.   SASALAMATE
       (UNGKAPAN HIKMAT MENGUNDANG KESELAMATAN)

Kapitan Bisara    :    S A S A L A M A T E
        ………………………………………………………
Bpk. Zaskar M.    :    M e b e r a n g
        Kata-kata ……………………………………………….

MENYANYI:  DALO SUMAWU RUATA

Dalo su Mawu Ruata, kakendage sutaumata
Ku untungke kaselahe su kebi umate
Salamate, leantibe suapang mempesasesile
Sorga mawantuge, luingate suapang mempetobate.
    Reff.    Ku’ untung salamate seng tetaghuanengu
    Ualing liaghang gatinU ore wuang saghedu
    Ku’ abe ghagholo… u…

VII.   MAMOTO TAMO
         (Pemotongan Kue Adat Tamo)

…..    :    Karalaheu Tamong Banua
Kapitan Bisara    :     Sekilas penjelasan tentang kue Tamo
…..    :      Meberang Papoto Tamo
        Kata-kata ……………………………………………..

MENYANYI:  KALU TINUWANG SUSERE
                      (Oleh Group Masamper)

VIII.    KAKALIOMANENG PATIKU
           (DOA UMUM)

Unsur Kristen Oleh : ………………………………………………….
Unsur Islam oleh    : ………………………………………………….
MENYANYI :  TAUNG INI RIMENTA
                       (Dinyanyikan oleh Group Masamper)

Taung ini rimenta, medorong su Ruata
Pehiking ko lai kapia, si kami manga elang
Bou rarodo matelang,  alamatu apahundingang
        Reff.  Su apang dalengang, Mawu abe panentang
                  Maning lai seng kakonda Mawu mambeng patenda
                  Kalaumure kebi, pakaraung dalai
                  Sarang taung ini mahi lai.

IX.     SASASA-SASALENTIHO
          (SAMBUTAN-SAMBUTAN)

Tembonangu IKSAT    : Bpk. Wilmers Lalelah, BcAk
Tembonangu Wanua    : …………………………………


X.      MEGEGHAUSE SEMOKOLE

Kapitan Bisara    :    Kakaliomanengu Saliwang
    :     Doa makan bersama oleh Bpk. Pdt. S. Darosa.
    Medoa …………………………………………………

Kapitan Bisara    :    Idope seng mapapato suimbe, galiopohe balageng ku dingangu adate Panitia megagause su Tembonangu Wanua, ore lai su manga Mawu leadateng, seng tempone ikite  metundung susaliwangu wanua pegionateng. Salamate masemang.
   Sajian telah tersedia di meja makan, dengan hormat Panitia mengundang dan mempersilakan Bapak Walikota Bitung bersama nyonya dan hadirin yang terhormat untuk santap bersama. Selamat menikmati santapan yang telah tersedia.


XII.     TATARIMA KASEH
          (UCAPAN TERIMA KASIH)

Kapitan Bisara    :    Tatarima kaseh u metetangkiang monarang Tulude taung 2006
        Ucapan terima kasih Panitia Tulude tahun 2006 disampaikan oleh Sekretaris Panitia.




XIII.     TATODE HUNDUGE II
           (PAGELARAN II)

Tari Gunde
Tari Salo
Koor dari empat (4) sub etnis
Sub etnis Sangihe     : lagu Sangihe Ikakendage
Sub etnis Siau    : lagu Tahanusaeng Siau
Sub etnis Talaud       : lagu Lembungu Rintulu
Sub etnis Tagulandang    : lagu di Utara Minahasa
Musik bambu
Masamper (3 jenis lagu)

XIV.     MENONDA TEMBONANG
            (MENGANTAR PEMIMPIN)


HUNDUGU MENONDA TEMBONANG
BOU WANALAN MONARANG TULUDE TAUNG 2006
(TATA ACARA MENGANTAR PEMIMPIN
DARI BANGSAL ACARA TULUDE TAHUN 2006)

Kapitan Bisara    :    Menonda Tembonang
        (Mengantar Pemimpin)

Mayore Labo    :    Manga gaghurang, manga anau sengkatau ….. engdangu dokolu moleng bauna, Malamber liune sukudatong Bitung, seng mebua dingangu bebatone boeng banala penanuludang ini.
Lumintu maranung hombang, lisadeng tawe silaka.
Lumempang sukoko Mawu, dumaleng sughaghengganu Ruata, kai koko ipenenda hombang. Gaghenggang, ipemalawa silaka mawuna u suniolang tawe kongsange apa.
Salamate mebua, dingangu tarima kaseh sumalambe leadateng.
Kapitan Bisara    :    Hadirin yang terhormat, kini Bapak Walikota Bitung bersama nyonya dan rombongan akan beranjak pergi dan berpisah dengan kita. Untuk itu, dengan segala hormat dan mengucapkan terima kasih serta dengan penuh suka cita, kami melepaskan Bapak Walikota turun dari bangsal di dalam nama Tuhan, pergi meninggalkan tempat ini, juga di dalam naungan kasih sayang-Nya.
        Nama yang menghapus segala yang jahat dan naungan yang dapat memberi keselamatan dalam perjalanan, hingga tiba di tempat yang dituju dengan damai sejahtera.
        Selamat jalan dan selamat berpisah Tuhan memberkati!

Mayore Labo    :    G a n d i n g e …………………….

Kapitan Bisara    :    Komolang dedorongang dumarisi
        (Hadirin dimohon berdiri)

MENYANYI :  OH MAWU RENDINGANE

Oh Mawu rendingane, i  kami manga elang
Su tempo kadentane, oh Mawu kaselaheng
      Reff.  Bae darodo matelang, tembonang kawanua
                Ahako suralengu, su i kekapulunu.

(Sementara bapak Walikota Bitung bersama nyonya meninggalkan tempat gelar adat Tulude)

Kapitan Bisara    :    Dingangu adate Tembonangu Wanua, seng manentangu tampa penanuludang.
        Dengan segala hormat, Bapak Walikota bersama Nyonya diperkenankan meninggalkan bangsal ini.




CATATAN:
MAYORE LABO     = PEMIMPIN UPACARA
KAPITAN BISARA = PEMANDU ACARA
WALIKOTA BITUNG DAPAT DIGANTI DENGAN NAMA JABATAN LAIN SESUAI WILAYAH ATAU TINGKATAN PEMERINTAHAN. MISALNYA GUBERNUR UNTUK TINGKAT PROPINSI, BUPATI UNTUK KABUPATEN, CAMAT UNTUK TINGKAT KECAMATAN, LURAH/KEPALA DESA/KAPITALAUNG UNTUK TINGKAT DESA/KELURAHAN.



* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

LAGU-LAGU DARI SUB ETNIS


SANGIHE IKAKENDAGE (Sub Etnis Sangihe)

Sangihe ikakendage sarang papateku
Sidutu makaluase dalungu naungku
Maning pia dade dala limembong bantuge
Takere soang Sangihe maning kurang damene
          Reff.  Soang kinariadiangku (2x)
                   Ore ene naungang
                   Ore tetahendungang
                   Soang kinariadiangku.


TAHANUSAENG SIAU (Sub etnis Siau)

Tahanusaeng Siau banuaku tutune
Kakelaeng bou marau awu pia tipune
        Reff.   Maning itentang marau
                  Karangetang katahendungang
                  Sene ana u sembau tawe takawulenang


LEMBUNGU RINTULU (Sub Etnis Talaud)

Lembungu rintulu banua nilungkang
Porodisa ilelareng,
maning ta’ damene tala arangsange
Taloda mananaunganna.
       Reff.    Imberang wala asegone
                  Arie wala asiare
                  Porodisa mang su naungan-naungan
                  Talode mang su endumang.


DI UTARA MINAHASA  (Sub etnis Tagulandang)

1. Di utara Minahasa, terdapat pulaulah
    Diingat setiap masa berturut-turutlah

            Talise, Tagulandang, Biaro di tengah
             Para dan Mahangetang tiada jauhlah
             Pulau Karangetang, bahkan Siaulah
             Semuanya dipandang di mata manislah.

2.  Berjajar terus ke utara, Tampungang-Porodisa
     Terhimpun pulaunya yang indah, menghias cakrawala
         
    Kahakitang, Kalama, Bebalang, Batunderang
    Lipaeng, Kawaluso, Kawio, Marore
    Pulau Karakelang serta Salibabu
    Kabaruan, Karatung, Marampit, Miangas.

Label

. Menkeu 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955. 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2010 2011 2013. 2014 A AA abad ke-7 ABC abdul hadi wm ABK Abu Nawas Aceh achdiat k mihardja Adat agama Ahok AI airmadidi Airmadidi. ajaran sesat ajib hamdani Al-Qur'an Alkitab AMBON amsal amurang anak yatim/piatu anak-anak anggaran Angkatan 45 angsuran animal animasi animation Anjab Antasari aplikasi mobile apresiasi sastra Apuse Arab architectur architecture arsitektur artificial intelligence artikel. asal-usul lagu yamko rambe yamko Askes ASN Asrul Sani Astinet asuransi audio audio to text ayu ting ting B Babilonia baca artikel dibayar bahasa Bahasa Belanda bahasa daerah Bahasa Indonesia bahasa kreol Bahasa Portugis bahasa Termate Bahlil Dahadalia bahundak Bait Allah bajak BANJAR bank banten bantuan korea selatan Bapertarum barang dan jasa pemerintah Basuki BATAK batas laut batas usia pensiun. PP BB BBM bersubsidi Bea Cukai beasiswa bekerja dari rumah Belanda bencana bendera beras berita Betlehen biaro Bidat billing bimbo BIODATA BIOGRAFI bisnis bisnis gratis bisnis properti bisnis sampingan Bitung BKD BKN blogger BNI BNN bobbit worm Bolaang Mongondow Bolmut Bolong Bolsel Boltim BPJS BPKB BRI briptu norman kamaru BTN Bu Tahanusang budaya Budaya Kerja budayawan bugil building buku bulan BUMD BUMN bunaken bung karno BUP bupati C Camat CC ccovid-19 cerita rakyat cerpen Chairil Anwar China choir cicilan cincin cinta CIO CIPTA KERJA CIPTAKERJA civil servant classical coconut octopus collorydianisme conference contoh convert copy-paste foto covid-19 CPNS cuti cuti bersama D D.Brilman Dacuda Pocket Scanner daerah daerah otonom baru Dana Sehat DAU denda desa desain detektor logam Dhana Widyatmika Dialek Diklat Kompetensi DIKLAT PIM dirjen dirjen anggaran disiplin diskusi diving DKI doa dogma dokumen dolar domain dongeng download DP3 DPR drama dramatik dramatis personae DRH Driver duasudara dubes duda duit dunia E e-billing e-Gov E-KTP e-voting edaran Edaran Mendagri eigendom ekonomi eksistensialisme eksperimental ekstensi eliezer Ensiklopedi Epifanius erupsi esai eselon extension F f. Kelling facebook Fiery Cross Reef Filsafat fisik foto funny gaji gaji baru PNS gaji baru Polri gaji baru TNI gaji hakim gaji ke-13 Gaji PNS 2013 gaji polri 2011 gaji polri 2013 gaji tni 2011 gaji TNI 2012 gaji tni 2013 galungan Ganefo gangguan kecemasan ganti logo blogger garuda gaya hidup gayus GCIO gelombang gembala gempa generasi Alfa generasi baby boomers generasi diam generasi milenial generasi Z gereja GG Gibran Rakabuming GMIM Golongan Ruang Google Cloud Google drive Google One grafik Gregorian gubernur gunung api Gunung Ruang gunung Salak guru hairy frogfish hakim halmahera HAM hari libur hari raya HB Yassin HB Yassin. HB Yassin HB Yassin. Pusat Dokumentasi hewan Hijriyah Hindu hobby home honorer house hukum hut I Nyoman Nuarta idul fitri II Ijazah Palsu iklan gratis iklan rumah IKN imlek Indihome Indonesia industri Infotek Inggris Injil Inpres instansi pemerintah integritas interior internet Islam israel istana garuda Istana Garuda Ibukota Nusantara Istana Presiden IKN IT ITE ITM jabatan fungsional jabatan pimpinan jabatan struktural jaksa janda JAWA jenderal jiwa Johnson Reef Jokowi jual-beli jual-beli rumah Julian K-1 K-2 KABUPATEN kalabat kalender Kalimantan kampanye kampus Kamus kandang domba kartu kredit karunia KARYA SATYA Kasus kata bijak kata mutiara kata-kata bijak kata-kata hikmat kata-kata mutiara kawasan khusus kawin KBBI KDKMP keamanan KEK Kekayaan kelahiran Yesus kelas keluarga kelurahan Kemen-PU Kemendagri Kemenkeu Kemenkum-HAM Kementrian kenaikan gaji kenaikan pangkat Kepala Daerah Kepdirjen Keppres kepribadian Keputusan Ka BKN keputusan menteri kerajaan kereta jenazah kereta kerajaan kereta pernikah william kerja Kesehatan keuangan Khotbah khotbah. kiamat Kisah Mahabarata KK Klasik Kode Etik koloriadianisme komedi Kominfo konstitusi konversi koor koperasi korpri Korupsi KOTA Kotamobagu koupsi KPCPEN KPK kristen Kritik Sastra kritik seni kue kuliah kunci foto L lagu lagu daerah Lagu Daerah lagu daerah Jawa Timur Lagu daerah Papua Lagu daerah Riau Lagu Daerah Sangihe lagu nasional lagu Papua lambang daerah langganan langowan lapas larangan laut Laut China Selatan lawak lebaran legenda lemang Lembaga Negara lembeh Lembeh Resort Lembeh Strait LG LHKPN libur nasional liburan Likupang lingkungan kerja Lirang lirik lirik lagu Lirik Lagu Daerah litle logo lokon lomba sastra lowongan lucu Lurah M magnitudo mahasiswa mahasiswa baru mahawu makar MALUKU Malut Manado mandarin fish Manganitu manusia marah rusli marga masa Anak-anak masamper masarang Masehi Mawali Mazmur media massa meja Melayu mendagri mengajar menkeu Menpan merah putih MERS Mesir mesjid metal detector Meyer migdal eder mimic octopus Minahas minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara minangkabau Mischief Reef mistik mitos MM mobil bekas mobil jenazah mobil mewah mochtar lubis model money Mongondow monumen moratorium motivasi motivasi hidup Mouse Scanner MPR Mr. Assat Mr. Sjafruddin muhaling Muhammad Musa mutasi nabi NAD nama domain nama etnis nama fam nama klan nama marga nama orang nama suku NARKOBA Nasdem nasi jaha Nasrani natal negara NEWS NII nikah NIP novel Nuklir Nusantara o ina ni keke OMNIBUS LAW oneness Orang Terkaya orde baru outsourcing pada pahlawan padang gembala paduan suara Pajak PAK pakaian adat Pakaian Dinas pandemi Pangdam pangkat PNS pangkat polri pangkat TNI pantai pantekosta pantun papan tulis elekronik papan tulis sekolah PAPUA partitur paskah paypal pdf pegawai pegawai tidak tetap pemerintah pejabat pejabat eselon pejabat pimpinan tinggi pelantikan pelayan khusus Pelindo pemalsuan pembunuhan Pemda Pemerintah pemerintah daerah pemilihan pemukiman pendaki pendeta pendidikan penembakan penerbangan penerimaan CPNS penerimaan pegawai BUMN penipuan Penpres pensiun pensiun pokok pensiunan pentakosta penyair penyaliban penyimpanan Perang Dunia peraturan kepala BKN peraturan menteri Peraturan Pemerintah perda perguruan tinggi perhubungan Peribahasa Periodisasi Perjalanan Dinas Perjanjian Lama perjuangan perkawinan Permen pernikahan william dan kate PERPPU PERPPU 1959 Perpres pers perumahan Perumnas pesawat pidato pigmy seahorse Pilgub DKI Pilkada Pilpres pinjaman plagiat PLN PMK PMK. Menkeu PNBP PNS PNS. Kekayaan poem poetry polisi politik politisi polling polri Portugis postmodernism PP PP 53 PP1998 PP2000 PP2001 PP2002 PP2011 PP2012 CPNS PPATK PPPK Prabowo prabu siliwangi pramugari Presiden RI Presiden SBY pria profesi propinsi proposal prosa protes Provinsi proyek psikiater psikis psikologi PTTP Puisi puisi lama pulau Spratly pulsa PUPNS PUPR purnawirawan Pusat Pusat Dokumentasi R raja ramalan ramayana rapel Rasul Rasul Paulus Ratahan read real estate Rek Ayo Rek rekening rekening gendut remunerasi remunerasi PNS daerah renovasi renungan resensi Retribusi Menara review sastra ribbon eel RIS Rismon Sianipar ritual Rivai Apin roh roman Romawi ROSIHAN ANWAR Roy Suryo rumah rumah kontrakan rumah mewah rumah murah Rumah Sakit rumah sederhana rumah tangga RUU RUU ASN RUU BPJS RUU Tipikor S salary salib sambo sandi sangihe SANGIHE TALAUD SANKSI santo sapaan SARS sastra sastra daerah sastra indonesia sastra online satgas SATYALENCANA Scribd sejarah sejarah Al'Quran sejarah gereja sejarah gereja. Sejarah Sastra Sekda sekolah dasar selingkung Seminar seniman sertifikasi guru server Shukoi siau siber SIM sinagoge Singapura sinopsis sipir siswa Sitaro siti nurbaya SK skala richter sms soeharto Soekarno Soleram Solo Soputan sosialisasi sosiologi Spanyol STAN standar biaya STNK storage stress studi komparasi su domain sub domain Subi Reef sufi Sukhoi suku maya Sulawesi Utara Sulut surat edaran Surat Kepercayaan Gelanggang Sutiyoso syahrini syair T tabel tabel gaji pns 2000 tabel gaji pns 2011 tabel gaji pns 2012 tabel gaji pns 2013 tabel gaji pns 2019 Tabel Gaji Polri 2012 Tabel Gaji Polri 2014 TABEL GAJI TNI 2011 TABEL GAJI TNI 2012 TABEL GAJI TNI 2013 tabel gaji TNI 2014 TABEL LENGKAP GAJI POLRI 2011 tabungan tabut Taguladang tagulandang tahun baru tahuna takhayul talaud tanah Tangkoko TAP MPR Taperum tarian tata bahasa taurat taurat. teater Dian teknologi teks Telekomunikasi Tenaga Ahli terminal Ternate teror TERORIS text to audio The Age the royal wedding TIK tips tni TOKOH tokoh dunia tokoh indonesia tokoh islam tomohon tondano torah tradisi transfer trinitas Try Sutrisno tsunami Tsunami tulude tunjangan TVRI Two Fish U uang UGM UN undang-undang Undang-Undang Pokok Agraria unduh unitarian Unpad Unsrat upacara upacara adat UU UU 1948 UU ASN UU Penerbangan UUD UUDS UUPA V vaksin video video conference video lucu viral virus VOC W wabah waisak wakil presiden wali kota walikota wamen warakawuri wartawan website WHO Wikileaks william shakespeare wisata selam wise word Woody Reef Wuhan Yahudi yamko rambe yamko Yehuda Yerusalam Yesus Yosua Yus Badudu yusuf hamka