Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Agustus 2023

SASAMBO: STRUKTUR, FUNGSI & WAWASAN ESTETIKA

SASAMBO: STRUKTUR, FUNGSI & WAWASAN ESTETIKA
(Perspektif Sosiologi Seni Fenomenologis)

Oleh : Sovian Lawendatu

Sasambo adalah nyanyian-puitis atau juga puisi-nyanyi masyarakat Sangihe dalam arti historis-kultural (Sangihe Besar dan Sitaro). Steller dan Aebersold (1959) menjelaskan, sambo; atau sasambo adalah sejenis himne dan puisi yang unik. Dengan menyebut sasambo sebagai sesamboh, Riedel (1869) mendeskripsikan, bahwa di Kepulauan Sangihḝ sasambo menempati tempat pertama di antara lagu-lagu rakyat; sasambo berisi berbagai ucapan, peribahasa, dan sanjungan, serta curahan hati yang penuh kasih, dan gambaran kehidupan pulau dan laut.

Dalam pembicaraan berikut, khusus tentang fungsi dan wawasan estetika, diletakkan dalam bingkai dunia-kehidupan (lebenswelt) masyarakat Sangihe dahulu kala sebagai masyarakat-genesis sasambo. Ini sesuai dengan perspektif hermeneutik-fenomenologis dalam sosiologi seni yang dibangun oleh Janet Wolff.

 

STRUKTUR DAN FUNGSI 

Sejauh yang teramati pada transkrip Riedel dan transkrip yang lain, sasambo terdiri atas bait-bait yang tidak sama panjangnya. Walaupun demikian, setiap bait sasambo memiliki jumlah larik yang sifatnya genap: 2, 4, 6, 8, 10. 

Dalam pada itu, setiap bait sasambo yang terdiri atas dua larik berbentuk kalimat lengkap atau mengungkapkan gagasan yang bersifat final. Hal yang sama juga berlaku atas setiap dua larik yang terdapat dalam seluruh bait sasambo. Dengan demikian, dapat disarikan, bahwa sasambo terdiri ‘hanya’ atas dua larik per bait.

Bila lebih ditelusuri, sifat genap tersebut juga tampak pada jumlah minimum sukukata dalam setiap larik sasambo. Dalam hal ini, setiap larik sasambo terdiri atas paling sedikit 6 (enam) suku kata. Sifat genap itu paralel dengan kenyataan, bahwa setiap bait sasambo berbentuk kalimat lengkap atau mengungkapkan gagasan yang final. Jadi, terdapat koherensi antara struktur sasambo dengan isinya.

Seperti halnya sasaļamatḝ, sasambo bersifat ritmis. Keritmisan ini terbentuk dari penggunaan majas paralelisme dan repetisi atau anafora dalam rangka strukturisasi sasambo. Sekadar contoh:

Adiung itondo e / itondo e ghumaluhḝ.
Mạtӗntang siagạ / mḝdḝdea bӗke. 

I Andi nitӗbọ biang / nӗtukang tahapӗnggӗlang
Kahiwung Andi nawawa / pinḝsalendang su wobạ.
I Andi nangon duruhang / nangapia tatuwone.
Andi tạ luweng hotene / pӗllọ mḝbawialane.
I Andi timanata / ariwe karoḷong balang. 

Mangasang baḷiung munde-munde/ patụ-patụ i Tamundugḝ.
ipanuwang kalu lawẹ / kalu angkusu wanua.
Tiupoteng anging bahẹ / lapidoten suwụ-suwụ.

Salah satu medium penstrukturan majas paralelisme dan anafora dalam sasambo adalah kata Sangihḝ jenis sasahara. Secara sosiolinguistik-fenomenologis, sasahara merupakan bahasa yang berdaya gaib, sebab menurut Adriani (1893), sasahara adalah bahasa rahasia yang digunakan di laut untuk mencegah roh-roh mendengar dan mengganggu rencana para pelaut. Selain itu, tulis Brilman, sasahara juga digunakan dalam puisi untuk keperluan yang sama. Alhasil, dengan kata-kata sasahara, sasambo berfungsi sebagai sarana penolak tulah yang berasal dari roh-roh dan setan-setan.

Sasambo memang mengekspresikan sikap religius masyarakat Sangihḝ dahulu kala, sebagaimana tersirat dalam keberadaan sasambo raralo (sasambo pujian) dan sasambo kakaļiomaneng (=sasambo doa-permohonan). Sasambo juga mengusung nilai kebijaksanaan hidup manusia dan masyarakat Sangihḝ tentang pentingnya berpikir sebelum bertindak, “Diọko kaiang pḝsipirḝ, kaintoḷang pḝtinӗna” (hendaklah duduk berpikir, duduk berpikir), termasuk peringatan akan ekses buruk dari pengabaian terhadap kebijaksanaan hidup tersebut, “Bӗgang tiringang u alang, kanoakeng u dunia” (tidak tahu diputar dunia, dipermainkan oleh dunia). Sasambo juga mengandung nasihat tentang pentingnya membangun kehidupan bersama yang harmonis dengan cara harmoni pula, “Adiung itondo e, itondo e ghumaluhḝ // Mạtӗntang siagạ, mḝdḝdea bӗke.” Sasambo pun bernilai rekreatif dengan candaan dan sindirannya: “pirua i Arubeka, nitӗntang su sasangitang // baḷinẹ i Arubeka, simahe tạdarurune” (Kasihan si Arubeka, ditinggal dalam kemenangisan // bukan si Arubeka, (yang) liwat tak berbau). Walaupun demikian, dengan penggunaan kata-kata sasahara, maka nilai-nilai religiusitas, kearifan dan kerekreatifan hidup yang tersirat dalam sasambo tidak terlepas dari dunia-kehidupan (lebenswelt) magi yang bermuara pada motif penyelamatan diri masyarakat Sangihḝ dahulu kala dari kuasa jahat jiwa-jiwa, roh-roh dan setan-setan. 

Motif (religio-) magis lebih mencolok pada eksistensi sasambo tatelore, sebab sasambo jenis ini bertujuan untuk mencemarkan nama baik. Motif magis itu bahkan lebih mencolok pada sasambo jenis lagung kapirḝ (lagu kafir’). Pasalnya, sasambo ini dipercaya bermuatan daya gaib mematikan dan digunakan untuk ‘perang magis’ antar- kelompok tahapḝsambo (orang yang mahir menembangkan sasambo).

SASAMBO SEBAGAI TRADISI MEBAWALASE

Sasambo tidak selalu dinyanyikan secara berbalasan. Ada kebiasaan mesambo (menyanyikan sasambo) secara individual, dengan atau tanpa iringan tagonggong. Buktinya, nelayan yang sendirian di laut pada larut malam mengumandangkan sasambo dengan suaranya yang tinggi resik, lewat permukaan laut (Brilman, 1938). Di kampung penulis pada tahun 1980-an, seorang lelaki memiliki kebiasaan mesambo secara sendirian; itu biasa dilakukannya pada malam hari dengan iringan tagonggong yang ditabuhnya sendiri. 

Aktivitas mḝsambo pada saat pengusungan tamong banua (tamo banua) dalam rangka upacara menebang tamo pun tidak dilakukan secara berbalasan. Namun, menurut kebiasaan umum masyarakat Sangihḝ, sasambo dinyanyikan secara berbalasan dengan iringan tagonggong yang ditabuh oleh para penyanyi itu sendiri.

Riedel mencatat bahwa sasambo dinyanyikan di ladang, di perahu, dan di acara-acara pesta dengan iringan tagonggong. Tentang tradisi berbalas sasambo, Brilman mencatat, “Juga pada pelayaran berdayung yang panjang orang saling merangsang melalui bernyanyi. Kebiasaan yang sama juga terjadi tatkala para nelayan Sangihḝ melakukan perjalanan pulang dari ‘melaut’; mereka menyanyikan sasambo secara berbalasan sambil menabuh badan perahu sebagai pengganti tagonggong; suatu kebiasaan mesambo yang kemudian melahirkan jargon sasambo duruhang. Jelaslah, tradisi mesambo secara berbalasan dilakoni dalam berbagai ragam situasi kehidupan masyarakat Sangihḝ.

Dengan karakternya yang berbalasan, semua ragam tradisi mḝsambo dalam kehidupan masyarakat Sangihḝ dapat dinamai dengan kata “mebawalase”, sebab kata mebawalase secara literal berarti “berbalasan” atau “saling membalas”. Namun, mengikuti penjelasan Steller dan Aebersold, nama “mebawalase” telah diberi arti khusus, yakni tradisi berbalas nyanyian sasambo dalam acara-acara pesta, seperti perkawinan dan Tulude atau Saliwang u Wanua.

JENIS-JENIS SASAMBO

 Di Sangihḝ Besar, tradisi Mḝbawalasḝ biasanya bermaterikan sasambo jenis lagung bawine, lagung balang, lagung sondạ, dan lagung sasahola. Di Siau, seperti yang dilansir oleh Riedel, tradisi Mḝbawalasḝ menggunakan tiga jenis sasambo yang bernama sambo nu esẹ (‘sasambo untuk laki-laki’), samboh nu bawine (‘sasambo untuk perempuan’), dan sambo nu oļị (‘sasambo untuk musik oļi).

Steller dan Aebersold menyebut tiga jenis sasambo, yakni sasambo tatelore (sasambo untuk pencemaran nama baik), sasambo raralo (sasambo pujian), dan sasambo kakaļiomaneng (=sasambo doa-permohonan). Ketiga jenis sasambo ini relevan dengan semua klasifikasi sasambo menurut jenis ketukan tagonggong; sebab ketiga jenis sasambo ini lahir dari klasifikasi yang berlandaskan dunia-kehidupan (lebenswelt) atau nilai-nilai sosiokultural masyarakat Sangihe.

WAWASAN ESTETIKA TRADISI BERBALAS SASAMBO

Hakikat tradisi Mebawalase (Berbalas Sasambo) terangkum dalam ungkapan “mepapate wisara”. Secara literal, ungkapan ini bermakna ‘bakubunuh bicara’. Secara konseptual, idiom ini menggambarkan, bahwa tradisi Berbalas Sasambo bukan sekadar aktivitas berbalas nyanyian sasambo, melainkan terutama merupakan aktivitas ‘saling mematahkan gagasan’ atau semacam debat melalui syair sasambo. Dengan demikian, nilai estetika dalam tradisi ini terletak pada aspek kemampuan mepapate wisara (mematahkan gagasan).

Mepapate wisara merupakan manifestasi kemampuan leluhur masyarakat Sangihḝ dalam bersastra, sekaligus sebagai wawasan estetika tradisi Mebawalase. Pasalnya, dengan mḝpapate wisara, kedua kelompok penyanyi dalam tradisi ini terlibat dalam ‘duel kata-kata’, sementara puncak nilai keindahan ‘duel’ ini terletak pada kemampuan mematahkan gagasan lawan bicara. keduanya berlomba untuk mencapai kemenangan, sebagai ‘puncak gunung’ keindahan, dengan jalan nakapate wisara (‘berhasil mematahkan gagasan’). 

Wawasan estetika ini tentu saja bertabiat religio-magis, sesuai dengan eksistensi kata-kata sasahara sebagai medium pengekspresian sasambo dalam tradisi Mebawalase. Tabiat religio-magis itu lebih mengemuka lagi dengan penggunaan sasambo kapire dan sasambo tatelore dalam tradisi Mebawalase. Masalahnya, kedua jenis sasambo ini dianggap memiliki daya magis yang mematikan. 

Dalam praktik tradisi Mebawalase pada zaman dahulu, ada kematian yang dipandang sebagai akibat serangan daya magis dari kedua jenis sasambo tersebut. Di titik ini, wawasan estetika mḝpapate wisara berubah menjadi sadisme mepapate taumata (saling membunuh manusia). Betapapun juga, seperti yang dinyatakan oleh Brilman (1938). sadis-isme (kesenangan berbuat jahat) dengan daya magis memang nyata-ada dalam kehidupan masyarakat yang belum menerima pencerahan (enlightenment; aufklärung) dengan nilai-nilai etika universal.

MEPAPATE WISARA DAN PEPATAH MELAYU

Sekilas saja, mepapate wisara dalam tradisi Berbalas Sasambo sama dengan pepatah dalam dunia sastra Melayu. Keduanya memang memiliki persamaan; keduanya sama-sama mengandung unsur nasihat dan sindiran. Namun, cakupan makna mepapate wisara lebih luas daripada pepatah, sebab mḝpapate wisara mengandung unsur gagasan atau motif-motif yang justru tidak ada dalam pepatah. Motif-motif yang dimaksud antara lain menoe (memuji dengan maksud menjatuhkan), medarendehe (saling membantah), dan mepapangabase (saling mengejek dan menantang dengan nada membual dan menyombongkan diri). 
Motif-motif tersebut diekspresikan dan ditafsirkan melalui lirik-lirik sasambo, baik dalam wujud kata, frase, larik, maupun bait.

Perbedaan mepapate wisara dengan pepatah juga mencolok dari aspek komunikasi. Mepapate wisara bersifat dialogis, bahkan debatis. Dengan kedialogisannya, mepapate wisara ditandai dengan dinamika pertukaran posisi antara komunikator (communicator) dengan komunikan (communicant). 

Dalam hal ini, nasihat, misalnya, bisa dibalas dengan nasihat, sehingga terjadi proses saling menasihati. Dengan kedebatisannya, mepapate wisara memungkinkan terciptanya proses adu argumen, meski argumen-argumen itu hanya sekelas bualan. Di pihak lain, seperti yang berlangsung dalam pidato-pidato Melayu, pepatah bersifat ‘searah’ (monologis).

SASAMBO DAN MASAMPER

Sasambo memengaruhi perkembangan Masamper. Pengaruh sasambo itu butuh ruang pembicaraan tersendiri. 
Tapi sekadar gambaran, pengaruh tradisi sasambo itu nyata dengan penggunaan nama mebawalase untuk Masamper.### 

Catatan:
Gambar hanya penghias postingan😇🤠

Rabu, 02 Agustus 2023

Puisiku: Memento Mori

Memento mori

Lahir untuk mati
Menyusu bukan untuk hidup
Kau merangkak untuk belajar mati
Sarapan bubur pun bukan untuk hidup

Belajarlah bertatih biar kau siap mati
Melangkah dalam derap sepi sekalipun
Karena besok itu hanya sebentar
Selanjutnya mati

Bekerjalah berdasar hati 
Menuntun jiwa ke ujung hayat
Karena ujung hayat adalah mati
Dengan hasrat firdaus atau pusara jiwa

Belajarlah menilai kasih
Membagi remah kepada sesama
Karena hidup ujungnya maut
Tanpa apa dipanggil pergi
 
Jangan bangga kekar cantikmu
Tak kau tahu besok hidup atau mati
Jangan pongah hartamu segudang
Tak kau tahu, malam nanti mati

Tunduklah ke sesama tanpa menanduk
Karena dongak bukan pengunci mati
Kecuali penggegas maut.

 
Bitung, Awal Agustus 2023




Minggu, 21 Agustus 2022

PUISIKU: Bintang Bunga Rerumputan

bintang-bintang itu berjatuhan
sebelum kiamat menjemput
bunga-bunga layu dan gugur
bumi gunjang-ganjing
kala lahat basah menghembus bau dosa

bintang-bintang berjatuhan
kena tembak-tembakan lancung
bunga-bunga layu dan gugur
diterpa panas mesiu tuan dan budak
di laman pondok duren

bintang dan bunga gugur
menimpa rerumputan tak bernyali
menepis hempasan, hanya kejut pilu
suara tangis lancung jua terdengar
di kala langit menggelegar dengan perintah
tebang pohon sang kaisar sampai akar

bintang jatuh bunga gugur
anak-anak dan isteri mencoba berdiri
berlari tapi tak kuat terjerat onak, perih

Bitung, 21 Agustus 2022

Sem Muhaling









Kamis, 28 April 2022

Puisi: Aku

Aku, adalah aku
Aku, takkan beralih kau
Aku, diriku jazad
Aku, takkan kau poles
Aku, jadi aku selamanya

Aku adalah tujuan
Aku adalah hajat
Aku adalah nafas
Aku adalah geliat
Aku adalah kerja
Aku adalah doa
Aku adalah nyanyi sunyi

Aku takkan terjual dan dijual
Aku takkan tergadai dan digadai
Aku takkan minggat
karena
aku
di
sini
dalam
diri
selamanya.

Hari puisi Nasional 2022
Semuel Muhaling

Jumat, 26 Maret 2021

Sem Muhaling ‘Penyair Masamper’

 

Oleh: Sovian Lawendatu

Sesudah menerbitkan sajak-sajaknya dalam buku antologi sajak “Sasambo” (1991), penyair Sem Muhaling tidak kelihatan lagi batang hidungnya di dunia publikasi sastra. Banyak rekan penyair menyana bahwa kepenyairan Sem telah impoten. Atau bahwa kepenyairan Sem sudah berpulang ke alam fana sebelum dirinya kelak berpulang ke alam baka.
Nyanaan itu untuk kurun waktu tertentu tidak salah. Penyair Sem tampak tenggelam ke dalam rawa payah rutinitas selaku birokrat.
Syukurlah, meski tidak sederas dahulu, penyair ini belakangan berproduksi lagi. Malahan, atas ‘tantangan’ seorang Leonardo Axsel Galatang, kami bertiga pada tahun ini akan menerbitkan buku antologi cerpen yang pernah kami tulis pada sekitar 30an tahun silam – semogalah rencana ‘melangit’ ini terwujud paling lambat tanggal 31 Desember tahun ini – he… he…he…
Sajak-sajak yang dibuat oleh penyair Sem pada waktu belakangan cenderung masih memperlihatkan gaya (style) khas kepenyairannya seperti yang tersuguh dalam buku antologi “Sasambo”. Itulah gaya improvisatoris, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Kamajaya Al. Katuuk dalam ulasannya yang dipublikasikan di harian Manado Post menyambut kehadiran buku antologi ‘patungan’ tersebut. Penyair Sem dalam hal ini memanfaatkan sifat lentur kata-kata untuk keperluan repetisi dan ‘permainan bunyi’. Jika Kamajaya mengilustrasikan ciri kepenyairan Sem ini dengan ‘lagu dolanan anak-anak’, maka dengan maksud yang sama, saya mengilustrasikan ciri kepenyairan yang demikian dengan teknik menyanyi dalam tradisi Masamper. Dengan gaya kepenyairan yang demikian, sajak Sem menjadi ritmis. Nikmati saja sajaknya yang melukiskan ‘kelakuan’ roh-roh yang bertentangan tabiat.
Ruh hitam ruh putih, ruh hitam ruh putih
di sini ruh kelabu makan bimbang makan bimbang

ruh hitam makan nista makan dusta
ruh putih makan cinta makan rasa

ruh kelabu menggelantung di awan
tak turun tak naik 

di manakah engkau ruh-ruh leluhur ruh-ruh moyang
di manakah engkau ruh-ruh buyut ruh-ruh pewaris

jangan bimbang
lepas timbang
jangan tumbang
sebelum rembang

datang sini datang mari
ruh putih ruh suci
peluk kami peluk pewaris
biar nyanyi dalam nirwana

datang sini datang mari
ruh putih ruh suci
rasuk kalbu rasuk pikir
biar angkara lepas diri
 
(Album SATAS / NUSA UTARA, 23 Februari 2014)

Untuk bait-bait sajak yang terdiri atas empat larik yang berukuran pendek (dihitung dari jumlah sukukata!), maka gaya improvisatoris Sem itu membuat sajaknya mirip karmina (pantun kilat). Perbandingannya dapat dilihat lewat contoh berikut. 

jangan bimbang
lepas timbang
jangan tumbang
sebelum rembang.

gendang gendut
tali kecapi
kenyang perut
senang hati

(Karmina)

Sementara untuk bait-bait sajak yang terdiri atas empat larik yang berukuran relatif panjang (delapan sampai dua belas sukukata), maka gaya kepenyairan yang demikian membuat sajak Sem menyerupai pantun seumumnya. Perbedaannya, sajak Sem tidak mengedepankan rima akhir sebagaimana yang menjadi formula pantun (a-b-a-b). Perhatikan juga sajaknya yang berjudul “Kecubung”.

Mekar lembayung kecubung
dipercik embun langit pelangi
kala angin menghembus ke utara
terbangkan wewangi mimpi tua
senyum pagi ucapkan doa:
selamat pagi pelangiku
Mekar kecubung pulau doa
tebarkan putik, janjikan rasa
ketika laut biru singkatkan langkah
menghitung tapak seribu riak
padamu kecubung
mabukkan jantung merah
pelangi kota bising.
 
(Album SATAS / NUSA UTARA, 30 Juni 2014)
Dalam gamitan dengan Masamper, maka perbandingan bentuk sajak-sajak Sem dengan pantun adalah hal niscaya. Pasalnya, dari sisi lirik lagunya, Masamper memang berbentuk pantun atau campuran antara pantun dan syair. Ini misalnya dibuktikan dengan lagu Masamper “Di Pantai Enemawira”
 
Di pantai Enemawira
kududuk dengan murung
mengenangkan si saudara
sepri burung terkurung

Ke utara peperangan
ke selatan dilarangan
hati mana boleh tahan
sindiran kiri kanan
 
(Catatan : Bait pertama lagu ini berbentuk pantun sedangkan bait keduanya, yang nota bene bersifat refrain, berbentuk syair)

Kemudian, sehubungan dengan teknik improvisatoris dalam menyanyikan lagu-lagu Masamper, maka teknik tersebut dapat digambarkan antara lain sebagai berikut.
Di pantai (di pantai) Enemawira
kududuk (kududuk) dengan murung
mengenang… (mengenang…) –kan si saudara
sepri bu… (sepri bu…) – rung terkurung.
 
Kiranya perlu dijelaskan bahwa dalam ber-masamper, kata-kata yang dikurung merupakan wujud improvisasi. Sering improvisasinya lebih rancak; satu kata dinyanyikan secara beruntun.

Di pantai (di pantai di pantai) Enemawira
(Kududuk kududuk kududuk kududuk) Kududuk
(kududuk kududuk) dengan murung
(mengenangkan mengenangkan) mengenang…
(mengenang mengenang) –kan si saudara
(sepri burung sepri burung) sepri bu…
(sepri burung sepri bu) –rung terkurung.
 
Gaya improvisatoris penyair Sem sedikit banyak mencuat juga dalam sajaknya yang berikut.
NEGERIKU MENYULAM SEJARAH

Negeri ini sedang menyulam sejarah untuk generasi mendatang
Sulaman penuh benang-benang kusut dan kotor
benang-benang kotor yang dipungut dari lumpur reformasi
benang-benang kusut yang ditarik dari inkonsistensi hukum
Negeri ini sedang menyulam sejarah kakek-nenek untuk cucu
sejarah yang penuh cerita horor dan teror politik
horor karena ceritanya menyeramkan
teror karena perilaku saling menakut-nakuti
katanya negeri ini nanti jadi komunis
katanya negeri ini nanti jadi fasis
katanya negeri ini nanti jadi orde baru jilid 2
katanya negeri ini nanti jadi boneka negeri seberang
katanya negeri ini nanti jadi negeri syariah
katanya negeri ini nanti jadi negeri kafir
katanya negeri ini nanti jadi apa?
Negeri ini sedang menyulam sejarah colak hitam dan kelabu
ketika benang-benang putih disirami lumpur-lumpur lebam
hitamnya caci dan nista
kelabunya pandangan insan
putihnya generasi pewaris
Negeri ini sedang menyulam sejarah penuh borok
borok politisi dan bisul-bisul rakyat jelata
menjadi epidemi kronis 
 
(Album SATAS / NUSA UTARA, 1 Juli 2014)

Kamajaya memahami gaya improvisatoris Sem itu sebagai pengaruh gaya persajakan Sutardji Calzoum Bachri. Kamajaya sehemat saya tepat dengan pemahamannya tersebut. Welakinpun demikian, saya lebih suka memahaminya dari sisi ‘Masamper’, supaya kepenyairan Sem mendapat semacam akar pada tradisi kultural moyangnya. Maklum, Sem juga gemar ber-masamper, bahkan dengan moto “siang kalau siang”. ***

Bitung, 5 Juli 2017

Rabu, 15 April 2020

Puisiku: Revolusi ala Kampret

REVOLUSI ALA KAMPRET 


revolusi ini revolusi kampret
dunia serba terbalik
revolusi ini revolusi kemanusiaan
dari kampret ke manusia

kampret memandang manusia terbalik
manusia memandang kampret terbalik
maka kampret jadikan manusia terbalik
kampret pun diserang balik: "gara-gara kau!"

ingin kujenguk batin kampret telusur dunianya
sayang tak ada wahana tumpangan
karena jalan lagi kena PSBB
dan kota lagi lockdown

kampret datang menjenguk manusia
menyusuri cerita alih fungsi hakikatnya
kala covid-19 lawat dunia
ada revolusi ala kampret di sini, di bumi ini

dunia jungkir balik:
komunal ke individual
kecongkakan ke idiot
adikuasa ke lunglai
kecongkakan agama ke gamang
bersatu ke bercerai
rindu ke benci
jabatan ke namaste
komunitas ke individualitas
satu mimbar ke sejuta mimbar
jenuh rumah kehome sweet home
ramai ke sepipekerja ke penganggur

pengangguran jadi berharga
bekerja jadi momok

topeng jadi wajah
wajah jadi ancaman
sakit jadi aib
kematian jadi auman singa
rumah jadi kantor, jadi sekolah
jadi masjid, gereja, pura, vihara, kelenteng
perjumpaan jadi bencana

penganggur jadi direktur dapat upah ala bansos


Covid kampret bawa revolusi di sini

namun Tuhan tak bisa be-revolusi jadi hantu.


                                              Bitung, 15 April 2020
                                              Dalam renung bencana Covid-19

Rabu, 25 Juli 2018

PUISIKU: NAPAK TILAS APENG BIRA

I. 2000
mengenangmu apeng bira
di jejak awal kutulis janji di awan
sutra cinta ditenun ulat di rindang bakau
jejak hati dilukis seribu geleteng di alas pasir putih
dan cekikikan disiulkan angin laut
jadi simfoni untuk masa depan

II. 2011
di jejak kedua, ada canda tawa
buah-buah kehidupan
bergerombol main bola-bola pasir
berteriak dalam perang debur ombak
memotret buah-buah jejak pertama
berkeringat air laut pantai bergilamu
ketika pulang, kukemas selaksa rindu


III. 2018
di jejak ketiga, dengan tongkat rizki
kujejali landai punggungmu
meresapi amis nyare dan padang lamun
kucium bau desa nelayan somba
kucium wangi lemparan umpan komang
kucoba membeo nyanyian nelayan dondohang di atas batu hitam
mimpikan goropa dan bobara menyalami selamat datang
tapi kudilupakan sebagai anak tuan tanah
kuterhempas ke cadas kelam
kokohku linglung mencium amis air tanjung bebatuan
buah-buah kehidupanku melempariku bahak lugunya
tanpa tahu babak akhir kisah
ada di meja bedah
dr. wahyu slamet.

#edisiliburan3masa

                                          Bitung, Juli 2018

Pantai Apeng Bira pulau Tagulandang Kab. Kep. Sitaro

Kamis, 06 Juli 2017

Sem Muhaling ‘Penyair Masamper’

Oleh Sovian Lawendatu

Sesudah menerbitkan sajak-sajaknya dalam buku antologi sajak “Sasambo” (1991), penyair Sem Muhaling tidak kelihatan lagi batang hidungnya di dunia publikasi sastra. Banyak rekan penyair menyana bahwa kepenyairan Sem telah impoten. Atau bahwa kepenyairan Sem sudah berpulang ke alam fana sebelum dirinya kelak berpulang ke alam baka.

Nyanaan itu untuk kurun waktu tertentu tidak salah. Penyair Sem tampak tenggelam ke dalam rawa payah rutinitas selaku birokrat.

Syukurlah, meski tidak lagi sederas dahulu, Sem belakangan berproduksi lagi sebagai penyair. Malahan, atas ‘tantangan’ seorang Leonardo Axsel Galatang, kami bertiga pada tahun ini akan menerbitkan buku antologi cerpen yang pernah kami tulis pada sekitar 30an tahun silam – semogalah rencana ‘melangit’ ini terwujud paling lambat tanggal 31 Desember tahun ini – he… he…he…

Sajak-sajak yang dibuat oleh penyair Sem pada waktu belakangan cenderung masih memperlihatkan gaya (style) khas kepenyairannya seperti yang tersuguh dalam buku antologi “Sasambo”. Itulah gaya improvisatoris, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Kamajaya Al. Katuuk dalam ulasannya yang dipublikasikan di harian Manado Post menyambut kehadiran buku antologi ‘patungan’ tersebut. Penyair Sem dalam hal ini memanfaatkan sifat lentur kata-kata untuk keperluan repetisi dan ‘permainan bunyi’. Jika Kamajaya mengilustrasikan ciri kepenyairan Sem ini dengan ‘lagu dolanan anak-anak’, maka dengan maksud yang sama, saya mengilustrasikan ciri kepenyairan yang demikian dengan teknik menyanyi dalam tradisi Masamper. Dengan gaya kepenyairan yang demikian, sajak Sem menjadi ritmis. Nikmati saja sajaknya yang melukiskan ‘kelakuan’ roh-roh yang bertentangan tabiat.

Ruh hitam ruh putih, ruh hitam ruh putih
di sini ruh kelabu makan bimbang makan bimbang

ruh hitam makan nista makan dusta
ruh putih makan cinta makan rasa

ruh kelabu menggelantung di awan
tak turun tak naik

di manakah engkau ruh-ruh leluhur ruh-ruh moyang
di manakah engkau ruh-ruh buyut ruh-ruh pewaris

jangan bimbang
lepas timbang
jangan tumbang
sebelum rembang

datang sini datang mari
ruh putih ruh suci
peluk kami peluk pewaris
biar nyanyi dalam nirwana

datang sini datang mari
ruh putih ruh suci
rasuk kalbu rasuk pikir
biar angkara lepas diri

(Album SATAS / NUSA UTARA, 23 Februari 2014)

Untuk bait-bait sajak yang terdiri atas empat larik yang berukuran pendek (dihitung dari jumlah sukukata!), maka gaya improvisatoris Sem itu membuat sajaknya mirip karmina (pantun kilat). Perbandingannya dapat dilihat lewat contoh berikut.

jangan bimbang
lepas timbang
jangan tumbang
sebelum rembang.

gendang gendut
tali kecapi
kenyang perut
senang hati

(Karmina)

Sementara untuk bait-bait sajak yang terdiri atas empat larik yang berukuran relatif panjang (delapan sampai dua belas sukukata), maka gaya kepenyairan yang demikian membuat sajak Sem menyerupai pantun seumumnya. Perbedaannya, sajak Sem tidak mengedepankan rima akhir sebagaimana yang menjadi formula pantun (a-b-a-b). Perhatikan juga sajaknya yang berjudul “Kecubung”.

Mekar lembayung kecubung
dipercik embun langit pelangi
kala angin menghembus ke utara
terbangkan wewangi mimpi tua

senyum pagi ucapkan doa:
selamat pagi pelangiku

Mekar kecubung pulau doa
tebarkan putik, janjikan rasa
ketika laut biru singkatkan langkah
menghitung tapak seribu riak

padamu kecubung
mabukkan jantung merah
pelangi kota bising.

(Album SATAS / NUSA UTARA, 30 Juni 2014)

Dalam gamitan dengan Masamper, maka perbandingan bentuk sajak-sajak Sem dengan pantun adalah hal niscaya. Pasalnya, dari sisi lirik lagunya, Masamper memang berbentuk pantun atau campuran antara pantun dan syair. Ini misalnya dibuktikan dengan lagu Masamper “Di Pantai Enemawira”

Di pantai Enemawira
kududuk dengan murung
mengenangkan si saudara
sepri burung terkurung

Ke utara peperangan
ke selatan dilarangan
hati mana boleh tahan
sindiran kiri kanan

(Catatan : Bait pertama lagu ini berbentuk pantun sedangkan bait keduanya, yang nota bene bersifat refrain, berbentuk syair)

Kemudian, sehubungan dengan teknik improvisatoris dalam menyanyikan lagu-lagu Masamper, maka teknik tersebut dapat digambarkan antara lain sebagai berikut.

Di pantai (di pantai) Enemawira
kududuk (kududuk) dengan murung
mengenang… (mengenang…) –kan si saudara
sepri bu… (sepri bu…) – rung terkurung.

Kiranya perlu dijelaskan bahwa dalam ber-masamper, kata-kata yang dikurung merupakan wujud improvisasi dengan tempo yang sesuai dengan birama lagu tersebut, yakni 6/8. Akan tetapi sering juga improvisasinya melampaui tempo yang dimaksud, sehingga lagu tersebut dinyanyikan sebagai berikut.

Di pantai (di pantai di pantai) Enemawira
(Kududuk kududuk kududuk kududuk) Kududuk
(kududuk kududuk) dengan murung
(mengenangkan mengenangkan) mengenang…
(mengenang mengenang) –kan si saudara
(sepri burung sepri burung) sepri bu…
(sepri burung sepri bu) –rung terkurung.

Gaya improvisatoris penyair Sem sedikit banyak mencuat juga dalam sajaknya yang berikut.

NEGERIKU MENYULAM SEJARAH

Negeri ini sedang menyulam sejarah untuk generasi mendatang
Sulaman penuh benang-benang kusut dan kotor
benang-benang kotor yang dipungut dari lumpur reformasi
benang-benang kusut yang ditarik dari inkonsistensi hukum

Negeri ini sedang menyulam sejarah kakek-nenek untuk cucu
sejarah yang penuh cerita horor dan teror politik
horor karena ceritanya menyeramkan
teror karena perilaku saling menakut-nakuti
katanya negeri ini nanti jadi komunis
katanya negeri ini nanti jadi fasis
katanya negeri ini nanti jadi orde baru jilid 2
katanya negeri ini nanti jadi boneka negeri seberang
katanya negeri ini nanti jadi negeri syariah
katanya negeri ini nanti jadi negeri kafir
katanya negeri ini nanti jadi apa?

Negeri ini sedang menyulam sejarah colak hitam dan kelabu
ketika benang-benang putih disirami lumpur-lumpur lebam
hitamnya caci dan nista
kelabunya pandangan insan
putihnya generasi pewaris

Negeri ini sedang menyulam sejarah penuh borok
borok politisi dan bisul-bisul rakyat jelata
menjadi epidemi kronis

(Album SATAS / NUSA UTARA, 1 Juli 2014)

Kamajaya memahami gaya improvisatoris Sem itu sebagai pengaruh gaya persajakan Sutardji Calzoum Bachri. Kamajaya sehemat saya tepat dengan pemahamannya tersebut. Welakinpun demikian, saya lebih suka memahaminya dari sisi ‘Masamper’, supaya kepenyairan Sem mendapat semacam akar pada tradisi kultural moyangnya. Maklum, Sem juga gemar ber-masamper, bahkan dengan prinsip “siang kalau siang”. ***

Bitung, 5 Juli 2017


Senin, 05 Juni 2017

Duka Penyair Sulut



Prosesi sastrawi pemakaman seniman Sulut almarhum Richard Remrev.

Selasa, 05 April 2016

Pitres Sombowadile & Budaya Moyangnya

Pitres Sombowadile & Budaya Moyangnya
 
Oleh : Sovian Lawendatu

Dari sekian banyak sajak Pitres Sombowadile yang tercantum dalam buku antologi “Sasambo” (1991), ada satu yang relevan untuk dibicarakan dalam konteks pembicaraan tentang hubungan penyajak dengan budaya moyangnya atau sub-etnisnya. Maksud saya adalah “Bandar”.

Pada ‘beberapa waktu lalu’ Kota Manado digemparkan oleh aksi demonstrasi massa mahasiswa asal Sangihe Talaud yang memprotes rencana pemindahan (relokasi) Pelabuhan Manado. Sebab, kebijakan pemerintah itu secara ekonomi dipandang akan menyusahkan masyarakat Sangihe Talaud, termasuk para demonstran, sebagai pihak yang berkepentingan dengan pelabuhan itu.

Saya tidak tahu apakah Pitres turut serta dalam aksi demonstrasi itu? Ataukah dia mungkin termasuk ‘ki dalang’nya? Yang jelas, sikap dan pandangan massa demonstran itu memengaruhi penulisan sajak “Bandar”. Malahan, Pitres pun memandang bahwa rencana pemindahan Pelabuhan Manado itu merupakan sebentuk penindasan terhadap masyarakat Sangihe Talaud.

Sebagai penyajak, Pitres meleputkan pandangannya tadi secara puitis. Ia menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita rakyat Sangihe, seperti “Bakeng” (raksasa pemangsa) dan “Nangingbulaeng” (gadis). Dalam sajak “Bandar”, tokoh “Bakeng” digunakan sebagai gambaran simbolis penguasa yang menindas masyarakat Sangihe Talaud. Sedangkan tokoh “Nangingbulaeng” digunakan sebagai gambaran simbolis masyarakat Sangihe Talaud yang tertindas oleh penguasa.

Selain memanfaatkan kekayaan kultur moyangnya, Pitres juga memanfaatkan fakta-fakta kesejarahan masyarakat Sangihe Talaud, baik yang berkenaan dengan kehadiran manusia-manusia jahat, maupun yang berkenaan dengan penjajahan Belanda. Demikianlah, dalam sajak ini, Pitres menampilkan sosok-sosok jahat yang bernama Batairo, Mangaia, Panggelawang, dan Mangindano (gerombolan perompak dari Mindanao Selatan), bahkan Padtbrugge (Gubernur Maluku, Hindia Belanda), yang wilayah kekuasaannya meliputi Sangihe Talaud. Sosok-sosok jahat ini ditampilkan guna pencitraan kejahatan penguasa terhadap masyarakat Sangihe Talaud dalam konteks agenda relokasi pelabuhan tersebut.

BANDAR
Di Pelabuhan Manado

bagaimana aku bicara anggur dan mawar
ketika Bakeng memasung Nangingbulaeng
bandar ini dikencingi Batairo
cinta dikhianati
laut rumah kita dinodai.

di pelabuhan tinggal sesal
Mangaia keruk kali Jengki
buat seribu jurang
Panggelawang meniti jembatan Megawati
uji seribu riskan

katakan pada Madunde
sembilan Madonna urung mandi
bandar telah dirampok.

Minggir! Mangindano hendak gelar pesta
domba-domba terperas tinggalkan gubuk
terbantai berkali.

nyanyian duka Sasambo
turun dari ladang ketela ke daseng
tuan Santiago lihat Padtbrugge datang
bawa surat rampasan
selamatkan negeri!

Sampai pada pembicaraan di atas, kiranya jelas, bahwa penyajak Pitres memang mempunyai pengetahuan yang kaya akan budaya dan sejarah kehidupan leluhurnya. Kompetensi intelektual ini, yang sejatinya merupakan salah satu sendi kedigdayaan penyajak, dimungkinkan oleh ‘kesuntukan’ Pitres dalam berotodidak.

Kamajaya Al. Katuuk, dalam tulisan kritisnya terhadap buku antologi sajak “Sasambo”, mengembel-embeli Pitres (dan Sovian Lawendatu) sebagai penyajak yang “kuat mengolah kata”. Mengenai ini Kamajaya menjelaskan bahwa kekuatan mengolah kata ditandai dengan kemampuan Pitres menggunakan kata-kata sebagai pemadat sajaknya. Itu sebabnya, Kamajaya mengategorikan Pitres sebagai penyajak yang cenderung kontemplatif.

Ikhwal kekuatan kepenyajakan Pitres tersebut buat saya ‘terpenuhi’ pula dalam sajak “Bandar”. Sajak ini mematutkan keberadaannya sebagai sebuah renungan, sebuah kontemplasi tentang kehidupan.

KAMAJAYA AL. KATUUK & BUDAYA MOYANGNYA

(Dari Penghayatan Pandangan Dunia Jawa Kejawen hingga Dekonstruksi Legenda Minahasa)

Oleh: Sovian Lawendatu

Dari nama ‘awal’ dan ‘akhir’nya saja, Kamajaya dan Katuuk, sudah jelas penyajak ini memiliki dua latar budaya yang berbeda: Kejawen dan Minahasa. Apa pula lewat sajak-sajaknya. Memang untuk kepentingan kreativitasnya, Kamajaya memanfaatkan produk kedua budaya moyangnya itu.

Produk budaya Kejawen (baca: Jawa Kejawen) yang Kamajaya manfaatkan untuk kreativitasnya adalah pandangan dunia atau ‘dunia-kehidupan’ (lebenswelt) monisme-pantheistis dan magis. Pemanfaatan ini dilakukan dalam penulisan sajak Kamajaya yang berjudul Kupu-kupu Terbang Sampai (KkTS).

Kupu-kupu terbang sampai
demi bunga yang
dimekarkan matahari yang…
Belibis turun melintasi ladang dan tegalan
demi menyambut hujan yang
dimekarkan langit yang….
Indra,
tunggallah!
Merentas jalan sampai
(beru)Jung padaku!
(tu)Run pada-Nya!
(sam)Pai pada Kau!
Ana al’Haqq
Laa illaha illallah.
Tak apa-apa
tak ada siapa-siapa
bunyi tak
lamun tak
lihat tak
rasa tak
Ana al’Haqq!
Ku
pu
Ku
pu
Ana al’Haqq!

(dari naskah antologi “Ziarah Langit” Kamajaya Al.Katuuk).

Dalam sajak ini pandangan dunia monisme- pantheistis dan magi masing-masing dimanfaatkan sebagai tema dan teknik. Berarti, secara praktis, sajak ini mengungkapkan upaya insan Kejawen – bisa juga Kamajaya – untuk mencapai ‘suasana’ Manunggaling Kawulo-gusti, dengan dukungan daya gaib.

Tema Manunggaling Kawulo-gusti (atau: Manunggaling Kawulogusti) dalam sajak ini nyata melalui konsep ketiadaan, “Tak ada apa-apa/tak ada siapa-siapa/bunyi tak/lihat tak/rasa tak”, yang berklimaks pada semacam kredo : “Ana al’Haqq”. Sementara teknik magi dicitrakan dengan penggunaan runtun bunyi “Jung, Run, Pai” yang dibuntungkan dari suku awalnya. Malahan penggunaan artikel (kata sandang) “yang” secara ‘deras-beruntun’ (secara runtut dalam urutan larik-lariknya) mencitrakan teknik (suasana) magis. Demikian pula nada (tone) pengucapan larik “Indra, tunggallah!”) membayangkan suasana (ber) ‘mantra’ – dalam interpretasi saya, larik ini diucapkan oleh si aku-lirik dengan nada ‘memaksa, menghardik”, hal yang khas dalam bermantra-mantra.

Memang di tataran teknis, KkTS terbilang juga ‘puisi mantra’, seperti laiknya sajak-sajak ‘kontemporer’ Soetardji Calzoum Bachri. Bedanya –sekadar dibedakan – ‘mantra’ Kamajaya ini jauh lebih komunikatif alih-alih ‘mantra-mantra’ Soetardji.

Tema sajak KkTS menyamai tema sajak al-Hussain ibnu Mansur al-Hallaj, penyair sufi Arab yang mati ‘martir’ atau ‘syahid’. Tidak kebetulan, sajak KkTS mengadopsi ‘kredo’ al-Hallaj yang terkenal itu : “Ana al’Haqq” (Akulah Realitas Tertinggi). Semuanya ini, sehemat saya, tidak melunturkan kekejawenan KkTS atau penyajaknya. Tapi sekadar untuk mengukuhkannya. Sebab, Monisme “dan” Pantheisme di dunia Jawa Kejawen merupakan ‘transformasi’ dari Sufisme di jazirah pemikiran bangsa Arab – lihat Zoetmulder, “Manunggaling Kawulo Gusti, Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa” (1990). Di bingkai ini, pembanding yang tepat untuk KkTS adalah Suluk – cermati Zoetmulder (1990).

Sebetulnya Monisme-pantheistis (atau Monisme dan Pantheisme di satu pihak) dan magi (di lain pihak) menunjukkan pertentangan yang mencolok. Monisme-pantheistis berdimensi mistis (religious), sedangkan magi bercorak a-religius, bahkan tidak merujuk ke dunia rohani ataupun materi. Meski begitu, toh kedua pandangan dunia tersebut memiliki kemiripan. Kemiripannya terletak pada suasana ‘ketiadaan’ dan ‘kerahasiaan’ atau ‘kemisterian’, yang masing-masing dimungkinkan dalam pandangan dunia monism-pantheistis dan magi. Jadi, dalam rangka pembentukan tema KkTS, pemanfaatan teknik magi bukan sebuah kebetulan (latar budaya juga); ini justru mendukung tema sajak.

Menarik pula bahwa dalam sajak ini, dengan gaya seorang penulis ilmiah, Kamajaya mencomot kata-kata dalam ‘esai’ The Over Soul karya Ralp Waldo Emerson, yang berasal dari negeri Faust. Perhatikan.

We live in succession
in division, in parts, in particles
meantime within man is the soul of the whole
the wise silence; the universal beauty
to wich every part and particles equally related
the eternal.

Secara tematik, ‘comotan’ teks sastrawi Emerson itu relevan dengan KkTS, bahkan dalam kaitannya dengan latar budaya (baca: pandangan dunia) Monisme-Pantheisme Kejawen. Sebab, pandangan dunia Monisme-pantheistis di dunia Barat, yang terimplikasi dalam karya Emerson tadi memiliki, akar historis yang sama dengan pandangan dunia Monisme-pantheistis di dunia Jawa Kejawen. Akar historis itu ialah Neo-platonisme atau filsafat Plotinus. Ini berarti bahwa Sufisme yang terwujud lewat ajaran-ajaran al-Hallaj dan ibnu al-Arabi yang nota bene memengaruhi kemunculan Monisme-pantheistis atau Monisme ‘dan’ Pantheisme di dunia kebudayaan Jawa (yakni Kejawen), bermuasal dari Neoplatonisme –cermati Zoetmulder (1990).

***
Sebagai ‘Minahasaputra’, Kamajaya mengenal budaya leluhurnya. Sebutlah misal legenda tokoh Keke Pandagian, yang dijadikan bahan penulisan sajak Kamajaya.

Menurut makna (meaning) tradisionalnya, atau yang konvensional, Keke Pandagian adalah gadis yang melanggar larangan adat “pulang malam”. Karena pelanggarannya, Keke Pandagian menjalani ‘kutuk’, menjadi bintang timur.

Dalam sajaknya, yang berjudul Keke Pandagian, Kamajaya meruntuhkan hakikat kutukan itu; bahwa menjadi ‘bintang timur’ bukan lagi sebuah kutukan, melainkan ‘berkat’ bagi Keke Pandagian, menjadi “guru kegulitaan”. Di titik ini, Kamajaya sebenarnya menampilkan apa yang oleh Umar Yunus disebut “mitos perlawanan’. Atau dalam perspektif Derrida, sang penyair melakukan dekonstruksi terhadap makna adat Minahasa yang tersuguh di dalam legenda tersebut; penyajak membongkar-bangkir makna legenda Minahasa itu, lalu menyusunnya kembali, sehingga legenda itu mendapatkan makna baru, menurut ‘visi estetik’ penyajak sendiri.

Keke Pandagian
karena berilmu
hidupnya di mahkamah bintang
bukan di bumi

(Aku Tole, lelaki langit
tangga cahaya Mahakemilau
kekasih kebenaran
di timur malam kusunting ceritamu jadi kelip)

Keke Pandagian
di mahkamah bintang
adat dan moyang
tangganya tak akan sampai
yang tak diterima di bumi
memang harus hidup di langit
jadi guru kegulitaan.

(dari naskah antologi sajak “Ziarah Langit” karya Kamajaya Al. Katuuk).

Minggu, 25 Agustus 2013

Writing Contests and Feedback, Kontest Menulis Sastra Online Internasional

Ini info bagi seluruh pencinta sastra di Tanah Air, baik para guru sastra, mahasiswa sastra, sastrawan, penyair, atau siapa saja yang berminat dengan dunia sastra. Situs sastra online fanstory.com saat ini sedang mengadakan kontest menulis online. Kontest meliputi bidang puisi, dan prosa. Bagi yang tertarik dengan kontest ini, silakan mendaftar sebagai member di www.fanstory.com dan pilih jenis kontest yang ingin Anda ikuti.
Mari ambil bagian dalam kontest ini untukmenunjukkan kemampuan penyair, penulis dan pelukis tanah air di kancah sastra global.
Kontest ini dilaksanakan selama Agustus 2013 hingga Januari 2014. Hadiahnya uang tunai. Siapa tahu ada di antara peminat sastra tanah air yang tertarik mengikuti kontest sastra fanstory.com ini. Untuk detailnya silakan klik di tiap link di bawah ini..

It's a great time to get feedback for your writing at FanStory.com. Click here to get feedback for your writing in less than 5 minutes.
  • Get Helpful Feedback. Get detailed feedback for every poem, short story and book chapter that you write. Guaranteed!
  • Writing Contests. Over 50 contests are always open and always free to site writers. Compete for cash prizes.
  • Rankings. See how you compare to other writers. Online statistics will show you how you are doing.
  • Motivation. Participate in an active online writing community. Improve your writing, have fun, and get motivated.
Cash prizes are rewarded for contests with bold titles below.


Start getting feedback
in less than 5 minutes!

FanStory.comI wanted to tell that I feel like FanStory is the best thing that ever happened to me in terms of my writing. The way the website is set-up is brilliant. The reviewing process has done more to improve my writing than 20 college-level writing courses. From the bottom of my heart, I thank you for creating and running this website for writers. It is truly a blessing.

I received word that my collection of short stories, "Rural Roots", would be accepted for publication. I have just signed the contract for the first in a ten-book series, and am one step closer to my 'cabin by the river.' This book would never have seen print without the help and expertise of fellow writers on Fanstory.
Click here to read the letters in full.
Contest Listing

Contests shown in bold offer cash prizes.

Writing Prompt Contest
Short story on the word Fame
Write a short story, 800 words or less on the topic of the word "Fame"
Deadline: In 2 Days
Butterfly In The Sky III
Here's your chance to write an erotic story or novel.
Deadline: In 3 Days
land of the lost the orginal series
This is a topic based contest. Write a story based on the topic provided in the the announcement.
Deadline: In 6 Days
Ode Poetry Contest
Write a ode poem for this contest. It is a poem celebrating a person, event, thing. It is often written in an exalted style. Odes were originally meant to be sung.. See an example in the announcement. This poetry contest has a cash prize.
Deadline: Aug 26th
Book of the Month
Each month one book chapter is selected to be the Book of the Month. A public vote determines the winner. All books posted during the month are automatically considered for this contest.
Deadline: Aug 26th
Divergent: Fan Fiction
Fan Fiction for Divergent, by Veronica Roth. No poetry, 800 words min. and 2000 words max.
Deadline: Aug 29th


Devil's Advocate
Argue against yourself.
Deadline: Sep 1st
Famous Literary Characters Verse
This is a topic based contest. Write a poem based on the topic provided in the announcement.
Deadline: Sep 1st
Reviewing Contest
Every month we make a cash prize available to the reviewer that writes the most detailed and helpful reviews. Cash prize for the winner of this writing contest.
Deadline: Sep 1st
Who Do You Think I Am?
This is a topic based contest. Write a story based on the topic provided in the announcement.
Deadline: Sep 2nd
Write About This Poetry Contest
Write a poem based on the image pictured in this announcement. This poetry contest has a cash prize.
Deadline: Sep 6th
Pick a story
This is a topic based contest. Write a story based on the topic provided in the announcement.
Deadline: Sep 6th
ABC Poetry Contest
For this contest you are challenged to write a ABC poem. ABC poetry has five lines and often is used to express feelings. See the announcement for an example. Cash prize for the winner of this poetry contest.
Deadline: Sep 13th
My Vision of Enlightened Society
This is a topic based contest. Write a poem based on the topic provided in the announcement. The topic is your vision of an enlightened society. It should be a description of what you think would be a good human society or enlightened society.
Deadline: Sep 15th
500 Words Writing Contest
Write a 500 word fictional story on any subject. Use exactly 500 words. The winner of this writing contest will take away a cash prize.
Deadline: Sep 20th
Your World In A Thousand Years Time
This contest challenged writers to start a story with the specific sentence. All story's must be detailed regarding how things are different in your world of a thousand years from now.
Deadline: Sep 22nd
Share A Story In A Poem
In this contest you are challenged to write a poem that tells a story and also rhymes. We've included examples of this type of poetry storytelling in the announcement. Cash prize for the winner of this poetry contest.
Deadline: Sep 28th


Free Verse Poetry Contest
Write a free verse poem. This is a method of writing poetry that does not follow any structure or style. See an example and details in the announcement. Cash prize for the winner of this poetry contest.
Deadline: Oct 2nd
Sonnet Poetry Contest
Just like Shakespeare did, discover the rhythm and rhyme scheme of the Shakespearean sonnet. Cash prize for the winner of this poetry contest.
Deadline: Oct 9th
This Sentence Starts The Story
For this writing contest write a story that starts with this sentence: "We had to make the deadline." The winner of this writing contest will take away a cash prize.
Deadline: Oct 16th
Nonet Poetry Contest
Write a nonet poem for this contest. This is a poem with a specific format. Cash prize for the winner of this poetry contest.
Deadline: Oct 23rd
Write a poem about your age.
This is a topic based contest. Write a poem based on the topic provided in the announcement.
Deadline: Oct 27th
Acrostic Poetry Contest
Write an acrostic poem. An acrostic poem is a poem where the first letter of each line spells out a word. View an example in the announcement. Cash prize for the winner of this poetry contest.
Deadline: Oct 29th


Blank Verse Poetry Contest
Write a blank verse poem for this poetry contest. A blank verse poem is written without rhymes. It does have a set metrical pattern. See the details in the announcement. Cash prize for the winner of this poetry contest.
Deadline: Nov 3rd
ABAB Poetry Contest
Write a ABAB poem for this contest. This is a poem with a specific rhyme scheme. Read the announcement for a sample poem and the details. Cash prize for the winner of this poetry contest.
Deadline: Nov 10th
Love Poem Poetry Contest
Write a love poem. Your love poem can be fictional or non-fictional. It can be a humorous or a serious love poem. The choice is yours. Cash prize for the winner of this poetry contest.
Deadline: Nov 17th
Pitter-Patter
Use these sentences in your story: The pitter-patter of little feet in the hall normally woke her each morning. Today, it was the absence of it. The winner of this writing contest will take away a cash prize.
Deadline: Nov 20th
Non-Fiction Writing Contest
We are looking for personal essays, memoirs, and works of literary non-fiction. It can be spiritual, political, or funny. Creative approaches welcomed. Cash prize for the winner of this writing contest.
Deadline: Nov 26th


Flash Fiction Writing Contest
In this flash fiction contest we are challenging writers to write a flash fiction piece that is between 500 and 800 words on the topic provided. The topic is "Ego" The winner of this writing contest will take away a cash prize.
Deadline: Dec 3rd
Tanka Poetry Contest
For this contest you are challenged to write a Tanka poem. Tanka is a form of poetry with a specific syllable count. See the announcement for an example. Cash prize for the winner of this poetry contest.
Deadline: Dec 10th
5-7-5 Poetry Contest
For this contest you are to write a short poem. It should only have three lines. But the structure is that of a Haiku. The first line has 5 syllables. The second line has 7 syllables. The third line has 5 syllables again. Write about anything. Cash prize for the winner of this poetry contest.
Deadline: Dec 17th
Horror Story Writing Contest
Put your readers on edge or terrorize them for this horror writing contest. This writing contest rewards a cash prize to the winner.
Deadline: Dec 23rd
At The Hotel
You are in your hotel room when you hear a commotion outside followed by a loud banging at your door. Cash prize for the winner of this writing contest.
Deadline: Dec 29th


Quatrain Poetry Contest
Write a Quatrain poem for this contest. Read the announcement for a sample poem. This poetry contest has a cash prize.
Deadline: Jan 5th
Unlike Any Sound
"It was unlike any sound you've ever heard."' Write a story that uses this sentence somewhere in the story. The winner of this writing contest will take away a cash prize.
Deadline: Jan 12th
Faith Poetry Contest
The theme for this poetry contest is "faith". We are looking for poems that in some way pertain to this theme. It doesn't matter if it's spiritual, political, intellectual or emotional as long as faith is clearly represented. This poetry contest has a cash prize.
Deadline: Jan 19th
Lune Poetry Contest
A Lune poem is a short and fun poetry form with only three lines. View the contest announcement for an example. Cash prize for the winner of this poetry contest.
Deadline: Jan 26th



Write a poem that incorporates this artwork for our Write About This Poetry Contest.




Challenge yourself for our ABC Poetry Contest.




Write a poem that tells a story for our Share A Story In A Poem.




Make your own rules for our Free Verse Poetry Contest.




For our This Sentence Starts The Story you are challenged to write a story that starts with the sentence we provide.




For our Nonet Poetry Contest contest we challenge you to write a poem that follows a specific format.




Write an acrostic poem for this contest. Read the announcement for an example of this type of poem.




Write a poem that follows this traditional poetry format for our Blank Verse Poetry Contest.




Share a poem for our ABAB Poetry Contest.




Write a poem that uses a specific format for our Love Poem Poetry Contest.




Write a non-fiction story or essay for our Non-Fiction Writing Contest.




The challenge of flash fiction is to tell a complete story in which every word is absolutely essential. Write a story with a specific word count for our Flash Fiction Writing Contest.




Write a poem with a specific format for our Tanka Poetry Contest.




For our 5-7-5 Poetry Contest you've got a tight deadline. This contest is free to enter for new members to FanStory.com.




Put your reader on the edge of their seat for our Horror Story Writing Contest.




Write a poem that incorporates the topic of faith for our Faith Poetry Contest.
Find Out More about our contests and membership for writers.


Label

. Menkeu 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955. 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2010 2011 2013. 2014 A AA abad ke-7 ABC abdul hadi wm ABK Abu Nawas Aceh achdiat k mihardja Adat agama Ahok AI airmadidi Airmadidi. ajaran sesat ajib hamdani Al-Qur'an Alkitab AMBON amsal amurang anak yatim/piatu anak-anak anggaran Angkatan 45 angsuran animal animasi animation Anjab Antasari aplikasi mobile apresiasi sastra Apuse Arab architectur architecture arsitektur artificial intelligence artikel. asal-usul lagu yamko rambe yamko Askes ASN Asrul Sani Astinet asuransi audio audio to text ayu ting ting B Babilonia baca artikel dibayar bahasa Bahasa Belanda bahasa daerah Bahasa Indonesia bahasa kreol Bahasa Portugis bahasa Termate Bahlil Dahadalia bahundak Bait Allah bajak BANJAR bank banten bantuan korea selatan Bapertarum barang dan jasa pemerintah Basuki BATAK batas laut batas usia pensiun. PP BB BBM bersubsidi Bea Cukai beasiswa bekerja dari rumah Belanda bencana bendera beras berita Betlehen biaro Bidat billing bimbo BIODATA BIOGRAFI bisnis bisnis gratis bisnis properti bisnis sampingan Bitung BKD BKN blogger BNI BNN bobbit worm Bolaang Mongondow Bolmut Bolong Bolsel Boltim BPJS BPKB BRI briptu norman kamaru BTN Bu Tahanusang budaya Budaya Kerja budayawan bugil building buku bulan BUMD BUMN bunaken bung karno BUP bupati C Camat CC ccovid-19 cerita rakyat cerpen Chairil Anwar China choir cicilan cincin cinta CIO CIPTA KERJA CIPTAKERJA civil servant classical coconut octopus collorydianisme conference contoh convert copy-paste foto covid-19 CPNS cuti cuti bersama D D.Brilman Dacuda Pocket Scanner daerah daerah otonom baru Dana Sehat DAU denda desa desain detektor logam Dhana Widyatmika Dialek Diklat Kompetensi DIKLAT PIM dirjen dirjen anggaran disiplin diskusi diving DKI doa dogma dokumen dolar domain dongeng download DP3 DPR drama dramatik dramatis personae DRH Driver duasudara dubes duda duit dunia E e-billing e-Gov E-KTP e-voting edaran Edaran Mendagri eigendom ekonomi eksistensialisme eksperimental ekstensi eliezer Ensiklopedi Epifanius erupsi esai eselon extension F f. Kelling facebook Fiery Cross Reef Filsafat fisik foto funny gaji gaji baru PNS gaji baru Polri gaji baru TNI gaji hakim gaji ke-13 Gaji PNS 2013 gaji polri 2011 gaji polri 2013 gaji tni 2011 gaji TNI 2012 gaji tni 2013 galungan Ganefo gangguan kecemasan ganti logo blogger garuda gaya hidup gayus GCIO gelombang gembala gempa generasi Alfa generasi baby boomers generasi diam generasi milenial generasi Z gereja GG Gibran Rakabuming GMIM Golongan Ruang Google Cloud Google drive Google One grafik Gregorian gubernur gunung api Gunung Ruang gunung Salak guru hairy frogfish hakim halmahera HAM hari libur hari raya HB Yassin HB Yassin. HB Yassin HB Yassin. Pusat Dokumentasi hewan Hijriyah Hindu hobby home honorer house hukum hut I Nyoman Nuarta idul fitri II Ijazah Palsu iklan gratis iklan rumah IKN imlek Indihome Indonesia industri Infotek Inggris Injil Inpres instansi pemerintah integritas interior internet Islam israel istana garuda Istana Garuda Ibukota Nusantara Istana Presiden IKN IT ITE ITM jabatan fungsional jabatan pimpinan jabatan struktural jaksa janda JAWA jenderal jiwa Johnson Reef Jokowi jual-beli jual-beli rumah Julian K-1 K-2 KABUPATEN kalabat kalender Kalimantan kampanye kampus Kamus kandang domba kartu kredit karunia KARYA SATYA Kasus kata bijak kata mutiara kata-kata bijak kata-kata hikmat kata-kata mutiara kawasan khusus kawin KBBI KDKMP keamanan KEK Kekayaan kelahiran Yesus kelas keluarga kelurahan Kemen-PU Kemendagri Kemenkeu Kemenkum-HAM Kementrian kenaikan gaji kenaikan pangkat Kepala Daerah Kepdirjen Keppres kepribadian Keputusan Ka BKN keputusan menteri kerajaan kereta jenazah kereta kerajaan kereta pernikah william kerja Kesehatan keuangan Khotbah khotbah. kiamat Kisah Mahabarata KK Klasik Kode Etik koloriadianisme komedi Kominfo konstitusi konversi koor koperasi korpri Korupsi KOTA Kotamobagu koupsi KPCPEN KPK kristen Kritik Sastra kritik seni kue kuliah kunci foto L lagu lagu daerah Lagu Daerah lagu daerah Jawa Timur Lagu daerah Papua Lagu daerah Riau Lagu Daerah Sangihe lagu nasional lagu Papua lambang daerah langganan langowan lapas larangan laut Laut China Selatan lawak lebaran legenda lemang Lembaga Negara lembeh Lembeh Resort Lembeh Strait LG LHKPN libur nasional liburan Likupang lingkungan kerja Lirang lirik lirik lagu Lirik Lagu Daerah litle logo lokon lomba sastra lowongan lucu Lurah M magnitudo mahasiswa mahasiswa baru mahawu makar MALUKU Malut Manado mandarin fish Manganitu manusia marah rusli marga masa Anak-anak masamper masarang Masehi Mawali Mazmur media massa meja Melayu mendagri mengajar menkeu Menpan merah putih MERS Mesir mesjid metal detector Meyer migdal eder mimic octopus Minahas minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara minangkabau Mischief Reef mistik mitos MM mobil bekas mobil jenazah mobil mewah mochtar lubis model money Mongondow monumen moratorium motivasi motivasi hidup Mouse Scanner MPR Mr. Assat Mr. Sjafruddin muhaling Muhammad Musa mutasi nabi NAD nama domain nama etnis nama fam nama klan nama marga nama orang nama suku NARKOBA Nasdem nasi jaha Nasrani natal negara NEWS NII nikah NIP novel Nuklir Nusantara o ina ni keke OMNIBUS LAW oneness Orang Terkaya orde baru outsourcing pada pahlawan padang gembala paduan suara Pajak PAK pakaian adat Pakaian Dinas pandemi Pangdam pangkat PNS pangkat polri pangkat TNI pantai pantekosta pantun papan tulis elekronik papan tulis sekolah PAPUA partitur paskah paypal pdf pegawai pegawai tidak tetap pemerintah pejabat pejabat eselon pejabat pimpinan tinggi pelantikan pelayan khusus Pelindo pemalsuan pembunuhan Pemda Pemerintah pemerintah daerah pemilihan pemukiman pendaki pendeta pendidikan penembakan penerbangan penerimaan CPNS penerimaan pegawai BUMN penipuan Penpres pensiun pensiun pokok pensiunan pentakosta penyair penyaliban penyimpanan Perang Dunia peraturan kepala BKN peraturan menteri Peraturan Pemerintah perda perguruan tinggi perhubungan Peribahasa Periodisasi Perjalanan Dinas Perjanjian Lama perjuangan perkawinan Permen pernikahan william dan kate PERPPU PERPPU 1959 Perpres pers perumahan Perumnas pesawat pidato pigmy seahorse Pilgub DKI Pilkada Pilpres pinjaman plagiat PLN PMK PMK. Menkeu PNBP PNS PNS. Kekayaan poem poetry polisi politik politisi polling polri Portugis postmodernism PP PP 53 PP1998 PP2000 PP2001 PP2002 PP2011 PP2012 CPNS PPATK PPPK Prabowo prabu siliwangi pramugari Presiden RI Presiden SBY pria profesi propinsi proposal prosa protes Provinsi proyek psikiater psikis psikologi PTTP Puisi puisi lama pulau Spratly pulsa PUPNS PUPR purnawirawan Pusat Pusat Dokumentasi R raja ramalan ramayana rapel Rasul Rasul Paulus Ratahan read real estate Rek Ayo Rek rekening rekening gendut remunerasi remunerasi PNS daerah renovasi renungan resensi Retribusi Menara review sastra ribbon eel RIS Rismon Sianipar ritual Rivai Apin roh roman Romawi ROSIHAN ANWAR Roy Suryo rumah rumah kontrakan rumah mewah rumah murah Rumah Sakit rumah sederhana rumah tangga RUU RUU ASN RUU BPJS RUU Tipikor S salary salib sambo sandi sangihe SANGIHE TALAUD SANKSI santo sapaan SARS sastra sastra daerah sastra indonesia sastra online satgas SATYALENCANA Scribd sejarah sejarah Al'Quran sejarah gereja sejarah gereja. Sejarah Sastra Sekda sekolah dasar selingkung Seminar seniman sertifikasi guru server Shukoi siau siber SIM sinagoge Singapura sinopsis sipir siswa Sitaro siti nurbaya SK skala richter sms soeharto Soekarno Soleram Solo Soputan sosialisasi sosiologi Spanyol STAN standar biaya STNK storage stress studi komparasi su domain sub domain Subi Reef sufi Sukhoi suku maya Sulawesi Utara Sulut surat edaran Surat Kepercayaan Gelanggang Sutiyoso syahrini syair T tabel tabel gaji pns 2000 tabel gaji pns 2011 tabel gaji pns 2012 tabel gaji pns 2013 tabel gaji pns 2019 Tabel Gaji Polri 2012 Tabel Gaji Polri 2014 TABEL GAJI TNI 2011 TABEL GAJI TNI 2012 TABEL GAJI TNI 2013 tabel gaji TNI 2014 TABEL LENGKAP GAJI POLRI 2011 tabungan tabut Taguladang tagulandang tahun baru tahuna takhayul talaud tanah Tangkoko TAP MPR Taperum tarian tata bahasa taurat taurat. teater Dian teknologi teks Telekomunikasi Tenaga Ahli terminal Ternate teror TERORIS text to audio The Age the royal wedding TIK tips tni TOKOH tokoh dunia tokoh indonesia tokoh islam tomohon tondano torah tradisi transfer trinitas Try Sutrisno tsunami Tsunami tulude tunjangan TVRI Two Fish U uang UGM UN undang-undang Undang-Undang Pokok Agraria unduh unitarian Unpad Unsrat upacara upacara adat UU UU 1948 UU ASN UU Penerbangan UUD UUDS UUPA V vaksin video video conference video lucu viral virus VOC W wabah waisak wakil presiden wali kota walikota wamen warakawuri wartawan website WHO Wikileaks william shakespeare wisata selam wise word Woody Reef Wuhan Yahudi yamko rambe yamko Yehuda Yerusalam Yesus Yosua Yus Badudu yusuf hamka