Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Januari 2025

Mengenal Sekilas Pakaian Adat Sangihe

Mengenal Pakaian adat Sangihe yang dikenakan di setiap pelaksanaan upacara adat Tulude.

Pakaian adat Sangihe adalah pakaian yg dikenakan secara khusus pada acara-acara atau ritual adat, terutama pada hajatan upacara adat tulude yang dilaksanakan setiap akhir bulan Januari atau awal bulan Februari. Selain dikenakan pada ritual upacara adat tulude, juga dikenakan pada acara penjemputan tamu penting, naik rumah baru, peluncuran perahu dll.

Secara umum, pakaian adat Sangihe terdiri atas beberapa jenis seperti terurai di bawah ini:

1. Laku Tepu

Laku tepu adalah pakaian adat untuk laki-laki maupun perempuan. Namun bagi laki-laki berupa busana panjang hingga ke mata kaki berlengan panjang tanpa kerah, tanpa belahan di bagian leher, dipasangkan dengan celana panjang. Bagi perempuan panjang hingga ke lutut atau separuh betis dan dipasangkan dengan rok hingga ke mata kaki. Dahulu bahan laku tepu terbuat dari serat kofo atau hote atau pisang abaka yang ditenun. Laku tepu laki-laki dipadukan pula dengan ikat pinggang bahan kain serupa selebar 15 cm panjang kira-kira 2 meter dilingkar ke pinggang, diikatkan di sebelah kanan dan kedua ujungnya dibiarkan terurai ke bawah. Sedangkan pada perempuan dipadukan dengan selendang yg melingkar dari bahu kanan lalu disimpul ke pinggang kiri untuk perempuan yg sudah menikah, dan dari bahu kiri dan disimpul ke pinggang kanan untuk anak gadis. Selendang ini disebut bawandang; Laku tepu pria dikenakan oleh pemimpin dan tokoh adat yg akan melakukan ritual adat (pemotong tamo, pembawa tatahulending, penabuh tagonggong, dll). sedangkan laku tepu perempuan dikenakan siapa saja yg mampu menyediakannya. 

model laku tepu laki-laki
 
model laku tepu perempuan

2. Baniang

Baniang adalah kemeja pria tangan panjang hasil modifikasi dr laku tepu yg panjangnya hanya sebatas pinggul, berbelahan dengan kancing di bagian depan. 

model baniang


3. Laku kingking/kongkong

Kingking adalah kemeja tanpa lengan dan kongkong adalah celana pendek sebatas lutut digunakan penari adat pria atau pengawal raja dengan warnanya merah. Untuk kongkong bisa merah bisa juga hitam. Kelengkapannya adalah pedang bara dan kellung atau perisai.

kingking dan kongkong

4. Paporong

Paporong atau umbe adalah ikat kepala dari kain segi tiga yang dilipat tiga atau empat selebar kira-kira 10 cm hingga bersisa sudut kain di bagian atas. Paporong diikat ke kepala melingkar dari belakang ke depan kemudian putar ke belakang kepala dan kedua ujungnya diikatkan (disimpul) di belakang kepala. Paporong ini khusus untuk pria. Paporong acara resmi mengikuti ketentuan ini sedangkan paporong sehar-hari untuk ke laut atau ke ladang atau sekadar digunakan di rumah tanpa memperhatikan ketentuan paporong resmi.

Paporong atau juga disebut umbe dibuat dari bahan kain yang cukup tebal atau agak kaku seperti kain kofo (mengingat kain kofo sulit sekali ditemukan dewasa ini maka dapat menggunakan kain tipis sejenis kain hero atau tetron dan dilapisi dengan staplek atau kain krah; bisa juga direndam tepung kanji),  dengan ukuran bujur sangkar sekitar 120 cm x 120 cm. Cara membualnya adalah sbb.:
  1. Kain dilipat dua secara diagonal sehingga akan terbentuk segi tiga sama kaki;
  2. Setelah membentuk segi tiga, kain kemudian dilipat dari bagian sisi alas (sisi lipatan) selebar kira-kira 10 cm. Dilipat beberapa kali sampai akan tersisa sudut kain setinggi sekitar 10-15 cm;
  3. Kain yang sudah terlipat kemudian dilingkar ke lutut untuk membentuk lingkaran kepala atau bisa dilingkar langsung ke kepala; jika diikat langsung ke kepala, bagian segi tiga diletakkan di belakang kepala lalu bagian lipatan ditarik ke dahi terus dilingkar ke belakang sehingga kedua ujung lipatan bertemu kemudian disimpul (diikat) atau dijahit.
  4. Setelah selesai melipat dan membeniuk paporong, selanjuinya adalah membentuk tekukan sudut atas (sisa sudul yang sekitar 10-15 cm) untuk memberikan petunjuk siapa gerangan orang yang mengenakan paporong tersebui, Untuk hal ini dapat dibedakan atas lima jenis tekukan sudut paporong sbb:

1) Paporong Mararatu

Paporong ini untuk pemimpin atau raja. Sudut kain ditekuk penuh menutupi bagian ikatan dan ketika dikenakan, baglan ini diletakkan di belakang kepala. lni melambangkan beban tanggung jawab seorang pemirnpin atau raja; 

2) Paporong Alabadiri atau Ransa

Sudut kain dan ikatan diletakkan di samping kanan kepala, lalu sudut kain ditekuk ke bawah mendekati bagian ikatan. Ini melambangkan penghormatan dan kepatuhan kepada pemimpin;


3) Paporong Upase

Sudut kain dan ikatan diletakkan di bagian belakang kepala, sedangkan sudutnya ditekuk sedikit sehingga kelihatan agak miring sekitar 45 derajat ke belakang. lni melambangkan kedengar-dengaran atau penurutan. Paporong atau umbe ini adalah paporong umum. 

4) Paporong Salo 

Sudut kain dan ikatan berada di belakang kepala, tapi sudut kain ditekuk ke arah depan sehingga agak menutup bagian ubun-ubun. Ini melambangkan keberanian dan kepeloporan; 

5) Paporong sehari-hari:

Paporong ini ndak menyisahkan sudut kain atau tanpa sudut untuk ditekuk. Yang ada hanya ikatan saja. Paporong ini adalah paporong untuk penggunaan sehari-hari oleh masyarakat umum, baik untuk dikenakan di rumah, di laut maupun di ladang/kebun; 

5. Bawandang

Bawandang adalah selendang yg dikenakan kepada perempuan sebagai padanan laku tepu perempuan. ukurannya kira-kira lebar 15 cm dan panjang 2 meter. Warnanya menyesuaikan warna laku tepu. Cara menggantung bawandang adalah sbb.:
  • bagi perempuan yang sudah menikah digantungkan pada bahu kanan dan turun melingkar ke pinggang kiri lalu disimpul atau bisa juga dijepit menggunakan peniti;
 


  • bagi perempuan yg belum menikah atau gadis digantungkan pada bahu kiri dan turun melingkar ke pinggang kanan lalu disimpul atau bisa juga dijepit menggunakan peniti. 

6. Ikat pinggang (Papehe)

Ikat pinggang atau papehe adalah padanan atau pelengkap laku tepu pria. Ukurannya hampir sama dengan bawandang perempuan. Lebar sekitar 15 cm atau lebih dan panjang sekitar 2 meter. Cara mengikatnya, dimulai dari pinggang kiri melingkar ke kanan lalu disimpul dengan ujungnya terjurai. Warna ikat pinggang mengikuti warna laku tepu;
papehe

Warna laku tepu, baniang, paporong dan bawandang ketentuannya sbb.:
  1. Warna kuning emas khusus untuk pemimpin wilayah (dahulu raja), baik untuk gaunnya, ikat pinggang, selendang, paporong maupun baniang.
  2. Warna hijau untuk wanita.
  3. Warna ungu untuk pria maupun wanita.
  4. Warna putih untuk tokoh agama dan tokoh masyarakat.
  5. Warna hitam untuk celana panjang pria sebagai pasangan baniang.
  6. Warna merah untuk pengawal pemimpin (dahulu hulubalang) dan para penari salo.
  7. Warna ledo (tanpa diwarnai atau warna asli serat kofo) untuk khayalak umum.
Warna-warna tersebut merupakan warna dari alam, baik dr getah pohon, dedaunan maupun umbi-umbian. 

CATATAN: Untuk perempuan ada hal lain di luar busana yg cukup penting dimiliki jika mengenakan laku tepu, yakni konde. Konde perempuan Sangihe memiliki kekhasan karena bentuknya seperti ulekan yg disebut boto pusige (boto = konde, sanggul, pusige = mahkota). Boto pusige atau sanggul ini posisinya perada di atas kepala atau di ubun-ubun.

boto pusige


tag: tulude, upacara adat tulude, pagelaran tulude, gelaran tulude, upacara adat sangihe, pakaian adat sangihe, pakaian adat laku tepu, laku tepu pakaian adat Sangihe. pakaian adat baniang, baniang pakaian adat Sangihe, bawandang selendang adat Sangihe, selendang Sangihe bawandang, paporong ikat kepala adat Sangihe, topi adat Sangihe paporong, Umbe topi adat Sangihe, topi tradisional Sangihe umbe, tari tradisional Sangihe salo, tari tradisional Sangihe ransa, tari tradisional Sangihe alabadiri, tari tradisional Sangihe gunde, tari salo, tari gunde, tari alabadiri, tari ransa, tari ransansahabe, 







Sabtu, 21 Desember 2024

Mengenal Sopan-santun Menyapa Orang dalam Budaya Sangihe Talaud


Betapa kayanya etika atau sopan santun masyarakat Nusa Utara. Dalam kehidupan sehari-hari kata-kata sapaan begitu banyak digunakan. Penyebutan nama secara langsung terhadap orang-orang yg lebih tua usia atau orang yang dihormati adalah suatu pelecehan terhadap nilai-nilai adat, budaya dan sopan santun. Karena itulah dalam masyarakat Nusa Utara dikenal begitu banyak nama sapaan seperti:
Akang = anak tertua; papa akang = paman tertua, mama akang bibi/tante tertua; akang juga bisa berarti kakak yg kemudian mengalami asimilisi dari kata akang menjadi i akang dan akhirnya orang menyebut yakang;
Ara = anak kedua, papa ara = paman kedua; mama ara = bibi/tante kedua;
Ari = anak ketiga; papa ari = paman ketiga; mama ari = bibi/tante ketiga;
Tenga (khusus sub etnis Tagulandang) = anak tengah; papa tenga = paman tengah; mama tenga = bibi/tante tengah;
Hembo (biasanya juga diucap Embo)= anak bungsu; papa hembo = paman bungsu; mama hembo = bibi/tante bungsu;
Bonso = anak bung (khusus sub etnis Tagulandang); papa bonso = paman bungsu; mama bonso = bibi/tante bungsu;

mbau = anak tunggal

mama mbau = bibi tunggal

Papa mbau = paman tunggal 
Bu = bapak (ingat bu Tahahusang); bisa juga berarti kakak laki-laki (seperti dalam Melayu Ambon)
Usi = ibu; bisa juga berarti kakak perempuan (seperti dalam Melayu Ambon)
Tune = lelaki yg dihormati (biasanya disingkat jadi une);  tune dari kata tutune yg berarti kandung (misal ana tutune = anak kandung).
Ungke = panggilan untuk anak laki-laki;
Uto = panggilan untuk anak perempuan (khusus sub etnis Siau);
Wawu = wanita yang dihormati atau untuk anak perempuan kesayangan;
Momo = panggilan untuk anak perempuan (khusus sub etnis Sangihe Besar);
Opo = lelaki yang dihormati atau panggilan untuk anak laki-laki (ada juga yang menyebut dgn popo;
Aso = panggilan untuk anak laki-laki (khusus sub etnis Tagulandang); papa aso = paman aso;
Ndio = panggilan untuk anak perempuan (khusus sub etnis Tagulandang) mama ndio = bibi/tante ndio;
Hapi = teman (sub etnis Sangihe Besar);
Gawe = teman (Siau)
Ringang = teman
Hawe = teman (Talaud);
Gugu = panggilan untuk anak laki-laki sub etnis Talaud;
Boki (Wo’i) = panggilan untuk anak perempuan sub etnis Talaud;
Ratu = panggilan untuk anak laki-laki sub etnis Talaud;
Suami-istri saling menyapa tidak menyebut nama tapi (sebagaimana umumnya) “mama” dan “papa” namun secara khusus menyapa suami dengan menyebut nama anak sulung sesudah papa: papa Medi atau yamang/i amang Medi = ayahnya Medi; kalau istri juga demikian : mama Medi atau ma i Medi atau inangi Medi = ibunya Medi; saling menyapa dengan nama merupakan pertanda tidak saling menghormati di antara suami-istri. Walau demikian krn pengikisan nilai-nilai budaya, ada banyak suami-isteri dewasa ini dalam bersapa saling menyebut nama diri pasangan masing-masing.
Demikian pula orang lain ketika memanggil seseorang yg sudah berumah tangga, pantang menyebut namanya melainkan menggunakan sapaan dengan nama anak sulung sesudah kata papa: papa Enda atau yamang/i amang Enda = ayah Enda; mama Enda atau ma i Enda atau inang i Enda = ibunnya Enda;

Nah, kalau Anda bagian dari etnis Nusa Utara (Sangihe-Talaud), Anda menggunakan kata sapaan mana terhadap suami atau isteri Anda. Dan bagi Anda yang bukan etnis Nusa Utara (Sangihe-Talaud) dan menjadi bagian dr keluarga etnis Nusa Utara kiranya dapat menyesuaikan diri dalam menyapa keluarga suami atau isteri Anda agar tidak menyinggung bahkan menyakiti perasaan mereka. Pengecualiannya, untuk seseorang yang berumur lebih muda silakan disapa menggunakan namanya jika dalam keluarga tidak menyapa atau jarang menyapa dengan sapaan khas sebagaimana disebutkan di atas;

Catatan Penting: menyapa nama langsung terhadap orang yang lebih tua usia merupakan tindakan tindak sopan dan dianggap tabu dalam masyarakat Nusa Utara.

Malunsemahe!!!

Sabtu, 16 November 2024

Asal-usul Nama "Nasi Jaha" Penganan Khas Maluku dan Sulawesi

Nasi jaha adalah salah satu makanan khas yang berasal dari daerah Maluku dan Sulawesi, terutama di kalangan masyarakat Melayu dan suku asli setempat. Nasi Jaha dikenal sebagai hidangan tradisional yang memiliki cita rasa unik dan cara pembuatan yang khas. Penganan ini sangat dikenal di Maluku, dan berbagai daerah di Sulawesi bagian Utara, terutama dalam perayaan adat atau acara khusus.


Sejarah Nasi Jaha

Walau penganan ini sangat populer di Maluku dan Sulawesi, ternyata sangat sedikit orang yang mengetahui asal-usul penamaan nasi jaha itu sendiri. Bahkan akibat ketidaktahuan itu, ada yang menganggap nama nasi jaha sebagai pelesetan dari nasi jahe. Padahal tidaklah demikian. Jika berpola pikir seperti itu, ada dua hal yang perlu dipertanyakan: 1. kenapa para leluhur tidak memberi nama nasi jahe sejak dulu; 2. jahe bukanlah kosakata lokal Maluku dan Sulawesi bahkan tak ada yg mirip dengan kata jahe yg etimologinya dari bahasa-bahasa di pulau Jawa seperti jahe (Jawa) jae (Sunda), jhai (Madura), dan jae (Kangean).

Daerah-daerah di Pulau Sulawesi mengenal jahe dengan nama goraka (Manado), lia (Sangihe), layu (Mongondow), moyuman (Poros), melito (Gorontalo), yuyo (Buol), siwei (Bare'e), goraka (Bare'e Tojo), laia atau leya (Makassar) dan pace (Bugis). Di Maluku sendiri, jahe dikenal dengan nama hairalo (Amahai), pusu, seeia, sehi, siwe (Ambon), sehi (Hila), sehil (Nusa Laut), siwew (Buns), garaka atau woraka (Ternate), gora (Tidore), sohi (Banda) dan laian (Aru). 

Kata "nasi" sendiri merujuk kepada beras yang dimasak, yang menjadi makanan pokok orang Indonesia. Sedangkan "jaha" berasal dari bahasa Ternate. Menurut sahabat setempat duduk saat kuliah dulu, Prod. Dr. Gufran Ali Ibrahim, MSi (mantan rektor Unhair Ternate dan mantan kepala Pusat Bahasa Kemendikbud) jaha dalam bahasa Ternate berarti tenggelam. Dalam bahasa Ternate ada juga frasa jaha manyari yg berarti daun pisang pembungkus nasi jaha. 

Sumber lain menyebutkan, kata jaha bisa berarti (ditenggelamkan) "dalam bambu" atau "dalam tabung bambu". Dengan demikian, secara harfiah, "nasi jaha" berarti "nasi yang dimasak dalam bambu". 

Sumber dari RRI mengisahkan sebuah legenda sbb.: Menurut cerita dari para sesepuh, nasi jaha dianggap sebagai hidangan orang-orang jahat dalam sejarah Minahasa. Ceritanya bermula dari keturunan Toar Lumimuut, seperti Makedua Siow, Makatedu Pitu, dan Pasiowan Tedu, yang diinstruksikan oleh dotu Muntu untuk menyebar dari Watu Pinabetengan, menjelajahi wilayah Tanah Malesung. Kelompok Ton Pekewa, dari wilayah barat daya suku Tontewo, berkembang menjadi dua suku, yaitu Tombulu dan Tonsea. Selain itu, percampuran darah terjadi dekat perbatasan Bolaang Mangondow, membentuk suku Ponosokan. Pantai utara dan barat Malesung berkembang menjadi suku bantik, sering diganggu oleh suku asing seperti Mangindano, Tidore, dan Ternate. Suku asing ini, disebut Tou Lewo atau Wosey, merampok dan menyusahkan orang-orang Malesung. Sebagai respons, orang Malesung yang gagah perkasa, atau Waraney, seperti Maramis, Matindas, dan Montororing, mengejar dan menumpas para Wosey. Mereka menemukan markas di pulau Bentenan, di mana nasi jaha, atau "nasi orang jahat" (kan ne tou lewo), ditemukan dan dibuang ke laut. Karena lapar, Waraney memakan nasi yang dipanggang dengan santan kelapa yang kemudian dinamai Sinari. Itulah kisah singkat tentang asal-usul nasi jaha, atau Sinari, sebagai hidangan kemenangan. (https://www.rri.co.id/kuliner/516936/nasi-jaha-sejarah-dan-kelezatan-khas-sulawesi-utara)

Dari sumber-sumber ilmiah dan "mitos" di atas ternyata tidak ada satu pun  mengaitkan kata jaha" dalam nasi jaha dengan nama rempah jahe. Hal ini sebagai akibat dari tidak adanya satu pun daerah di Maluku dan Sulawesi yg menyebutkan nama rempah tersebut dengan kata jahe atau yg mirip dengan jahe. 

Asal-usul dan Arti Kata Nasi Jaha

Dengan menelaah sumber-sumber tersbut di atas dapat disimpulkan, bahwa nasi jaha memiliki makna pertama, nasi yang dimasukkan (atau ditenggelamkan?) ke dalam bambu lalu dibakar; dan kedua, nasi yang dibawa orang-orang yg tenggelam (orang Ternate yg disebutkan dalam legenda tanah Malesung), dan bukan nasi orang jahat. Secara ilmiah, makna pertama lebih bisa diterima. Sedangkan yg kedua masih lebih kental dengan mitos atau legenda.



Bahan dan Cara Pembuatan Nasi Jaha

Menurut Prof. Dr.  Gufran Ali Ibrahim, MSi, bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan nasi jaha di Ternate hanya terdiri atas beras biasa, beras pulut dan santan kelapa. Sedangkan di Sulawesi Utara, bahan-bahannya lebih banyak yang meliputi beras, beras ketan, santan kelapa, sari jahe, sari daun pandan, sari serai, bawang merah, garam, gula dll. 

Walau berbeda bahan-bahan nasi jaha versi Maluku dan versi Sulawesi, tetap memiliki kesamaan dalam hal cara memasak dan wadah memasaknya.Kedua-duanya menggunakan bambu khusus (di Sulawesi Utara disebut bulu nasi jaha dan daun pisang (muda) sebagai wadah dan dimasak. Namun sebelum bahan-bahan dicampurkan dimasukkan ke dalam bambu yg telah dilapisi daun pisang, terlebih dahulu beras direndam selama beberapa jam sampai mengembang. Setelah mengembang baru bahan-bahan lainnya dicampurkan dan dimasukkan ke dalam bambu. Cara memasaknya adalah bambu berisi campuran bahan disandar pada palang kayu atau besi lalu dibakar menggunakan kayu bakar atau tempurung, pelapah kelapa kering atau sabut kelapa.

Variasi bahan-bahan nasi jaha memang berbeda setiap daerah. Malah ada pula yang menambahkan lauk pauk atau bahan lain ke dalam bambu, sehingga hidangan ini menjadi lebih kaya rasa. Di Kota Bitung sejak tahun 2021 mulai diperkenalkan nasi jaha tuna yakni nasi jaha yg diberikan tambahan ikan tuna sebagai ciri khas kota Bitung.

Penganan sejenis nasi jaha sebenarnya dikenal juga di daerah luar Maluku dan Sulawesi tapi namanya lemang. Bahan-bahan, wadah dan cara memasaknya juga sama. Karena itu, nasi jaha bisa berarti sama dengan lemang dan lemang sama dengan nasi jaha. Yang membedakannya hanya di penamaan. Kalau nasi jaha berasal dari Maluku dan Sulawesi, maka lemang berasal dari Minangkabau Sumatra Barat. Kata lemang sendiri berasal dari bahasa Minangkabau: lamang; atau bahasa Jawi: ‏.لمڠ‎‎


Dalam masyarakat Minangkabau terdapat banyak jenis lemang yang dihasilkan menggunakan bahan-bahan khusus seperti:  

Lamang puluik: lemang biasa asas paling banyak dihasilkan dalam masyarakat Minangkabau menggunakan pulut (puluik) sebagai bahan dasar. Buah keras sering ditambahkan sebagai penambah perisa serta mengelakkan pelekatan lanjut beras.
Lamang pisang: lemang menggunakan buah pisang sebagai bahan sampingan, pulut dan santan dicampurkan dahulu sebelum pisang dimasukkan kemudian
Lamang ubi: lemang menggunakan ubi kayu sebagai bahan asas tanpa perlunya santan
Lamang kuning: lemang menggunakan beras digiling menjadi tepung dicampur dengan kunyit, santan dan garam.
Lemang periuk kera:  lemang yang menggunakan wadah kantong khusus yg ada di pedalaman Negeri Sembilan dan Pahang (Malaysia) Ada beberapa kontroversi di antara beberapa orang yang mempertanyakan kemungkinan risiko akumulasi kotoran kelelawar dan rubah serta pengambilan yang tidak terkendali, namun cara pengendalian perolehan dan pembersihannya ditekankan oleh penjual.

Lemang dapat juga dijumpai di negara-negara lain di Asia Tenggara Daratan, seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei. Bahkan di Thailand, lemang dikenal dengan nama “Khao Lam”, sedangkan di Vietnam dikenal dengan nama CÆ¡m Lam.

Fungsi dalam Budaya

Nasi jaha tidak hanya berfungsi sebagai makanan biasa, tetapi juga memiliki nilai simbolis dalam budaya masyarakat Maluku dan Sulawesi. Hidangan ini sering disajikan dalam acara-acara adat, seperti pesta pernikahan, acara syukuran, atau upacara keagamaan. Pembuatannya yang melibatkan banyak orang juga mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan dalam komunitas.

Nasi jaha juga berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat yang tinggal di daerah dengan banyak bambu, terutama di pedesaan atau daerah-daerah pesisir. Penggunaan bambu sebagai media memasak sangat praktis, mengingat bambu banyak ditemukan di sekitar tempat tinggal mereka, serta kemampuan bambu untuk menahan panas dan menjaga kelembaban nasi saat dibakar.

Meskipun asal-usul nasi jaha sangat terkait dengan tradisi dan kehidupan pedesaan, kini hidangan ini juga sering disajikan di restoran yang menyajikan makanan tradisional Indonesia, terutama di daerah Maluku, Sulawesi, dan sekitarnya. Namun, memasak nasi jaha dalam bambu memang membutuhkan keterampilan dan ketelatenan, sehingga tidak semua orang di perkotaan atau daerah yang lebih modern membuatnya dengan cara tradisional. Karena itu ada yang sudah mencoba membuatnya dengan cara modern menggunakan panci atau dandang pengukus. Namun tentu saja rasa dan aroma yang dihasilkan tidak seautentik yang dimasak dengan bambu.

Demikian sekilas asal-usul nama penganan nasi jaha dalam tradisi dan budaya masyarakat Maluku dan Sulawesi Utara.

Minggu, 01 September 2024

Memahami sekilas Perbedaan antara Roh dan Jiwa

Perbedaan antara roh dan jiwa sering kali bergantung pada konteks budaya, agama, atau filsafat yang digunakan, karena istilah ini bisa memiliki makna yang berbeda di berbagai tradisi. Namun, secara umum, berikut adalah penjelasan yang sering ditemukan:
1. Roh (Spirit)
   - Roh biasanya dianggap sebagai bagian dari manusia yang paling mendalam dan suci, yang terhubung langsung dengan Tuhan atau kekuatan ilahi. Roh sering diartikan sebagai esensi kehidupan yang memberi kekuatan dan hidup pada makhluk. 
   - Dalam banyak tradisi, roh dianggap kekal, tidak terikat oleh fisik, dan terus ada setelah kematian tubuh.

2. Jiwa (Soul):
   - Jiwa sering diartikan sebagai bagian dari diri manusia yang mencakup pikiran, perasaan, dan kepribadian. Jiwa adalah tempat di mana identitas dan kesadaran seseorang berada.
   - Dalam beberapa pandangan, jiwa bisa dianggap sebagai bagian dari manusia yang dapat berkembang, belajar, dan berubah berdasarkan pengalaman hidup.
Secara sederhana, roh dapat dianggap sebagai aspek ilahi atau vital dari kehidupan, sementara jiwa lebih berkaitan dengan kepribadian, emosi, dan identitas individu. Namun, batasan antara roh dan jiwa bisa kabur dan sering kali diperdebatkan, tergantung pada interpretasi keagamaan atau filosofis tertentu.

Senin, 24 Juli 2023

MENGENANG SANG KOMEDIAN TEATER DIAN "BU TAHANUSANG"

MENGENANG SANG KOMEDIAN TEATER DIAN BU TAHANUSANG

Hari itu --20 Juli 2023-- dunia hiburan Sulut berduka atas berpulangnya sang komedian handal Bu Tahanusang. Sosok yang aslinya bernama Tamaka Kakunsi ini juga dikenal sebagai tokoh teater Sulut yang berkiprah selama 30 tahun di Teater Dian, sebuah grup yang kental dengan genre komedi. Selebihnya dia adalah tokoh pers yang bekerja hingga pensiun di Harian Manado Post.

Tamaka Kakunsi, yang akrab disapa Bu adalah seorang sarjana sosiologi lepasan STISIPOL Merdeka Manado. Ia jurnalis yang menghabiskan banyak tahun berkarier lewat Harian Manado Post.

Dramawan kelahiran 27 Juni 1952 ini bukan orang baru di dunia teater. Sejak mukim di Karangria pada penghujung 1970-an, Bu sudah dikenal sebagai sutradara sandiwara yang kerap mementaskan karyanya. Ia juga pendiri grup komedi Petra Grup yang sempat menjadi grup lawak terbaik dalam festival lawak se Provinsi Sulawesi Utara tahun 1983.


Kemudian selain menjalankan tugas kewartawanan, BU aktif berkarier di dunia hiburan lewat televisi dan panggung drama bersama Teater Dian yang digawangi sutradara Loegman Wakid.

Di layar kaca Bu tercatat ikut main dalam drama-drama dengan genre yang berbeda, namun ia lebih dikenal sebagai si jenius dalam genre komedi.

“Bukan komedi bila tidak lucu,” ujarnya suatu ketika. Dan tujuan komedi bagi dia akhirnya adalah untuk menghibur. Begitu setidaknya BU Tahanusang saat terlibat dalam beragam karya garapan Loeqman Wakid.

Trio kocak Sulut: Bu Tahanusang, Mongol Stres, dan Amoy

Mengenang pertunjukan Bu Tahanusang bersama Teater Dian adalah mengenang satir dan parodi cerdas. Isian kritik dan pesan yang dilontar lewat celoteh polos para pemeran membuat setiap aksi panggung Dian nampak sarat gizi. Balai-balai desa akan penuh sesak, panggung-panggung terbuka di pelosok-pelosok kampung dibanjiri penonton. Orang-orang ngakak hingga masuk got, kursi-kursi plastik patah tak mampu menahan tubuh yang diguncang tawa, begitu pemandangan setiap kali Teater Dian mentas.

Di grup itu, menciptakan puluhan karakter tetap untuk para aktornya termasuk tokoh BU Tahanusang adalah salah satu capaian kreatifitas Loeqman dalam kariernya sebagai sutradara. Karakter itulah yang terus hidup di atas panggung dalam puluhan tahun pertunjukan Teater Dian. Ini sebabnya, masyarakat lebih mengenal teater Dian lewat nama karakter tokoh para bintangnya.

Orang lebih mengenal “Tante Min” dari pada nama asli pemerannya Jean Waturandang, atau “Om Rombe” dari pada Sofyan Van Gobel, Bu Tahanusang dibanding Tamaka Kakunsi, Papanialo daripada John Piet Sondakh, Om Kale dibanding Jusuf Magulili, atau Anton Simore yang aslinya Richard Rhemrev.

Teater Dian tempat BU Tahanuasang bernaung juga bisa disebut teater-nya rakyat. Selain pentasnya menggunakan bahasa yang akrab digunakan masyarakat umum, ruang pertunjukannya lebih banyak berlangsung dari kampung ke kampung. Lebih dari separoh perkampungan di Sulawesi Utara telah bersua grup ini sejak awal 1980 lewat pertunjukan panggung penerangan. Mereka juga mengisi pertunjukan panggung-panggung penerangan di ruang terbuka dengan ribuan penonton seiring pameran-pameran besar yang berlangsung di Sulawesi Utara.

Sebagaimana akar teater komedi yang berasal dari era Yunani Kuno dan berkembang dalam teater komedi modern Barat, nomor-nomor pertunjukan Teater Dian lebih bertumpu pada kekuatan improvisasi dalam membangun alur pertunjukan. Gaya ini membuat komedi ironi spontan mereka begitu membius dan meledakan tawa penontonnya.


Cikal bakal berdirinya Teater Dian awalnya lebih diperuntukan untuk program-program penyuluhan dari Kantor Wilayah Departemen Penerangan Sulawesi Utara (Kanwil Deppen Sulut) baik lewat panggung, radio, dan layar kaca TVRI. Sebagai grup teaternya kantor penerangan, anggota pertama grup ini didominasi oleh para pegawai Deppen antaranya, Jean Waturandang (Tante Min), Richard Rhemrev (Anton Simore), Sofyan Van Gobel (Om Rombe), Olga Roring (Usi), Jusuf Magulili (Om Kale). Bahkan Dian dipimpin langsung seorang petinggi Deppen yaitu Masry Paturusi. Pertunjukan-pertunjukan mereka juga disutradarai Loeqman Wakid yang juga pegawai di kantor penerangan itu.

Dalam perkembangan berikutnya, Teater Dian ikut melahirkan para komedian non PNS antaranya Tamaka Kakunsi (Bu Tahanusang) Hamid (Kapulu), Adi Srimulat, Kadi, Muklis, John Piet Sondakh (Papanialo), Stefanus Sahambangun (Ondos), Samsi Bachmid (Om Sampel) dan beberapa nama kondang lainnya, termasuk Inyo Rorimpandey.

Sudah disentil sebelumnya, kejenialan Loegman sang sutradara dan konseptor pertunjukan dalam membangun karakter tokoh-tokohnya dengan mengeksplorasi sisi lugu dan polos seorang manusia. Bahkan, Loeqman berhasil membawanya lebih dekat, dengan mengadaptasi langsung karakter hidup etnik di Sulawesi Utara yang digabungkan dengan karakter profesi kaum bawah.

Paduan keluguan, kepolosan berlatar etnik inilah menjadi kekuatan hidup setiap tokoh ciptaan Loegman. Lewat tokoh-tokoh rekaannya itu, alur dramatik yang penuh kelucuan pun mengalir lancar, dan berhasil memasuki ruang emosi masyarakat Sulawesi Utara. Kendati karakter tokoh ciptaannya adalah sosok-sosok polos dan lugu, tapi aktor-aktris Teater Dian sejatinya kaum terpelajar bahkan sarjana dari berbagai bidang.

Tokoh Bu Tahanusang (Tamaka Kakunsi) adalah seorang sarjana dan jurnalis. Om Kale (Jusuf Magulili) sarjana se almamater dengan Bu Tahanusang. tokoh Om Sampel, penyandang sarjana pendidikan seni rupa. Sementara Papanialo (John Piet Sondakh) adalah aktor lepasan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). (*)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Minggu, 13 Januari 2019

TULUDE SINKRETIS & TULUDE POLITIS

Catatan Budaya Sovian Lawendatu

Tulude memang berubah berbareng dengan perubahan zaman. Maka, kita dapat membincangkan tentang adanya dua jenis (genre) tulude, yakni ‘tulude masa purba’ dan ‘tulude masa kini’.

TULUDE MASA PURBA : TULUDE SINKRETIS
Pada masa purba, tulude merupakan ritus menolak tulah dari arwah leluhur dan dewa-dewa. Hakikat tulude ini tergambar dengan jelas secara sosiologis fenomenologis. Di dalam sasalamate, misalnya, yang merupakan semacam mitos aetologis dalam tulude, nilai-nilai magis (praanimisme), animisme dan dewaisme (kepercayaan dewa-dewa), yang mendasari pelaksanaan tulude, begitu kental. Juga dalam mitologi pembuatan tamo, kue tradisional Sangihe yang dipotong dalam pelaksanaan tulude.

Tulude pada masa purba agaknya dapat disejajarkan dengan ritus meruwat alam di pulau Bali. Atau ritus memotong nasi tumpeng di Jawa, dengan sentrumnya Jogjakarta. Tentang hal ini, Brilman memang mensinyalir adanya pengaruh Hinduisme atas kepercayaan masyarakat Sangihe (dan Talaud) purba, yaitu eksistensi Duata atau Ruata. Sinyalemen Brilman ini, yang bertolak dari kesejajaran bentuk (morf) nama Duata dan Dewata, berterima, manakala kita mengingat akan realitas historis yang berkaitan dengan kehadiran Majapahit, sebagai Kerajaan Nusantara II sekaligus Kerajaan Hindu-Jawa. Sementara itu, kepulauan Sangihe (dan Talaud) merupakan wilayah ‘taklukan’ Majapahit, sehingga pengaruh keagamaan Majapahit ‘merasuki’ kehidupan religious masyarakat Sangihe.

Tulude pada masa purba mencerminkan sinkretisme. Ini sejalan dengan keberadaan agama masyarakat atau penduduk kepulauan Sangihe pada masa itu yang berbentuk campuran antara magi, animisme, kepercayaan dewa-dewa (dewaisme) dan penyembahan orang mati, sebagaimana dinyatakan oleh Brilman. Harap diingat bahwa di dalam sinkretisme itu, apalagi di dalam magi, tidak ada rasa atau sikap syukur dan terima kasih masyarakat Sangihe terhadap arwah leluhur dan dewa-dewa. Ini, oleh Brilman, dengan amat meyakinkan dibuktikan secara psikososiolinguistik. Tegasnya, tidak ada kata dalam bahasa asli Sangihe yang mengungkapkan rasa terima kasih --- kata “kase” atau tarima kase jelas diadaptasikan dari bahasa Melayu kasih atau terima kasih. Oleh sebab itu, nilai-nilai religiusitas tulude pada masa purba sama sekali tidak berdimensi etis, tapi magis. Dengan kata lain, tulude pada masa purba merupakan wahana penyelamatan masyarakat Sangihe dari malapetaka yang ditimpakan oleh arwah leluhur, dewa-dewa dan zat-zat ‘adikorati’ atau ‘adiinderawi’ lainnya. Tidak kebetulanlah bahwa nama sasalamate, sebagai komponen verbal religius tulude, berarti ‘alat penyelamatan’ (kata Sangihe ‘sa-‘ artinya ‘alat’, sedangkan ‘salamate’ artinya ‘selamat’).

TULUDE MASA KINI : TULUDE POLITIS
Hakikat tulude pada era perubahannya atau pada masa ‘sekarang’ secara umum digambarkan sebagai tradisi pengucapan syukur (thanks giving).  Ini berangkat dari pemahaman teologis agama-agama samawi di Sangihe, terutama kekristenan, terkait dengan ‘strategi pelayanan’ Gereja yang bertumpu pada paradigma ‘teologi kontekstual’ atau (barangkali lebih tepat) ‘teologi lokal’ (local theology). Berhubung dengan ini, maka kue tamo yang dipotong dalam tulude lebih dimaknai sebagai simbol harapan masyarakat Sangihe akan kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan, daripada sebagai sebuah realitas magis-mitis.

Sungguhpun demikian, tidak sepenuhnya berlaku bahwa fenomena tulude dewasa ini merupakan tradisi yang berdimensi religius-etis (pengucapan syukur). Pada kenyataannya, ada saja tulude yang berdimensi politik praktis. Tulude semacam ini dilaksanakan dengan motif massifikasi massa atau pencitraan, jika tokoh masyarakat tertentu diusung atau mengusung diri sebagai calon legislator (caleg), misalnya. Ini pernah terjadi dalam konteks tulude pada kitaran tahun 1990 atau 1991 di Kota Manado yang dilaksanakan oleh sebuah organisasi sosial kemasyarakatan Sangihe Talaud; sehingga pada tahun 1992, saya terdorong untuk menulis dan memuatkan sebuah artikel yang bertajuk “Tulude Politik” di Manado Post (artikel ini sampai sekarang tersimpan dalam kliping saya).

Dalam era perubahannya, pemahaman akan hakikat keberadaan tulude memang amat bergantung juga pada perspektif motivasi penyelenggaranya. Jika seandainya si ungke yang bernama ‘Petris Sasamboadile’ (nama ilustratif) mencalonkan diri sebagai Walikota atau Bupati, dan ia mendanai penyelenggaraan tulude, maka akan kelihatan gelagatnya untuk menjadikan tulude sebagai tradisi pengucapan syukur itu menjadi juga ‘keledai politik’. Dalam pepatah masyarakat Sangihe, motivasi penyelenggaraan tulude seperti ini dapat disebut ‘pia ambinge’, semacam pepatah ‘ada udang di balik batu’.

Pada masa kini, acuan umum bagi penatalaksanaan tulude sebagai tradisi upacara pengucapan syukur adalah Rumusan Hasil Seminar Nasional Kebudayaan Sangihe Talaud yang diselenggarakan pada tahun 1994 di Kota Tahuna (sayang sekali saya tidak sempat menghadiri acara spektakuler itu). Di dalam dokumen acuan umum itu sama sekali tidak diatur bahwa pelaksanaan tulude harus atau dapat ditandai dengan ‘upacara’ lainnya, seperti Upacara Penganugerahan Gelar Adat Sangihe.

Meskipun demikian, fakta yang terjadi justru lain. Bahwa pelaksanaan tulude pada masa kini tidak jarang ‘diboncengi’ oleh Upacara Penganugerahan Gelar Adat Sangihe kepada sejumlah tokoh. Ironisnya, tokoh-tokoh yang menerima anugerah gelar adat itu bisa dianggap ‘tidak tahu adat’, dalam arti tidak mengenal lekak-lekuk, seluk-beluk adat budaya masyarakat Sangihe. Dalam konteks ini, peran Dewan Adat lokal dominan; lembaga yang tidak jelas akar historis-kulturalnya ini justru menjadi pemegang hak paten atas penganugerahan gelar adat Sangihe. Ini sungguh ganjil, manakala kita sadar bahwa dalam tradisi kultural leluhur Sangihe, atau dalam khazanah kebudayaan Sangihe lama, tidak ada entitas upacara penganugerahan gelar adat, apalagi jika upacara ini dijadikan selayak ‘daging menumpang’ dalam tradisi ritual tulude. Sebaliknya saya justru melihat bahwa upacara penganugerahan gelar adat Sangihe itu lebih merupakan cangkokan dari ‘tradisi’ serupa dalam dunia kebudayaan Minahasa kontemporer.

Perubahan zaman memang menghadirkan semacam keragaman atas keseragaman masyarakat Sangihe dari sisi dunia-kehidupan (lebenswelt). Dan ini adalah realitas sosiologis yang niscaya. Dalam konteks tulude, persatupaduan dan kesatuan masyarakat Sangihe kini lebih merupakan keseragaman atau homogenitas interes sosial-keagamaan dan sosiopolitik daripada keseragaman atau kesatuan dunia-kehidupan (lebenswelt) yang berbasiskan nilai-nilai kultural leluhur. Maka, pada masa kini, hakikat tulude amat bergantung pada siapa penyelenggaranya, dan, tentu saja, siapa sponsornya.****
(Tulisan ini pernah dimuat di Manado Mags, Edisi 8 Januari 2016)

Rabu, 25 Juli 2018

PUISIKU: NAPAK TILAS APENG BIRA

I. 2000
mengenangmu apeng bira
di jejak awal kutulis janji di awan
sutra cinta ditenun ulat di rindang bakau
jejak hati dilukis seribu geleteng di alas pasir putih
dan cekikikan disiulkan angin laut
jadi simfoni untuk masa depan

II. 2011
di jejak kedua, ada canda tawa
buah-buah kehidupan
bergerombol main bola-bola pasir
berteriak dalam perang debur ombak
memotret buah-buah jejak pertama
berkeringat air laut pantai bergilamu
ketika pulang, kukemas selaksa rindu


III. 2018
di jejak ketiga, dengan tongkat rizki
kujejali landai punggungmu
meresapi amis nyare dan padang lamun
kucium bau desa nelayan somba
kucium wangi lemparan umpan komang
kucoba membeo nyanyian nelayan dondohang di atas batu hitam
mimpikan goropa dan bobara menyalami selamat datang
tapi kudilupakan sebagai anak tuan tanah
kuterhempas ke cadas kelam
kokohku linglung mencium amis air tanjung bebatuan
buah-buah kehidupanku melempariku bahak lugunya
tanpa tahu babak akhir kisah
ada di meja bedah
dr. wahyu slamet.

#edisiliburan3masa

                                          Bitung, Juli 2018

Pantai Apeng Bira pulau Tagulandang Kab. Kep. Sitaro

Label

. Menkeu 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955. 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2010 2011 2013. 2014 A AA abad ke-7 ABC abdul hadi wm ABK Abu Nawas Aceh achdiat k mihardja Adat agama Ahok AI airmadidi Airmadidi. ajaran sesat ajib hamdani Al-Qur'an Alkitab AMBON amsal amurang anak yatim/piatu anak-anak anggaran Angkatan 45 angsuran animal animasi animation Anjab Antasari aplikasi mobile apresiasi sastra Apuse Arab architectur architecture arsitektur artificial intelligence artikel. asal-usul lagu yamko rambe yamko Askes ASN Asrul Sani Astinet asuransi audio audio to text ayu ting ting B Babilonia baca artikel dibayar bahasa Bahasa Belanda bahasa daerah Bahasa Indonesia bahasa kreol Bahasa Portugis bahasa Termate Bahlil Dahadalia bahundak Bait Allah bajak BANJAR bank banten bantuan korea selatan Bapertarum barang dan jasa pemerintah Basuki BATAK batas laut batas usia pensiun. PP BB BBM bersubsidi Bea Cukai beasiswa bekerja dari rumah Belanda bencana bendera beras berita Betlehen biaro Bidat billing bimbo BIODATA BIOGRAFI bisnis bisnis gratis bisnis properti bisnis sampingan Bitung BKD BKN blogger BNI BNN bobbit worm Bolaang Mongondow Bolmut Bolong Bolsel Boltim BPJS BPKB BRI briptu norman kamaru BTN Bu Tahanusang budaya Budaya Kerja budayawan bugil building buku bulan BUMD BUMN bunaken bung karno BUP bupati C Camat CC ccovid-19 cerita rakyat cerpen Chairil Anwar China choir cicilan cincin cinta CIO CIPTA KERJA CIPTAKERJA civil servant classical coconut octopus collorydianisme conference contoh convert copy-paste foto covid-19 CPNS cuti cuti bersama D D.Brilman Dacuda Pocket Scanner daerah daerah otonom baru Dana Sehat DAU denda desa desain detektor logam Dhana Widyatmika Dialek Diklat Kompetensi DIKLAT PIM dirjen dirjen anggaran disiplin diskusi diving DKI doa dogma dokumen dolar domain dongeng download DP3 DPR drama dramatik dramatis personae DRH Driver duasudara dubes duda duit dunia E e-billing e-Gov E-KTP e-voting edaran Edaran Mendagri eigendom ekonomi eksistensialisme eksperimental ekstensi eliezer Ensiklopedi Epifanius erupsi esai eselon extension F f. Kelling facebook Fiery Cross Reef Filsafat fisik foto funny gaji gaji baru PNS gaji baru Polri gaji baru TNI gaji hakim gaji ke-13 Gaji PNS 2013 gaji polri 2011 gaji polri 2013 gaji tni 2011 gaji TNI 2012 gaji tni 2013 galungan Ganefo gangguan kecemasan ganti logo blogger garuda gaya hidup gayus GCIO gelombang gembala gempa generasi Alfa generasi baby boomers generasi diam generasi milenial generasi Z gereja GG Gibran Rakabuming GMIM Golongan Ruang Google Cloud Google drive Google One grafik Gregorian gubernur gunung api Gunung Ruang gunung Salak guru hairy frogfish hakim halmahera HAM hari libur hari raya HB Yassin HB Yassin. HB Yassin HB Yassin. Pusat Dokumentasi hewan Hijriyah Hindu hobby home honorer house hukum hut I Nyoman Nuarta idul fitri II Ijazah Palsu iklan gratis iklan rumah IKN imlek Indihome Indonesia industri Infotek Inggris Injil Inpres instansi pemerintah integritas interior internet Islam israel istana garuda Istana Garuda Ibukota Nusantara Istana Presiden IKN IT ITE ITM jabatan fungsional jabatan pimpinan jabatan struktural jaksa janda JAWA jenderal jiwa Johnson Reef Jokowi jual-beli jual-beli rumah Julian K-1 K-2 KABUPATEN kalabat kalender Kalimantan kampanye kampus Kamus kandang domba kartu kredit karunia KARYA SATYA Kasus kata bijak kata mutiara kata-kata bijak kata-kata hikmat kata-kata mutiara kawasan khusus kawin KBBI KDKMP keamanan KEK Kekayaan kelahiran Yesus kelas keluarga kelurahan Kemen-PU Kemendagri Kemenkeu Kemenkum-HAM Kementrian kenaikan gaji kenaikan pangkat Kepala Daerah Kepdirjen Keppres kepribadian Keputusan Ka BKN keputusan menteri kerajaan kereta jenazah kereta kerajaan kereta pernikah william kerja Kesehatan keuangan Khotbah khotbah. kiamat Kisah Mahabarata KK Klasik Kode Etik koloriadianisme komedi Kominfo konstitusi konversi koor koperasi korpri Korupsi KOTA Kotamobagu koupsi KPCPEN KPK kristen Kritik Sastra kritik seni kue kuliah kunci foto L lagu lagu daerah Lagu Daerah lagu daerah Jawa Timur Lagu daerah Papua Lagu daerah Riau Lagu Daerah Sangihe lagu nasional lagu Papua lambang daerah langganan langowan lapas larangan laut Laut China Selatan lawak lebaran legenda lemang Lembaga Negara lembeh Lembeh Resort Lembeh Strait LG LHKPN libur nasional liburan Likupang lingkungan kerja Lirang lirik lirik lagu Lirik Lagu Daerah litle logo lokon lomba sastra lowongan lucu Lurah M magnitudo mahasiswa mahasiswa baru mahawu makar MALUKU Malut Manado mandarin fish Manganitu manusia marah rusli marga masa Anak-anak masamper masarang Masehi Mawali Mazmur media massa meja Melayu mendagri mengajar menkeu Menpan merah putih MERS Mesir mesjid metal detector Meyer migdal eder mimic octopus Minahas minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara minangkabau Mischief Reef mistik mitos MM mobil bekas mobil jenazah mobil mewah mochtar lubis model money Mongondow monumen moratorium motivasi motivasi hidup Mouse Scanner MPR Mr. Assat Mr. Sjafruddin muhaling Muhammad Musa mutasi nabi NAD nama domain nama etnis nama fam nama klan nama marga nama orang nama suku NARKOBA Nasdem nasi jaha Nasrani natal negara NEWS NII nikah NIP novel Nuklir Nusantara o ina ni keke OMNIBUS LAW oneness Orang Terkaya orde baru outsourcing pada pahlawan padang gembala paduan suara Pajak PAK pakaian adat Pakaian Dinas pandemi Pangdam pangkat PNS pangkat polri pangkat TNI pantai pantekosta pantun papan tulis elekronik papan tulis sekolah PAPUA partitur paskah paypal pdf pegawai pegawai tidak tetap pemerintah pejabat pejabat eselon pejabat pimpinan tinggi pelantikan pelayan khusus Pelindo pemalsuan pembunuhan Pemda Pemerintah pemerintah daerah pemilihan pemukiman pendaki pendeta pendidikan penembakan penerbangan penerimaan CPNS penerimaan pegawai BUMN penipuan Penpres pensiun pensiun pokok pensiunan pentakosta penyair penyaliban penyimpanan Perang Dunia peraturan kepala BKN peraturan menteri Peraturan Pemerintah perda perguruan tinggi perhubungan Peribahasa Periodisasi Perjalanan Dinas Perjanjian Lama perjuangan perkawinan Permen pernikahan william dan kate PERPPU PERPPU 1959 Perpres pers perumahan Perumnas pesawat pidato pigmy seahorse Pilgub DKI Pilkada Pilpres pinjaman plagiat PLN PMK PMK. Menkeu PNBP PNS PNS. Kekayaan poem poetry polisi politik politisi polling polri Portugis postmodernism PP PP 53 PP1998 PP2000 PP2001 PP2002 PP2011 PP2012 CPNS PPATK PPPK Prabowo prabu siliwangi pramugari Presiden RI Presiden SBY pria profesi propinsi proposal prosa protes Provinsi proyek psikiater psikis psikologi PTTP Puisi puisi lama pulau Spratly pulsa PUPNS PUPR purnawirawan Pusat Pusat Dokumentasi R raja ramalan ramayana rapel Rasul Rasul Paulus Ratahan read real estate Rek Ayo Rek rekening rekening gendut remunerasi remunerasi PNS daerah renovasi renungan resensi Retribusi Menara review sastra ribbon eel RIS Rismon Sianipar ritual Rivai Apin roh roman Romawi ROSIHAN ANWAR Roy Suryo rumah rumah kontrakan rumah mewah rumah murah Rumah Sakit rumah sederhana rumah tangga RUU RUU ASN RUU BPJS RUU Tipikor S salary salib sambo sandi sangihe SANGIHE TALAUD SANKSI santo sapaan SARS sastra sastra daerah sastra indonesia sastra online satgas SATYALENCANA Scribd sejarah sejarah Al'Quran sejarah gereja sejarah gereja. Sejarah Sastra Sekda sekolah dasar selingkung Seminar seniman sertifikasi guru server Shukoi siau siber SIM sinagoge Singapura sinopsis sipir siswa Sitaro siti nurbaya SK skala richter sms soeharto Soekarno Soleram Solo Soputan sosialisasi sosiologi Spanyol STAN standar biaya STNK storage stress studi komparasi su domain sub domain Subi Reef sufi Sukhoi suku maya Sulawesi Utara Sulut surat edaran Surat Kepercayaan Gelanggang Sutiyoso syahrini syair T tabel tabel gaji pns 2000 tabel gaji pns 2011 tabel gaji pns 2012 tabel gaji pns 2013 tabel gaji pns 2019 Tabel Gaji Polri 2012 Tabel Gaji Polri 2014 TABEL GAJI TNI 2011 TABEL GAJI TNI 2012 TABEL GAJI TNI 2013 tabel gaji TNI 2014 TABEL LENGKAP GAJI POLRI 2011 tabungan tabut Taguladang tagulandang tahun baru tahuna takhayul talaud tanah Tangkoko TAP MPR Taperum tarian tata bahasa taurat taurat. teater Dian teknologi teks Telekomunikasi Tenaga Ahli terminal Ternate teror TERORIS text to audio The Age the royal wedding TIK tips tni TOKOH tokoh dunia tokoh indonesia tokoh islam tomohon tondano torah tradisi transfer trinitas Try Sutrisno tsunami Tsunami tulude tunjangan TVRI Two Fish U uang UGM UN undang-undang Undang-Undang Pokok Agraria unduh unitarian Unpad Unsrat upacara upacara adat UU UU 1948 UU ASN UU Penerbangan UUD UUDS UUPA V vaksin video video conference video lucu viral virus VOC W wabah waisak wakil presiden wali kota walikota wamen warakawuri wartawan website WHO Wikileaks william shakespeare wisata selam wise word Woody Reef Wuhan Yahudi yamko rambe yamko Yehuda Yerusalam Yesus Yosua Yus Badudu yusuf hamka