Berbagi pengetahuan bahasa, seni musik, sastra, sejarah, budaya, etnik, agama Kristen, agama Islam, lagu daerah, lagu rohani, undang-undang dll.
Kamis, 23 April 2020
Rabu, 15 April 2020
Puisiku: Revolusi ala Kampret
REVOLUSI ALA KAMPRET
revolusi ini revolusi kampret
dunia serba terbalik
revolusi ini revolusi kemanusiaan
dari kampret ke manusia
kampret memandang manusia terbalik
manusia memandang kampret terbalik
maka kampret jadikan manusia terbalik
kampret pun diserang balik: "gara-gara kau!"
ingin kujenguk batin kampret telusur dunianya
sayang tak ada wahana tumpangan
karena jalan lagi kena PSBB
dan kota lagi lockdown
kampret datang menjenguk manusia
menyusuri cerita alih fungsi hakikatnya
kala covid-19 lawat dunia
ada revolusi ala kampret di sini, di bumi ini
dunia jungkir balik:
komunal ke individual
kecongkakan ke idiot
adikuasa ke lunglai
kecongkakan agama ke gamang
bersatu ke bercerai
rindu ke benci
jabatan ke namaste
komunitas ke individualitas
satu mimbar ke sejuta mimbar
jenuh rumah kehome sweet home
ramai ke sepipekerja ke penganggur
pengangguran jadi berharga
bekerja jadi momok
topeng jadi wajah
wajah jadi ancaman
sakit jadi aib
kematian jadi auman singa
rumah jadi kantor, jadi sekolah
jadi masjid, gereja, pura, vihara, kelenteng
perjumpaan jadi bencana
penganggur jadi direktur dapat upah ala bansos
Covid kampret bawa revolusi di sini
namun Tuhan tak bisa be-revolusi jadi hantu.
Bitung, 15 April 2020
Dalam renung bencana Covid-19
Senin, 23 Maret 2020
𝗖𝗢𝗩𝗜𝗗-𝟭𝟵 𝗩𝗦 𝗞𝗘𝗔𝗡𝗚𝗞𝗨𝗛𝗔𝗡 𝗜𝗠𝗔𝗡
Jumlah negara di seluruh dunia yang terpapar mencapai 189 negara. Peringkat pertama diduduki oleh China, menyusul Italy, Spanyol, Amerika Serikat, Jerman, Iran, Prancis, Korsel, Swiss dst. Sementara Indonesia hari ini berada pada urutan ke 37 dengan angka kasus 450 orang, meninggal 38 orang, sembuh 20 orang. Sedangkan yang bertengger pada nomor buntut adalah negara Uganda dengan 1 kasus dan dalam penanganan.
Dari 189 negara terpapar wabah corona, paling menarik sekaligus mengerikan adalah kasus di Korea Selatan. Wabah corona di negeri ginseng ini justru penyebarannya lebih separuh terjadi dalam ibadah di gedung gereja. Dari total 4.212 kasus virus corona yang terkonfirmasi di Korea Selatan (Korsel), lebih dari separuhnya terkait dengan Gereja Shincheonji Yesus di Daegu. Pemimpin sekte tersebut, Lee Man-Hee, pun meminta maaf kepada publik atas penyebaran virus corona secara luas yang berpusat di gerejanya.
Di Iran, korbannya banyak dari kalangan ulama. Jika ulamanya terpapar, maka bisa diduga para pengikutnya juga jadi korban. Iran juga merupakan pusat dan awal persebaran wabah corona di Timur Tengah. Sebab, mayoritas penderitanya adalah mereka yang pernah mengunjungi Iran.
Lain halnya dengan kasus Itali. DI negara itu, wabah corona merajalela karena ketidaktaatan warganya terhadap imbauan pemerintah, ditambah kurang tegasnya pemerintah dalam menegakkan imbauannya. Pemerintah mengimbau soal darurat corona yg intinya meminta seluruh warga negara untuk melakukan social distancing, kerja dari rumah, belajar dari rumah dan ibadah dari rumah. Namun apa yang terjadi? Imbauan itu dianggap angin lalu. Masa “libur” kerja, sekolah dan ibadah justru disalahgunakan. Banyak warga memanfaatkan masa “libur” itu untuk mengunjungi objek-objek wisata dan tidak sedikit yang memanfaatkannya untuk mudik ke desa-desa. Efeknya sungguh luar biasa. Wabah pun menyebar dari tempat-tempat wisata di kota dan mereka yang telah terpapar ikut andil menyebarkannya dengan melakukan perjalanan mudik ke desa-desa. Akibatnya, wabah menebar maut hingga ke desa-desa.
Saudara, di Indonesia pemerintah dan tokoh-tokoh dan pemimpin agama dan gereja telah mengeluarkan imbauan, instruksi, maklumat, penggembalaan dan istilah lainnya yg mirip agar seluruh warga negara ini melakukan social distancing, aktivitas kerja dari rumah, belajar dari rumah dan ibadah di rumah, hindari kerumunan dan kontak fisik, cuci tangah dengan hand sanitizer, dan berbagai imbauan lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk memutus mata rantai penyebaran vuris corona. Namun sangat disayangkan, ada begitu banyak orang yang angkuh dan congkak iman, baik anggota jemaat maupun sebagian tokoh agama. Mereka menanggapi nyinyir imbauan itu. Mereka beranggapan bahwa doa dan ibadah mereka lebih kuat daripada virus corona. Tanpa mereka sadari, kecongkakan iman itu telah mengancam kehidupan banyak orang. Kecongkakan iman itu telah menghancurkan rasa cinta kasihnya terhadap sesama manusia yg bakal terpapar corona. Mereka mengasihi Tuhan Allah, tetapi di lain sisi mereka justru tidak mengasihi sesamanya dengan memberi peluang terpapar virus mematikan itu.
Kasus di gereja Shincheonji Yesus di Daegu Korsel merupakan salah satu bukti kecongkakan iman terhadap imbauan pemerintah. Dampaknya, 2000 lebih anggota jemaatnya (lebih dari separuh kasus di Korsel) terpapar virus corona sehingga pemimpinnya terancam pidana hukuman mati.
Lalu kita di sini, di Indonesia ingin mengikuti kecongkakan iman pemimpin gereja Shincheonji Yesus di Daegu Korsel? Maukah kita mati sia-sia oleh keangkuhan tokoh gereja/agama kita? Maukah kita mati sia-sia karena kebodohan kita dalam menyikapi malapetaka yg ada di depan mata kita?
Ingat, COVID-19 adalah sesuatu yg tak kasat mata. Dia datang tanpa salam, tanpa wujud, tanpa waktu yang pasti dan tanpa belas kasihan. Dia akan datang tanpa mengecek apakah saya pemimpin agama yang taat beriman, anggota jemaat yang pecaya Tuhan, ataukah seorang ateis. Gunakanlah hikmat yang diberikan oleh Allah untuk menjadi bijaksana dan jangan kau mencobai Tuhan Allahmu dengan wabah COVID-19 ini. Amin. (𝗦𝗲𝗺𝘂𝗲𝗹 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴)
𝐂𝐎𝐕𝐈𝐃-𝟏𝟗 𝐯𝐬 M𝐞𝐧𝐜𝐨𝐛𝐚𝐢 𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧
Saat ini, sekarang ini, semua warga masyarakat diinstruksikan oleh pemerintah dan pimpinan agama dan para ulama untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah dan kegiatan kumpul-kumpul banyak orang. Bahkan kegiatan ibadah pun diliburkan sementara, baik di gedung gereja, di kelompok-kelompok peribadatan, di mesjid, vihara dll dan diganti dengan ibadah di rumah masing-masing. Hal ini dimaksudkan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona atau COVID-19. Suatu keputusan yang sangat arif dan urgen.
Walaupun maksud pemerintah dan pihak pimpinan dan tokoh agama itu sangat penting untuk keamanan dan keselamatan di setiap orang, namun ada pihak yang nyinyir dengan imbauan itu. Alasan mereka, tidak takut karena mereka hidup dengan iman kepada Tuhan. Tuhan pasti akan melindungi, karena saya sangat percaya kepada TUHAN dan alasan-alasan lain yang menentang imbauan.
Saudara, iman, doa, ibadah dan kegiatan keagamaan apapun tidak bisa dijadikan alasan untuk menentang kebijakan pemerintah dan pimpinan agama (termasuk gereja). Alasan-alasan demikian sebenarnya sangat tidak bijaksama dan sangat tidak memperlihatkan sebagai orang beriman.
Mengapa saya sebutkan sebagai tindakan yang tidak memperlihatkan sebagai orang beriman? Karena secara tidak sadar ia telah dan ingin mencobai Tuhan. Ya, mencobai TUHAN. Sebagaimana Tuhan Yesus dicobai iblis dalam Matius 4:5-7: ‘’𝐊𝐞𝐦𝐮𝐝𝐢𝐚𝐧 𝐈𝐛𝐥𝐢𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐰𝐚-𝐍𝐲𝐚 𝐤𝐞 𝐊𝐨𝐭𝐚 𝐒𝐮𝐜𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐃𝐢𝐚 𝐝𝐢 𝐛𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐁𝐚𝐢𝐭 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚-𝐍𝐲𝐚: "𝐉𝐢𝐤𝐚 𝐄𝐧𝐠𝐤𝐚𝐮 𝐀𝐧𝐚𝐤 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡, 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐫𝐢-𝐌𝐮 𝐤𝐞 𝐛𝐚𝐰𝐚𝐡, 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐭𝐮𝐥𝐢𝐬: 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐞𝐧𝐚𝐢 𝐄𝐧𝐠𝐤𝐚𝐮 𝐈𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐞𝐫𝐢𝐧𝐭𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐢𝐤𝐚𝐭-𝐦𝐚𝐥𝐚𝐢𝐤𝐚𝐭-𝐍𝐲𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐄𝐧𝐠𝐤𝐚𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐭𝐚𝐬 𝐭𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚, 𝐬𝐮𝐩𝐚𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤𝐢-𝐌𝐮 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐛𝐚𝐭𝐮.” 𝐘𝐞𝐬𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚𝐧𝐲𝐚: "𝐀𝐝𝐚 𝐩𝐮𝐥𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐭𝐮𝐥𝐢𝐬: 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐨𝐛𝐚𝐢 𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧, 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡𝐦𝐮!"’’
Yesus sendiri menolak permintaan iblis karena itu adalah tindakan mencobai Tuhan. Hal mencobai Tuhan telah berulang diingatkan oleh Allah lewat Keluaran 17:2, Ulangan 6:16, Matius 4:7 dan Lukas 4:12. Mengapa mencobai Tuhan? Mencobai dengan bentuk dasarnya mencoba menurut KBBI adalah “mengerjakan (berbuat) sesuatu untuk mengetahui keadaannya dsb”. Dengan demikian, orang yang menyatakan tidak takut dengan virus corona karena percaya “Tuhan pasti melindungi” sebagai balasan imannya adalah suatu tindakan mencobai Tuhan. Tindakan demikian adalah bukti kecongkakan iman dan kehidupan keagamaannya.
Tindakan mencobai Tuhan bukanlah bukti dari imannya kepada Tuhan tetapi secara tidak sadar telah mempertunjukkan keraguannya kepada Tuhan. Ingat! Sesuatu yang meragukan membutuhkan pembuktian. Pembuktiannya dapat dilakukan dengan mencoba. Misal, Anda membeli pakaian di toko fashion. Nomornya pasti sudah Anda tahu berapa yang pas untuk tubuh Anda. Tapi Anda ragu lalu mencobanya dulu di kamar pas. Tindakan mencoba di kamar pas adalah tindakan mencobai.
Saudara, kita diberikan hikmat dan kebijaksaan oleh Tuhan untuk menilai sesuatu termasuk pandemi virus corona dan kebijakan pemerintah tanpa harus mencobai-Nya. Karena itulah raja Salomo mengingatkan semua orang melalui Amsal 27:12: 𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐣𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐩𝐞𝐭𝐚𝐤𝐚, 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐞𝐦𝐛𝐮𝐧𝐲𝐢𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐚, 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐚𝐦𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐤𝐞𝐧𝐚 𝐜𝐞𝐥𝐚𝐤𝐚..
Terkait imbauan pemerintah terkait social distancing (menjaga jarak sosial), kita juga diingatkan oleh kitab suci. Roma 13:1-2 berkata: 𝐓𝐢𝐚𝐩-𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐚𝐤𝐥𝐮𝐤 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐞𝐦𝐞𝐫𝐢𝐧𝐭𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢 𝐚𝐭𝐚𝐬𝐧𝐲𝐚, 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐞𝐦𝐞𝐫𝐢𝐧𝐭𝐚𝐡, 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡; 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐦𝐞𝐫𝐢𝐧𝐭𝐚𝐡-𝐩𝐞𝐦𝐞𝐫𝐢𝐧𝐭𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚, 𝐝𝐢𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡. 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐢𝐭𝐮 𝐛𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐰𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐦𝐞𝐫𝐢𝐧𝐭𝐚𝐡, 𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐰𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚, 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐮𝐤𝐮𝐦𝐚𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐬 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐧𝐲𝐚. AMIN. (𝐒𝐞𝐦𝐮𝐞𝐥 𝐌𝐮𝐡𝐚𝐥𝐢𝐧𝐠)





