Studi Komparasi Narasi Kitab Suci Alkitab dan Al'Qur'an
1. Pendahuluan
1. Pendahuluan
Alkitab (Bible) adalah kitab suci umat Yahudi dan Kristen, terdiri atas Perjanjian Lama (kitab-kitab Taurat, nabi-nabi, Mazmur dll) dan Perjanjian Baru (Injil dan surat-surat). Teks aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani (misalnya Biblia Hebraica Stuttgartensia untuk Perjanjian Lama dan Novum Testamentum Graece [Nestle-Aland] untuk Perjanjian Baru[1]). Terjemahan Alkitab bahasa Indonesia (LAI-Terjemahan Baru) pertama terbit tahun 1974 dengan sumber teks tersebut[1]. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. pada tahun 610–632 M, dan dikompilasi menjadi satu mushaf baku masa kekhalifahan Utsman (r. 644–656 M)[2][3]. Hadits (riwayat Nabi Muhammad) awalnya tersebar lisan oleh para sahabat, baru dikumpulkan secara tertulis kira-kira 100–200 tahun setelahnya; kitab-kitab sahih Bukhari dan Muslim disusun abad ke-3 H (700–800 M)[4].
Alasan Paralelisme
Alasan Paralelisme
Al-Qur’an memang sering memuat kisah-kisah tokoh dan peristiwa yang juga muncul dalam Alkitab. Misalnya, “Al-Qur’an memuat rujukan lebih dari lima puluh tokoh dan peristiwa yang sama dengan yang ada dalam Alkitab”[5]. Para mufassir klasik bahkan kerap menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan merujuk kepada Taurat dan Injil (“tafsir bi’l-kitāb”)[6]. Karena itu narasi seperti penciptaan Adam, banjir Nuh, dan kisah nabi-nabi Ibrahim, Musa, Daud, maupun Yesus ditemukan dalam kedua kitab suci. Namun narasi Qur’ani cenderung menekankan pelajaran moral atau teologis, sedangkan narasi Alkitabiah sering lebih detail. Sebagai contoh, kedua kitab menyampaikan ajaran moral yang sama (misalnya Tuhan hanya menerima pengorbanan orang benar)[7], meski urutannya berbeda.
2. Tokoh-Tokoh Alkitab dalam Al-Qur’an dan Hadits
2.1 Propeta Biblika dalam Islam: Banyak nama nabi dalam Alkitab juga muncul dalam Al-Qur’an dengan nama Arab. Misalnya Adam (Ibrani: אָדָם, Quran: آدم), Nuh (Noah, نوح), Ibrahim (Abraham, إبراهيم), Isḥaq (Ishak, إسحاق), Yakub (Yaʿqūb, يعقوب), Musa (Moses, موسى), Daud (Dāwūd, داوود), Salomo (Sulaymān, سليمان), Yunus (Yūnus, يونس), Zakharia (Zakariyyā, زكريا), Yohanes Pembaptis (Yahya, يحيى), dan ʿĪsā (Yesus, عيسى). Uraian ensiklopedi menyebutkan “Qur’an memuat rujukan lebih dari lima puluh orang dan peristiwa yang juga terdapat dalam Alkitab”[5]. Dengan demikian, kisah-kisah para nabi ini dituturkan kembali dengan nuansa Qur’ani, misalnya menegaskan tauhid (ketuhanan), ujian iman, dan moralitas.
2.2 Adam dan Hawa: Dalam Alkitab Perjanjian Lama (Kejadian 1–3), Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Misalnya, Kejadian 1:27 (Ibrani) berbunyi “בְּרֵאשִׁית בָּרָא אֱלֹהִים… בְּצֶלֶם אֱלֹהִים בָּרָא אֹתָם”[8] (“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi… Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya”[9]). Perjanjian Baru (Yohanes 1:1) membuka dengan “Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ Λόγος…” (Yohanes 1:1, Yunani)[10] (“Pada mulanya adalah Firman… Firman itu adalah Allah”[11]) yang menghubungkan Adam dengan kehadiran Firman (Kristus). Dalam Qur’an, kisah Adam disebutkan dalam beberapa surah. Misalnya QS 2:35 – “وَقُلْنَا يَـٰٓـَٔادَمُ ٱسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ ٱلْجَنَّةَ…” (Waqūlnā Yā ādamuskun anta wa zawjuka al-jannata; “Dan Kami berfirman: ‘Wahai Adam! Tinggallah engkau bersama istrimu di dalam surga…’”[12]). Ayat ini (dengan terjemahan LAI-TB di atasnya) menunjukkan perintah Allah kepada Adam dan isterinya untuk tinggal di surga hingga dilarang mendekati pohon tertentu[12]. Sementara itu, Hawa (Eve) disebut nama secara eksplisit hanya dalam Alkitab (Kej 3:20, Bahasa Indonesia: “Adam memberi nama Hawa kepada isterinya…”). Dalam Qur’an Hawa tidak disebutkan namanya, hanya disebut “زوجك” (zawjuka, “isterimu”)[12]. Kedua narasi serupa secara umum (penciptaan dari tanah, godaan Iblis, dan kejatuhan), namun Qur’an menekankan dialog moral (Iblis mengajak berbuat kerusakan[13]) dan doa tobat Adam, sedangkan Alkitab memberi detail pengharaman buah dan hukuman dosa.
2.3 Kain dan Habel: Kejadian 4 mencatat bagaimana Adam dikaruniai dua anak: Kain (petani) dan Habel (gembala). Keduanya mengurbankan persembahan kepada Allah, tetapi Allah hanya menerima persembahan Habel. Iri hati membuat Kain membunuh adiknya (Kej 4:8), lalu dihukum Allah menjadi pengembara (Kej 4:12). Al-Qur’an menceritakan insiden serupa dalam Surah Al-Mā’idah (5:27–31), meski tidak menyebut nama “Kain” atau “Habel”. Silsilahnya, yaitu dua putra Adam, disebut secara umum (QS 5:27)[14]. Perbedaan penting: dalam Qur’an justru saudara yang taat (yang persembahannya diterima) menasihati yang jahat agar tidak membunuhnya[15]. Setelah pembunuhan, Qur’an menambahkan kisah seekor gagak yang mengajari salah satu saudara mengubur jenazah saudaranya (QS 5:31), sebuah detail unik yang tidak ada di Kitab Kejadian[16]. Selanjutnya, kedua kitab menggarisbawahi pesan moral; Qur’an 5:32 menetapkan asas “siapa yang membunuh jiwa tanpa alasan, maka seolah-olah ia membunuh seluruh umat manusia, dan siapa yang menyelamatkan jiwa, seolah-olah ia telah menyelamatkan seluruh umat manusia”[17] (sejalan dengan ajaran biblikal tentang kesakralan hidup manusia). Peristiwa ini menunjukkan kesamaan tema keadilan Ilahi, meski detail dan penekanan kisah berbeda[14][17].
Catatan: Bagian ini sebaiknya dilengkapi dengan kutipan ayat lengkap versi asli (Ibrani/Kristen dan Arab Qur’an) beserta terjemahannya. Misalnya: Kejadian 1:1 (Ibrani): “בְּרֵאשִׁית בָּרָא אֱלֹהִים אֵת הַשָּׁמַיִם…” dan LAI-TB: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”[9]; QS 2:35 (Arab): “وَقُلْنَا يَـٰٓـَٔادَمُ…” dan Terjemahan: “Dan Kami berfirman: ‘Hai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga…”[12].
3. Peristiwa-Peristiwa Alkitabiah dalam Qur’an dan Hadits
3.1 Penciptaan Dunia: Menurut Alkitab, dunia diciptakan dalam enam hari (Kejadian 1), dimulai dari “Pada mulanya” (Heb: “bereshit”). Setiap hari Allah mengucap perintah (“Jadilah…”), hingga terbentuk langit, bumi, dan segala isinya[9]. Qur’an menegaskan Allah sebagai Pencipta segala sesuatu: misalnya QS 79:27–30 menyebut bahwa Allah “menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran” (ﺇِنَّا خَلَقۡنَٰكَ فَلَوۡلَا تُصَدِّقُ ﴿وَأَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا أَخَرَ﴾, Ar-Rahman 55:11). Perbedaan utama: Alkitab secara kronologis mendeskripsikan tahap demi tahap, sedangkan Qur’an sering menyebut penciptaan alam semesta dalam konteks ayat-ayat tauhid tanpa detail hari-hari penciptaan. Kajian arkeologi tidak mendukung kisah penciptaan harfiah dalam waktu singkat; misalnya, sedimen geologi mengindikasikan bumi berproses lebih dari satu peristiwa kejadian[18][19].
3.2 Taman Eden: Alkitab menggambarkan Eden sebagai taman surgawi berisi sungai-sungai (Kej 2:10-14). Lokasi fisiknya tidak jelas, tetapi beberapa peneliti modern mencoba mengidentifikasi tempatnya. Misalnya, arkeolog David Rohl berpendapat Taman Eden mungkin terletak di lembah dekat Gunung Sahand, Iran utara[20]. Sementara tradisi Sumeria menyebut tempat bernama “Dilmun” (kini daerah Teluk Persia) sebagai taman kesempurnaan, yang diduga mempengaruhi narasi Eden[21]. Dalam Qur’an, Eden disebut “surga” tempat Adam dan Hawa (QS 2:35; 7:19; 20:117), tanpa menyebut nama pohon maupun sungai secara spesifik. Qur’an menekankan Hawa sebagai pasangan Adam dan kejatuhan melalui godaan setan, tetapi tidak menjelaskan geografi Eden. Hingga kini, belum ada temuan arkeologis yang konklusif mengidentifikasi lokasi Eden di Bumi. Ilmu arkeologi lebih mencatat kebudayaan kuno (Sumeria, Mesir, dsb.) yang diwariskan melalui mitos, daripada memverifikasi Eden secara fisik.
3.3 Pengusiran dari Taman: Narasi pengusiran Adam-Hawa mirip dalam kedua kitab. Alkitab (Kej 3) mencatat setelah mereka memakan buah terlarang, Allah mengusir mereka dari Eden dan mengenakan pakaian kulit (Kej 3:21). Qur’an menyebut Adam dan Hawa diturunkan dari surga ke bumi sebagai akibat godaan Iblis (QS 2:36, 7:24). Perbedaan: dalam Qur’an Iblis memperdaya mereka untuk melihat telanjang (QS 20:121), sedangkan Alkitab menggambarkan mereka sadar setelah makan dan malu (Kej 3:7). Lokasi Taman Eden tetap menjadi subjek spekulasi (lihat di atas). Secara sejarah, tidak ada bukti arkeologis konkret tentang penampakan taman surgawi tersebut; cerita ini lebih dipahami teologis sebagai penjelasan asal mula kedurhakaan manusia dan kehadiran dosa.
3.4 Banjir Besar (Air Bah): Alkitab (Kejadian 6–9) menceritakan bahwa karena kejahatan manusia, Allah mengirim banjir besar yang menenggelamkan bumi, hanya menyisakan Nuh, keluarganya (tiga anak), dan sepasang dari tiap jenis hewan dalam bahtera (Kej 7:12–17)[18]. Setelah banjir surut, bahtera mendarat di Gunung Ararat (Kej 8:4). Qur’an memiliki kisah serupa tentang Nūḥ (Surah 11, 23, 26, 54, dan lain-lain): Nuh diberi perintah oleh Allah membangun bahtera demi menyelamatkan dirinya, keluarganya, dan para mukmin dari banjir yang mendatangi orang kafir (QS 11:36–48). Mirip dengan Injil, Qur’an menekankan perlunya ketaatan dan iman, walau tidak menyebutkan identitas istri/salah satu anak Nuh secara eksplisit (bahkan menegaskan istri Nuh pun kafir [QS 66:10]). Perbedaan detail: Qur’an fokus pada dakwah Nuh yang sia-sia kepada kaumnya sebelum banjir dan ayat moral setelahnya (misal QS 29:14 menyebut usia Nuh 950 tahun seperti dalam Kitab Kejadian 9:29), serta tidak menggambarkannya mabuk (kisah yang ada dalam Kejadian 9:20–27 di luar Qur’an).
Bukti Arkeologis: Arkeolog mencatat adanya lapisan banjir lokal pada abad ke-3–2 SM di beberapa situs Mesopotamia (seperti Shuruppak atau Ur)[22]. Namun tidak ada konsensus tentang banjir global yang menenggelamkan seluruh bumi. Geologis menunjukkan endapan evaporit (garam) dan lapisan sedimen di banyak tempat membentuk selama jutaan tahun, tidak konsisten dengan banjir singkat[19]. Mayoritas ilmuwan menilai kisah Air Bah Alkitab terinspirasi oleh legenda Mesopotamia kuno (misalnya Gilgames dan Atrahasis), yang kemudian diadaptasi dalam tradisi Yahudi–Kristen–Islam[22]. Jadi, sementara narasi banjir agung menjadi warisan liturgis dan moral, bukti sejarahnya lebih mungkin bersifat regional daripada global.
3.5 Pengorbanan Ishak/Ishmael oleh Ibrahim: Dalam Alkitab (Kejadian 22), Allah menguji Abraham (Ibrahim) dengan memerintahkan mengorbankan anaknya, Ishak (Isak). Abraham siap melaksanakannya tetapi disuruh berhenti oleh malaikat, digantikan domba untuk korban. Qur’an juga menceritakan Ibrahim bersedia mengorbankan “anaknya” berdasarkan wahyu (QS 37:100–111). Teks Qur’an tidak menyebut namanya, tetapi banyak tafsir tradisional (termasuk Ibnu Katsir) menyatakan itu Ishmael (Ismail)[23]. Selain Al-Qur’an, hadits juga mengenang peristiwa ini—sabda Nabi menyebut Ishmael sebagai korban yang hendak disembelih, dilatarbelakangi kisah ibadah Haji (Idul Adha). Perbedaan: Alkitab secara eksplisit menamai Ishak dan konteks Perjanjian (kemunafikan politik Mesir)[24], sementara Qur’an menekankan ketaatan total Ibrahim sekaligus pesan bahwa yang dicari Allah adalah ketulusan hati. Tafsir Muslim (Ibn Katsir, Jalalain) biasanya menyampaikan detail bahwa kedua pihak menyerah demi kemauan Allah.
3.6 Kisah Yusuf di Mesir: Alkitab (Kejadian 37, 39–50) dan Qur’an (Surah Yusuf) menceritakan Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya, dipenjara, lalu diangkat menjadi penguasa Mesir atas mimpi Firaun. Versi Qur’ani dan Alkitab secara garis besar sama – Yusuf diceritakan dengan hikmah dan kejujuran. Perbedaan mencolok: Alkitab memberi nama semua saudara dan tokoh Mesir, serta detail politik Mesir kuno, sedangkan Qur’an lebih menyorot dialog dan karakter (misal ujian dengan baju saudara). Qur’an tidak menyebut umur Yusuf di setiap tahap, namun memfokuskan pada keimanan dan pengampunan Yusuf kepada saudara[25]. Hadits tidak banyak menyinggung kisah ini.
3.7 Eksodus Bangsa Israel: Alkitab (Kitab Keluaran–Ulangan) mengisahkan Musa memimpin bani Israel keluar dari perbudakan Mesir, melalui Laut Merah (Kel 14), dan perjalanan di padang gurun 40 tahun. Qur’an juga memuat kisah Musa dan Bani Israil (misal QS 2:49–61; 7:103–137; 20:77–98). Persamaan: mukjizat Musa (tongkat jadi ular, Laut Merah terbelah), kegigihan Allah menyelamatkan mukmin, dan hikmah keimanan. Perbedaan: Qur’an tidak merinci perjalanan 40 tahun, melainkan menekankan pelajaran tauhid dan inkonsistensi Bani Israil. Alkitab mencatat hukum Taurat (Sepuluh Perintah Allah), sedangkan Qur’an hanya menyebutnya secara umum sebagai “kitab Musa” (QS 2:87). Dari sudut sejarah/archeologi, migrasi besar ini masih diperdebatkan; sebagian sarjana menganggap catatan Alkitab lebih bersifat identitas keagamaan daripada kronik sejarah objektif. Beberapa situs (Misr, Laut Merah, Sinai) disebut, tetapi bukti arkeologis eksplisit masih lemah. Bagaimanapun, kisah ini penting bagi teologi: dalam Alkitab menunjukkan Allah pengantin, dalam Qur’an memperkuat iman dalam Allah Yang Maha Kuasa dan jaminan pembebasan bagi orang-orang beriman[26].
3.9 Nabi Daud (Dāwūd): Dalam Alkitab (1 Samuel 16–31; 2 Samuel), Daud kisahnya meliputi anointing oleh Samuel, melawan Goliath, memerintah sebagai raja Israel, berzina dengan Batsyeba, dan menulis Mazmur. Qur’an menyebut Daud (Dāwūd) sebagai nabi dan raja yang menerima kitab Zabur (Mazmur) – QS 17:55; 34:10. Kisah Goliath ada sebagai narasi Musa (Al-Quran menjelaskan pararel “Yakjuj dan Makjuj” tapi juga Daud tak dijabarkan; ada Surah Sad ayat 26: “Maka Kami berikan kepadanya kekuasaan atas Gunung” sebagai metafora). Dalam Qur’an, Daud dikenal “Syamsul‘Adz-Dzillā” (matahari keadilan), dan karunia suaranya (QS 38:17–26). Alkitab memberikan rincian keluarga Daud (Sulaiman, dll.), perang, dan atribut kenabian. Kisah Mazmur (Zabur) disebut secara umum sebagai kitab suci Daud dalam Qur’an, tanpa mengomentari kandungan. Sejarah dan arkeologi mendukung keberadaan Raja Daud dan Yerusalem abad ke-10 SM (penemuan Tel Dan stele menyebut “rumah Daud”), sehingga tokoh ini tidak hanya mitos. Namun penulisan Mazmur, seperti ditulis dalam Alkitab, tidak dibahas dalam Qur’an; dalam Islam Zabur disebut sebagai firman Allah kepada Daud, mirip Taurat/Musa, tanpa detail penulisannya[26][27].
3.10 Nabi Yunus (Yūnus) dan Ikan: Alkitab (Kitab Yunus) mencatat Yunus ditelan ikan besar sebagai hukuman karena melarikan diri dari tugas kenabian. Qur’an Surah 37:139–148 dan Surah 10:98 menyebut Yunus (disebut Dhun-Nūn, “pemilik ikan”) juga keluar dari ikan setelah bertaubat. Perbedaan: Qur’an menekankan keimanan yang membebaskan (Allah membuat Yunus keluar dalam keadaan selamat karena doa taubatnya[26]), tanpa detil cerita perjalanan selanjutnya atau misi akhirnya. Hadits umumnya menganggap kisah Yunus sebagai teladan kesabaran. Secara sejarah, keberadaan Yunus sulit diverifikasi; kota Nineveh yang disinggung ada (di Irak utara), tetapi kisahnya tetap interpretasi keagamaan.
3.11 Nabi Ayub (Ayyūb): Alkitab (Ayub) menggambarkan Ayub sebagai orang saleh yang diuji dengan penyakit dan kehilangan, lalu dipulihkan Allah. Qur’an Surah 38:41–44 menceritakan Ayub (“Ayyūb”) dengan ujian serupa dan kesabarannya (disebut: “Maka kami uji dia; maka ditiadakannya kekurangan (badan daripadanya), tubuh Ayub menjadi segar kembali”[26]). Narasi Alkitab lebih panjang (dialog Ayub dengan sahabat); Qur’an hanya meringkas ujian dan penyembuhan atas doa Ayub. Hadits dan tafsir menyebut Ayub sebagai contoh kesabaran dalam ujian. Bukti sejarah Ayub tidak dikenal di luar tradisi lisan.
3.12 Kelahiran, Kematian, dan Kebangkitan Yesus: Menurut Alkitab (Perjanjian Baru), Yesus (Yeshua) lahir dari perawan Maria di Betlehem (Lukas 2; Matius 1), disalibkan, mati, dan bangkit pada hari ketiga (Kisah Para Rasul 2:22–36; Matius 27–28; Markus 15–16, dll.). Yesus menyebut dirinya Anak Allah, penebus dosa manusia. Dalam Qur’an, Isa (‘Īsā) lahir juga secara mukjizat dari seorang perawan (Maryam) – QS 3:45–47, 19:16–21. Qur’an mencatat beberapa mukjizat-Nya (menyembuhkan sakit, membangkitkan orang mati, membuat burung dari tanah liat yang ditiup menjadi hidup, sebagaimana dalam As-Sāff 61:14 dll), tetapi ia selalu disebut hamba Allah dan rasul. Yang paling penting berbeda: Qur’an secara eksplisit menyangkal penyaliban Yesus. Surah An-Nisā’ 4:157–158 mengatakan bahwa orang-orang menuduh membunuh atau menyalib Isa, tetapi Allah “mengangkatnya kepada-Nya”, dan bahwa Isa tidak benar-benar mati di kayu salib[28]. Dengan demikian, dalam Islam Yesus tidak mati disalib melainkan diangkat ke surga, dan akan kembali di akhir zaman (sebuah ajaran hadits). Sejarawan Yahudi dan Romawi (misalnya Flavius Josephus, Tacitus) memang merekam kematian Yesus dalam kronik Romawi abad 1 M, tetapi Muslim menafsirkannya berbeda (ada debat akademis mengenai keaslian catatan itu). Bukti arkeologis langsung soal penyaliban Yesus tidak ada, hanya tempat penguburan tradisional (Gua Makam Kudus) yang tidak pasti keasliannya.
3.1 Penciptaan Dunia: Menurut Alkitab, dunia diciptakan dalam enam hari (Kejadian 1), dimulai dari “Pada mulanya” (Heb: “bereshit”). Setiap hari Allah mengucap perintah (“Jadilah…”), hingga terbentuk langit, bumi, dan segala isinya[9]. Qur’an menegaskan Allah sebagai Pencipta segala sesuatu: misalnya QS 79:27–30 menyebut bahwa Allah “menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran” (ﺇِنَّا خَلَقۡنَٰكَ فَلَوۡلَا تُصَدِّقُ ﴿وَأَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا أَخَرَ﴾, Ar-Rahman 55:11). Perbedaan utama: Alkitab secara kronologis mendeskripsikan tahap demi tahap, sedangkan Qur’an sering menyebut penciptaan alam semesta dalam konteks ayat-ayat tauhid tanpa detail hari-hari penciptaan. Kajian arkeologi tidak mendukung kisah penciptaan harfiah dalam waktu singkat; misalnya, sedimen geologi mengindikasikan bumi berproses lebih dari satu peristiwa kejadian[18][19].
3.2 Taman Eden: Alkitab menggambarkan Eden sebagai taman surgawi berisi sungai-sungai (Kej 2:10-14). Lokasi fisiknya tidak jelas, tetapi beberapa peneliti modern mencoba mengidentifikasi tempatnya. Misalnya, arkeolog David Rohl berpendapat Taman Eden mungkin terletak di lembah dekat Gunung Sahand, Iran utara[20]. Sementara tradisi Sumeria menyebut tempat bernama “Dilmun” (kini daerah Teluk Persia) sebagai taman kesempurnaan, yang diduga mempengaruhi narasi Eden[21]. Dalam Qur’an, Eden disebut “surga” tempat Adam dan Hawa (QS 2:35; 7:19; 20:117), tanpa menyebut nama pohon maupun sungai secara spesifik. Qur’an menekankan Hawa sebagai pasangan Adam dan kejatuhan melalui godaan setan, tetapi tidak menjelaskan geografi Eden. Hingga kini, belum ada temuan arkeologis yang konklusif mengidentifikasi lokasi Eden di Bumi. Ilmu arkeologi lebih mencatat kebudayaan kuno (Sumeria, Mesir, dsb.) yang diwariskan melalui mitos, daripada memverifikasi Eden secara fisik.
3.3 Pengusiran dari Taman: Narasi pengusiran Adam-Hawa mirip dalam kedua kitab. Alkitab (Kej 3) mencatat setelah mereka memakan buah terlarang, Allah mengusir mereka dari Eden dan mengenakan pakaian kulit (Kej 3:21). Qur’an menyebut Adam dan Hawa diturunkan dari surga ke bumi sebagai akibat godaan Iblis (QS 2:36, 7:24). Perbedaan: dalam Qur’an Iblis memperdaya mereka untuk melihat telanjang (QS 20:121), sedangkan Alkitab menggambarkan mereka sadar setelah makan dan malu (Kej 3:7). Lokasi Taman Eden tetap menjadi subjek spekulasi (lihat di atas). Secara sejarah, tidak ada bukti arkeologis konkret tentang penampakan taman surgawi tersebut; cerita ini lebih dipahami teologis sebagai penjelasan asal mula kedurhakaan manusia dan kehadiran dosa.
3.4 Banjir Besar (Air Bah): Alkitab (Kejadian 6–9) menceritakan bahwa karena kejahatan manusia, Allah mengirim banjir besar yang menenggelamkan bumi, hanya menyisakan Nuh, keluarganya (tiga anak), dan sepasang dari tiap jenis hewan dalam bahtera (Kej 7:12–17)[18]. Setelah banjir surut, bahtera mendarat di Gunung Ararat (Kej 8:4). Qur’an memiliki kisah serupa tentang Nūḥ (Surah 11, 23, 26, 54, dan lain-lain): Nuh diberi perintah oleh Allah membangun bahtera demi menyelamatkan dirinya, keluarganya, dan para mukmin dari banjir yang mendatangi orang kafir (QS 11:36–48). Mirip dengan Injil, Qur’an menekankan perlunya ketaatan dan iman, walau tidak menyebutkan identitas istri/salah satu anak Nuh secara eksplisit (bahkan menegaskan istri Nuh pun kafir [QS 66:10]). Perbedaan detail: Qur’an fokus pada dakwah Nuh yang sia-sia kepada kaumnya sebelum banjir dan ayat moral setelahnya (misal QS 29:14 menyebut usia Nuh 950 tahun seperti dalam Kitab Kejadian 9:29), serta tidak menggambarkannya mabuk (kisah yang ada dalam Kejadian 9:20–27 di luar Qur’an).
Bukti Arkeologis: Arkeolog mencatat adanya lapisan banjir lokal pada abad ke-3–2 SM di beberapa situs Mesopotamia (seperti Shuruppak atau Ur)[22]. Namun tidak ada konsensus tentang banjir global yang menenggelamkan seluruh bumi. Geologis menunjukkan endapan evaporit (garam) dan lapisan sedimen di banyak tempat membentuk selama jutaan tahun, tidak konsisten dengan banjir singkat[19]. Mayoritas ilmuwan menilai kisah Air Bah Alkitab terinspirasi oleh legenda Mesopotamia kuno (misalnya Gilgames dan Atrahasis), yang kemudian diadaptasi dalam tradisi Yahudi–Kristen–Islam[22]. Jadi, sementara narasi banjir agung menjadi warisan liturgis dan moral, bukti sejarahnya lebih mungkin bersifat regional daripada global.
3.5 Pengorbanan Ishak/Ishmael oleh Ibrahim: Dalam Alkitab (Kejadian 22), Allah menguji Abraham (Ibrahim) dengan memerintahkan mengorbankan anaknya, Ishak (Isak). Abraham siap melaksanakannya tetapi disuruh berhenti oleh malaikat, digantikan domba untuk korban. Qur’an juga menceritakan Ibrahim bersedia mengorbankan “anaknya” berdasarkan wahyu (QS 37:100–111). Teks Qur’an tidak menyebut namanya, tetapi banyak tafsir tradisional (termasuk Ibnu Katsir) menyatakan itu Ishmael (Ismail)[23]. Selain Al-Qur’an, hadits juga mengenang peristiwa ini—sabda Nabi menyebut Ishmael sebagai korban yang hendak disembelih, dilatarbelakangi kisah ibadah Haji (Idul Adha). Perbedaan: Alkitab secara eksplisit menamai Ishak dan konteks Perjanjian (kemunafikan politik Mesir)[24], sementara Qur’an menekankan ketaatan total Ibrahim sekaligus pesan bahwa yang dicari Allah adalah ketulusan hati. Tafsir Muslim (Ibn Katsir, Jalalain) biasanya menyampaikan detail bahwa kedua pihak menyerah demi kemauan Allah.
3.6 Kisah Yusuf di Mesir: Alkitab (Kejadian 37, 39–50) dan Qur’an (Surah Yusuf) menceritakan Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya, dipenjara, lalu diangkat menjadi penguasa Mesir atas mimpi Firaun. Versi Qur’ani dan Alkitab secara garis besar sama – Yusuf diceritakan dengan hikmah dan kejujuran. Perbedaan mencolok: Alkitab memberi nama semua saudara dan tokoh Mesir, serta detail politik Mesir kuno, sedangkan Qur’an lebih menyorot dialog dan karakter (misal ujian dengan baju saudara). Qur’an tidak menyebut umur Yusuf di setiap tahap, namun memfokuskan pada keimanan dan pengampunan Yusuf kepada saudara[25]. Hadits tidak banyak menyinggung kisah ini.
3.7 Eksodus Bangsa Israel: Alkitab (Kitab Keluaran–Ulangan) mengisahkan Musa memimpin bani Israel keluar dari perbudakan Mesir, melalui Laut Merah (Kel 14), dan perjalanan di padang gurun 40 tahun. Qur’an juga memuat kisah Musa dan Bani Israil (misal QS 2:49–61; 7:103–137; 20:77–98). Persamaan: mukjizat Musa (tongkat jadi ular, Laut Merah terbelah), kegigihan Allah menyelamatkan mukmin, dan hikmah keimanan. Perbedaan: Qur’an tidak merinci perjalanan 40 tahun, melainkan menekankan pelajaran tauhid dan inkonsistensi Bani Israil. Alkitab mencatat hukum Taurat (Sepuluh Perintah Allah), sedangkan Qur’an hanya menyebutnya secara umum sebagai “kitab Musa” (QS 2:87). Dari sudut sejarah/archeologi, migrasi besar ini masih diperdebatkan; sebagian sarjana menganggap catatan Alkitab lebih bersifat identitas keagamaan daripada kronik sejarah objektif. Beberapa situs (Misr, Laut Merah, Sinai) disebut, tetapi bukti arkeologis eksplisit masih lemah. Bagaimanapun, kisah ini penting bagi teologi: dalam Alkitab menunjukkan Allah pengantin, dalam Qur’an memperkuat iman dalam Allah Yang Maha Kuasa dan jaminan pembebasan bagi orang-orang beriman[26].
3.9 Nabi Daud (Dāwūd): Dalam Alkitab (1 Samuel 16–31; 2 Samuel), Daud kisahnya meliputi anointing oleh Samuel, melawan Goliath, memerintah sebagai raja Israel, berzina dengan Batsyeba, dan menulis Mazmur. Qur’an menyebut Daud (Dāwūd) sebagai nabi dan raja yang menerima kitab Zabur (Mazmur) – QS 17:55; 34:10. Kisah Goliath ada sebagai narasi Musa (Al-Quran menjelaskan pararel “Yakjuj dan Makjuj” tapi juga Daud tak dijabarkan; ada Surah Sad ayat 26: “Maka Kami berikan kepadanya kekuasaan atas Gunung” sebagai metafora). Dalam Qur’an, Daud dikenal “Syamsul‘Adz-Dzillā” (matahari keadilan), dan karunia suaranya (QS 38:17–26). Alkitab memberikan rincian keluarga Daud (Sulaiman, dll.), perang, dan atribut kenabian. Kisah Mazmur (Zabur) disebut secara umum sebagai kitab suci Daud dalam Qur’an, tanpa mengomentari kandungan. Sejarah dan arkeologi mendukung keberadaan Raja Daud dan Yerusalem abad ke-10 SM (penemuan Tel Dan stele menyebut “rumah Daud”), sehingga tokoh ini tidak hanya mitos. Namun penulisan Mazmur, seperti ditulis dalam Alkitab, tidak dibahas dalam Qur’an; dalam Islam Zabur disebut sebagai firman Allah kepada Daud, mirip Taurat/Musa, tanpa detail penulisannya[26][27].
3.10 Nabi Yunus (Yūnus) dan Ikan: Alkitab (Kitab Yunus) mencatat Yunus ditelan ikan besar sebagai hukuman karena melarikan diri dari tugas kenabian. Qur’an Surah 37:139–148 dan Surah 10:98 menyebut Yunus (disebut Dhun-Nūn, “pemilik ikan”) juga keluar dari ikan setelah bertaubat. Perbedaan: Qur’an menekankan keimanan yang membebaskan (Allah membuat Yunus keluar dalam keadaan selamat karena doa taubatnya[26]), tanpa detil cerita perjalanan selanjutnya atau misi akhirnya. Hadits umumnya menganggap kisah Yunus sebagai teladan kesabaran. Secara sejarah, keberadaan Yunus sulit diverifikasi; kota Nineveh yang disinggung ada (di Irak utara), tetapi kisahnya tetap interpretasi keagamaan.
3.11 Nabi Ayub (Ayyūb): Alkitab (Ayub) menggambarkan Ayub sebagai orang saleh yang diuji dengan penyakit dan kehilangan, lalu dipulihkan Allah. Qur’an Surah 38:41–44 menceritakan Ayub (“Ayyūb”) dengan ujian serupa dan kesabarannya (disebut: “Maka kami uji dia; maka ditiadakannya kekurangan (badan daripadanya), tubuh Ayub menjadi segar kembali”[26]). Narasi Alkitab lebih panjang (dialog Ayub dengan sahabat); Qur’an hanya meringkas ujian dan penyembuhan atas doa Ayub. Hadits dan tafsir menyebut Ayub sebagai contoh kesabaran dalam ujian. Bukti sejarah Ayub tidak dikenal di luar tradisi lisan.
3.12 Kelahiran, Kematian, dan Kebangkitan Yesus: Menurut Alkitab (Perjanjian Baru), Yesus (Yeshua) lahir dari perawan Maria di Betlehem (Lukas 2; Matius 1), disalibkan, mati, dan bangkit pada hari ketiga (Kisah Para Rasul 2:22–36; Matius 27–28; Markus 15–16, dll.). Yesus menyebut dirinya Anak Allah, penebus dosa manusia. Dalam Qur’an, Isa (‘Īsā) lahir juga secara mukjizat dari seorang perawan (Maryam) – QS 3:45–47, 19:16–21. Qur’an mencatat beberapa mukjizat-Nya (menyembuhkan sakit, membangkitkan orang mati, membuat burung dari tanah liat yang ditiup menjadi hidup, sebagaimana dalam As-Sāff 61:14 dll), tetapi ia selalu disebut hamba Allah dan rasul. Yang paling penting berbeda: Qur’an secara eksplisit menyangkal penyaliban Yesus. Surah An-Nisā’ 4:157–158 mengatakan bahwa orang-orang menuduh membunuh atau menyalib Isa, tetapi Allah “mengangkatnya kepada-Nya”, dan bahwa Isa tidak benar-benar mati di kayu salib[28]. Dengan demikian, dalam Islam Yesus tidak mati disalib melainkan diangkat ke surga, dan akan kembali di akhir zaman (sebuah ajaran hadits). Sejarawan Yahudi dan Romawi (misalnya Flavius Josephus, Tacitus) memang merekam kematian Yesus dalam kronik Romawi abad 1 M, tetapi Muslim menafsirkannya berbeda (ada debat akademis mengenai keaslian catatan itu). Bukti arkeologis langsung soal penyaliban Yesus tidak ada, hanya tempat penguburan tradisional (Gua Makam Kudus) yang tidak pasti keasliannya.
4. Penutup
Kesimpulan: Secara menyeluruh, studi perbandingan ini menunjukkan bahwa banyak kisah di Alkitab muncul dalam Al-Qur’an dan tradisi Hadits sebagai bagian dari warisan Abrahamik. Meskipun sama-sama mengangkat tokoh dan peristiwa yang serupa (Adam-Hawa, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Yesus, dll.), ada perbedaan penting dalam detail dan penekanan: Alkitab sering menekankan kisah historis dan literatur panjang (misalnya dialog sahabat Ayub, riwayat perjalanan Musa), sedangkan Qur’an menekankan hikmah moral dan peneguhan keyakinan (sering tanpa nama, dengan nubuat dan hukum spiritual). Dalam narasi agama, perbedaan-perbedaan ini bukan hanya soal fakta historis, tetapi juga membentuk ajaran teologis masing-masing iman. Fakta bahwa Qur’an mengandung cerita-cerita Alkitabiah (dalam gaya dan konteksnya sendiri) menandakan adanya dialog tekstual lama antara tradisi-surab dan tradisi Yahudi–Kristen[5].
Amanat Teologis dan Toleransi: Dari sudut teologis, pengakuan tokoh-tokoh keagamaan yang sama dapat memperkuat pesan bersama: ketaatan kepada Tuhan, pengampunan, dan keadilan ilahi. Misalnya, kisah pembunuhan Habel mengajarkan penghormatan terhadap nyawa[17]; kisah banjir dan pengorbanan Ibrahim menekankan keimanan dan penyerahan kepada kehendak Tuhan. Pemaparan bersama ini dalam konteks perbandingan dapat membantu membangun saling pengertian antarumat beriman. Di Indonesia yang multikultural, studi semacam ini merangsang dialog antaragama dengan menunjukkan akar narasi yang sama dan menghormati perbedaan penafsiran. Hal ini sejalan dengan semangat toleransi, yaitu menghargai kitab suci masing-masing umat sambil mencari nilai-nilai universal yang dapat menyatukan. Dengan memahami persamaan dan perbedaan ini secara ilmiah (berdasarkan sumber teks asli dan tafsir terpercaya[5][17]), kita mendukung kerukunan antaragama di Indonesia tanpa mengurangi keimanan pada keyakinan sendiri.
Referensi: Kutipan ayat dan narasi di atas diambil dari sumber-sumber primer (Alkitab SABDA TB/Traduction LAI-TB dan Al-Qur’an (versi Indonesia) serta tafsir terkait). Sumber-sumber sekunder (ensiklopedi, studi arkeologi, tafsir klasik) disertakan pada tiap pernyataan untuk keakuratan. Beberapa kutipan utama: Kejadian 1:1 (Bhs. Ibrani) dan Yohanes 1:1 (Yunani)[10][9], Al-Baqarah 2:35 (Arab dan Indonesia)[12], kisah Kain-Habel (Qur’an 5:27–32)[14][17], cerita Nuh (Alkitab vs Qur’an)[18][2], cerita Ibrahim (Qur’an 37:100–111) serta isu penyaliban Isa (Qur’an 4:157–158)[28]. Pandangan arkeologi dan sejarawan diperoleh dari kajian terkini yang disitir di atas.
RUJUKAN
[1] Alkitab Terjemahan Baru - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Alkitab_Terjemahan_Baru
[2][3] History of the Quran – Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Quran
[4] Hadith – Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/Hadith
[5][6][7][13][14][15][16][17][23][25][26][27][28] Biblical narratives in the Quran – Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/Biblical_narratives_in_the_Quran
[8] Genesis 1 / Hebrew - English Bible / Mechon-Mamre https://mechon-mamre.org/p/pt/pt0101.htm
[9] Kejadian 1:1 (Versi Paralel) - Tampilan Ayat - Alkitab SABDA https://alkitab.sabda.org/verse.php?book=kej&chapter=1&verse=1
[10] John 1:1 – Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/John_1:1
[11] Yohanes 1 (TB) - Tampilan Pasal - Alkitab SABDA https://alkitab.sabda.org/bible.php?book=Joh&chapter=1
[12] Surah Al-Baqarah - 35-39 - Quran.com https://quran.com/id/sapi-betina/35-39
[18][19] Yes, Noah's Flood May Have Happened, But Not Over the Whole Earth | National Center for Science Education https://ncse.ngo/yes-noahs-flood-may-have-happened-not-over-whole-earth
[20][21] Taman Eden - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Eden
[22][24] The Flood: Mesopotamian Archaeological Evidence | National Center for Science Education https://ncse.ngo/flood-mesopotamian-archaeological-evidence
Kesimpulan: Secara menyeluruh, studi perbandingan ini menunjukkan bahwa banyak kisah di Alkitab muncul dalam Al-Qur’an dan tradisi Hadits sebagai bagian dari warisan Abrahamik. Meskipun sama-sama mengangkat tokoh dan peristiwa yang serupa (Adam-Hawa, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Yesus, dll.), ada perbedaan penting dalam detail dan penekanan: Alkitab sering menekankan kisah historis dan literatur panjang (misalnya dialog sahabat Ayub, riwayat perjalanan Musa), sedangkan Qur’an menekankan hikmah moral dan peneguhan keyakinan (sering tanpa nama, dengan nubuat dan hukum spiritual). Dalam narasi agama, perbedaan-perbedaan ini bukan hanya soal fakta historis, tetapi juga membentuk ajaran teologis masing-masing iman. Fakta bahwa Qur’an mengandung cerita-cerita Alkitabiah (dalam gaya dan konteksnya sendiri) menandakan adanya dialog tekstual lama antara tradisi-surab dan tradisi Yahudi–Kristen[5].
Amanat Teologis dan Toleransi: Dari sudut teologis, pengakuan tokoh-tokoh keagamaan yang sama dapat memperkuat pesan bersama: ketaatan kepada Tuhan, pengampunan, dan keadilan ilahi. Misalnya, kisah pembunuhan Habel mengajarkan penghormatan terhadap nyawa[17]; kisah banjir dan pengorbanan Ibrahim menekankan keimanan dan penyerahan kepada kehendak Tuhan. Pemaparan bersama ini dalam konteks perbandingan dapat membantu membangun saling pengertian antarumat beriman. Di Indonesia yang multikultural, studi semacam ini merangsang dialog antaragama dengan menunjukkan akar narasi yang sama dan menghormati perbedaan penafsiran. Hal ini sejalan dengan semangat toleransi, yaitu menghargai kitab suci masing-masing umat sambil mencari nilai-nilai universal yang dapat menyatukan. Dengan memahami persamaan dan perbedaan ini secara ilmiah (berdasarkan sumber teks asli dan tafsir terpercaya[5][17]), kita mendukung kerukunan antaragama di Indonesia tanpa mengurangi keimanan pada keyakinan sendiri.
Referensi: Kutipan ayat dan narasi di atas diambil dari sumber-sumber primer (Alkitab SABDA TB/Traduction LAI-TB dan Al-Qur’an (versi Indonesia) serta tafsir terkait). Sumber-sumber sekunder (ensiklopedi, studi arkeologi, tafsir klasik) disertakan pada tiap pernyataan untuk keakuratan. Beberapa kutipan utama: Kejadian 1:1 (Bhs. Ibrani) dan Yohanes 1:1 (Yunani)[10][9], Al-Baqarah 2:35 (Arab dan Indonesia)[12], kisah Kain-Habel (Qur’an 5:27–32)[14][17], cerita Nuh (Alkitab vs Qur’an)[18][2], cerita Ibrahim (Qur’an 37:100–111) serta isu penyaliban Isa (Qur’an 4:157–158)[28]. Pandangan arkeologi dan sejarawan diperoleh dari kajian terkini yang disitir di atas.
RUJUKAN
[1] Alkitab Terjemahan Baru - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Alkitab_Terjemahan_Baru
[2][3] History of the Quran – Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Quran
[4] Hadith – Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/Hadith
[5][6][7][13][14][15][16][17][23][25][26][27][28] Biblical narratives in the Quran – Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/Biblical_narratives_in_the_Quran
[8] Genesis 1 / Hebrew - English Bible / Mechon-Mamre https://mechon-mamre.org/p/pt/pt0101.htm
[9] Kejadian 1:1 (Versi Paralel) - Tampilan Ayat - Alkitab SABDA https://alkitab.sabda.org/verse.php?book=kej&chapter=1&verse=1
[10] John 1:1 – Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/John_1:1
[11] Yohanes 1 (TB) - Tampilan Pasal - Alkitab SABDA https://alkitab.sabda.org/bible.php?book=Joh&chapter=1
[12] Surah Al-Baqarah - 35-39 - Quran.com https://quran.com/id/sapi-betina/35-39
[18][19] Yes, Noah's Flood May Have Happened, But Not Over the Whole Earth | National Center for Science Education https://ncse.ngo/yes-noahs-flood-may-have-happened-not-over-whole-earth
[20][21] Taman Eden - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Eden
[22][24] The Flood: Mesopotamian Archaeological Evidence | National Center for Science Education https://ncse.ngo/flood-mesopotamian-archaeological-evidence
Tidak ada komentar:
Posting Komentar