Sitemap

Minggu, 10 Agustus 2025

Memahami Doktrin Oneness Pentakosta dan Unitarianisme

 


Analisis Komparatif Doktrin Oneness Pentakosta dan Unitarianisme: Membedakan Teologi Nontrinitarian

Drs. Semuel Muhaling

1. Pendahuluan

Pertanyaan "Apakah doktrin Oneness dan unitarian itu sama?" menyoroti kesalahpahaman umum yang muncul dari klasifikasi bersama mereka sebagai gerakan Kristen "nontrinitarian". Meskipun keduanya menolak doktrin Tritunggal yang dianut mayoritas Kristen, pemahaman yang dangkal dapat mengarah pada kesimpulan keliru bahwa teologi mereka identik. Laporan ini akan menunjukkan bahwa kedua doktrin tersebut tidak sama.

Meskipun Oneness Pentakosta dan Unitarianisme sama-sama menolak Tritunggal, keduanya mewakili sistem teologis yang secara fundamental berbeda, terutama mengenai hakikat Yesus Kristus dan pemahaman yang tepat tentang keesaan Tuhan. Laporan ini bertujuan untuk secara cermat menguraikan posisi teologis, lintasan sejarah, dan perbedaan utama antara Oneness Pentakosta dan Unitarianisme. Dengan menyajikan analisis komparatif yang terperinci, laporan ini akan memperjelas mengapa gerakan-gerakan ini, terlepas dari penolakan bersama mereka terhadap Tritunggal, memiliki keyakinan inti yang sangat berbeda.

2. Memahami Oneness Pentakosta

Bagian ini akan menggali keyakinan fundamental, Kristologi, dan konteks sejarah Oneness Pentakosta, menyoroti interpretasi uniknya tentang keesaan Tuhan.

2.1. Definisi dan Keyakinan Inti

Oneness Pentakosta, yang juga dikenal sebagai Pentakosta Apostolik, Pentakosta Nama Yesus, atau gerakan Oneness, adalah cabang nontrinitarian yang signifikan dalam Kekristenan Pentakosta.1 Ajaran utamanya adalah keesaan mutlak Tuhan, yang menegaskan bahwa Tuhan adalah roh ilahi tunggal—tidak terbagi dan tanpa pembedaan pribadi—yang menyatakan diri-Nya dalam berbagai cara.1

Istilah "Bapa," "Anak," dan "Roh Kudus" tidak dipahami sebagai pribadi yang berbeda dan setara dalam Tritunggal, melainkan sebagai gelar, peran, atau manifestasi yang berbeda dari satu Tuhan pribadi.1 Sebagai contoh, Tuhan "dimanifestasikan sebagai Bapa dalam penciptaan, Anak dalam penebusan, dan Roh Kudus dalam emanasi".1 Teologi Oneness menyatakan bahwa Tuhan beroperasi dalam berbagai "mode" atau "manifestasi" pada waktu yang berbeda, alih-alih ada sebagai tiga pribadi yang kekal dan setara.2 Ini adalah perbedaan krusial dari Trinitarianisme, yang menegaskan keberadaan simultan dan interaksi ketiga pribadi.2 Pemahaman ini muncul dari gagasan bahwa esensi Tuhan adalah tunggal dan tidak terdiferensiasi, dan "penampilan" atau "peran" Tuhan berubah tergantung pada aktivitas-Nya (penciptaan, penebusan, emanasi). Hal ini mengarah pada pelabelan teologis "Modalism," yang merupakan titik penting dalam bagaimana Oneness Pentakosta dipahami dan dikritik oleh Kekristenan arus utama.

2.2. Kristologi: Keilahian Penuh Yesus Kristus

Landasan Oneness Pentakosta adalah keyakinan pada keilahian penuh Yesus Kristus, yang menegaskan bahwa Yesus adalah Tuhan tunggal yang termanifestasi dalam wujud manusia.1 Mereka berpendapat bahwa "konsep kepribadian Tuhan hanya diperuntukkan bagi kehadiran Yesus yang imanen dan berinkarnasi".1 Kolose 2:9 sering dikutip untuk mendukung pandangan ini: "Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keilahian".1

Dalam pandangan ini, Yesus bukanlah pribadi yang terpisah dari Bapa, melainkan Bapa itu sendiri yang termanifestasi dalam daging. Ketika Yesus berdoa, itu adalah sifat manusiawi-Nya yang berdoa kepada sifat ilahi-Nya.3 Doktrin ini menyiratkan bahwa "pribadi" Tuhan secara unik dan sepenuhnya terwujud dalam Yesus. Bapa dan Roh Kudus bukanlah pribadi yang terpisah, melainkan aspek atau operasi yang berbeda dari satu Tuhan pribadi ini, yaitu Yesus.1 Ini adalah pemahaman yang sangat penting karena menunjukkan cara spesifik Oneness Pentakosta menolak Tritunggal: bukan dengan menyangkal keilahian Yesus (seperti yang dilakukan Unitarianisme), tetapi dengan menegaskan bahwa Yesus adalah keseluruhan keilahian, dan Bapa serta Roh hanyalah manifestasi-Nya. Hal ini menyebabkan label "Jesus Only".2

2.3. Perbedaan Utama: Baptisan "Nama Yesus" dan Penolakan Formula Trinitarian

Oneness Pentakosta, termasuk United Pentecostal Church International (UPCI), mempraktikkan baptisan "dalam nama Yesus".3 Mereka menolak formula Trinitarian tradisional ("dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus" dari Matius 28:19) karena mereka percaya itu menyiratkan tiga pribadi yang berbeda, yang mereka anggap tidak alkitabiah.3 Mereka menafsirkan kata "nama" yang tunggal dalam Matius 28:19 sebagai mengacu pada Yesus Kristus, dengan alasan bahwa Bapa dan Roh Kudus adalah manifestasi dari "satu nama" ini.5

Formula baptisan bukan hanya perbedaan ritualistik, tetapi konsekuensi teologis langsung dan terlihat dari posisi anti-Trinitarian mereka. Ini berfungsi sebagai penanda yang jelas dari Kristologi unik mereka dan pemahaman tentang hakikat Tuhan.3 Berbagai sumber menekankan baptisan "Nama Yesus," dan secara eksplisit menyatakan bahwa "praktik baptisan mencerminkan pemahaman UPCI tentang Tuhan".5 Ini menunjukkan hubungan sebab-akibat langsung: doktrin unik mereka tentang Tuhan mendikte praktik baptisan mereka. Selain itu, perlu dicatat bahwa Lutheran menolak baptisan non-Trinitarian sebagai tidak sah 5, menyoroti bahwa praktik ini adalah titik pertentangan yang signifikan dan "uji lakmus" untuk ortodoksi teologis dari perspektif Trinitarian. Perbedaan praktis ini menggarisbawahi kedalaman perbedaan doktrinal mereka dari Kekristenan arus utama.

2.4. Konteks Sejarah dan Asosiasi dengan Modalism

Oneness Pentakosta modern muncul pada awal abad ke-20, khususnya sekitar tahun 1913-1916, dalam gerakan Pentakosta yang lebih luas.3 Tokoh-tokoh kunci seperti R.E. McAlister, Frank J. Ewart, dan John G. Scheppe mulai mengajarkan pandangan non-Trinitarian.3 Pandangan "oneness" ini ditolak keras oleh denominasi Assemblies of God pada tahun 1916, yang menyebabkan pengusiran lebih dari 160 pendeta yang kemudian membentuk aliansi mereka sendiri, termasuk United Pentecostal Church International (UPCI).3

Secara kritis, pemahaman Oneness Pentakosta tentang Tuhan secara luas dianggap oleh denominasi Kristen arus utama dan para sarjana sebagai bentuk modern dari ajaran sesat Kristologis kuno yang dikenal sebagai Modalism atau Modalistic Monarchianism.2 Modalism dikutuk sebagai ajaran sesat sejak abad kedua Masehi.2 Namun, penganut Oneness berpendapat bahwa keyakinan mereka bukanlah inovasi abad ke-20 tetapi restorasi dari "penganut Oneness" yang umum sampai tahun 325 M (Konsili Nicea) dan kemudian dianiaya serta didorong ke bawah tanah.6

Koneksi ke Modalism kuno bukan hanya label deskriptif tetapi alat polemis yang digunakan oleh kritikus Trinitarian untuk mengkategorikan dan mengutuk Oneness Pentakosta sebagai ajaran sesat. Sebaliknya, penganut Oneness menggunakan narasi "restorasionis," mengklaim kesinambungan sejarah pra-Nicea, untuk melegitimasi doktrin mereka.6 Pelabelan berulang Oneness Pentakosta sebagai "Modalism" 2 oleh sumber-sumber Trinitarian menempatkan gerakan tersebut dalam perdebatan teologis historis tertentu dan menyiratkan penilaian ketidakortodoksan. Fakta bahwa Modalism "dikutuk sebagai ajaran sesat sejak abad kedua Masehi" 2 memperkuat hal ini. Di sisi lain, sebuah sumber 6 menyajikan perspektif Oneness, mengklaim akar sejarah sebelum 325 M dan membingkai Konsili Nicea sebagai "langkah politik" yang menekan keyakinan "sejati" mereka. Ini mengungkapkan lapisan yang lebih dalam dari interpretasi sejarah dan strategi legitimasi teologis yang digunakan oleh kedua belah pihak dalam perdebatan. Ini menunjukkan bahwa narasi sejarah itu sendiri adalah bagian dari konflik teologis yang sedang berlangsung, memengaruhi bagaimana doktrin-doktrin ini dipersepsikan dan dipertahankan.

3. Memahami Unitarianisme

Bagian ini akan mengeksplorasi ajaran inti, Kristologi, dan perkembangan sejarah Unitarianisme yang beragam, menekankan pendekatan uniknya terhadap keesaan Tuhan dan peran Yesus.

3.1. Definisi dan Keyakinan Inti

Unitarianisme, berasal dari bahasa Latin "unitas" (kesatuan, keesaan), adalah tradisi Kristen nontrinitarian yang luas yang menegaskan sifat tunggal Tuhan sebagai pencipta alam semesta yang tunggal dan unik.7 Berbeda dengan Oneness Pentakosta, Unitarianisme biasanya mempertahankan bahwa Tuhan adalah secara tegas satu keberadaan dan satu pribadi.7

Unitarian umumnya menolak Konsili Ekumenis dan kredo ekumenis (seperti Kredo Nicea) karena mereka memandang hal tersebut sebagai pengenalan korupsi ke dalam "Kekristenan primitif".7 Mereka juga umumnya menolak doktrin dosa asal.7 Penting untuk dicatat bahwa meskipun Oneness dan Unitarianisme sama-sama mengklaim monoteisme yang ketat, pemahaman Unitarianisme tentang Tuhan sebagai "satu pribadi" sangat kontras dengan pemahaman Oneness tentang "satu Tuhan dalam mode yang berbeda." Ini menyoroti perbedaan mendasar dalam bagaimana mereka mengkonseptualisasikan sifat internal Tuhan, bahkan ketika keduanya menyangkal Tritunggal. Sumber-sumber 7 dengan jelas menyatakan Unitarianisme menegaskan Tuhan sebagai "satu keberadaan dan satu pribadi." Ini berbeda dari pandangan Oneness Pentakosta tentang Tuhan sebagai roh tunggal yang memanifestasikan diri dalam "mode" yang berbeda (Bapa, Anak, Roh Kudus).1 Implikasinya adalah bahwa Unitarianisme mempertahankan singularitas yang lebih sederhana dan mutlak dari kepribadian Tuhan, sedangkan Oneness memperkenalkan dinamika manifestasi yang, bagi kritikus, menyerupai suksesi peran temporal. Perbedaan yang halus namun krusial dalam sifat keesaan Tuhan (satu pribadi vs. satu keberadaan dengan mode) ini adalah faktor pembeda utama.

3.2. Kristologi: Yesus sebagai Nabi, Juruselamat, tetapi Bukan Tuhan

Karakteristik yang mendefinisikan Unitarianisme adalah Kristologinya: orang Kristen Unitarian percaya bahwa Yesus Kristus diilhami oleh Tuhan dalam ajaran moral-Nya dan adalah juruselamat umat manusia, tetapi mereka dengan tegas menyatakan bahwa Ia tidak setara dengan Tuhan itu sendiri.7 Mereka mempertahankan bahwa Yesus adalah seorang pria hebat dan seorang nabi Tuhan, mungkin bahkan makhluk supernatural, tetapi bukan Tuhan itu sendiri.7 Unitarian Alkitabiah secara khusus menegaskan Yesus sebagai Anak Tuhan tetapi tidak ilahi.8

Kristologi Unitarian dapat bervariasi, termasuk pandangan Arian (Yesus sudah ada sebelumnya tetapi diciptakan oleh Tuhan) dan pandangan Socinian (Yesus tidak sudah ada sebelumnya tetapi harus disembah).7 "Unitarianisme Ketat" bahkan menolak penyembahan "manusia Kristus".7 Tema yang konsisten di seluruh Kristologi Unitarian adalah subordinasi Yesus kepada Tuhan Bapa. Ini adalah kontradiksi langsung dengan Oneness Pentakosta, yang menegaskan Yesus

adalah Tuhan tunggal. Perbedaan dalam Kristologi ini adalah perbedaan teologis paling signifikan antara kedua gerakan tersebut. Sumber-sumber 7 secara tegas menyatakan bahwa Unitarianisme menyatakan Yesus "tidak setara dengan Tuhan itu sendiri," "tidak ilahi," dan "berbeda dari dan tunduk kepada Tuhan." Ini adalah kebalikan logis langsung dari "keilahian penuh Yesus Kristus" dan "Yesus adalah Bapa dan Yesus adalah Roh" dari Oneness Pentakosta.2 Implikasinya adalah bahwa meskipun keduanya nontrinitarian, mereka mencapai kesimpulan ini dari premis yang sama sekali berbeda mengenai sifat Yesus. Oneness menegaskan keilahian Yesus sampai pada titik mengidentifikasi Dia sebagai Tuhan tunggal, sementara Unitarianisme menyangkal kesetaraan atau keilahian penuh-Nya. Ini adalah "pertanyaan Yesus" inti yang secara fundamental memisahkan mereka.

3.3. Konteks Sejarah dan Evolusi

Unitarianisme, sebagai keluarga denominasi gereja yang berbeda, pertama kali muncul pada pertengahan abad ke-16 selama Reformasi Radikal di Polandia-Lituania dan Transylvania.7 Michael Servetus juga diidentifikasi sebagai tokoh kunci dalam asal-usulnya.10 Kemudian berkembang di Inggris dan Amerika, mencapai bentuk klasiknya pada pertengahan abad ke-19.9

Istilah "Unitarianisme" itu sendiri telah mengalami evolusi. Awalnya, itu adalah "gerakan yang berorientasi pada kitab suci" yang menyangkal Tritunggal.8 Namun, pada pertengahan abad ke-19, beberapa penganutnya menjauh dari keharusan Alkitab sebagai satu-satunya sumber kebenaran.8 Perkembangan sejarah Unitarianisme menunjukkan pergeseran teologis yang signifikan dari akar Kristen dan alkitabiahnya, terutama dengan munculnya Unitarian Universalisme. Ini kontras dengan Oneness Pentakosta, yang, meskipun juga memiliki perdebatan internal, sebagian besar mempertahankan kekhasan Kristologis dan teologis intinya. Sumber-sumber 8 dengan jelas menggambarkan perkembangan sejarah dalam Unitarianisme. Ini dimulai sebagai "gerakan yang berorientasi pada kitab suci" 8 tetapi kemudian menjauh dari "keharusan Alkitab sebagai sumber kebenaran agama".8 Ini akhirnya mengarah pada Unitarian Universalisme, yang tidak berkeyakinan, multikepercayaan, dan merangkul keyakinan yang beragam termasuk ateisme/agnostisisme.11 Evolusi ini adalah pemahaman yang sangat penting karena berarti "Unitarianisme" bukanlah istilah yang statis. Ketika membandingkannya dengan Oneness Pentakosta, seseorang harus tepat tentang "Unitarianisme" mana yang sedang dibahas, karena Unitarian Universalisme modern sangat berbeda dari akar Unitarian Kristen historisnya, sedangkan ajaran inti Oneness Pentakosta tetap lebih konsisten sejak kemunculannya di abad ke-20. Ini menyoroti sifat dinamis gerakan keagamaan dari waktu ke waktu.

4. Analisis Komparatif: Persamaan dan Perbedaan Mendasar

Bagian ini secara langsung menjawab pertanyaan pengguna dengan membandingkan kedua doktrin, menekankan posisi nontrinitarian bersama mereka sambil menyoroti perbedaan krusial mereka.

4.1. Persamaan Utama

Nontrinitarianisme: Baik Oneness Pentakosta maupun Unitarianisme secara fundamental menolak doktrin Tritunggal Kristen arus utama, yang menyatakan Tuhan sebagai tiga pribadi yang setara (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) dalam satu esensi ilahi.1

Monoteisme Ketat: Kedua gerakan menegaskan suatu bentuk monoteisme yang ketat, menekankan keesaan mutlak Tuhan.1 Keduanya menuduh bahwa Trinitarianisme gagal menganut monoteisme yang ketat.7

Kritik terhadap Ortodoksi Tradisional: Keduanya berdiri "di luar Kekristenan tradisional, arus utama" dan menolak otoritas Konsili Ekumenis dan kredo tradisional yang menetapkan doktrin Trinitarian.1


Klaim "Kekristenan Primitif": Menariknya, kedua gerakan, terlepas dari asal-usulnya yang berbeda, menegaskan bahwa pemahaman mereka tentang Tuhan merupakan restorasi dari "Kekristenan primitif" sebelum "korupsi" atau "langkah politik" di kemudian hari.6

Daya tarik yang sama terhadap "Kekristenan primitif" adalah strategi retoris yang digunakan untuk melegitimasi pandangan non-Trinitarian mereka. Namun, titik awal yang sama ini mengarah pada kesimpulan teologis yang sangat berbeda, terutama mengenai Kristologi. Hal ini menunjukkan bahwa interpretasi "Kekristenan primitif" sangat subjektif dan berfungsi untuk memvalidasi keyakinan teologis yang sudah ada sebelumnya. Sumber-sumber 7 menyatakan Unitarianisme berusaha memulihkan "Kekristenan primitif sebelum korupsi di kemudian hari." Sumber lain 6, dari perspektif Oneness, mengklaim "penganut Oneness umum sampai 325 M" dan menyiratkan bahwa doktrin Nicea adalah "langkah politik." Paralel ini merupakan pemahaman tingkat kedua yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa kedua gerakan, terlepas dari konteks sejarah yang berbeda (abad ke-16 vs. abad ke-20), menggunakan argumen historis-teologis yang serupa terhadap Trinitarianisme. Implikasinya adalah bahwa "daya tarik terhadap asal-usul" adalah narasi legitimasi yang kuat dalam perdebatan teologis, bahkan ketika daya tarik tersebut mengarah pada hasil doktrinal yang kontradiktif.

4.2. Perbedaan Mendasar

Perbedaan Krusial dalam Kristologi (Pertanyaan Yesus): Ini adalah perbedaan yang paling mendalam dan menentukan.

Oneness Pentakosta: Menegaskan keilahian penuh Yesus Kristus, menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan tunggal yang termanifestasi dalam wujud manusia. Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah mode atau manifestasi dari satu Tuhan ini, dengan Yesus menjadi perwujudan keilahian.1

Unitarianisme: Menyangkal keilahian Yesus Kristus. Yesus diyakini diilhami oleh Tuhan, seorang nabi, guru moral, atau juruselamat, tetapi bukan Tuhan itu sendiri dan berbeda dari Tuhan. Ia tunduk kepada Tuhan Bapa.7

Meskipun keduanya menolak Tritunggal, mereka melakukannya karena alasan yang berlawanan secara diametral mengenai keilahian Yesus. Oneness mengangkat Yesus menjadi satu-satunya manifestasi Tuhan, secara efektif menjadikan Yesus sebagai Bapa dan Roh. Unitarianisme menundukkan Yesus kepada Bapa, menyangkal kesetaraan atau keilahian penuh-Nya. Ini bukan hanya perbedaan tetapi kontradiksi teologis fundamental yang mencegah mereka dianggap sama. Inti dari pertanyaan pengguna ("Apakah mereka sama?") bergantung pada poin ini. Sumber-sumber memberikan pernyataan yang langsung dan bertentangan tentang sifat Yesus (misalnya, Oneness: "keilahian penuh Yesus Kristus," "Yesus adalah Bapa dan Yesus adalah Roh"1 vs. Unitarianisme: "tidak setara dengan Tuhan itu sendiri," "tidak ilahi," "tunduk kepada Tuhan"7). Ini adalah perbedaan sentral yang tidak dapat direduksi. Implikasinya adalah bahwa label "nontrinitarian" yang sama adalah dangkal; alasan penolakan Tritunggal, dan pemahaman yang dihasilkan tentang Yesus, adalah yang benar-benar mendefinisikan dan memisahkan gerakan-gerakan ini.

Sifat Tuhan:

Oneness Pentakosta: Tuhan adalah roh tunggal yang menyatakan diri-Nya dalam mode atau manifestasi yang berbeda (Bapa, Anak, Roh Kudus). Ini bukanlah pribadi yang berbeda tetapi gelar untuk berbagai operasi Tuhan yang satu.1 Ini sering disamakan dengan Modalism kuno.2

Unitarianisme: Tuhan secara tegas satu keberadaan dan satu pribadi. Yesus adalah keberadaan yang terpisah, diciptakan, atau tunduk, bukan "mode" Tuhan.7

Praktik Pembaptisan dan Implikasi Teologis:

Oneness Pentakosta: Menekankan baptisan "Nama Yesus," menolak formula Trinitarian sebagai tidak sah.3 Ini mencerminkan keyakinan mereka bahwa Yesus adalah nama tunggal keilahian.

Unitarianisme: Meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit dalam sumber-sumber, baptisan Unitarian, jika dilakukan, secara logis akan selaras dengan Kristologi non-Trinitarian mereka, dan ditolak sebagai tidak sah oleh denominasi Trinitarian.5

Perkembangan Sejarah dan Garis Keturunan Teologis:

Oneness Pentakosta: Gerakan modern (awal abad ke-20) dalam Pentakostalisme, dianggap oleh kritikus sebagai kebangkitan Modalism kuno.3

Unitarianisme: Lebih tua, berasal dari Reformasi Radikal abad ke-16, dengan bentuk historis seperti Arianisme dan Socinianisme.7 Lintasan sejarahnya juga telah mengarah pada kecenderungan sekularisasi (Unitarian Universalisme).8

4.3. Tabel Perbandingan

Tabel perbandingan sangat berharga untuk secara ringkas menggambarkan perbedaan kompleks antara kedua doktrin ini. Ini memungkinkan perbandingan visual yang cepat dari poin-poin teologis utama, membuat perbedaan segera terlihat dan memperkuat kesimpulan bahwa keduanya tidak sama. Ini memadatkan sejumlah besar informasi terperinci menjadi format yang mudah dicerna, meningkatkan kejelasan dan pemahaman bagi pembaca.
FiturOneness Pentakosta (misalnya, UPCI)Unitarianisme (Unitarianisme Kristen)
Sifat Tuhan

Roh ilahi tunggal; Bapa, Anak, Roh Kudus adalah manifestasi/mode/gelar dari satu Tuhan pribadi. Tidak terbagi, tanpa pembedaan pribadi.1

Pencipta tunggal, unik; Tuhan secara tegas satu keberadaan dan satu pribadi.7

Kristologi (Sifat Yesus)

Yesus Kristus adalah keilahian penuh Tuhan yang termanifestasi dalam wujud manusia. Yesus adalah Tuhan tunggal.1 

Yesus Kristus diilhami oleh Tuhan, seorang nabi, guru moral, atau juruselamat, tetapi tidak setara dengan Tuhan itu sendiri dan tidak ilahi. Ia tunduk kepada Tuhan. 7

Hubungan dengan Tritunggal

Menolak Tritunggal; memandangnya sebagai tidak alkitabiah dan penyimpangan dari monoteisme yang ketat. 1

Menolak Tritunggal, Konsili Ekumenis, dan kredo; memandangnya sebagai korupsi di kemudian hari. 7

Asosiasi/Label Sejarah

Sering dikategorikan sebagai bentuk modern dari ajaran sesat kuno Modalism. 2

Secara historis terkait dengan Arianisme dan Socinianisme. 7

Formula Pembaptisan

Baptisan "dalam nama Yesus saja," menolak formula Trinitarian. 3

Tidak dijelaskan secara eksplisit dalam sumber-sumber, tetapi baptisan non-Trinitarian ditolak oleh Trinitarian. 5

Asal Sejarah

Muncul pada awal abad ke-20 (1913-1916) dalam Pentakostalisme.3

Muncul pada abad ke-16 (Reformasi Radikal) di Polandia-Lituania dan Transylvania.7

5. Membedakan dari Unitarian Universalisme

Mengingat evolusi istilah "Unitarian," penting untuk secara singkat mengklarifikasi iterasi modernnya untuk mencegah kebingungan lebih lanjut.

Evolusi Unitarianisme: Istilah "Unitarian" telah mengalami evolusi yang signifikan. Meskipun secara historis berakar pada teologi Kristen yang menyangkal Tritunggal, beberapa penganutnya, terutama pada abad ke-19, menjauh dari keharusan Alkitab sebagai satu-satunya sumber kebenaran agama.8

Unitarian Universalisme (UU): Ini adalah tradisi modern yang berbeda, tidak berkeyakinan, dan multikepercayaan yang berevolusi dari penggabungan Unitarianisme dan Universalisme.11

Karakteristik Utama UU:

Tidak memerlukan keyakinan pada doktrin atau dewa tertentu.11

Anggota disatukan oleh nilai-nilai bersama dan sejarah umum, bukan keyakinan umum.11
Ini merangkul keragaman keyakinan yang luas, termasuk ateisme, agnostisisme, humanisme, panteisme, dan orientasi Kristen.11
Ini menarik inspirasi dari berbagai agama dunia dan sumber sekuler.11
Yang terpenting, banyak dalam Unitarian Universalisme "bukan Unitarian maupun Universalis" dalam arti teologis tradisional.12

Perkembangan Unitarian Universalisme menunjukkan bahwa istilah "Unitarian" dapat merujuk pada spektrum keyakinan, dari "Unitarianisme Alkitabiah" yang konservatif (yang masih menganut monoteisme Kristen dan otoritas alkitabiah) hingga Unitarian Universalisme yang non-Kristen, multikepercayaan, dan seringkali non-teis. Hal ini menjadikan penting untuk menentukan "Unitarianisme" mana yang sedang dibahas ketika membandingkannya dengan doktrin lain. Sumber-sumber11 dengan jelas menunjukkan bahwa Unitarian Universalisme telah menyimpang secara signifikan dari akar Unitarian Kristennya, menjadi tidak berkeyakinan dan merangkul berbagai keyakinan termasuk ateisme. Sebuah sumber12 secara eksplisit menyatakan, "ironisnya meskipun mereka disebut Unitarian Universalis, banyak di denominasi tersebut bukan unitarian maupun universalis." Ini adalah pemahaman tingkat ketiga yang krusial karena menyoroti kompleksitas semantik dan evolusi historis istilah-istilah keagamaan. Ini menyiratkan bahwa hanya menggunakan "Unitarian" tanpa kualifikasi dapat menyebabkan miskomunikasi, terutama ketika membandingkannya dengan gerakan yang lebih konsisten secara doktrinal seperti Oneness Pentakosta. Bagian ini diperlukan untuk mencegah pengguna menyamakan Unitarianisme Kristen historis (yang relevan dengan perbandingan) dengan keturunannya yang jauh lebih luas, modern, dan non-Kristen.

6. Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, meskipun keduanya dikategorikan sebagai gerakan Kristen nontrinitarian, doktrin Oneness Pentakosta dan Unitarianisme tidak sama. Penolakan bersama mereka terhadap Tritunggal tradisional adalah titik persamaan, tetapi pemahaman fundamental mereka tentang sifat Tuhan dan, yang terpenting, pribadi Yesus Kristus, berbeda dan sebagian besar kontradiktif.

Perbedaan inti yang menentukan terletak pada Kristologi mereka. Oneness Pentakosta menegaskan keilahian penuh Yesus, memandang-Nya sebagai Tuhan tunggal yang termanifestasi dalam berbagai mode (Bapa, Anak, Roh Kudus). Sebaliknya, Unitarianisme menyangkal keilahian Yesus, menegaskan Dia sebagai seorang nabi, guru, atau juruselamat, tetapi bukan Tuhan itu sendiri dan tunduk kepada Tuhan yang satu.

Memahami perbedaan-perbedaan yang bernuansa ini sangat penting untuk wacana teologis yang akurat dan menghargai beragam lanskap pemikiran Kristen. Lintasan sejarah dan ajaran inti dari gerakan-gerakan ini dengan jelas menunjukkan bahwa jalur mereka, meskipun keduanya menyimpang dari ortodoksi Trinitarian, mengarah pada tujuan teologis yang secara fundamental berbeda.

Sumber Rujukan

  1. Oneness Pentecostalism - Wikipedia, diakses Agustus 10, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Oneness_Pentecostalism
  2. What are the beliefs of Jesus only / oneness Pentecostals? | GotQuestions.org, diakses Agustus 10, 2025, https://www.gotquestions.org/oneness-Jesus-only.html
  3. Oneness Pentecostalism - Apologetics, diakses Agustus 10, 2025, https://www.namb.net/apologetics/resource/oneness-pentecostalism/
  4. United Pentecostal Church International - Wikipedia, diakses Agustus 10, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/United_Pentecostal_Church_International
  5. United Pentecostal Church International, diakses Agustus 10, 2025, https://files.lcms.org/dl/f/83682E7A-8C3A-447E-B902-0604C33399B3
  6. Oneness Believers Through History | The Secaucus Pentecostals, diakses Agustus 10, 2025, https://njupc.org/?page_id=392
  7. Unitarianism - Wikipedia, diakses Agustus 10, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Unitarianism
  8. Biblical unitarianism - Wikipedia, diakses Agustus 10, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Biblical_unitarianism
  9. History of Unitarianism - Wikipedia, diakses Agustus 10, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Unitarianism
  10. Unitarian Church Is Founded | EBSCO Research Starters, diakses Agustus 10, 2025, https://www.ebsco.com/research-starters/history/unitarian-church-founded
  11. Unitarian Universalism - Wikipedia, diakses Agustus 10, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Unitarian_Universalism
  12. Unitarian Universalists Explained in 2 Minutes - YouTube, diakses Agustus 10, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=Km9Rv_3bN5E

Tidak ada komentar:

Posting Komentar