Sitemap

Minggu, 20 Juli 2025

Sejarah Hubungan Kesultanan Ternate dan Wilayah Sulawesi Utara dan Sekitarnya

Sejarah Hubungan Kesultanan Ternate dan Wilayah Sulawesi Utara dan Sekitarnya

Drs. Semuel Muhaling


I. Pendahuluan: Latar Belakang dan Signifikansi Hubungan Ternate-Sulawesi Utara

Hubungan antara Kesultanan Ternate dan wilayah Sulawesi Utara merupakan babak penting dalam narasi sejarah Nusantara bagian timur. Interaksi yang terjalin selama berabad-abad ini membentuk lanskap politik, ekonomi, sosial, dan budaya di kedua wilayah. Memahami dinamika hubungan ini memberikan perspektif yang lebih kaya tentang kompleksitas sejarah regional Indonesia.

Wilayah Kesultanan Ternate yg mencakup hingga Sulawesi bagian Utara

A. Pengenalan Kesultanan Ternate dan Posisi Strategisnya

Kesultanan Ternate, yang didirikan pada tahun 1257 Masehi oleh Baab Mashur Malamo, berawal dari kesepakatan empat kampung yang kemudian bersatu membentuk sebuah kerajaan.1 Letaknya yang sangat strategis, berada di antara Sulawesi dan Papua, menempatkannya sebagai pusat vital dalam jalur pelayaran dan perdagangan terpenting di Nusantara bagian timur.1 Posisi geografis ini, ditambah dengan kekayaan alamnya, menjadikan Ternate sebagai kekuatan maritim yang dominan.

Wilayah Maluku, tempat Ternate berada, dikenal luas sebagai "The Spicy Island" karena kelimpahan rempah-rempah yang tak tertandingi, khususnya cengkih dan pala.4 Komoditas ini memiliki nilai jual yang sangat tinggi di pasar global, menarik perhatian kekuatan-kekuatan besar dari Eropa, Timur Tengah, hingga Tiongkok.5 Kekayaan rempah-rempah yang melimpah ini bukan hanya menjadi sumber kemakmuran, tetapi juga menjadi magnet yang menarik berbagai bangsa untuk datang dan berinteraksi dengan Ternate. Kesultanan Ternate memainkan peran krusial di kawasan timur Nusantara antara abad ke-13 hingga ke-17, mencapai masa kejayaannya pada pertengahan abad ke-16 berkat dominasinya dalam perdagangan rempah dan kekuatan militernya.3

Kombinasi antara keunggulan geografis dan kekayaan alam yang tak tertandingi menciptakan lingkaran umpan balik positif yang kuat bagi Ternate. Rempah-rempah yang sangat dicari mendorong perluasan jalur perdagangan, dan posisi strategis Ternate memfasilitasi kontrol serta ekspansi jalur-jalur ini. Perdagangan yang menguntungkan ini pada gilirannya menghasilkan kekayaan besar yang membiayai ambisi militer dan politik Ternate, memungkinkannya untuk memperluas pengaruhnya. Oleh karena itu, kekuatan Ternate tidak hanya berasal dari produksi rempahnya, tetapi juga secara kritis dari kemampuannya untuk mengendalikan aliran dan distribusi komoditas berharga ini di seluruh jaringan maritim yang luas.


B. Garis Besar Wilayah Sulawesi Utara dan Relevansinya dengan Ternate

Wilayah Sulawesi Utara, yang mencakup kerajaan-kerajaan seperti Gorontalo, Bolaang Mongondow, dan Kepulauan Sangihe, memiliki kedekatan geografis dan historis yang erat dengan Ternate.
7 Kedekatan ini menjadikan Sulawesi Utara sebagai bagian integral dari jaringan pengaruh Kesultanan Ternate. Keterkaitan antara kedua wilayah ini melampaui batas-batas geografis semata, terwujud dalam interaksi politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang mendalam sepanjang sejarah. Sulawesi Utara, dengan posisinya yang strategis di bibir Pasifik dan berbatasan langsung dengan Filipina, juga merupakan jalur perdagangan yang vital.10

Pengaruh Ternate yang mendalam terhadap Sulawesi Utara bukan sekadar tindakan ekspansi imperialistik, melainkan perluasan logis dan penting dari kekuatan ekonomi dan maritimnya. Dengan menegaskan kontrol atau pengaruh atas wilayah-wilayah tetangga ini, Ternate mengamankan jalur perdagangannya, memperoleh akses ke sumber daya tambahan (baik manusia maupun alam), dan membangun zona penyangga terhadap potensi pesaing. Imperatif strategis inilah yang menjelaskan mengapa Sulawesi Utara menjadi area kunci dalam lingkup pengaruh Ternate, alih-alih tetap menjadi wilayah periferal atau tidak terhubung.


C. Periodisasi Hubungan yang Akan Dibahas

 

Laporan ini akan mengkaji hubungan antara Kesultanan Ternate dan wilayah Sulawesi Utara melalui tiga periode utama: periode pra-kedatangan bangsa Eropa (sebelum abad ke-16), masa kolonialisme Eropa (abad ke-16 hingga awal abad ke-20), dan warisan yang tersisa hingga masa kontemporer. Periodisasi ini akan membantu dalam menganalisis evolusi hubungan serta dampak-dampak signifikan yang ditimbulkannya.


II. Kesultanan Ternate: Pusat Kekuatan Maritim di Nusantara Timur

 

Kesultanan Ternate berdiri sebagai salah satu kekuatan maritim terkemuka di Nusantara bagian timur, dengan sejarah panjang yang mencakup asal-usul, masa perkembangan, dan puncak kejayaan yang gemilang.


A. Asal-usul, Perkembangan, dan Masa Kejayaan

Kesultanan Ternate bermula dari empat kampung yang sepakat membentuk kerajaan pada tahun 1257 Masehi, dipimpin oleh Baab Mashur Malamo.1 Awalnya, para kepala desa kampung-kampung ini dikenal sebagai Momole, atau kepala marga.2 Seiring waktu, Ternate tumbuh dan berkembang menjadi entitas politik yang lebih besar.

Agama Islam mulai diperkenalkan di kawasan Ternate sekitar abad ke-14 Masehi.2 Namun, penerimaan Islam secara resmi oleh kerajaan baru terjadi pada pertengahan abad ke-15, tepatnya pada masa kepemimpinan Kolano Marhum (1432-1486 Masehi).2 Putranya, Sultan Zainal Abidin (1486-1500 Masehi), memainkan peran sentral dalam mengukuhkan Islam sebagai agama resmi kerajaan.3 Ia melakukan reformasi signifikan, termasuk mengganti gelar tradisional "kolano" dengan gelar "sultan" yang lebih Islami, serta membentuk lembaga keagamaan seperti Jolebe untuk mendukung penerapan syariat Islam.6

Di bawah kepemimpinan beberapa generasi penguasa berikutnya, Ternate bertransformasi dari sebuah kerajaan yang hanya menguasai pulau kecil menjadi kekuatan yang sangat berpengaruh dan terbesar di bagian timur Indonesia, khususnya Maluku.7 Masa kejayaan Ternate mencapai puncaknya di bawah Sultan Baabullah (1570-1583 Masehi), yang terkenal karena keberhasilannya mengusir Portugis dari Ternate pada tahun 1575 Masehi.3 Kejayaan ini mengukuhkan posisi Ternate sebagai kekuatan yang tak terbantahkan di wilayah tersebut.

Narasi sejarah ini dengan jelas menggambarkan perkembangan sekuensial: Islam tiba di Ternate pada abad ke-14, secara resmi diadopsi oleh elit penguasa pada pertengahan abad ke-15 di bawah Marhum dan Zainal Abidin, dan selanjutnya, Ternate memulai ekspansi politik dan teritorial yang signifikan, yang mencakup penyebaran Islam secara aktif.2 Reformasi Sultan Zainal Abidin, seperti perubahan gelar dari "kolano" menjadi "sultan" dan formalisasi hukum Islam dalam struktur negara, bukan hanya tindakan keagamaan tetapi juga manuver politik yang sangat strategis. Reformasi ini mengukuhkan identitas kerajaan, menyediakan kerangka kerja yang kohesif untuk pemerintahan, dan menawarkan model yang menarik bagi kekuatan regional lainnya. Adopsi Islam yang cepat dan luas oleh kerajaan-kerajaan lain di Maluku, seperti Tidore dan Bacan, seringkali mengikuti model institusional Ternate 11, menunjukkan bahwa Ternate secara efektif memanfaatkan otoritas dan prestise keagamaannya yang baru ditemukan sebagai alat yang ampuh untuk hegemoni politik dan budaya.


B. Luas Wilayah Kekuasaan dan Struktur Pemerintahan

Pada masa jayanya, kekuasaan Kesultanan Ternate membentang luas, mencakup wilayah Maluku, Sulawesi bagian utara, timur, dan tengah, bagian selatan Kepulauan Filipina, hingga sejauh Kepulauan Marshall di Pasifik.
3 Sultan Baabullah bahkan dikenal dengan julukan "Raja 72 Pulau" 15, sebuah gelar yang mencerminkan luasnya jangkauan kekuasaannya. Ternate juga memegang peran penting dalam proses pengislaman dan pengenalan syariat Islam di wilayah timur Nusantara dan bagian selatan Filipina.6

Struktur pemerintahan Kesultanan Ternate berciri hierarkis, dengan sultan sebagai pemimpin sentral yang memiliki kekuasaan besar. Terdapat dua kelompok elit utama yang menopang pemerintahan: Bobato Dunia yang mengurusi urusan pemerintahan dan Bobato Akhirat yang mengurusi urusan agama.16 Selain itu, terdapat dewan perwakilan rakyat yang disebut Bobato nyagimoi setofkange atau Dewan 18, yang terdiri dari wakil-wakil dari 41 marga di Ternate, menunjukkan adanya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan.16 Sultan juga mengemban fungsi sebagai imam agung yang bertanggung jawab menjaga tata tertib agama dan menyebarkan ajaran Islam, menegaskan perpaduan antara kekuasaan duniawi dan spiritual.16

Ekspansi Ternate ke Sulawesi Utara, oleh karena itu, tidak semata-mata didorong oleh penaklukan militer atau kepentingan ekonomi. Ekspansi tersebut sangat terkait erat dengan perannya sebagai kekuatan Islam terkemuka di kawasan itu. Adopsi Islam oleh penguasa dan komunitas lokal di Sulawesi Utara mungkin dipengaruhi tidak hanya oleh kekuatan militer dan ekonomi Ternate, tetapi juga oleh legitimasi keagamaannya yang dirasakan dan manfaat dari bersekutu dengan negara Islam yang kuat. Dimensi keagamaan ini menyediakan ikatan budaya dan ideologis yang krusial yang memperkuat dominasi politik dan ekonomi Ternate, menumbuhkan hubungan yang lebih dalam dan langgeng daripada sekadar penaklukan.


III. Hubungan Pra-Eropa: Jaringan Politik, Ekonomi, dan Penyebaran Islam

 

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, Kesultanan Ternate telah membangun jaringan hubungan yang kompleks dan luas dengan wilayah Sulawesi Utara, mencakup aspek politik, ekonomi, dan keagamaan.

A. Keterikatan Politik dan Sistem Vasal

Hubungan politik antara Kesultanan Ternate dan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Utara sangat erat, seringkali dalam bentuk sistem vasal atau pengaruh yang kuat.


1. Hubungan dengan Kerajaan Gorontalo

 

Pada masa tradisional dan awal kerajaan, Gorontalo merupakan wilayah vasal atau kerajaan kecil yang berada di bawah pengaruh dan kekuasaan Kesultanan Ternate.15 Hegemoni Ternate, khususnya di bawah Sultan Baabullah, mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-16, dengan ekspansi wilayah yang mencakup Gorontalo dan Limboto di Sulawesi.15 Hubungan ini juga ditandai dengan dinamika perselisihan internal antara kerajaan-kerajaan lokal di Gorontalo dan Limboto, yang terkadang melibatkan intervensi atau pengaruh dari Ternate, menunjukkan peran Ternate sebagai penengah atau kekuatan penyeimbang.15

2. Hubungan dengan Kerajaan Bolaang Mongondow

Kerajaan Bolaang Mongondow, termasuk wilayah seperti Kaidipang Besar dan Bintauna, memiliki hubungan signifikan dengan Kesultanan Ternate, terutama dalam konteks perdagangan dan proses penyebaran Islam.18 Pada abad ke-17, di bawah pemerintahan Raja Loloda Mokoagow, Kerajaan Bolaang Mongondow telah menjalin kontak yang baik dengan Kesultanan Ternate.18 Meskipun Islam masuk dan memberikan pengaruh yang kuat, Bolaang Mongondow tidak secara formal mengubah statusnya menjadi kesultanan, berbeda dengan Ternate atau Buton.20 Hal ini menunjukkan adanya variasi dalam tingkat formalisasi pengaruh Ternate di berbagai wilayah.

3. Hubungan dengan Minahasa dan Sangihe

Kesultanan Ternate memiliki pengaruh yang kuat di Sulawesi Utara, yang juga menjadi jalur perdagangan penting yang sering dikunjungi oleh pedagang Bugis dari Sulawesi Selatan.21 Pada tahun 1563, Sultan Hairun dari Ternate diketahui berencana mengirimkan pasukan untuk menaklukkan atau mengislamkan wilayah Sulawesi Utara, mengindikasikan ambisi ekspansif Ternate terhadap wilayah ini.22 Hubungan dengan Kepulauan Sangihe dibuktikan dengan adanya benda sejarah "Kelapa Kembar" yang berusia 275 tahun, yang merupakan upeti dari Raja Sangihe kepada Kesultanan Ternate pada tahun 1750.23 Ini menunjukkan adanya hubungan vasal atau setidaknya pengakuan superioritas Ternate yang berlangsung hingga abad ke-18. Minahasa, pada tahun 1644, bahkan mengirimkan utusan ke Ternate untuk meminta agar Belanda mau "bersekutu" dan memberikan perlindungan dari gangguan Kerajaan Bolaang Mongondow dan Spanyol.24 Hal ini menempatkan Ternate sebagai perantara penting dalam hubungan Minahasa dengan kekuatan Eropa yang baru muncul.

Jangkauan politik Ternate meluas jauh ke Sulawesi Utara, terbukti dari pembentukan hubungan vasal dengan entitas seperti Gorontalo dan Sangihe.15 Pengaruh ini tidak terbatas pada kontrol langsung; Ternate juga berfungsi sebagai perantara politik atau pelindung yang krusial bagi entitas lokal, seperti yang terlihat ketika Minahasa mencari aliansi Belanda melalui Ternate.24 Pada saat yang sama, Ternate adalah pendorong utama Islamisasi di wilayah tersebut.6 Fakta bahwa Bolaang Mongondow menjaga hubungan baik dengan Ternate dan bahwa Islam masuk ke wilayah tersebut melalui kontak ini 18 menunjukkan hubungan sebab-akibat yang kuat antara ikatan politik/ekonomi dan penyebaran agama. Ternate berhasil mengintegrasikan Islam ke dalam struktur negaranya, menawarkan model yang kuat untuk organisasi politik dan sosial yang dapat meningkatkan legitimasi dan stabilitas kerajaan-kerajaan lain. Dinamika ini menempatkan Ternate sebagai kekuatan sentral dalam membentuk lanskap sosial-politik dan keagamaan Sulawesi Utara jauh sebelum imposisi langsung pemerintahan kolonial Eropa.

B. Jalur Perdagangan dan Komoditas Utama

Perdagangan merupakan tulang punggung hubungan antara Ternate dan Sulawesi Utara, dengan Ternate sebagai pusat utama dalam jaringan maritim yang luas.


1. Peran Ternate sebagai Pusat Rempah

 

Ternate adalah pusat penghasil rempah-rempah utama di Kepulauan Maluku, khususnya cengkih dan pala, yang sangat melimpah dan membuat wilayah ini dijuluki "The Spicy Island".4 Rempah-rempah ini memiliki nilai setara emas di pasar dunia dan sangat dicari oleh pedagang dari berbagai penjuru, termasuk Arab, Timur Tengah, Melayu, dan Tiongkok.4 Jalur dagang antara Ternate, Hitu, Jawa Timur, dan China telah aktif sejak masa Kerajaan Sriwijaya, menunjukkan keterlibatan Ternate dalam jaringan perdagangan Asia Tenggara yang lebih luas.4 Kota-kota seperti Manado dan Kema di Minahasa memiliki kedekatan geografis dengan Pelabuhan Ternate, yang mendukung kemajuan perdagangan, khususnya komoditas seperti kopra.25


2. Komoditas yang Diperdagangkan (Rempah dan Non-Rempah)

 

Selain cengkih dan pala4, komoditas lain yang diperdagangkan meliputi beras tumbuk, minyak kelapa, lilin, sagu, cangkang penyu, kayu, dan berbagai hasil hutan lainnya.27 Barang-barang impor yang masuk ke Ternate dan didistribusikan di wilayahnya termasuk pakaian, sutera, dan porselen/keramik dari China, serta barang industri, rumah tangga, tembikar, besi, dan kain katun dari Eropa.27 Kelapa dan kopra merupakan komoditas penting bagi masyarakat Minahasa, dengan Manado dan Kema berfungsi sebagai pelabuhan yang terhubung erat dengan Ternate.25 Masyarakat Sangihe Talaud juga memproduksi dan memperdagangkan kain tenun kofo yang terbuat dari serat pisang abaka dan serat kayu.28 Ternate juga merupakan bagian dari jalur perdagangan yang lebih luas, termasuk "Jalur Sutra," meskipun "Jalur Rempah" lebih dominan dalam konteks perdagangan Asia Tenggara.30

Meskipun kekayaan rempah Ternate yang luar biasa tidak diragukan lagi merupakan daya tarik utama bagi perdagangan eksternal, laporan ini mengungkapkan jaringan perdagangan yang jauh lebih luas dan kompleks, melibatkan beragam komoditas di luar rempah-rempah.25 Lokasi strategis pelabuhan-pelabuhan kunci di Sulawesi Utara, seperti Manado dan Kema, yang berdekatan dengan Ternate 25, semakin menggarisbawahi adanya integrasi ekonomi regional yang kuat. Ternate tidak hanya berfungsi sebagai eksportir rempahnya sendiri; ia berfungsi sebagai pusat utama tempat berbagai produk regional dari Sulawesi Utara dan daerah lain dikumpulkan, diproses, dan didistribusikan kembali. Secara bersamaan, barang-barang impor dari negeri-negeri jauh mengalir ke Ternate dan kemudian disebarkan ke seluruh Nusantara bagian timur yang lebih luas. Hal ini menunjukkan sistem ekonomi yang kompleks dan saling bergantung, bukan sekadar aliran barang satu arah yang sederhana.

Keterikatan ekonomi yang rumit ini mendorong hubungan yang lebih dalam antara Ternate dan Sulawesi Utara daripada sekadar hubungan vasal politik. Mereka menciptakan kepentingan ekonomi bersama yang kemungkinan memengaruhi aliansi politik, mendorong pertukaran budaya, dan menuntut hubungan yang stabil. Kemakmuran yang berasal dari jaringan perdagangan yang dinamis ini akan memotivasi para pelaku regional di Sulawesi Utara untuk menjaga hubungan baik dengan Ternate, bahkan jika berada di bawah pengaruh politiknya, karena hal itu memastikan akses vital mereka ke pasar yang menguntungkan dan berbagai macam barang. Integrasi ekonomi yang mendalam ini meletakkan fondasi penting bagi pengaruh budaya dan linguistik yang bertahan lama yang akan diamati pada periode-periode selanjutnya.

Tabel 2: Komoditas Perdagangan Utama antara Ternate dan Sulawesi Utara (Pra-Eropa)

Kategori Komoditas

Asal Utama

Contoh Komoditas

Arah Perdagangan Kunci

Rempah-rempah

Ternate

Cengkih, Pala, Bunga Pala

Ternate ke Eropa, Timur Tengah, Tiongkok

Hasil Bumi Lokal

Sulawesi Utara (Minahasa, Sangihe, Bolaang Mongondow)

Kopra/Kelapa, Kain tenun kofo, Beras tumbuk, Minyak kelapa, Lilin, Sagu, Cangkang penyu, Kayu, Hasil hutan

Sulawesi Utara ke Ternate

Barang Impor

Ternate (didistribusikan dari Ternate)

Pakaian, Sutera, Porselen/Keramik (dari China), Barang industri, Barang rumah tangga, Tembikar, Batang besi dan kawat, Peralatan besi, Kain katun (dari Eropa)

Ternate ke Sulawesi Utara


C. Peran Ternate dalam Islamisasi Wilayah Sulawesi Utara

 

Kesultanan Ternate, sebagai kerajaan pertama yang memeluk Islam di wilayah Nusantara, memainkan peran besar dalam upaya pengislaman dan pengenalan syariat Islam di wilayah Timur Nusantara dan bagian selatan Filipina.6 Proses masuknya Islam ke Ternate dimulai melalui pedagang Arab pada abad ke-14, meskipun kerajaan baru secara resmi memeluk Islam pada pertengahan abad ke-15.8

Tokoh kunci dalam penyebaran Islam di Ternate adalah Datu Maulana Husein, seorang mubaligh terkemuka dari Jawa (Gresik), yang tiba pada tahun 1465 Masehi.8 Ia berhasil mengislamkan Kolano Marhum dan keluarga istana, serta membuka pengajian yang menarik minat banyak penduduk lokal.8 Sultan Zainal Abidin, setelah naik takhta, mempertegas status Ternate sebagai kerajaan Islam dan memperkenalkan struktur politik serta syariat Islam yang kemudian menjadi model bagi kerajaan-kerajaan lain di Maluku.3

Penyebaran Islam dari Ternate juga meluas ke daerah-daerah lain di Indonesia Bagian Timur, termasuk Buton dan wilayah Sulawesi Selatan.32 Dalam konteks Sulawesi Utara, Kesultanan Ternate menjadi jalur kontak penting bagi masuknya Islam ke Kerajaan Bolaang Mongondow pada abad ke-17.18 Meskipun demikian, di wilayah Bolaang Mongondow Utara, agama Katolik telah menjadi agama raja-raja sebelum masuknya Islam, menunjukkan adanya kompleksitas dan pluralitas dalam sejarah penyebaran agama di wilayah tersebut.18

Proses Islamisasi, yang dipelopori oleh Ternate, memiliki efek mendalam dan jangka panjang pada tatanan sosial dan budaya sebagian Sulawesi Utara. Proses ini memperkenalkan sistem hukum baru, norma sosial, dan identitas keagamaan bersama yang melampaui kepercayaan animisme lokal yang sudah ada. Dimensi keagamaan ini lebih lanjut mengukuhkan warisan sejarah Ternate di wilayah tersebut, memperluas pengaruhnya di luar kontrol politik atau ekonomi semata dan berkontribusi pada lanskap keagamaan yang beragam di Sulawesi Utara saat ini.


IV. Dampak Kedatangan Bangsa Eropa: Konflik, Monopoli, dan Pergeseran Kekuasaan

 

Kedatangan bangsa-bangsa Eropa pada abad ke-16 secara fundamental mengubah dinamika hubungan antara Kesultanan Ternate dan wilayah Sulawesi Utara, memperkenalkan periode konflik, monopoli, dan pergeseran kekuasaan yang signifikan.


A. Interaksi dengan Portugis dan Spanyol

 

Kedatangan bangsa-bangsa Eropa, termasuk Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris, ke Maluku pada abad ke-16 didorong oleh daya tarik rempah-rempah, terutama cengkih dan pala, yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi di pasar Eropa.13 Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang tiba di Maluku pada tahun 1512, setelah sebelumnya berhasil menguasai Malaka.35 Kehadiran mereka awalnya diterima dengan baik di Ternate karena adanya kesamaan kepentingan perdagangan dan kebutuhan Ternate akan sekutu untuk melawan Kerajaan Tidore.35 Sultan Bayanullah bahkan menyambut hangat kedatangan Portugis, melihat mereka sebagai sekutu yang berpotensi menguntungkan.35

Portugis kemudian membangun benteng Sao Paulo di Ternate.34 Namun, praktik monopoli perdagangan cengkih yang serakah dan upaya penyebaran agama Kristen oleh Portugis segera memicu penolakan dan perlawanan dari Kesultanan Ternate.34 Spanyol tiba di Maluku pada tahun 1521 dan menjalin persekutuan dengan Kerajaan Tidore.34 Kedatangan Spanyol ini memperparah perselisihan yang sudah ada antara Ternate dan Tidore, sebuah situasi yang kemudian dimanfaatkan oleh bangsa Eropa untuk mengadu domba kedua kerajaan, melemahkan kekuatan lokal demi keuntungan mereka sendiri.9

Konflik antara Ternate dan Portugis pecah pada tahun 1560-an, dipicu oleh permintaan bantuan dari Muslim di Ambon kepada Sultan Ternate untuk mencegah upaya Kristenisasi oleh Eropa.14 Sultan Hairun, dan kemudian putranya Sultan Baabullah, memimpin perlawanan sengit yang berpuncak pada pengusiran Portugis dari Ternate pada tahun 1575 Masehi.3 Perseteruan antara Portugis dan Spanyol di Maluku akhirnya diakhiri dengan ditandatanganinya Perjanjian Saragosa pada tahun 1529, yang mengharuskan Spanyol meninggalkan Maluku dan menyingkir ke Filipina.39 Hal ini menyebabkan Portugis sempat mendominasi Ternate untuk sementara waktu. Bangsa Portugis dan Spanyol juga secara aktif berusaha mengkristenkan penduduk di wilayah utara Sulawesi, seperti Manado, Pulau Siau, Kaidipang, dan Toli-Toli, sebagai upaya untuk mendahului dan menghambat penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Ternate.14

Kedatangan kekuatan Eropa, yang awalnya dianggap oleh Ternate sebagai sekutu strategis potensial, dengan cepat berubah menjadi sumber konflik utama karena ambisi monopoli mereka yang agresif dan agenda keagamaan yang terang-terangan.34 Tekanan eksternal ini tidak hanya memperkenalkan aktor-aktor baru tetapi secara kritis memperburuk persaingan pribumi yang sudah ada, khususnya antara Ternate dan Tidore 9, secara efektif mengubah persaingan regional menjadi perang proksi bagi kekuatan kolonial global. Pergeseran cepat dari kerja sama awal ke konflik yang meluas 35 menunjukkan bagaimana intervensi Eropa secara fundamental mengganggu keseimbangan kekuatan pribumi yang sudah ada, memaksa kerajaan-kerajaan lokal untuk terus-menerus mengevaluasi kembali aliansi mereka dan mengadopsi strategi baru untuk bertahan hidup di tengah ancaman eksternal yang meningkat.

Periode keterlibatan Eropa yang intens ini menandai titik balik yang mendalam dan tidak dapat diubah, tidak hanya bagi Kesultanan Ternate tetapi juga bagi seluruh lingkup pengaruhnya, termasuk Sulawesi Utara. Wilayah tersebut menjadi medan pertempuran strategis bagi kekuatan global yang bersaing, menyebabkan jaringan aliansi yang kompleks dan berubah-ubah (misalnya, Minahasa mencari bantuan Belanda melalui Ternate 24) dan erosi kedaulatan pribumi yang bertahap tetapi tak terhindarkan. Era ini meletakkan dasar yang krusial bagi dominasi kolonial langsung di masa depan dan secara fundamental mengubah lanskap politik, ekonomi, dan sosial Indonesia Timur selama berabad-abad yang akan datang.


B. Dominasi VOC dan Kebijakan Monopoli

 

Setelah Portugis dan Spanyol, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dari Belanda muncul sebagai kekuatan dominan. VOC didirikan pada tahun 1602 36 dan dengan cerdik memanfaatkan perselisihan yang memburuk antara Ternate dan Tidore. Dengan mendukung Ternate, VOC berhasil memperoleh konsesi penting, termasuk monopoli rempah-rempah dan izin untuk membangun benteng (Fort Oranje) di Ternate.3

Perjanjian Ternate-VOC yang ditandatangani pada tahun 1607 Masehi secara resmi bertujuan untuk mengusir Spanyol dari kawasan tersebut, sebagai bagian dari konflik yang lebih besar antara Belanda dan Spanyol di Eropa.3 Perjanjian ini juga mencakup penyerahan daerah Sangir Talaud (kecuali Siau) dari Ternate kepada VOC, menandai awal pergeseran kendali atas wilayah-wilayah taklukan Ternate.22 Pada tahun 1609 Masehi, VOC memperbarui perjanjiannya dengan Kesultanan Ternate, yang semakin mengukuhkan monopoli penuh VOC atas produksi rempah-rempah, kendali mutlak atas barang impor dan ekspor, serta hak eksklusif untuk mengangkut semua komoditas.9 Puncaknya, pada 7 Juli 1683, Sultan Sibori dari Ternate dipaksa menandatangani perjanjian yang secara efektif menjadikan Kesultanan Ternate sebagai kerajaan vasal kolonial, mengakhiri kedaulatan penuhnya.9 Dengan status vasal ini, Belanda memperoleh kewenangan yang jauh lebih besar terhadap wilayah yang dikuasainya.41


1. Kebijakan Ekonomi VOC dan Konsekuensinya

 

VOC menerapkan serangkaian kebijakan monopoli yang sangat kejam untuk memaksimalkan keuntungan. Ini termasuk Hongi Tochten, yaitu pelayaran pengawasan bersenjata untuk mengawasi para pedagang Maluku; Ekstirpasi, penebangan tanaman rempah-rempah penduduk agar produksinya tidak berlebihan dan harga tetap tinggi; Contingenten, kewajiban rakyat membayar pajak dalam bentuk hasil bumi; dan Verplichte Leverantie, kewajiban rakyat menjual hasil bumi hanya kepada VOC dengan harga yang ditentukan sepihak oleh VOC.42

Dampak negatif dari kebijakan ini sangat parah, meliputi penurunan drastis pendapatan rakyat, pembantaian massal, penderitaan fisik akibat kerja terlalu keras, dan penurunan produksi padi karena tanaman ini tidak laku di pasaran internasional yang dikuasai VOC.42 Meskipun demikian, terdapat dampak positif yang sangat minim, yaitu pedagang pribumi memperoleh informasi tentang pasar internasional dan tata cara perdagangan, serta dapat menjalin hubungan dengan bangsa lain.42


2. Pergeseran Loyalitas Politik di Sulawesi Utara menuju Belanda

 

Abad ke-17 menjadi periode paling suram bagi Kesultanan Ternate, karena daerah-daerah taklukannya satu per satu mulai melepaskan diri dari kontrol Ternate.44 Loyalitas yang berhasil dipulihkan oleh Ternate tidak lagi sekuat dan sedalam di masa kejayaan Sultan Baabullah.44 Perjanjian Belanda dengan Ternate pada tahun 1607 menjadi landasan hukum yang mengesahkan tindakan-tindakan Belanda di wilayah Sulawesi Utara.22

Minahasa, yang sebelumnya memiliki hubungan historis dengan Ternate, akhirnya berada di bawah pemerintahan langsung Belanda sekitar tahun 1870. Keterikatan ini begitu kuat sehingga Minahasa bahkan sering disebut sebagai "provinsi ke-12 Belanda" pada tahun 1947.21 Pada tahun 1915, terjadi perubahan administratif di Ternate. Wilayah

gouvernement (bekas wilayah Spanyol/Portugis yang dikuasai Belanda) diubah menjadi distrik Zuid-Ternate di bawah kendali Kapita Makassar, dan penduduk Kristen di wilayah tersebut ditempatkan langsung di bawah pemerintahan gouvernement, menunjukkan konsolidasi kontrol langsung Belanda.45

Strategi VOC melampaui sekadar mendirikan pos perdagangan; itu adalah upaya yang disengaja dan sistematis untuk membongkar struktur kekuasaan pribumi yang ada. Dengan mengeksploitasi persaingan yang mengakar antara Ternate dan Tidore 9 dan menawarkan "perlindungan" atau aliansi 3, VOC memperoleh pengaruh politik yang krusial. Pengaruh ini memuncak pada penaklukan paksa Ternate, mengubahnya menjadi negara vasal belaka.41 Implementasi kebijakan ekonomi brutal seperti

Hongi Tochten dan Ekstirpasi 42 menunjukkan strategi yang diperhitungkan tidak hanya untuk mengendalikan pasokan dan menekan harga rempah-rempah tetapi juga untuk secara aktif mencegah akumulasi kekayaan oleh penduduk lokal. Hal ini secara efektif mengubah hubungan perdagangan yang saling menguntungkan menjadi sistem eksploitasi murni. Penaklukan ekonomi ini secara langsung menyebabkan melemahnya politik dan hilangnya kedaulatan Ternate, dan, sebagai dampaknya, pengaruhnya yang telah lama terhadap Sulawesi Utara.

Periode ini menandai kemunduran yang tidak dapat diubah dari dominasi regional Ternate dan kebangkitan hegemoni Eropa, khususnya Belanda. Pergeseran mendalam dalam loyalitas politik di Sulawesi Utara, menjauh dari Ternate dan menuju Belanda, adalah konsekuensi langsung dan tak terhindarkan dari berkurangnya kekuatan Ternate dan konsolidasi kontrol agresif Belanda. Eksploitasi ekonomi yang meluas memiliki efek merusak yang parah dan berjangka panjang pada penduduk lokal dan ekonomi mereka, secara fundamental membentuk lintasan pembangunan wilayah tersebut selama berabad-abad di bawah kekuasaan kolonial.

Tabel 3: Dampak Kebijakan Monopoli VOC terhadap Ternate dan Wilayah Sulawesi Utara

Kebijakan VOC

Dampak Negatif Utama

Dampak Positif (Minimal)

Dampak Khusus pada Ternate/Sulawesi Utara

Hongi Tochten

Penderitaan fisik (kerja paksa), Menurunnya jumlah penduduk (pembantaian)



Ekstirpasi

Produksi padi menurun (tidak laku/gagal panen), Pendapatan rakyat menurun drastis



Contingenten

Rakyat wajib membayar pajak hasil bumi



Verplichte Leverantie

Rakyat wajib menjual rempah ke VOC dengan harga rendah

Pedagang pribumi memperoleh informasi pasar internasional, Pengetahuan tata cara perdagangan, Kesempatan menjalin hubungan dengan bangsa lain

Kehilangan kedaulatan Ternate (menjadi vasal Belanda), Pergeseran loyalitas politik di Sulawesi Utara ke Belanda, Perubahan dan pembagian wilayah administratif di Ternate di bawah kendali Belanda


C. Perubahan Struktur Politik Lokal di Sulawesi Utara

 

Sebelum kedatangan bangsa Barat, struktur politik lokal di wilayah Sulawesi Utara, seperti di Minahasa, didominasi oleh elit tradisional seperti tonaas dan walian yang memegang kekuasaan politik dan adat istiadat.24 Ketidakmampuan elit tradisional Minahasa untuk secara mandiri melindungi warganya dari ancaman eksternal, seperti gangguan dari kerajaan Bolaang Mongondow dan Spanyol, mendorong mereka untuk mencari aliansi. Aliansi ini seringkali dicari melalui perantara Ternate dengan Belanda.24

Perjanjian "persahabatan" dan "persekutuan" antara Belanda dan Minahasa, yang dikenal sebagai Verbond 10 Januari 1679, membuka jalan bagi serangkaian kontrak selanjutnya yang terus diperbarui oleh pihak Belanda, secara progresif mengukuhkan dominasi kolonial.24 Kedatangan dan dominasi Eropa, khususnya Belanda, menyebabkan pergeseran signifikan dalam struktur politik lokal. Kedudukan elit-elit tradisional Minahasa seperti

tonaas dan walian secara bertahap digusur dan digantikan oleh elit-elit baru yang seringkali beragama Kristen, dengan gereja menjadi struktur dominan dalam konteks masyarakat Minahasa kontemporer.24

Di Ternate sendiri, terjadi dualisme pemerintahan antara otoritas kolonial Belanda dan Kesultanan. Meskipun bangsawan Ternate masih memiliki kekuasaan tertentu atas pengawasan lahan, mereka berada di bawah pengawasan ketat gouvernement Belanda.45 Perubahan administratif pada tahun 1915 di Ternate lebih lanjut mengkonsolidasikan kontrol Belanda, mengubah wilayah gouvernement menjadi distrik Zuid-Ternate di bawah pimpinan Kapita Makassar, dan menempatkan penduduk Kristen secara khusus dan langsung di bawah pemerintahan gouvernement.45

Bukti-bukti yang ada dengan jelas menggambarkan proses di mana struktur kekuasaan pribumi yang sudah ada, seperti yang dicontohkan oleh tonaas dan walian di Minahasa 24, pada awalnya memegang kendali. Ancaman eksternal, seperti dari Bolaang Mongondow dan Spanyol, memaksa elit-elit lokal ini untuk mencari perlindungan eksternal, seringkali difasilitasi melalui Ternate kepada Belanda.24 "Aliansi" atau pengaturan perlindungan awal ini selanjutnya menjadi saluran langsung bagi penetrasi dan kontrol Belanda yang lebih dalam. Proses ini pada akhirnya mengarah pada penggantian elit tradisional oleh elit baru, yang seringkali beragama Kristen.24 Ini bukan sekadar perubahan kepemimpinan tetapi rekonfigurasi fundamental tatanan politik dan sosial, di mana konversi agama (ke Kristen) menjadi terjalin erat dengan keselarasan politik dan loyalitas kepada kekuatan kolonial.

Periode kolonial tidak hanya menempatkan kekuasaan Eropa; periode tersebut secara aktif membongkar, membentuk kembali, dan seringkali mengkooptasi hierarki pemerintahan dan sosial pribumi yang ada. Hal ini memiliki efek mendalam dan jangka panjang pada identitas, dinamika kekuasaan, dan stratifikasi sosial di wilayah seperti Minahasa, menyebabkan munculnya pusat-pusat kekuasaan baru (misalnya, gereja sebagai struktur dominan) dan pergeseran signifikan dalam orientasi budaya dan keagamaan, menjauh dari pengaruh Islam Ternate yang telah lama ada.


V. Pengaruh Budaya dan Sosial Ternate di Sulawesi Utara

 

Meskipun terjadi pergeseran kekuasaan yang drastis akibat kolonialisme Eropa, jejak pengaruh budaya dan sosial Kesultanan Ternate tetap bertahan kuat di wilayah Sulawesi Utara, terutama dalam aspek linguistik dan adat istiadat.


A. Pengaruh Linguistik (Bahasa Melayu Ternate)

Bahasa Ternate memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap pembentukan Bahasa Melayu yang digunakan oleh masyarakat di wilayah timur Indonesia.
46 Secara spesifik, sebanyak 46% kosakata Bahasa Melayu yang digunakan di Manado, Sulawesi Utara, diketahui berasal dari Bahasa Ternate.46 Ini adalah indikator kuat dari interaksi linguistik yang mendalam dan berkelanjutan antara kedua wilayah.

Ungkapan-ungkapan metaforis dari Bahasa Melayu Ternate bahkan telah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di masyarakat Sulawesi Utara, mencerminkan ciri khas hubungan kekerabatan dan pola pikir penuturnya.47

Persentase kosakata Ternate yang sangat tinggi yang ditemukan dalam Bahasa Melayu Manado adalah indikator yang kuat dan nyata dari interaksi historis yang dalam, berkepanjangan, dan ekstensif antara Ternate dan Sulawesi Utara.46 Tingkat asimilasi linguistik ini jauh melampaui jargon perdagangan sederhana; hal itu sangat menyiratkan interaksi sosial yang signifikan, perkawinan antar etnis, dan bahkan mungkin migrasi berkelanjutan selama berabad-abad, yang memungkinkan transfer budaya dan linguistik yang substansial. Meskipun migrasi pada tahun 1999 47 berfungsi untuk memperkuat hubungan ini, pengaruh inti jelas mendahuluinya, menunjuk pada sejarah panjang orang Ternate yang hidup, berdagang, dan berinteraksi secara intim di dalam komunitas Sulawesi Utara.

Pengaruh linguistik yang bertahan lama ini berfungsi sebagai warisan yang kuat dan tak terbantahkan dari dominasi historis Ternate dan difusi budayanya yang mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa dampak Ternate tidak hanya merupakan fenomena dari atas ke bawah (dari kesultanan ke kerajaan vasal) tetapi juga meresap ke tingkat akar rumput, membentuk komunikasi sehari-hari, norma sosial, dan ekspresi budaya di kalangan masyarakat umum di Sulawesi Utara. Keterkaitan linguistik yang mendalam ini menyoroti ruang historis dan budaya bersama yang melampaui batas-batas administratif dan politik modern, menggarisbawahi dampak jangka panjang dari peran historis Ternate.


B. Pengaruh Adat Istiadat dan Kepercayaan

 

Masyarakat Ternate memiliki corak kehidupan sosial budaya yang sangat kental dengan budaya Islam yang dianut secara resmi oleh Kesultanan Ternate.48 Meskipun Islam telah menjadi agama resmi, praktik-praktik kepercayaan animisme dan dinamisme (agama asli) masih tetap dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Ternate. Contohnya adalah kepercayaan terhadap Gunung Gamalama sebagai sumber kekuatan gaib dan pelaksanaan upacara joko kaha (injak tanah).48

Upacara adat Ternate, seperti joko kaha, yang dilakukan untuk menyambut tamu agung, pada kelahiran anak, saat cukur rambut, dan dalam upacara perkawinan, menunjukkan nilai sakral dan penghormatan yang mendalam terhadap alam dan leluhur.49 Sistem adat Ternate didasarkan pada lima kerangka dasar (adat se atorang, istiadat se kabasarang, galib se lukudi, ngare se cara sere se doniru, cing se cingari) yang mengatur berbagai aspek kehidupan sosial dan pemerintahan, secara harmonis memadukan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal.50 Pernikahan di Ternate dipandang sebagai peristiwa yang sangat sakral, dengan ritual yang memadukan ajaran Islam dan adat istiadat setempat, seperti sigado salam dan saro-saro.49 Simbol-simbol dalam makanan adat (ngogu adat) juga memiliki makna mendalam, melambangkan armada laut kesultanan, kekayaan pertanian, dan budi pekerti masyarakat.49

Identitas budaya Ternate dicirikan oleh perpaduan kuat antara pengaruh Islam formal dan praktik kepercayaan animisme/dinamisme yang lebih tua yang terus-menerus dilakukan.48 Sinkretisme ini jelas terlihat dalam bagaimana ritual tradisional, seperti joko kaha, telah diadaptasi dan diintegrasikan ke dalam konteks Islam 48, dan bagaimana nilai-nilai Islam telah ditenun ke dalam kerangka adat tradisional.50 Hal ini menunjukkan bahwa "ekspor" budaya Ternate ke Sulawesi Utara tidak akan menjadi paket Islam monolitik dan murni, melainkan bentuk Islam yang nuansa dan terlokalisasi yang sangat terjalin dengan praktik-praktik pribumi yang ada. Praktik berkelanjutan dari adat istiadat unik ini di Ternate, meskipun berabad-abad dipengaruhi oleh pihak luar (termasuk kolonialisme Eropa), menunjukkan identitas budaya yang tangguh dan mudah beradaptasi.

Pengaruh budaya Ternate di Sulawesi Utara kemungkinan besar tidak bermanifestasi sebagai penggantian total adat istiadat lokal, melainkan sebagai lapisan atau integrasi, terutama di daerah-daerah di mana pengaruh politik dan keagamaan Ternate paling kuat (misalnya, Bolaang Mongondow melalui proses Islamisasi). Dinamika ini berkontribusi pada permadani budaya Sulawesi Utara yang kompleks dan kaya, di mana lapisan-lapisan pengaruh pribumi, Ternate-Islam, dan kemudian Eropa-Kristen hidup berdampingan, berinteraksi, dan seringkali bercampur, menciptakan identitas regional yang unik.


C. Pengaruh Arsitektur dan Migrasi Penduduk

 

Kesultanan Ternate memiliki peninggalan arsitektur yang khas, terutama Istana Raja atau Sultan yang dikenal sebagai Kedaton atau Keraton.51 Bangunan ini berfungsi ganda sebagai pusat pemerintahan dan sebagai inti kota.51 Arsitektur Kedaton Ternate memiliki ciri khas dan makna simbolik yang tinggi. Desainnya, termasuk ukiran, hiasan, dan warna, mengandung pesan-pesan tersembunyi yang mendalam.51 Bangunan-bangunan bekas hunian sultan, pejabat kesultanan, dan pemimpin komunitas etnis di Ternate menunjukkan perpaduan ciri arsitektur kolonial dan lokal, mencerminkan pengaruh gaya Indis.52

Meskipun tidak ada kutipan yang secara langsung menyatakan pengaruh arsitektur Ternate di Sulawesi Utara, adanya migrasi penduduk Ternate ke kota-kota seperti Manado, Bitung, dan Minahasa 47 mengindikasikan potensi transfer elemen arsitektur atau pola permukiman, terutama dalam komunitas migran yang berupaya mereplikasi lingkungan asal mereka. Konflik SARA di Ternate pada tahun 1999 menyebabkan perpindahan besar-besaran penduduk Ternate ke Sulawesi Utara. Pemerintah Sulawesi Utara bahkan menyediakan fasilitas perumahan untuk menampung para migran ini 47, menandai migrasi signifikan di era kontemporer yang memperkuat kembali koneksi demografis dan budaya antara kedua wilayah.

Meskipun bukti langsung dan eksplisit tentang pengaruh arsitektur Ternate di Sulawesi Utara tidak disediakan dalam materi, migrasi besar-besaran penduduk Ternate ke Sulawesi Utara yang didokumentasikan 47 merupakan faktor penting untuk menyimpulkan adanya transmisi budaya. Ketika orang bermigrasi, mereka secara tidak terhindarkan membawa serta praktik budaya, preferensi, dan pengetahuan mereka. Ini termasuk preferensi untuk gaya bangunan, organisasi spasial komunitas, dan teknik konstruksi tradisional. Fakta bahwa migrasi ini signifikan dan relatif baru (1999) berarti bahwa elemen budaya Ternate bukan hanya peninggalan sejarah tetapi merupakan pengaruh hidup yang terus berkembang dan secara aktif membentuk komunitas kontemporer di Sulawesi Utara. Migrasi modern ini juga secara kuat menyoroti hubungan manusia dan budaya yang abadi antara kedua wilayah ini, bahkan di hadapan pergeseran politik historis yang signifikan.

Ikatan historis antara Ternate dan Sulawesi Utara tidak terbatas pada sejarah kuno atau kolonial, tetapi terus bermanifestasi dalam demografi kontemporer, pola linguistik, dan praktik budaya. Interaksi yang berkelanjutan ini, terutama melalui migrasi baru-baru ini, berarti bahwa "sejarah" hubungan mereka masih ditulis, dengan lapisan-lapisan baru pertukaran budaya, adaptasi, dan integrasi yang terus muncul. Aspek dinamis ini menggarisbawahi relevansi laporan di luar narasi murni historis, menghubungkan pengaruh masa lalu dengan realitas saat ini.

VI. Kesimpulan: Warisan Sejarah dan Implikasi Kontemporer

Hubungan antara Kesultanan Ternate dan wilayah Sulawesi Utara adalah sebuah narasi yang kompleks dan dinamis, yang telah membentuk lanskap sosio-kultural di kedua wilayah selama berabad-abad.


A. Sintesis Evolusi Hubungan dan Dampaknya

 

Hubungan ini berevolusi dari dominasi politik dan ekonomi yang kuat di era pra-Eropa, didorong oleh kendali Ternate atas perdagangan rempah-rempah yang menguntungkan dan perannya sebagai pusat penyebaran Islam. Ternate, dengan posisi geostrategisnya dan kekayaan rempah-rempah, mampu membangun jaringan vasal dan perdagangan yang luas, menjadikan Sulawesi Utara sebagai bagian integral dari lingkup pengaruhnya.

Kedatangan bangsa-bangsa Eropa secara fundamental mengubah dinamika ini. Ternate, yang semula merupakan kekuatan regional yang perkasa, secara bertahap tereduksi menjadi kerajaan vasal di bawah kendali kolonial. Pergeseran kekuasaan ini secara paralel mengalihkan loyalitas politik dan ekonomi wilayah Sulawesi Utara dari Ternate menuju kekuatan kolonial Eropa, terutama Belanda. Kebijakan monopoli VOC yang kejam tidak hanya merusak ekonomi lokal tetapi juga secara sistematis membongkar struktur kekuasaan pribumi yang ada, menggantikannya dengan hierarki yang disesuaikan dengan kepentingan kolonial.

Meskipun terjadi pergeseran kekuasaan yang drastis dan penaklukan politik serta ekonomi yang mendalam oleh kekuatan Eropa, warisan Ternate tetap bertahan dan termanifestasi dalam bentuk pengaruh linguistik yang signifikan, jejak-jejak adat istiadat, dan pola migrasi penduduk yang berkelanjutan.


B. Warisan Budaya dan Historis yang Berkelanjutan

 

Pengaruh Bahasa Melayu Ternate yang signifikan terhadap kosakata Bahasa Melayu di Manado (46%) adalah bukti nyata dari interaksi budaya yang mendalam dan berkelanjutan antara kedua wilayah.46 Ini menunjukkan bahwa hubungan mereka melampaui politik dan ekonomi, meresap ke dalam aspek kehidupan sehari-hari dan membentuk identitas linguistik yang unik.

Keberadaan komunitas Ternate di Sulawesi Utara, yang diperkuat oleh gelombang migrasi kontemporer (seperti pada tahun 1999 akibat konflik SARA), memastikan bahwa ikatan historis ini tetap relevan dan terus berkembang dalam masyarakat modern.47 Migrasi ini menjadi vektor bagi transmisi budaya yang berkelanjutan, menjaga agar pengaruh Ternate tidak hanya menjadi catatan sejarah tetapi juga bagian dari realitas kontemporer.

Terlepas dari penaklukan politik dan ekonomi yang mendalam yang diberlakukan oleh kekuatan Eropa, yang menyebabkan kemunduran formal kedaulatan Ternate dan pergeseran jelas dalam kesetiaan formal menjauh dari Ternate, "bayangan" budaya dan linguistiknya secara luar biasa tetap bertahan.46 Ketahanan ini menunjukkan bahwa pengaruh budaya, setelah tertanam kuat melalui interaksi berkelanjutan selama berabad-abad, jaringan perdagangan yang luas, dan penyebaran agama yang meluas, memiliki daya tahan yang jauh melebihi sifat sementara batas-batas politik atau kekuatan koersif monopoli ekonomi. Migrasi populasi Ternate baru-baru ini ke Sulawesi Utara 47 semakin memperkuat gagasan bahwa hubungan historis ini bukanlah peninggalan masa lalu yang statis tetapi merupakan pengaruh hidup dan berkembang yang terus bermanifestasi dan membentuk masyarakat kontemporer.

Memahami sejarah yang kompleks ini sangat penting untuk mengapresiasi keragaman budaya dan identitas regional di Indonesia Timur, serta bagaimana berbagai pengaruh historis telah membentuk lanskap sosio-kultural saat ini. Warisan sejarah Ternate yang mendalam di Sulawesi Utara memberikan pemahaman yang lebih bernuansa tentang identitas regional, hubungan antar-etnis, dan permadani kompleks sejarah Indonesia, menunjukkan bagaimana hegemoni masa lalu dapat meninggalkan jejak yang tak terhapuskan yang melampaui struktur politik formal.

Sumber Rujukan

  1. Sejarah Kesultanan Ternate sebagai Kerajaan Islam Tertua | kumparan.com, diakses Juli 20, 2025, https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/sejarah-kesultanan-ternate-sebagai-kerajaan-islam-tertua-220NC7hzSn3
  2. Sejarah Kerajaan Ternate, Masa Kejayaan, dan Peninggalannya | kumparan.com, diakses Juli 20, 2025, https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/sejarah-kerajaan-ternate-masa-kejayaan-dan-peninggalannya-22PUHNadIBd
  3. KESULTANAN TERNATE PADA ABAD XVI-XVII (Kajian Historis Tentang Peranannya Terhadap Perkembangan Islam) Skripsi Diajukan untuk Me - Repositori UIN Alauddin Makassar, diakses Juli 20, 2025, http://repositori.uin-alauddin.ac.id/13390/1/IRNAWATI%20GANI%20ARIF.pdf
  4. Arti Penting Kerajaan Ternate dalam Dunia Perdagangan pada Masa Lalu - Kompas.com, diakses Juli 20, 2025, https://www.kompas.com/stori/read/2022/09/06/170000679/arti-penting-kerajaan-ternate-dalam-dunia-perdagangan-pada-masa-lalu
  5. Menguak Peran Strategis Kerajaan Ternate dan Tidore dalam Jalur Rempah, diakses Juli 20, 2025, https://www.netralnews.com/menguak-peran-strategis-kerajaan-ternate-dan-tidore-dalam-jalur-rempah/L2tOQi92UzYxU3NFcjBtYVNzYXg0UT09
  6. Kesultanan Ternate: Konflik Internal Hingga Perang Terhadap Penjajah - Koran Sulindo, diakses Juli 20, 2025, https://koransulindo.com/kesultanan-ternate-konflik-internal-hingga-perang-terhadap-penjajah/
  7. Kesultanan Ternate - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Juli 20, 2025, https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Ternate
  8. BAB III MASUKNYA ISLAM DI TERNATE A. Sejarah Masuknya Islam dan Pembawa Islam di Ternate Penyebaran Islam di Indonesia tidak ter, diakses Juli 20, 2025, http://digilib.uinsa.ac.id/45/4/Bab%203.pdf
  9. PERDAGANGAN DAN POLITIK DI KESULTANAN TERNATE PADA ERA PEMERINTAHAN BELANDA - Journal Unhas, diakses Juli 20, 2025, https://journal.unhas.ac.id/index.php/jib/article/view/21254/8481
  10. RANCANGAN - DPR RI, diakses Juli 20, 2025, https://berkas.dpr.go.id/akd/dokumen/K1_kunjungan_Propinsi_Sulawesi_Utara.doc
  11. Islamisasi di Tanah Ternate - Historia.ID, diakses Juli 20, 2025, https://www.historia.id/article/islamisasi-di-tanah-ternate-pdbwl
  12. KEHIDUPAN KELUARGA SULTAN TERNATE ABAD 20, diakses Juli 20, 2025, https://ejournal.unkhair.ac.id/index.php/pusaka/article/download/6577/4169
  13. Letak Kerajaan Ternate dan Tidore beserta Sejarahnya | kumparan.com, diakses Juli 20, 2025, https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/letak-kerajaan-ternate-dan-tidore-beserta-sejarahnya-20c4UIwm6D5
  14. Baabullah dari Ternate - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Juli 20, 2025, https://id.wikipedia.org/wiki/Baabullah_dari_Ternate
  15. IKRAR U DULUWO LIMO LO PAHALAA: BENTUK KESADARAN ETNIS GORONTALO ERA PRAKOLONIAL Oleh Mahyudin Damis1 ABSTRACT - E-Journal UNSRAT, diakses Juli 20, 2025, https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/holistik/article/view/11017/10606
  16. JURNAL ILMU BUDAYA ISLAM DAN STRUKTUR PEMERINTAHAN KESULTANAN TERNATE - Journal Unhas, diakses Juli 20, 2025, https://journal.unhas.ac.id/index.php/jib/article/view/32031/10888
  17. Perkembangan Morfologi Kota Gorontalo Dari Masa Tradisional Hingga Kolonial, diakses Juli 20, 2025, https://repositori.kemdikbud.go.id/9904/1/Gorontalo.pdf
  18. BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Sebelum Islam masuk di Kerajaan Bolaang Mongondow, sudah terdapat kepercayaan animisme dan dinamis - Siat UNG, diakses Juli 20, 2025, https://siat.ung.ac.id/files/wisuda/2014-2-1-87201-231410078-bab5-15012015023412.pdf
  19. Islam di Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara: Dinamika Islamisasi di Kerajaan Kaidipang Besar dan Bintauna Abad ke-7-19 M - ResearchGate, diakses Juli 20, 2025, https://www.researchgate.net/publication/339388625_Islam_di_Bolaang_Mongondow_Utara_Sulawesi_Utara_Dinamika_Islamisasi_di_Kerajaan_Kaidipang_Besar_dan_Bintauna_Abad_ke-7-19_M
  20. Dinamika Islamisasi di Bolaang Mongondow Raya, Sulawesi Utara, Abad ke-17-20 - SIMLITBANG Kementerian Agama RI, diakses Juli 20, 2025, https://simlitbang.balitbangdiklat.net/assets_front/pdf/1607750627Islam_di_Bolaang_Mongondow_Raya.pdf
  21. Sejarah Minahasa - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Juli 20, 2025, https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Minahasa
  22. Sejarah perlawanan terhadap imperialisme kolonialisme sulawesi utara.pdf, diakses Juli 20, 2025, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/13022/1/Sejarah%20perlawanan%20terhadap%20imperialisme%20kolonialisme%20sulawesi%20utara.pdf
  23. Sultan bawa bukti sejarah hubungan Ternate dan Sangihe - ANTARA News, diakses Juli 20, 2025, https://www.antaranews.com/berita/4624781/sultan-bawa-bukti-sejarah-hubungan-ternate-dan-sangihe
  24. Politik Ke-Minahasaan dari Waktu Ke Waktu: Perspektif Strukturasi. Alfon Kimbal PENDAHULUAN Tulisan ini bertujuan untuk menegask, diakses Juli 20, 2025, https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/JAP/article/download/11384/10973/22719
  25. DINAMIKA TATA NIAGA KOPRA DI MINAHASA (1946-1958) - Neliti, diakses Juli 20, 2025, https://media.neliti.com/media/publications/291747-dinamika-tata-niaga-kopra-di-minahasa-19-b1f11f85.pdf
  26. KAJIAN STANDAR NASIONAL INDONESIA BIJI PALA - Jurnal Standardisasi, diakses Juli 20, 2025, https://js.bsn.go.id/index.php/standardisasi/article/download/111/pdf
  27. DARI MONOPOLI HINGGA PELABUHAN BEBAS: AKTIVITAS PERDAGANGAN DI KARESIDENAN TERNATE 1854-1930 ABSTRACT - ResearchGate, diakses Juli 20, 2025, https://www.researchgate.net/publication/336261129_DARI_MONOPOLI_HINGGA_PELABUHAN_BEBAS_AKTIVITAS_PERDAGANGAN_DI_KARESIDENAN_TERNATE_1854-1930/fulltext/5d974491299bf1c363f7a6f0/DARI-MONOPOLI-HINGGA-PELABUHAN-BEBAS-AKTIVITAS-PERDAGANGAN-DI-KARESIDENAN-TERNATE-1854-1930.pdf
  28. KAIN TENUN TRADISIONAL KOFI DI SANGIHE.pdf, diakses Juli 20, 2025, https://repositori.kemdikbud.go.id/8363/1/KAIN%20TENUN%20TRADISIONAL%20%20KOFI%20DI%20SANGIHE.pdf
  29. BANDAR NIAGA DI PERAIRAN MALUKU DAN PERDAGANGAN REMPAH-REMPAH Commercial Port in the Moluccas Territorial Water and Spice Trade - Neliti, diakses Juli 20, 2025, https://media.neliti.com/media/publications/144110-ID-bandar-niaga-di-perairan-maluku-dan-perd.pdf
  30. Unkhair Dukung Ternate Sebagai Titik Nol Jalur Rempah, diakses Juli 20, 2025, https://unkhair.ac.id/unkhair-dukung-ternate-sebagai-titik-nol-jalur-rempah/
  31. ternate sebagai bandar di jalur sutra, diakses Juli 20, 2025, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/13218/1/TERNATE%20SEBAGAI%20BANDAR%20DI%20JALUR%20SUTRA.pdf
  32. Abstract This article presents a study of the beginning of the cultural propagation movement amid Ternate society which still ad - Al-Mishbah: Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi, diakses Juli 20, 2025, https://www.almishbahjurnal.com/index.php/al-mishbah/article/download/110/93
  33. Hubungan Kerajaan Ternate dan Tidore dengan Ulama dari Gresik - Kompas.com, diakses Juli 20, 2025, https://www.kompas.com/stori/read/2022/07/25/201023879/hubungan-kerajaan-ternate-dan-tidore-dengan-ulama-dari-gresik
  34. Kerajaan Ternate dan Tidore, Pusat Penghasil Rempah-Rempah - Kompas.com, diakses Juli 20, 2025, https://www.kompas.com/skola/read/2020/06/07/113000669/kerajaan-ternate-dan-tidore-pusat-penghasil-rempah-rempah?page=all
  35. Ketika Bangsa Eropa Memperebutkan Maluku - Historia.ID, diakses Juli 20, 2025, https://www.historia.id/article/ketika-bangsa-eropa-memperebutkan-maluku-p1rlk
  36. Kedatangan Bangsa Portugis di Maluku dan Monopoli Dagang Rempah-Rempah, diakses Juli 20, 2025, https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5623550/kedatangan-bangsa-portugis-di-maluku-dan-monopoli-dagang-rempah-rempah
  37. Prof. Antonio Vasconcelos de Saldanha, Ph.D Tampilkan Bukti Sejarah Kesultanan Ternate dan Tidore - Universitas Khairun, diakses Juli 20, 2025, https://unkhair.ac.id/prof-antonio-vasconcelos-de-saldanha-ph-d-tampilkan-bukti-sejarah-kesultanan-ternate-dan-tidore/
  38. Penyebab Perlawanan Ternate terhadap Portugis - Kompas.com, diakses Juli 20, 2025, https://www.kompas.com/stori/read/2023/04/28/120000979/penyebab-perlawanan-ternate-terhadap-portugis
  39. Apa Hubungan Rempah-rempah dan Penjajahan Di Indonesia? - Gramedia, diakses Juli 20, 2025, https://www.gramedia.com/literasi/apa-hubungan-rempah-rempah-dan-penjajahan-di-indonesia/
  40. Perlawanan Rakyat Ternate terhadap Spanyol - Kompas.com, diakses Juli 20, 2025, https://www.kompas.com/stori/read/2021/09/17/080000979/perlawanan-rakyat-ternate-terhadap-spanyol
  41. Hari Ini dalam Sejarah: 7 Juli 1683, Kesultanan Ternate Jadi Kerajaan Vasal Kolonial, diakses Juli 20, 2025, https://nasional.kompas.com/read/2018/07/07/20130041/hari-ini-dalam-sejarah--7-juli-1683-kesultanan-ternate-jadi-kerajaan-vasal?page=all
  42. Cari Jawaban IPS, Bagaimana Dampak dari Monopoli yang Dilakukan oleh Belanda di Maluku? - Semua Halaman - Bobo.ID, diakses Juli 20, 2025, https://bobo.grid.id/read/083580006/cari-jawaban-ips-bagaimana-dampak-dari-monopoli-yang-dilakukan-oleh-belanda-di-maluku?page=all
  43. Monopoli | PDF | Pengelolaan Keuangan & Uang | Politik - Scribd, diakses Juli 20, 2025, https://id.scribd.com/document/465968397/monopoli
  44. KONFLIK DAN PERUBAHAN SOSIAL: Studi Sosiologi Politik di Maluku Utara, diakses Juli 20, 2025, https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/5311-Full_Text.pdf
  45. WARGA PEMERINTAH KOLONIAL DI TERNATE (Sejarah Perkotaan) - Universitas Khairun, diakses Juli 20, 2025, https://ejournal.unkhair.ac.id/index.php/pusaka/article/download/7538/4752
  46. PENGARUH BAHASA TERNATE DI MANADO, SULAWESI UTARA - YouTube, diakses Juli 20, 2025, https://m.youtube.com/watch?v=_8krqJo6QZc
  47. UNGKAPAN METAFORIS MELAYU TERNATE DI DESA SEA TUMPENGAN, SEA MITRA DAN BUHA - E-Journal UNSRAT, diakses Juli 20, 2025, https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/lppmekososbudkum/article/download/17191/16739/34637
  48. (PDF) MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN TERNATE DALAM PERSPEKTIF SEJARAH, diakses Juli 20, 2025, https://www.researchgate.net/publication/342505340_MASYARAKAT_DAN_KEBUDAYAAN_TERNATE_DALAM_PERSPEKTIF_SEJARAH
  49. Budaya Dan Simbol Dalam Ritual Pernikahan Adat Ternate - Portal Jurnal Peneliti. net, diakses Juli 20, 2025, https://jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP/article/download/9573/6075/
  50. Adat SegulaHa dalaM tRadiSi MaSYaRakat keSultanan teRnate - e-Journal UIN Malang, diakses Juli 20, 2025, https://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub/article/viewFile/2318/pdf
  51. HASIL PENELITIAN KARAKTERISTIK SPASIAL KAWASAN KULTURAL KESULTANAN TERNATE, diakses Juli 20, 2025, https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/spasial/article/download/20848/20536/42417   
  52. INDIES STYLE RESIDENCE IN TERNATE CITY: AN ARCHITECTURAL HISTORY STUDY, diakses Juli 20, 2025, https://walennae.unhas.ac.id/index.php/walennae/article/view/779 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar